
.
.
.
Flashback On!
.
.
.
Selena (5) menatap sedih kertas ujian ditangannya, pasti Mamanya akan marah jika mengetahui hasil yang ia dapatkan didalam ujian kali ini.
Ruvelis tersenyum lembut dan membelai kepala putrinya dengan lembut sembari mengangkat tubuh kecil itu. Selena menatap Papanya dengan mata yang berkaca-kaca, apa Papanya juga akan marah kepadanya?.
“Tak masalah sayang…Papa tidak marah, kan nanti Nara bisa belajar lagi”
“Tapi…kalau Mama nanti marah bagaimana Papa?” tanya Selena dengan wajah sedihnya.
“Kan ada Papa, Papa tidak akan membiarkan Mama memarahi Nara. Sudah ya sayang…jangan menangis lagi. Papa ikut sedih, sekarang ayo pulang dan kita makan siang”
“Tidak mau pulang…nanti Mama marah…” ucap Selena memeluk leher Papanya dengan erat.
Ruvelis menghembuskan nafasnya, nilai putrinya kali ini menurun. Dan ia juga yakin istrinya pasti akan marha jika mengetahui hal ini, tapi Naranya bisa belajar untuk meningkatkan nilainya.
“Kan hanya satu mata pelajaran, yang lainnya kan tidak jelek…nanti kita bujuk Mama ya sayang?”
George tersenyum lucu melihat wajah sedih Selena, bisa-bisanya anak Jenderal besar takut dimarahi karena mendapat nilai yang tidak memuaskan. Tapi memang sih, Jenssica jika sudah marah menyeramkan.
“Sudah, jangan menangis lagi. Nanti malam belajar, besok Paman adakan ujian ulang untukmu”
“Mama dan nenek tidak akan marah kan Paman?” tanya Selena.
“Tidak akan, kan ada Paman dan Papamu. Sudah…ayo pulang, sudah masuk waktu makan siang”
Ruvelis memasukkan putrinya kedalam mobil dan menyetir pulang. Dan saat sampai di kediaman Alexandra, Selena mulai menangis saat Ruvelis membawanya masuk dan itu membuat para Alexandra seketika khawatir.
“Apa yang kau lakukan kepada Nara sampai menangis seperti ini kak?” tanya Jeff dengan wajah kesalnya.
“Di mana istriku?”
“Ada dikamar, baru saja pulang” jawab Deon.
“Sayang? Kalian sudah pulang? Loh, kenapa Nara menangis seperti itu?” tanya Jenssica sembari menuruni anak tangga satu persatu.
“Mama…”
“Kenapa hm? Kenapa anak kesayangan Mama ini menangis?” tanya Jenssica.
“Nara boleh bilang sesuatu?” tanya Selena.
“Boleh, katakan sayang…Nara mau apa?”
“Tapi Mama janji dulu jangan marah”
“Katakan, Mama tidak akan marah kepada Nara”
“Nilai Nara…jelek”
Jenssica seketika terdiam membatu mendengar ucapan putrinya membuat George dan Hendrick menelan ludahnya dengan kasar. Semoga hari ini Jenssica tidak marah karena ini pertama kalinya Selena mendapatkan nilai jelek.
__ADS_1
“Dapat nilai jelek? Bagaimana bisa Nara dapat nilai jelek? Nara tidak belajar?” tanya Jenssica.
“Sayang, jangan berkata seperti itu kepada Nara. Kau tau sendiri kita kemarin baru saja tiba dari Islandia, setelah itu kan Nara langsung ujian. Jadi mana sempat untuk belajar”
Jenssica melipat kedua tangannya dan menatap putrinya yang tengah memasang wajah lucu. Aduhhhh putrinya ini benar-benar mengemaskan.
“Memang Nara dapat berapa hm?” tanya Deon dan Thomas.
“9,9 Paman…Nara tidak bisa menjawab pertanyaan nomor 76. Pertanyaannya sepertinya ada di buku bahasa bab 8. Nara belum belajar bahasa bab 8, kan Nara baru belajar bab 6”
“APA?!!! 9,9 jelek?! Lalu apa kabar dengan nilai Paman yang 9,7?!” ucap Jeff terkejut.
“Nara dapat 9,9? Salah satu saja?”
“Iya…Mama marah ya?”
“Mama tidak marah, tapi malam ini. Tidak ada makanan manis untuk Nara, dan Nara malam ini harus belajar bab yang belum Nara pahami. Lalu bagaimana dengan mata pelajaran lain?”
“10 Mama! Malam ini Nara akan belajar dengan Papa, jadi Mama tidak marah?”
“Tidak…Mama tidak marah kepada Nara. Sekarang Nara mandi, lalu makan ya”
“Aduhhhh bagaimana bisa marah jika anakku mengemaskan seperti ini”
“Lihat? Mama tidak marah kan? Sudah ya menangisnya, nanti malam Papa akan temani Nara belajar” ucap Ruvelis sembari tersenyum.
“Tapi nanti setelah belajar Nara boleh lihat film dengan Papa George?”
“Tidak, setelah belajar Nara langsung gosok gigi dan tidur. Papa temani Nara tidur malam ini”
.
.
.
“Tegakkan badan, pandangan lurus kedepan. Jangan menoleh kebelakang, 1 bab waktu mempelajari 45 menit jadi Nara punya waktu 90 menit untuk menyelesaikan 2 bab setelah itu akan dilanjutkan pelajaran matematika bab 7 dan 8. Setelah pembelajaran matematika akan dilakukan pembelajaran politik bab 6-9” ucap Hendrick sembari mengawasi Selena.
“Paman…tapi Nara sudah belajar bab 6, jadi bab 7-9 ya?” tanya Selena. Tumben sekali hanya 3 bab politik hari ini, biasanya 5.
“Kalau begitu bab 7-11. Bab 8-11 tidak terlalu banyak materi, selesai bab 11 Nara akan dites. Jika Nara tidak bisa, akan ada pengulangan bab”
Selena seketika memajukan bibirnya mendengar ucapan Papa Georgenya. Huh! Kenapa hanya 9 bab?! Ia ingin segera menyelesaikan materi buku 2 dan lanjut ke buku 3!.
“Semua materi dibuku 2 Nara harus paham dalam waktu 1 bulan kedepan. Setelah satu bulan, Nara akan langsung masuk kampus akademi militer” ucap Deon.
“Hm? Tidak ada buku 3 Paman?” tanya Selena.
“Buku 3 tetap akan dilanjutkan setelah buku 2 selesai, sekarang Nara bisa mulai belajar”
“Yeyyyyy!!!”
“Tidak boleh ada salah pengejaan, 1 bab tidak boleh lebih dari 40 menit, nanti 5 menit terakhir Nara harus hafalan kepada Papa”
“Siap Boss!”
Selena menatap timer yang mulai bekerja. 40 menit? Sepertinya ia bisa menghafalnya.
.
.
.
__ADS_1
1 bulan kemudian!
Ruvelis menggendong putrinya turun dari mobil. Para penjaga serta dosen berjajar rapi sembari membungkuk melihat kedatangan Ruvelis dan Selena.
“Selamat pagi Jenderal besar, Selamat pagi Jenderal muda…”
“Pagi, hari ini putriku akan mulai belajar disini. Jadi mohon kerjasamanya untuk kalian semua, Nara…sayang…nanti jam 10 Papa jemput. Nara langsung latihan di kamp”
“Nara hanya 5 jam disini Papa?”
“Iya, Nara hanya 5 jam disini. Jam 5 pagi Papa antar Nara kemari dan Papa jemput jam 10, kita langsung pergi ke kamp setelah itu”
“Okey…”
“Anak pintar. Untuk kalian, ajari putriku baik-baik, jangan membentak, jangan memarahi, dan jangan menekannya. Orangku akan ada disini”
“Baik Jenderal besar…”
Ruvelis menurunkan putrinya, beberapa tangan kanan Ruvelis seketika berdiri disamping Selena dan diantara tangan kanan itu, ada Rafindra yang tengah merapikan pakaiannya.
“Nona kecil, mari ikut kami ke kelas”
Selena menganggukkan kepalanya, sekarang jadwalnya bertambah. Papanya bilang minggu pertama ia akan berada disini, minggu ke-2 akan belajar di kediaman Alexandra, minggu ke-3 akan belajar di kediaman Leonardo untuk belajar tatakrama dan sejenisnya, dan minggu ke-4 ia akan belajar di kediaman Iskandar bersama Leo dan juga hampir setiap hari harus menginap di kamp utama untuk latihan. Hah…melelahkan memang, tapi seru! Ia benar-benar menikmati hari-harinya yang dipenuhi oleh kesibukan!.
“Paman Raf, bolehkah aku bertanya sesuatu?” tanya Selena kepada Rafindra.
“Tentu Nona”
“Apa dulu Papa dan Paman belajar disini juga?”
“Tentu, para Jenderal belajar disini sejak usia 5 tahun. Dan mereka akan lulus diusia 8 tahun”
“Setelah itu?”
“Setelah itu mereka akan belajar di kemiliteran. Seharusnya Nona juga seperti itu, tapi karena Nona seorang wanita jadi Nona harus membagi waktu belajar militer dengan pelajaran tatakrama”
“Owhhhh…boleh aku tanya lagi?”
“Tentu, saya akan menjawabnya”
“Paman sudah lama bekerja dengan Papa?”
“Ya, saya bekerja untuk Jenderal besar sejak umur Jenderal besar berumur 15 tahun”
“Wahhhhh…keren, boleh tanya lagi?”
“Tentu”
“Apakah Papa atau Paman pernah keluar tanpa adanya penjagaan sepertiku?” tanya Selena.
Pertanyaan ini membuat Rafindra terdiam sejenak. Namun sejenak kemudian pria itu menghembuskan nafasnya.
“Para Tuan Alexandra, diperbolehkan keluar tanpa adanya penjagaan. Namun itu tidak berlaku untuk Nona, Nona harus tetap berada dalam penjagaan dimanapun itu”
“Hmmm aku mengerti, lalu kenapa Papa, Paman Hendrick, Papa George, Paman Jordan, Paman Jonas, Paman Asahi, Paman Nahl, dan Paman Alexandra tidak pernah pernah bertemu secara bersamaan? Opa juga bilang bahwa mereka tidak boleh berada ditempat yang sama apalagi Papa, Paman Hendrick, Papa George, dan Paman Jordan? Apa alasannya Paman Raf?”
“Para Jenderal tidak boleh berkumpul bersama-sama karena…jika salah satu dari mereka dalam bahaya mereka bisa mengirim signal bantuan kepada Jenderal yang lainnya. Jika mereka berada di tempat yang sama secara bersamaan maka ada sesuatu yang terjadi, akan sulit meminta bantuan keluar. Kurang lebih itu yang saya tau Nona, selebihnya Nona bisa tanyakan kepada Jenderal besar”
Selena mengangguk paham atas penjelasan dari Rafindra. Sekarang mau tanya apa lagi ya? Ahhh nanti saja…lebih baik ia fokus kepada pelajarannya terlebih dulu.
“Sekarang mari masuk Nona”
.
__ADS_1
.
.