Our Last Love

Our Last Love
V1 : Chapter 164 : Kampus Baru


__ADS_3

.


.


.


Selena menyentuh dahi suaminya yang tertidur lelap setelah meminum coklat panas, panas…pasti suaminya demam setelah kedinginan di bandara tadi. Suaminya selalu seperti ini ketika suhu sedang turun.


“Bajunya tebal begini…mall masih buka tidak ya?”


Selena menggelengkan kepalanya, ia keluar darikamarnya dan kembali membawa air hangat serta handung untuk mengompres suaminya.


“Cepat sembuh ya sayang…” ucap Selena mencium pipi dan dahi Leo.


Setelahnya Selena mengambil blackcard, kunci mobil, dan mantel lalu keluar dari penthousenya. Semua orang sudah tidur, dan ia tidak mau mengganggu mereka.


“Nanti kalau ada yang tanya aku kemana, aku ke mall ya” ucap Selena pada bagian resepsionist.


“Baik Nona besar”


“Nona? Anda ingin kemana tengah malam begini?” tanya Rafindra yang baru kembali.


“Ahhh…Leo demam tinggi, tidak ada pakaian tipis di kamar. Jadi aku akan ke mall sebentar. Apa ada mall yang masih buka?”


“Saya akan mengantar anda”


“Terima kasih…” ucap Selena memberikan kunci mobil kepada Rafindra.


Rafindra menerima kunci mobil itu dan segera membawa Selena ke mall terdekat yang masih buka. Selena bergegas masuk kedalam mall dan menuju toko pakaian yang hampir saja tutup.


“Maaf…apa ada pakaian tipis untuk pria?”


2 wanita penjaga toko itu saling memandnag, mereka akn segera tutup. Tapi tak masalah, hanya tinggal 1 pelanggan lagi untuk dilayani.


“Mari saya tunjukan…” salah satu wanita itu mengarahkan Selena ke rak bagian pakaian tipis. Selena menyentuh satu persatu pakaian itu memastikan bahwa suaminya tidak akan mengalami gatal karena memakainya.


“Tolong bungkus ini, aku juga ingin beberapa yang seperti ini”


“Baik! Akan segera kami siapkan!” pelayan toko itu berujar dengan senang.


Tak hanya ingin membeli pakaian untuk suaminya Selena melihat deretan jaz-jaz mahal dari berbagai merk terkemuka. Jaz yang bagus dan elegant…tapi suaminya suka tidak ya ia membelikan jaz selain jaz hitam? Ah, semoga saja suaminya menyukainya.


Setelahitu Selena dasi dan tie tacks type juga beberapa kemeja. Setelah selesai memilih ia menuju kasir dengan membawa beberapa kotak tie tacks type dan dasi yang sudah ia pilih.


“Nona, tolong bungkus semua jaz itu, ini, dan juga pakaian tadi. Berapa totalnya?”


Kedua penjaga wanita itu seketika tercengang, namun mereka segera membungkus pesanan Selena. 30 menit kemudian semua pesanan Selena sudah selesai dibungkus, kedua penjaga itu saling melirik. Apa gadis didepannya ini bisa membayar semua pakian ini?.


“Bisa pakai Black card?” tanya Selena.


“Bi-bisa…”


Selena mengeluarkan Black cardnya, kedua mata penjaga toko itu berbinar seketika. Setelah selesai Rafindra memasukkan barnag-barang itu kedalam troli.


“Untung saja Nona besar tidak mempunyai kebiasan membeli satu mall seperti Jenderal besar…”


Selena kembali berkeliling, ia menuju supermarket untuk membeli kepala muda. Semoga saja ia mendapatkannya disini, setelah beberapa menit mencari akhirnya Selena menemukannya. Rafindra mengerutkan keningnya melihat Selena yang membeli kelapa muda.


“Kalau Paman mau beli sesuatu beli saja, nanti kubayar sekalian”


“Ti-tidak Nona”


“Ayo, cepat Paman…” ucap Selena.


“Benar-benar tidak perlu Nona”


“Hmmmmm…oh ya! Paman Hendrick selalu melarang untuk makan ice cream! Aku akan beli beberapa kotak untuk di rumah!”


.


.


.


Saat sampai dirumah Selena langsung memasukkan ice creamnya didalam kulkas dan mengambil baju lalu langsung masuk kedalam kamar. Ia menatap suaminya yang masih tidur dengan posisi yang tidak berubah, dengan perlahan ia menyentuh dahi suaminya. Masih panas.


Selena mengambil kompres yang ia letakan di dahi suaminya, dengan hati-hati ia membalik tubuh suaminya hingga terlentang. Karena Leo sudah merawatnya dengan baik saat ia sakit jadi ia yang akan merawat Leo sekarang.


Selena melepaskan mantelsuaminya dengan hati-hati lalu melepaskan kancung baju Leo satu persatu setelah itu memakaikan kaus tipis yang ia beli.


“Nahhhh begini baru benar…” ucap Selena turun dari tempat tidur dan menganti air yang sudah dingin dengan air hangat lalu kembali mengompres suaminya. Dengan lembut ia mengusap wajah rupawan suaminya dengan handuk yang basah itu.


“Cepat sembuh ya pengeranku…I love you”


Setelah selesai Selena berbaring di samping suaminya, dengan hati-hati ia membaliktubuh suaminya hingga berhadapan dengannya. Selena tersenyum dan memeluk erat tubuh Leo lalu dengan perlahan terlelap.


Disaat Selena terlelap Leo membuka matanya dengan perlahan lalu tersenyum. Bagaimana tidak semakin cinta kalau begini? Bisa-bisanya sedang hamil muda masih mau merawatnya.


“Terima kasih…” ucap Leo memeluk erat istrinya.


*********


Leo membuka matanya dengan perlahan, ia menatap tempat tidur yang kosong. Di mana istrinya? Kenapa istrinya bangun lebih dulu daripada dirinya?.


“Duhhhh…kenapa pusing begini…”


“Sayang…sudah bangun?”


Selena masuk kedalam kamar membawa makanan dan juga air kelapa untuk suaminya. Selena meletakkan makanan dan minuman itu diatas kabinet dan menyentuh dahi dan juga leher suaminya.

__ADS_1


“Masih hangat, untung saja sudah turun. Hari ini istirahat saja, jangan bekerja”


“Tapi hari ini kan kau mau lihat kampus barumu?” ucap Leo.


“Aku dengan Joe, ada Paman Raf juga. Istirahat saja dirumah, kalau hari ini tidak sembuh…ya…liburan berdua tertunda”


“AH? Tidak mau!”


“Ayo makan dulu, setelah makan air kelapanya diminum”


“Dapat darimana kelapanya? Cari sendiri?” tanya Leo.


“Tidak, sudah jangan dipikirkan. Akan kusuapi”


Leo membuka mulutnya menerima suapan dari istrinya, entah kenapa hari ini tubuhnya seperti benar-benar tidak punya tenaga sama sekali. Padahal dari dulu saat demam ia tidak pernah seperti ini.


“Supnya enak…”


“Benarkah? Ini pertama kalinya aku membuat sup ayam, kalau suka nanti kubuatkan lagi”


“Hmmmm istriku benar-benar pengertian…” ucap Leo mencubit kedua pipi istrinya.


Selena hanya tersenyum manis dan mencium pipi suaminya dan kembali menyuapi Leo. setelah selesai Leo meminum air kepala yang disiapkan istrinya, walaupun ia tidak suka air kepala. Sudahlah…daripada tidak sembuh.


“Sudah, istirahatlah. Jangan mandi dulu dan jangan pakai pakaian tebal”


“Iya sayang…”


Selena membereskan peralatan makan suaminya dan membawanya keluar. Leo tersenyum dan kembali berbaring dan memejamkan matanya.


“Mau kemana? Sudah rapi sekali” ucap Alexa yang melihat keponakannya tengah memakai coat dan kunci mobil.


“Lihat-lihat kampus sebentar, mungkin pulang 4 jam lagi” jawab Selena.


“Mau keluar ya? Baru saja Paman ingin bicara denganmu” ucap Hendrick sembari menuruni anak tangga.


“Nanti saja jika ingin bicara. Aku sibuk, kalau Paman ingin bicara nanti malam saja. Joe, sudah siap?”


“Sudah, ayo pergi” jawab Joe.


Selena dan Joe langsung keluar dari penthouse itu membuat Hendrick tercengang.Ia…ditolak lagi? Meskipun ia sudah sering kali ditolak Selena tapi kenapa rasanya masih sakit?.


“Sabar…nanti malam kan bisa” ucap Louis.


“Ini ke 278 kali aku ditolak olehnya” ucap Hendrick dengan wajah suramnya.


Jeff menatap sinis Hendrick, baru juga 278 sudah muram begitu? Ia yang hampir mencetak rekor dengan 400 kali ditolak Selena bagaimana?!.


.


.


.


“Paman Raf, Paman bisa kembali. Nanti aku akan pulang naik taxi dengan Joe”


“Anda…pulang naik taxi? Tidak tidak tidak…saya akan tetap disini sampai anda selesai Nona”


“Jangan…nanti kalau lama bagaimana?”


“Saya akan tetap disini”


Selena menghembuskan nafasnya, mengalah lebih baik. Lagipula ia tak akan basa mengalahkan keras kepalanya Rafindra jika sudah menetapkan sesuatu.


“Baiklah…Paman bisa bawa mobilnya masuk, nanti Paman tunggu di kantin saja”


“Baik”


Selena dan Joe masuk kedalam kampsu itu, Joe menatap senang kampus baru yang akan ditempati Selena. Wahhhh ia juga ingin berada disini…tapi apalah daya. Ia saja belum lulus dari Royal maupun UDI mana bisa masuk kemari.


“Kampusnya bagus, seperti masa depan” ucap Joe.


“Nanti kuperlihatkan kampus lamaku saat aku sudah selesai dengan tugas wajibku”


“Benarkah?! Kau akan mengajakku? Tapi…pasti kau akan lama di kamp. Tidak ada yang menemaniku lagi” ucap Joe  memajukan bibirnya. Selena dan Daniel pmasuk kedalam kamp, lalu siapa yang akan menjadi sasaran kebosanannya nanti?.


“Tidak lama kok, karena aku sedang mengandung. Jadi mungkin hanya 4 bulan disana. Nanti kalau anak-anak sudah besar, mungkin 4-5 tahun” jawab Selena langsung mengguncang mental Joe.


Sebelum menemui rektor Selena dan Joe berkeliling terlebih dulu memastikan tempat ini cocok atau tidaknya. Mungkin karena kelas sudah dimulai tempat ini sepi?.


“Kampus ini bagus, mereka punya sistem pendidikan yang benar-benar berkualitas. Lihat ini, kampus ini juga menjadi kampus favorite! Ini kampus yang cocok untukmu!” ucap Joe.


“Aku tidak terlalu tertarik dengan design kampus ini. Selama kampus ini bisa memberiku pengetahuan yang kuinginkan, itu sudah cukup. Lagipula aku harus tau, kampus ini bisa menerima mahasiswi sepertiku atau tidak” jawab Selena.


Jeo menganggukkan kepalanya, Selena sekarang berbadan dua. Dia juga tidak mungkin bisa masuk kelas, pasti Selena akan meminta untuk membawa pulang tugas dan materi lalu masuk hanya dihari-hari tertentu seperti di kampus sebelumnya.


“Oh ya Joe, di sertifikat kelulusanku bagaimana bisa ada nama asliku? Apa rektor sudah tau?”


“Oh, mengenai hal itu aku lupa memberitaumu. Daniel yang mengubah nama Selena Yunki Leonardo menjadi nama aslimu”


“Hmmmm baiklah, ayo berkeliling lagi!”


Setelah puas berkeliling, Selena dan Joe menuju ruang rektor diantarkan oleh seorang dosen yang kebetulan mereka temui saat ditengah perjalanan tadi.


********


Rafindra melihat jam tangannya, sudah 3 jam Nonanya masuk. Kenapa sampai sekarang belum keluar juga? Ia lebih baik masuk untuk memastikan Nonanya dalam keadaan baik-baik saja atau tidak.


“Paman Raf, ada apa? Kenapa kau terlihat cemas begitu?” ucap Selena.

__ADS_1


“Nona, apa anda baik-baik saja?”


“Ya, aku baik-baik saja. Kenapa?”


“Tidak…saya hanya khawatir karena anda tak kunjung keluar tadi”


“Aku baik-baik saja, kan ada Joe juga” jawab Selena sembari tersenyum dan itu membuat Rafindra menghembuskan nafas lega. Jika sampai tadi Nonanya kembali degan luka sedikit saja, kampus ini pasti akan diruntuhkan oleh Tuan mudanya.


“Nona, mari kita pulang. Jenderal besar sudah menelfon meminta anda untuk segera pulang”


“Ada apa memangnya? Kenapa sepertinya dari kemarin seperti ada yang ingin dibicarakan Jenderal besar kepada Selena”


Rafindra hanya diam tak menjawab pertanyaan Joe, ada 2 hal kenapa ia tidak ingin menjawab pertanyaan dari teman Nona besarnya yaitu tidak berhak menjawab dan tidak punya keinginan untuk menjawab.


“Bisakah sebelum kembali kita mampir dulu ke toko kue?”


“Anda…menginginkan sesuatu?”


“Ya…Leo sedang ingin makan Cheese cake. Aku akan membeli beberapa kue lain untuk di apart”


“Baik, mari”


.


.


.


Selena membuka pintu penthousenya dengan perlahan, Rafindra membantu membawkana kotak-kotak kue yang sedang dibawa Selena. Selena melepas sepatu dan mantelnya lalu menghampiri suaminya yang sedang terlelap di sofa. Kenapa suaminya beristirahat disini?.


“Untunglah sudah tidak demam…”


“Hmmmm…sayang….sudah pulang?” ucap Leo membuka matanya dengan perlahan.


“Kenapa istirahat disini? Kenapa tidak dikamar?”


“Aku baru saja berbicara dengan Daniel dan tertidur disini” jawab Leo sembari tersenyum.


“Aku akan menganti pakaian, ini kue untukmu. Makan ya, setelah ini kubuatkan sup…atau…mau makanan lain?”


“Hmmm…terserah saja…” jawab Leo mencium pipi istrinya dengan lembut.


“Hm? Tumben cium pipi, hayooo…ada apa? Tumben sekali cium pipi bukan bibir. Ayo katakan ada apa” ucap Selena duduk disebelah suaminya, Leo hanya tersenyum manis dan memeluk pinggang ramping istrinya.


“Kangen…mau peluk”


“Kambuh lagi manjanya, ayolah…katakan ada apa”


Leo langsung tersenyum canggung dibuatnya, istrinya benar-benar paham kebiasannya. Bahkan istrinya tau tabiatnya jika ingin mengatakan sesuatu yang belum pasti disetujui istrinya.


“Emmmmm…nanti malam…mau tidak ikut denganku ke pesta?” tanya Leo.


“Hm? Pesta? Pesta apa? Kenapa ajak aku?”


“Pesta para Tuan muda, tenang…ini berbeda dengan yang dikatakan Hans” jawab Daniel.


“Apa aku harus ikut? Kenapa tidak kalian berdua saja”


“Aku bawa Joe ke pesta, jadi Leo tidak ada pasangan”


“Owhhh…lihat nanti ya”


“Tapi mau kan?” tanya Leo.


“Mau, tapi tidak janji ya. Sudah…aku mau mandi dulu”


Selena mencium bibir suaminya singkat dan segera pergi menuju kamarnya. Leo tersenyum manis melihat istrinya yang tiba-tiba menciumnya, sepertinya istri kecilnya dalam mood baik sekarang.


“Sudah sering berciuman dengan Selena kenapa masih malu begitu?” tanya Daniel dengan heran.


“Kau akan merasakannya sendiri nanti” jawab Leo sembari memakan kue yang dibawakan istrinya.


“Kau kenapa diam berdiri disitu?” tanya Daniel kepada Joe yang hanya berdiri diam menatap kosong kearah meja.


Joe tak merespon ucapan Daniel, sepertinya ada sesuatu yang ia lupakan. Tunggu…bukankah tadi Daniel bilang ia akan ikut di pesta para Tuan muda tahun ini? Itu berarti Hans pastinya juga akan disana, ahhhhh…ia punya rencana yang bagus untuk nanti malam.


“Aku akan pergi beli gaun dulu, minta uang” ucap Joe kepada Daniel.


“Dih?! Sudah, pergi sana. beli apa yang kau mau, nanti minta pelayan toko mengirimkan total belanjaanmu kepadaku”


“Okey!”


Joe pergi begitu saja setelah Daniel mengatakannya. Daniel menghembuskan nafasnya, ternyata melamun masalah itu. ia pikir ada apa sampai-sampai Joe melamun tadi.


“Kau…” ucap Daniel heran menatap Leo yang tengah sibuk memakan kue yang dibawa Selena. Ia baru tau jika Leo suka kue, terlebih lagi kue keju.


“Ohhh…ini benar-benar lezat…sayang terima kasih sudah membelikanku ini…”


“Kau…sedang mengidam atau bagaimana? Selena yang hamil tapi kau yang mengidam?” ucap Daniel keheranan sendiri.


“Ya apa masalahnya?! Kan aku suaminya! Kau tidak mau?” tawar Leo.


“Tidak, kau habiskan sendiri saja”


“Terima kasih…”


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2