Our Last Love

Our Last Love
V1 : Chapter 128 : 3 keponakan sekaligus


__ADS_3

.


.


.


Joe yang mendengarnya seolah-olah tak percaya hingga mangkuk yang berada di tangannya jatuh ke lantai. Selena sedang mengandung? Benarkah? Tapi, bukankah Leo tidak ingin Selena mengandung anaknya? Apa Leo tidak memberi Selena obat setelah selesai berhubungan badan?.


“Joe, kau kenapa?” tanya Selena.


“A-aku akan punya 3 keponakan sekarang?”


“Ya!” jawab Selena sembari tersenyum.


Joe tersenyum dan sesaat setelahnya tubuhnya langsung ambruk kelantai disusul dengan ambruknya tubuh Alex dan Micle. Selena yang panik langsung memanggil Mafia yang berada di luar ruangannya. Para Mafia segera masuk, mereka terkejut mendapati Joe, Alex, dan Micle terkapar pingsan dilantai entah karena apa. Mereka langsung membawa ke-3 orang itu masuk ke dalam lift agar segera ditangani oleh dokter.


Leo dan Selena saling memandang lalu tersenyum, Leo menggenggam erat tangan istrinya lalu menciumnya.


“Sudah makan? Mau kubuatkan sesuatu?”


“Tidak, aku ingin makan kebab ini saja. Tumben kemari sendirian, di mana Sekretarismu?”


“Mereka sedang membawa hadiahmu kemari” jawab Leo sembari tersenyum.


“Hadiah?! Apa itu?!” tanya Selena bersemangat. Apa suaminya ingin memberikannya buku yang ia inginkan beberapa hari yang lalu?.


Sekretaris serta Assistant Leo masuk kedalam ruangan Selena membawa banyak hadiah ditangan mereka. Sekretaris Leo dengan nafas yang tersengal-sengal memberikan bucket yang berisi kunci mobil serta beberapa sertifikat yang membuat seisi ruangan itu langsung dibuat membeku.


“Huh?”


“Selain ini, mana hadiah yang ingin kau buka terlebih dulu?”


Selena menatap kotak-kotak hadiah yang berada di tangan para tangan kanan suaminya. Dengan ragu Selena menunjuk kotak yang tidak terlalu besar yang berada di tangan Assistant Leo.


“Pilihan yang bagus, kemarin siapa yang bilang ingin buku tentang Genetika?” tanya Leo sembari mengambil hadiah yang ditunjuk istrinya. Ia memberikan hadiah itu kepada Selena.


Selena membuka kotak hadiah itu dan tertawa senang melihat buku yang sangat ingin ia baca sejak beberapa hari yang lalu.


“Wahhh terima kasih!!” ucap Selena.


“Aku juga sudah membelikan buku-buku tentang panduan pendidikan dokter spesialis bedah saraf. Kau ingin menjadi dokter bedah seperti Mamamu bukan? Jadi…belajar yang rajin ya. Pasti nanti bisa” ucap Leo sembari membelai lembut kepala istrinya.


“Paman! Bolehkah aku meminta salah satu dari hadiah itu?!” tanya Derian.

__ADS_1


“Hadiah itu untuk istriku! Jangan menyentuhnya” dingin Leo.


“Pelit sekali…aku akan keponakan Paman”


“Minta Papamu sana, aku hanya mempunyai kewajiban melayani istriku. Pergi”


“Cih, galak sekali…”


“Leo, jangan galak begitu dong sayang…”


“Sudah, jangan dipikirkan. Aku juga sudah membawakan buku-buku tentang hukum dan politik. Ditambah, karena kau mengandung sekarang. Aku sudah membeli perpustakaan pusat kota untukmu, jadi kau bisa membaca buku sepuasmu”


“Benarkah?! Terima kasih!” ucap Selena langsung memeluk suaminya dengan erat.


“Asalkan kau bisa terus tersenyum…aku akan memberikan apapun kepadamu”


Leo mengecup lama puncak kepala istrinya. Cita-cita istrinya, harus terwujud…apapun akan ia lakukan agar halangan didepan istrinya hilang. Ia tak akan membiarkan apapun menghambat cita-cita istrinya termasuk anaknya, ia tidak akan membiarkan anak-anaknya menjadi penghambat dalam kesuksesan istrinya. Ia juga tak akan membiarkan anak-anaknya menjadi kelemahan bagi istrinya untuk menghadapi musuh yang ada didepan mata.


Leo merangkup kedua pipi istrinya dan menatap mata istrinya lekat-lekat,


“Jangan…jangan biarkan apapun menjadi penghalangmu. Jangan biarkan sesuatu menjadi kelemahanmu, teruslah maju dan jangan pernah melihat kebelakang, raih cita-citamu. Raih apa yang seharusnya menjadi milikmu, suatu saat…mereka yang menghinamu. Akan hancur dengan tanganmu. Pegang kata-kataku, aku akan selalu ada di sampingmu. Tak peduli aku berada di mana saat itu, aku akan tetap ada di sampingmu. Teruslah berjalan maju, singkirkan semua keraguan di hati dan pikiranmu. Belenggu dengan kuat bebanmu dan lepaskan saat kau sudah mencapi keberhasilanmu dan saat itu…mereka yang tidak menghormatimu akan bersujud meminta pengampunanmu” ucap Leo sembari menempelkan dahinya dikening sang istri tercinta.


Selena tersenyum, ia mencium bibir indah suaminya dengan lembut. Melihat hal itu teman-teman Daniel lebih memilih untuk pergi daripada kepanasan sendiri.


Sekretaris serta Assistant Leo yang masih berada diruangan itu seketika merona melihat perilaku Selena. Leo tersenyum dan mencium bibir istrinya.


“Istrimu sedang hamil muda, kau tidak boleh melakukan hubungan intim terlebih dulu. Kandungan istrimu masih lemah”


Mendengar ucapan Daniel, Leo langsung melepaskan ciumannya sebelum terlambat. Sial*n! Untung saja Daniel mengingatkan bahwa istrinya tengah mengandung sekarang.


Selena tersenyum dan memeluk erat suaminya, Leo yang tiba-tiba mendapat pelukan dari istrinya langsung menggigit bibir bawahnya. Tahan…tahan…istri tercintanya sedang mengandung sekarang. Ia harus menahan nafsunya.


“Sa-sayang, le-lepaskan aku….bi-biarkan aku kekamar mandi”


“Tidak mau, masih mau peluk…peluk sampai aku tidur” ucap Selena dengan mode manjanya.


Sekretaris dan Assistant Leo menahan tawanya melihat Tuan muda mereka yang mati-matian mengontrol hasratnya. Punya istri seperti Nyonya muda mereka memang sulit.


.


.


.

__ADS_1


Leo membelai lembut punggung istrinya yang sudah mulai terlelap didalam pelukannya. Ia tersenyum lembut melihat istrinya yang terlelap sembari memeluk erat tubuhnya.


“Jadi tidak?” tanya Daniel yang masuk kedalam ruangan Selena.


“Sebentar, tunggu 30 menit lagi. Jika 30 menit istriku tidak banyak bergerak, aku bisa pergi”


“Oh, aku tunggu di kantin kalau begitu”


“Iya”


45 menit kemudian…


Leo dengan hati-hati melepaskan diri dari pelukan istrinya, ia menghembuskan nafas. Setelah ia selesai mandi tadi istrinya benar-benar tidak mau melepaskannya. Tapi syukurlah, kini istrinya sudah tertidur. Ia bisa menjalankan rencananya bersama dengan Daniel.


“Maaf ya sayang, aku pergi dulu…mimpi indah bidadariku” bisik Leo seraya mencium lembut pipi istrinya.


Leo keluar dari ruangan istrinya dan segera menghampiri Daniel yang berada di kantin. Setelah bersiap-siap kedua orang itupun langsung pergi dari rumah sakit.


Daniel menghentikan mobilnya disebuah hotel bintang 5 yang terkenal di seluruh penjuru kota. Leo merapikan pakaiannya dan masuk kedalam hotel itu dan langsung menuju ke lantai 7 tanpa adanya pencegahan oleh para security.


Leo menghembuskan nafasnya didepan sebuah ruangan yang paling sering di gunakan untuk mewawancari orang-orang terkenal. Ia membuka pintu dengan perlahan membuat puluhan wartawan seketika berdiri dan membungkuk hormat kepadanya.


Leo tersenyum dan duduk disebuah sofa yang sudah disiapkan sebelumnya, seorang wanita pun sudah duduk di sofa lain dengan beberapa pertanyaan yang akan ditujukan kepada Leo.


“Tuan Iskandar, sebelumnya kami sangat berterima kasih karena anda bersedia untuk di wawancarai oleh tim kami”


“Tak masalah, aku sedang senggang sekarang”


“Baiklah, kamera sudah siap?”


“Siap”


“Baiklah, mari kita mulai kepada pertanyaan pertama. Banyak orang yang kagum dengan kesuksesan anda di usia muda seperti ini, bisa anda memberitau apa yang anda lakukan sampai bisa di titik ini?”


Leo tersenyum mendengar pertanyaan yang di lontarkan oleh wartawan, sejujurnya ia menerima pewawancaraan ini karena ingin mempublikasikan hubungannya dengan istri tercintanya. Ia tidak memiliki niat lain selain melakukan hal itu. Wawancara ini dilakukan secara live, dan ini lebih baik daripada mempublikasikan melewati konferensi pers.


.


.


.


Hallo semuanya, balik lagi sama Author ya. Wah, makin kesini bakalan makin banyak Chapter Flashback. Karena kedepannya bakalan banyak Chapter Flashback, jadi mohon bersabar ya. See you Next Day...

__ADS_1


__ADS_2