Our Last Love

Our Last Love
V1 : Chapter 171 : New Era


__ADS_3

.


.


.


Jennifer menatap jijik lorong gelap yang dipenuhi oleh darah, sudut bibir Jennifer terangkat ketika melihat sebuah kepala yang terpenggal tanpa adanya anggota tubuh yang lain selain beberapa cacahan organ dalam. Inikah yang diperbuat oleh keponakan kesayangannya? Memang pantas Selena mendapat julukan ‘Iblis pedang dari keluarga Alexandra’ julukan yang kampir sama dengan Ruvelis yaitu ‘Pedang kematian dari kemiliteran’.


“Keponakanku hebat bukan? Memang pantas menjadi keponakanku”


Jennifer mengambil kepala yang terpenggal itu, namun tubuhnya seketiak membeku melihat siapa yang dipenggal oleh keponakannya. Bukankah ini…anak Yeni?!!!. Keponakannya membunuh anak keluarga Georgino?!.


“Hahahahahaha!!! Yeni…Yeni…aku yang mengancammu tapi keponakanku yang membunuh putrimu. Benar-benar lucu…”


Jennifer tanpa belas kasihan sedikitpun menjatuhkan kepala itu hingga mengelinding, ia melepaskan sarung tangannya dan mengambil samurai milik keponakannya. Ia membaca nama yang terukir di samurai indah itu.


“Jenderal besar Nara huh?” Jennifer tersenyum, Selena bukan hanya akan menjadi calon Jenderal besar selanjutnya. Melainkan penguasa semua kamp, musuh yang tidak bisa dibantai Ruvelis akan dibantai oleh Selena.


“Boss!! Kita harus pergi!! Polisi sedang menuju kemari!!!”


.


.


.


Flashback Off


.


.


.


Selena tersenyum sinis mengingat bagaimana bajin*annya ia malam itu, malam menyenangkan yang membuatnya merasa seperti seorang binatang yang menemukan mangsa besar untuk pertama kali.


“Good Job Selena…”


“Aku tidak ingin membahas ini lagi, aku akan ke kamar. Aku tidak ingin makan malam”


Selena berdiri dan berjalan menuju kamarnya. Mikayra menghembuskan nafasnya, ia menatap Hendrick. Hendrick yang ditatap seperti itu langsung berkeringat dingin.


“Bujuk cucuku untuk makan, jika sampai dia melewatkan makan malamnya…terima hukumanmu”


“A-aku akan menjalani hukumanku saja…”


“Nyonya, bisakah saya yang membujuk Selena?” tanya Daniel menawarkan diri.


“Memang kau bisa?”


“Saya akan mencobanya”


“Pergilah”


Daniel berdiri dan mengikuti Selena ke kamarnya, Daniel mengetuk pintu kamar Selena beberapa kali.


“Ada apa Daniel?”


“Boleh aku masuk?”


“Masuk saja, belum dikunci”


Daniel masuk kedalam kamar itu lalu menguncinya. Ia menghampiri Selena yang tengah duduk di balkon sembari memegang sebuah buku.


“Ayo makan dulu, setelah itu kau bisa istirahat”


“Aku tak punya selera untuk makan, kau bisa pergi dan makan malam dengan keluargaku”


Daniel duduk dihadapan Selena, Selena mengerutkan keningnya. Apa Daniel sedang mencoba memancing kematiannya sendiri?.


“Aku ingin menanyakan ssuatu kepadamu”


“Katakan setelah itu pergilah”


“Kenapa kau tidak mau membunuh Yeni? Saat diperusahaan Hans hari itu, itu adalah saat yang paling teapt untuk membunuhnya. Kenapa kau tidak melakukannya?”


Selena tersenyum sinis mendengar pertanyaan Daniel. Untuk apa terburu-buru membunuh wanita itu? Toh wanita itu juga cepat atau lambat akan menemui kematiannya kan?.


“Kau pikir aku akan langsung membunuhnya setelah apa yang wanita itu lakukan kepadaku? Tidak…dengan perlahan…aku akan menghancurkan keluaganya. Memberikan hukuman kepada setiap anak-anaknya, membuatnya menderita, dan meruntuhkan keluarga Georgino…setelah itu…rasa sakit yang keluarga itu berikan kepadaku. Akan lenyap! Aku ingin membuat wanita itu merasakan neraka dunia sebelum kematian, aku akan membuatnya berada di posisiku. Setelah itu kau akan tau…prinsip keluarga yang mengalir di tubuhku ini”


Daniel menelan ludahnya, ia pikir dengan kematian Yeni itu akan membuat Selena puas. Ternyata ia salah besar! Selena tidak akan puas dengan kematian Yeni saja, gadis didepannya ini…benar-benar duplikat dari Jenderal besar Nami.


“Kau bisa pergi, dan…bisa buatkan aku sesuatu untuk makan malam?”


“Kau mau makan apa?”


“Apa saja, asal itu masakanmu”


“Baiklah”


Daniel berdiri dan keluar dari kamar itu, Selena mengelengkan kepalanya. Ia terlalu lama bersama Daniel membuat pria itu sangat mengerti hal yang bisa membangkitkan moodnya.


.


.


.


Beberapa minggu kemudian…


.


.


.


Selena tersenyum puas melihat kinerja latihan semua tentara dari berbagai kamp. Ini adalah hasil yang dia inginkan, benar-benar hasil yang memuaskan.

__ADS_1


“Bagaimana?” tanya Daniel.


“Mereka lumayan…mereka mematuhi apa yang kukatakan dan tak lagi melanggar peraturan yang sudah ditetapkan. Kalau begini biar aku saja yang memegang jabatan Paman Hendrick”


“Lalu kau mau membuat Paman menjadi pengangguran seutuhnya begitu?” kesal Hendrick.


“Kan Paman memang menjadi pengangguran semenjak aku masuk kamp”


Hendrick menghembuskan nafasnya, itu benar…ia menjadi pengangguran semenjak Selena masuk kedalam kamp karena hampir semua tugas yang biasa ia tangani diberikan kepada Selena.


Mata Daniel bergulir menatap perut Selena yang mulai membuncit. Waktu berlalu dengan cepat, usia kehamilan Selena hampir menginjak 5 bulan. Dan tak terasa juga jika 6 minggu lagi mereka akan kembali ke A.S.


“Selena…”


“Ya?”


“Boleh…kusentuh perutmu?”


Selena menatap perutnya lalu menatap Daniel sembari tersenyum.


“Tentu…”


Tangan kekar Daniel dengan perlahan menyentuh perut Selena dan dengan lembut membelainya.


“Wahhhh…bayinya bergerak!!” seru Selena sembari tersenyum senang.


Daniel ikut tersenyum senang merasakan pergerakan kecil ditelapak tangannya, ya tuhan…ini benar-benar menakjubkan.


“Oh ya Selena! Hari ini…kembar dikeluarkan, jadi sekitar 3 minggu lagi kau sudah bisa melihatnya. Mau?”


“Benarkah?!” tanya Selena menatap Daniel dengan wajah senangnya.


“Ya, bulan depan kau dan Leo bisa melihat mereka. Aku juga penasaran anakmu kembar laki-laki atau perempuan”


Selena langsung memeluk Daniel dengan erat sembari berterima kasih, ya tuhan…ia benar-benar senang. Sebentar lagi ia bisa menggendong anak kembarnya. Ia benar-benar tak sabar menanti hari itu.


“Terima kasih!! Aku benar-benar bahagia!”


“Sudah, jangan memelukku lagi. Sekarang ayo makan siang, Ryu pasti sudah lapar”


“Tidak, aku mau telfon Leo dulu. Aku akan memberitaunya kabar bahagia ini”


Ucapan Selena langsung membuat Hendrick dan para Alexandra berjingkat kaget dari tempat duduk mereka. Daniel dan Selena mengerutkan kening melihat reaksi itu. Kenapa mereka tampak terkejut?.


“Ka-kau makan dulu saja, bi-biar Paman yang menghubungi Leo” ucap Deon.


“Ohhhh okey”


Daniel pun membawa Selena pergi dari tempat itu, para Alexandra melirik kearah Hendrick. Hendrick menggelengkan kepalanya membuat para Alexandra menghembuskan nafasnya.


Hendrick mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Sekretaris Leo.


“Ada yang bisa saya bantu Jenderal besar?”


“Bagaimana…bagaimana keadaan Leo?”


“Jika hasilnya sudah keluar, tolong telfon aku”


“Baik…lalu…bisakah saya bertanya mengenai keadaan Nyonya muda disana?”


“Selena baik-baik saja…dan jika Leo sudah sadar tolong katakan bahwa anak kembarnya sudah lahir”


“Tuan kecil sudah lahir?! Anda tidak sedang bercanda bukan Jenderal besar?!”


“Apa aku pernah bercanda denganmu?”


“Ya tuhan!!! Kalian dengar itu?! Tuan kecil sudah lahir! Tuan muda resmi menjadi seorang Ayah!!”


“Akan kututup telfonnya”


Tut…


Hendrick memasang tatapan sendunya, ya tuhan…kenapa ini harus terjadi disaat keadaan mulai baik-baik saja?. Jika sampai Selena tau ini…bukan hanya dirinya melainkan keluarga Alexandra juga akan terkena imbasnya.


.


.


.


Selena bersenandung kecil sembari mengelus perutnya yang mulai membuncit, semenjak Leo tidak berada disampingnya entah kenapa anaknya yang awalnya benar-benar tidak bisa diajak kerjasama tiba-tiba menjadi penurut. Selama disini anaknya tidak meminta hal yang sulit dicarikan.


“Sudah diminum jusnya?” tanya Daniel yang masuk membawa minyak ditangannya.


“Sudah, terima kasih”


Daniel mendekati Selena, ia duduk dihadapan Selena dan meletakkan kaki Selena di pahanya. Ia melumuri tangannya dengan minyak lalu dengan lembut memijat kaki Selena.


“Lihat…kakimu membengkak lagi”


“Aku terlalu banyak berdiri hari ini…Daniel…”


“Ya?”


“Hmmmm…kau tidak bosan?”


“Bosan? Kenapa?”


“Tidak, aku hanya berpikir. Sebelum kau masuk kemari kau adalah pemuda yang bebas, kau bergaul dengan bayak orang dan bersenang-senang dengan teman-temanmu. Tapi semenjak disini tidak ada ponsel dan ada pembatasan komunikasi. Apa kau tidak bosan?”


“Tidak…aku lebih suka disini. Apalagi aku menjadi berpengalaman menangani moodmu”


Selena langsung memukul bahu Daniel menggunakan buku diatas meja. Tidak bisakah pria ini menjawab dengan benar pertanyaannya?!.


Tok tok tok


“Masuk”

__ADS_1


William membuka pintu dan masuk membawakan makan malam serta vitamint. William meletakkan itu di meja membuat senyum kecil keluar dari mulut Selena.


“Tumben ada disini, biasanya dengan Paman. Ada sesuatu?”


“Ti-tidak…”


“Oh, coba kutebak. Apa Paman memintamu untuk menjadi tangan kananku? Kau dipecat Paman huh?”


“Be-benar...”


“Hahahaha, kau lucu William. Jadi kau menerima begitu saja tawaran menjadi tangan kananku?”


“Maaf?” William berujar dengan bingung sembari menatap Selena.


“Kau bisa menolak jika kau tidak mau melakukannya, apalagi kau sudah 8 tahun berada disisi Paman Alexa. Jika tiba-tiba kau berganti Tuan pasti kau akan kesulitan beradaptasi. Jika kau tidak ingin berada disisiku biar aku yang bicara dengan Paman”


“Ti-tidak…bu-bukan begitu”


“Jangan bicara formal, dan jangan terbata-bata”


“A-aku be-bersedia…da-dan juga i-ini adalah perintah langsung dari Jenderal muda. Ja-jadi aku tidak bisa menolaknya”


Sudut bibir Selena terangkat, ingin menjadi bawahannya? Apa pria ini serius? Dari umur 3 tahun sampai saat ini…hanya Rafindra yang berhasil bertahan menghadapinya. Apa pria didepannya ini yakin mau menjadi bawahannya?.


“Paman Raf menjadi partner ku selama lebih dari 15 tahun. Yakin bisa bertahan menjadi tangan kananku? Menghadapi segala kegilaanku?. Aku bukan meragukan kemampuan kemiliteranmu, hanya saja…Wei pingsan saat pertama kali melihatku membunuh”


Glek


“Begini saja…kita lihat, dalam 1 bulan kedepan jika kau berhasil bertahan. Maka kau bisa berada di sampingku, tapi jika kau menyerah…aku akan mengembalikanmu kepada Paman Alexa”


Senyum senang terukir diwajah William, ia diterima menjadi tangan kanan Selena?! Ya tuhan…ini benar-benar terasa seperti mimpi!. Ia tak menyangka jika Selena mau menerimanya menjadi tangan kananya.


“Kau bisa keluar dan temui Paman Raf, dia akan memberitaumu segala apa yang akan menjadi pantanganmu selama berada disisiku”


“Baik, terima kasih atas waktu anda…”


William membungkuk dan keluar dari kamar Selena, Peter yang berada di luar ruangan mengendus kesal. Ia yang mencalonkan diri menjadi tangan kanan Selena kenapa William yang dipilih Tuannya?!.


“Kau kenapa? Kenapa wajahmu masam seperti itu?” tanya Alexa yang hendak mengantarkan sesuatu untuk keponakannya.


“Tuan! Saya yang mengajukan diri kenapa William yang diminta menghadap?”


“Aku masih membutuhkan kemampuanmu, jika nanti aku sudah menetap di kamp ke-6. Kau bisa bersama William”


“Benarkah?!”


“Ya, dan bagaimana William? Selena menyetujuinya?”


“Jenderal muda menyetujuinya Tuan…”


“Baguslah, apa kau diminta menghadap Rafindra?”


“Iya”


“Ahhhh…jangan sampai kau salah bicara didepannya, jika kau salah kata. Kau bisa langsung mati ditangannya”


Glek…


Untuk kedua kalinya William menelan ludahnya, sejak masuknya Selena ke kamp ia belum pernah sekalipun melihat Rafindra yang berbicara kepada seseorang selain kepada Selena, Daniel, dan juga Jenderal besar Hendrick. Bisakah ia menangani pria itu?.


“Nah…kebetulan orangnya datang. Kau panjang umur Rafindra, William dan Peter ingin membicarakan sesuatu kepadamu. Aku akan menemui Selena dulu”


Alexa masuk kedalam kamar Selena meninggalkan Rafindra yang baru saja datang bersama dengan William dan juga Peter. Rafindra menatap dingin William dan juga Peter, ia ingin menemui Tuannya. Untuk apa kedua orang ini ingin bicara dengannya?.


“Itu…saya…”


Rafindra mengabaikan William tak ingin memperdulikan pria itu yang tak kunjung mengatakan keinginanya, ia mengetuk pintu kamar Tuannya. Tak berselang lama pintu kamar dibuka oleh Selena.


“Ya Paman Raf?”


“Nona, bisakah saya membicarakan sesuatu dengan anda?”


“Ya tentu, kita bicarakan diruang kerja Papa”


Mata Rafindra bergulir menatap kaki Selena yang telanjang, Tuannya bertelanjang kaki?.


“Oh, maaf. Daniel baru saja memijat kakiku, aku akan pakai alas kaki sebentar”


Selena langsung masuk dan memakai sandalnya, ia lalu pergi bersama dengan Rafindra ke ruang kerja milik Ruvelis.


Selena mempersilahkan Rafindra untuk duduk di kursi yang ada namun Rafindra menggelngkan kepalanya. Selena menganggukkan kepalanya paham dan duduk di kursi kerja Papanya.


“Ada apa Paman Raf?”


“Nona, saya membawakan surat yang ditulis mendiang Nyonya Jennifer yang ditujukan kepada anda”


Rafindra meletakkan beberapa lembar surat didepan Selena, Selena dengan tangan yang sedikit gemetar meraih dan membuka surat itu.


‘Hai sayang…bagaimana keadaanmu saat ini? Mama berharap kau baik-baik saja, jika kau membaca surat ini. Itu berarti Mama sudah tidak ada lagi didunia ini. Mama harap…dengan kematian Mama itu akan membuatmu lebih kuat lagi untuk menjalankan rintangan yang ada didepanmu. Terima kasih sudah lahir didalam keluarga ini…terima kasih telah membawa keajaiban bagi kami. Meskipun Mama sudah tidak ada lagi disampingmu, tapi percayalah…cinta Mama selalu menyertaimu. Mama mencintaimu…see you again babe…’


Selena menghapus air matanya dan melipat kembali surat itu. Ia menyimpannya didalam brangkas lalu membuka surat selanjutnya.


‘Hello sweety…hari ini, hari ini adalah hari terakhir Mama denganmu sebelum Mama memberikanmu kepada Hans. Maaf…Mama bukan tak lagi menyayangimu, Mama terpaksa melakukan ini. Maaf jika Mama harus menjelaskan melalui sebuah kata-kata didalam surat ini. Tapi Mama tak punya keberanian mengatakannya langsung dihadapanmu. Maaf…Mama benar-benar minta maaf harus memberikanmu kepada Hans, Mama minta maaf jika kehidupanmu akan menjadi suram setelah bersama Hans. Hari ini…keluarga Alexandra dan Leonardo mengalami kekacauan. Mama dan Paman-Pamanmu harus fokus kepada keluarga dan Mama sebisa mungkin harus menjauhkanmu agar tidak terlibat masalah kali ini. Kali ini masalahnya tidak main-main sayang, kedua keluarga besar memperebutkanmu sebagai ahli waris mereka. Ditambah kau yang menyandang dua marga sekaligus yang membuatmu berpotensi menjadi pewaris dikedua keluarga. Tapi…karena sesuai dengan pesan Papamu yang tidak


memperbolehkanmu berhasil terekspos oleh media. Mama memberikanmu kepada Hans untuk sementara waktu. Dan saat ini, hanya itulah pilihan yang bisa Mama ambil walaupun Mama tau kebencian keluarga Georgino kepada Mama akan berimbas kepadamu Mama harus tetap melakukannya. Tapi kau jangan khawatir sayang, Hans berjanji kepada Mama untuk tidak menyentuhmu. Jadi kau bisa tenang, mungkin kau bertanya kenapa Mama tidak mengirimmu kepada keluarga Iskandar maupun Jasson. Jika Mama bisa Mama akan melakukan itu sayang, tapi sayangnya Mama tidak bisa. Keluarga Iskandar dan Jasson tidak bisa membantu kali ini. Dan Hanslah satu-satunya orang, yang bisa Mama gunakan sebagai benteng agar media tidak tau mengenai identitasmu. Maaf Mama jika egois, maaf jika Mama kejam, maaf jika Mama harus mengorbankan masa mudamu untuk ini. Maafkan Mama…tapi percayalah sayang, ini semua juga demi melatih mentalmu agar bisa kuat seperti Papamu. See you…I love you babe”


Selena mengusap wajahnya dengan kasar, ia melipat surat itu dan membuka surat yang terakhir.


“Hello my dream…sekarang masalah keluarga sudah terselesaikan. Dan kau resmi menjadi pewaris keluarga Alexandra dan keluarga Leonardo lebih memilih mempertankan posisimu sebagai Nona besar. Hari ini Mama akan menjemputmu pulang. Hari ini Mama akan kembali bersamamu, hari ini kau akan kembali kedalam pelukan Mama. Mama benar-benar senang karena akan kembali bertemu bersamamu, tapi tak hanya Mama. Leo juga akan segera menjemputmu untuk pulang. Tunggu sebentar lagi ya sayang…Mama pasti akan jemput Nara untuk pulang. Tapi…maafkan Mama ya sayang, ternyata Hans melanggar janjinya kepada Mama. Dia menyentuhmu…maafkan Mama, maafkan Mama membuat kehormatanmu hilang seperti ini. Tapi kau tenang saja, Mama akan tetap menjaga kehormatanmu sebagai Nona besar Alexandra. Dan kau jangan khawatir…selamanya, Mama tidak akan membiarkan keluarga Georgino tau bahwa kaulah yang sudah membunuh Alice. Mama akan menutup rapat rahasia itu agar kebencian mereka kepada Mama…tidak semakin berimbas kepadamu. Mereka hanya akan membencimu karena menjadi istri kontrak Hans bukan sebagai pembunuh Alice. Jadi kau tenang saja sayang…Mama akan melindungimu, sampai nafas terakhir Mama. See you again babe…we love you”


Selena mencium surat itu sembari meneteskan air matanya, wanita yang mencintainya didunia ini kini sudah tiada. Sekarang ia hanya punya Omanya…wanita yang sangat menyayanginya.


“Mama bisa istirahat dengan tenang disana…karena mulai saat inilah…eraku dimulai”


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2