
.
.
.
Ruvelis membuka pintu kamar dan melihat Jenssica yang tengah tertidur sembari memeluk Leo. Ruvelis menghembuskan nafasnya, dengan hati-hati ia menggendong tubuh Jenssica sedangkan George langsung menggendong putranya.
“Aku akan mengantarnya pulang”
“Ya, hati-hati”
Ruvelis berjalan keluar dari club itu, dengan hati-hati ia meletakkan Jenssica didalam mobil dan segera menyetir untuk pulang. Ditengah perjalanan Jenssica membuka matanya.
“Sudah bangun? Tidurlah lagi, mau pulang atau menginap di hotel lagi?”
“Hmmm…saya ingin pulang”
“Baiklah”
Keheninganpun terjadi didalam mobil itu.
“Hm…bisakah saya meminta sesuatu kepada anda?”
“Apa?”
“Bisakah…setelah kita menikah nanti, anda membeli sebuah rumah minimalis?”
“Kenapa? Padahal aku ingin membawamu tinggal di mansionku”
“Hmmm…saya suka rumah minimalis yang nyaman”
“…, baiklah jika itu maumu”
#
3 tahun kemudian…
Jenssica membuka matanya dengan perlahan, ia tersenyum melihat suaminya yang tengah tertidur sembari memeluk erat tubuhnya. Kapan suaminya pulang? Bisa-bisanya ia tidak tau jika suaminya sudah pulang setelah pergi selama 1 minggu karena tugas dari Jenderal besar.
“Aku tau aku tampan, tapi jangan melihatku seperti itu…kau ingin menggodaku pagi-pagi seperti ini?” tanya Ruvelis menghentikan tangan istrinya yang tengah meraba wajahnya.
“Hmmmm sudah lapar? Mau kumasakan apa?”
“Tidak…aku belum lapar, jangan kemana-mana. Hari ini cuti dulu ya, temani aku…” ucap Ruvelis.
“Baiklah, apa yang tidak untukmu? Tapi, kapan kau pulang? Kenapa tidak membangunkanku?”
“Jam 2 tadi sampai, aku langsung tidur. Lihat, pakaianku masih lengkap”
“Kebiasan sekali! Ayo ganti pakaianmu dulu, setelah itu baru tidur lagi”
“Tidak mau…”
Drtttt drtttttt…
Ponsel Ruvelis berdering, Jenssica melirik siapa yang menelfon suaminya pagi-pagi seperti ini. Nomor tidak dikenal? Siapa?.
“Siapa?” tanya Ruvelis menenggelamkan wajahnya di leher istrinya.
“Tidak tau, tidak ada namanya. Coba angkat dulu, siapa tau penting”
Ruvelis menganggukkan kepalanya, ia duduk dan mengangkat telfon itu namun Jenssica yang memegang ponselnya. Ia tak ingin istrinya salah paham jika yang menelfonnya adalah wanita.
“Ruvelis…”
“Hm? Ini…suara Yeni?” batin Jenssica.
“Yeni? Bagaimana bisa kau mendapatkan nomor telfonku?” tanya Ruvelis tak suka. Wanita gila itu tak henti-hentinya mengganggu hidupnya. Apa wanita itu tidak memikirkan perasaan suaminya?. Lebih baik ia ganti ponsel baru besok.
“Ruvelis…aku masih mencintaimu, kumohon…ayo kita menikah”
“Apa kau sudah gila?! Aku tidak mau! Aku juga tidak sudi! Kau sudah punya suami, hormati suamimu”
“Ruvelis, aku dan dia dijodohkan. Kami tidak saling mencintai”
“Tidak saling mencintai? Kau sudah punya 4 anak, bahkan anak tertuamu sudah berusia 7 tahun sekarang. Masih bilang tidak mencintai suamimu itu? Kau itu wanita yang sudah bersuami, jaga perilakumu” sinis Ruvelis. ia heran dengan Yeni, sudah bersuami selama 8 tahun masih saja mengejarnya. Benar-benar tidak tau malu.
“Ruvelis…ayolah, aku sudah menyukaimu sejak lama. Lagipula jika kau menikah dengan wanita itu kau tidak akan bahagia! Asalkan kau mau menikah denganku, aku akan menceraikan suamiku”
__ADS_1
“Cukup, hentikan omong kosongmu itu. Aku tak pernah mencintaimu sedikitpun, jadi jangan ganggu aku lagi! Paham?!”
“Sorry…Ruvelis is mine” ucap Jenssica.
“Jenssica?! Bagaimana kau bisa dengan Ruvelis?! Dasar jalag! Kem-"*
Tut….
Jenssica mematikan telfon itu sepihak dan memblokir nomor Yeni dari ponsel suaminya. Ia menatap kesal suaminya, bagaimana bisa Yeni lagi-lagi mendapatkan nomor telfon suaminya?!.
“Apa?” tanya Ruvelis dengan wajah kebingungannya.
“Yeni mantan pacarmu ya?”
“Ha?! Dih?! Aku belum buta sampai-sampai mau berpacaran dengan wanita gila itu. Jangan berpikir yang tidak-tidak!”
“Hmph! Bohong, jika tidak bagaimanna bisa Yeni menggilaimu?”
“Tidak tau, sudah jangan dipikirkan. Ayo tidur lagi”
Ruvelis membaringkan istrinya dengan perlahan, ia mencium pipi lembut istrinya.
“Hmmmm…aku hanya takut jika kau meninggalkanku karena aku tak bisa mengandung anakmu” lirih Jenssica.
“Lagi-lagi membahas itu, sudahlah…kita pasti akan punya nanti. Mungkin belum waktunya kita mendapat anak” ucap Ruvelis sembari tersenyum.
“Aku hanya takut…”
“Kau tidak perlu takut, sudah…ayo tidur lagi”
Baru saja memejamkan mata, ponsel Ruvelis kembali berdering. Ruvelis mengepalkan tangannya penuh kegeraman! Bajin*an mana lagi yang menelfonnya?! Apa ia tidak bisa tenang bahkan dihari liburnya!?.
“Apa?!!” bentak Ruvelis tanpa melihat siapa yang menelfonnya. Sedangkan Jenssica hanya tersenyum lucu melihat kekesalan suaminya.
“Hei Ruvelis! Anakku sudah lahir! Aku mendapatkan seorang putra!”
“Benarkah?! Memang kapan istrimu hamil?! Dan kenapa aku tidak ingat jika kau sudah menikah?!” ucap Ruvelis dengan nada kesalnya.
“Jangan pura-pura hilang ingatan kau!”
“Ya ya ya! Terus kau mau apa?! Aku aku menjadi Baby sister anakmu?!”
“Aku tidak akan menyia-nyiakan hari liburku!”
Tut…
Ruvelis melemparkan ponselnya kesembarang arah dan kembali berbaring sembari memeluk istrinya.
“Kau lelah ya? Mau kupijat sebentar?”
“Kau tau apa yang akan kulakukan setelah itu” ucap Ruvelis dengan senyum sinis.
Pipi Jenssica langsung merona dibuatnya, alhasil suami istri itu kembali terlelap sembari berpelukan.
3 tahun kemudian…
Ruvelis dengan air mata yang terus mengalir keluar dari kelopak matanya menatap buah hati kecilnya yang baru saja lahir. Tuhan…terima kasih…ia resmi menjadi seorang Ayah sekarang.
“Bayi perempuan yang sangat sehat dan cantik, anda menjaganya dengan baik Jenderal besar”
“Tuhan…aku masih tak percaya dengan ini”
Ruvelis menciumi pipi bayi kecilnya, setelah puas menciumi buah hatinya, Ruvelis memberikan anaknya kepada dokter agar ditangani.
__ADS_1
“Terima kasih…aku sangat berterima kasih, terima kasih untuk hadiahnya. Aku sangat menyukainya” ucap Ruvelis tepat ditelinga istrinya yang sedang beristirahat setelah melakukan perjuangan antara hidup dan mati.
“Ayo keluar dulu, aku akan mengobati lukamu” ucap George diluar ruangan.
Ruvelis menatap tangannya yang dipenuhi cakaran istrinya, ahhhhh ia terlalu senang sampai tidak sadar jika lengannya terdapat begitu banyak cakaran seperti ini.
Ruvelis mengecup dahi istrinya sebelum keluar dari ruangan itu. Pria-pria yang berbaris rapi disepanjang lorong membungkuk hormat kepada Ruvelis.
“Selamat atas kelahiran putri anda Jenderal besar!”
“Terima kasih” ucap Ruvelis sembari tersenyum.
“Hahahaha, di mana cucuku?! Aku sudah resmi menjadi kakek sekarang!” Tuan besar Alexandra datang sembari tertawa senang.
“Selamat datang Tuan besar…”
“Sedang didalam incubator pa, kan lahir premature” ucap Deon.
“Bagaimana keadaannya? Apa cucu Mama baik-baik saja? Bagaimana juga keadaan Jenssica?”
“Ibu dan bayinya baik-baik, hanya saja bayinya lahir dalam kondisi lemah. Jadi harus dirawat didalam incubator selama beberapa hari, untuk kesehatannya semuanya baik, tidak ada kecacatan”
“Laki-laki atau perempuan?” tanya Tuan Alexandra dengan wajah berharapnya. Ia sangat menginginkan cucu perempuan, ia tak sanggup jika harus mengurus cucu laki-laki mengingat bagaimana nakalnya putra-putranya dulu.
“Hm? Jenderal besar belum memberi tau anda?”
“Apa?” tanya Tuan besar Alexandra dengan wajah kebingungannya, Ruvelis tidak memberitaunya apa?.
“Perempuan pa, Papa dan Mama dapat cucu perempuan” jawab Jeff.
“Yeahhhh!!! Akhirnya…aku bisa menggendong anak perempuan juga” ucap Tuan Alexandra sembari tertawa senang.
“Untuk kalian semua! Kalian naik gaji mulai hari ini! Ini hadiah karena putraku sudah memberikanku cucu perempuan!!”
“Terima kasih Tuan besar”
Ruvelis hanya bisa tersenyum melihat kesenangan Papa dan Mamanya. Wajar jika Papa dan Mamanya begitu senang dengan kelahiran putrinya, karena Papa dan Mamanya tidak bisa membuat anak perempuan.
Brakkkk
Pang!
Dor!
!!!
“Jenderal besar!!!!”
.
.
.
Joanna Laila Devano Ivona Mikayra ( Nyonya besar Alexandra )
Jenssica Maria Leonardo ( Nyonya muda Alexandra )
Selena Anderson Devano Medeltoon Maria Margareth Jhon Alexandra ( Nona besar Alexandra aka Nyonya muda Iskandar aka Jenderal muda Nara )
.
.
.
3 Chapter untuk penebusan hiatus, bye bye semuanya. Next Chapter Thor kasih lihat visual Keluarga alexandra + Nyonya dan Tuan Georgino.
.
.
.
__ADS_1
See you again semuanya...