
.
.
.
Mikayra membawa 2 dot bayi keluar dari ruangan cucunya. Hanya ini…apa ini akan cukup untuk ke-3 cicitnya?. Daniel berdiri dari tempat duduknya, Mikayra memberikan 2 dot bayi itu kepada Daniel. Daniel meneirma itu, ia benar-benar berharap semoga ini bisa membuat Leon, Leona, dan Ryu bertahan.
“Bagaimana kondisi mereka bertiga?”
“Saya belum bisa mengatakan apa-apa untuk sekarang, tapi saya berharap mereka akan baik-baik saja”
Daniel memberikan 2 botol susu itu kepada Micle agar dibawa ke NICU. Daniel menatap Selena yang masih terbaring lemah di tempat tidurnya, sekarang ia harus melakukan apa?.
“Tuan muda, dokter Welson ingin bertemu” seorang perawat wanita yang datang berbicara kepada Daniel.
Daniel menganggukkan kepalanya dan langsung pergi keruangan dokter Welson. Welson adalah dokter yang di pekerjakan khusus menangani Leon dan Leona. Saat Leo tidak ada, ia langsung meminta Welson memindahkan Leon dan Leona kemari agar ia bisa lebih leluasa menjaga keduanya.
“Ada masalah pada anak-anak?”
“Tidak ada masalah serius, hanya saja aku cukup khawatir karena mereka jarang menangis. Tapi meskipun mereka jarang menangis paru-paru mereka bisa bekerja dengan baik”
“Jadi?”
“Kedua anakmu bisa keluar dari incubator jika sistem imunnya terlindungi, kau tau kan…ASI pertama Ibu mereka sangat penting bagi mereka”
Daniel terdiam, ia tau jika ASI pertama adalah ASI terbaik untuk anak-anak. Tapi di kondisi Selena yang seperti ini, bisakah Selena mempunyai cukup ASI untuk anak-anaknya?.
“Tapi sekarang tubuh Ibu mereka sedang mencoba bertahan dengan obat-obatan. Apa sebaiknya kucarikan Ibu susuan saja?”
“Jangan gila, mereka bukan anak dari keluarga biasa. ASI akan menjadi daging dalam tubuh mereka, selain ASI Selena tak seorangpun bisa memberikan ASI wanita lain kepada mereka. Jangan bertindak gegabah”
“Kalau begitu, aku akan mencoba membuat susu formula yang cocok untuk mereka”
“Itu lebih baik, nanti aku juga akan mencari susu untuk mereka”
“Tunggu Daniel”
“Ada apa lagi?”
“Tidak jadi”
Daniel berdecap kesal mendengar jawaban dokter yang notabenenya adalah sepupu jauh dari Alex dan Eugene. Jika tidak ada apa-apa kenapa memanggilnya?.
“Daniel”
“APA?!” kesal Daniel.
“Wanitamu pasti akan mengalami depresi, cobalah lebih hati-hati lagi saat menjaganya”
“Tanpa kau beritau, aku sudah tau!”
Daniel keluar setelah membanting pintu dengan keras karena kesal, Daniel menekan tombol lift dengan kesal karena ingin segera pergi ke ruangan Selena. Saat sampai di lantai ruangan Selena Daniel menatap Mikayra serta Zachery yang termenung di kursi tunggu, pasti mereka memikirkan perkataan Selena saat dipemakaman. Yahhhhh…tak dapat dipungkiri, ia juga merasa sakit hati ketika mengingat perkataan Selena itu.
“Tuan, Nyonya”
“Daniel, kau sudah kembali? Apa ada masalah lain?” tanya Mikayra.
“Tidak ada Nyonya”
“Syukurlah, aku khawatir jika cucuku semakin tidak baik-baik saja”
Daniel hanya tersenyum, ia pikir Mikayra memikirkan perkataan Selena saat dipemakaman…tapi teryata Mikayra lebih memikirkan kondisi Selena saat ini.
***********
Selena bergerak gelisah dalam tidurnya, keringat dingin keluar dari keningnya, mata itu terbuka dengan keterkejutan yang luar biasa. Selena duduk dengan nafas yang tersengal-sengal, matanya mencari kesekeliling dengan gelisah…mencari keberadaan suaminya.
“Leo…Leo…”
Selena mencabut paksa infus yang melekat di punggung tangannya, kedua kakinya yang gemetar mencari kesekeliling. Matanya terkunci kepada sosok yang berada di balkon.
“Sayang…kenapa kau ada disana? Disana dingin…masuklah”
Selena berjalan membuka pintu balkon, sosok dihadapannya membalik badan tersenyum kearah Selena. Selena mendekati sosok itu dan memeluknya dengan erat.
“Aku mimpi buruk…mimpinya sangat buruk…aku bermimpi kehilanganmu…”
Selena tersentak kaget ketika menyadari sosok yang ia peluk hilang, dengan panik ia mencari kesekeliling. Sosok itu kembali muncul namun berada diluar pagar pembatas balkon.
Kemarilah…ayo ikut denganku…
“Jangan pergi…tetaplah bersamaku…”
Kemarilah…ayo kita pergi bersama…
“Aku akan ikut…aku mau ikut denganmu” Selena naik keatas pagar itu mencoba menggapai sosok didepannya dan tanpa disadarinya, orang-orang yang berada didalam ruangan tengah panik karena pintu balkon yang tiba-tiba tidak bisa dibuka.
“Selena!!! Turun sekarang juga!!!” teriak Daniel mencoba mendobrak pintu transparan itu.
Daniel dengan panik mencari benda disekelilingnya yang bisa ia gunakan untuk memecahkan kaca pintu ini. Sedangkan Rafindra serta Zachery sejak tadi melesatkan berbagai macam peluru kearah pintu itu, dan sialnya pintu itu akan tahan terhadap berbagai tembakan dari jenis pistol manapun entah kenapa mereka tiba-tiba menyesal memasang kaca itu disini.
“Sayang…turun…jangan nekad sayang” lirih Mikayra memukuli pintu itu berharap cucunya bisa mendengarnya.
Daniel berlari keluar dan menaiki tangga untuk menuju lantai diatasnya, saat sampai Daniel langsung membuka balkon kamar yang kosong dan menatap Selena yang masih berada di tempatnya sembari menangis dan berbicara hal yang tidak bisa ia dengar terlalu jelas. Daniel mantap keatas, menangkap tali tambang yang diturunkan bodyguard.
Daniel menggengam dengan erat tali itu dan turun, tangannya langsung menyambar perut Selena yang hendak melompat.
“Lepaskan aku!! Leo!! Jangan pergi!!” Selena memberontak didalam pelukan Daniel, Daniel memeluk erat Selena denagn nas yang tersengal-sengal.
“Jangan pergi!! Kau boleh mengkhinatiku asalkan jangan tinggalkan aku!! Aku mohon padamu sayang! Jangan tinggalkan aku!!”
Goodbye…
“Tidak!!! Jangan pergi!!!”
Selena memukuli dada Daniel agar pria itu melepaskannya, namun nihil…Daniel semakin mengertakan pelukannya pada tubuh Selena. Daniel menyandarkan tubuhnya pada pintu balkon tak memperdulikan rasa sakit ditubuhnya akibat pukulan serta gigitan yang dilakukan Selena.
Setelah beberapa saat pukulan serta tangisan Selena mulai melemah, Daniel mencium kening serta telinga Selena dan menghembuskan nafas lega.
“It’s Okey…”
“Hiks hiks hiks…Leo…Leo…”
“Aku yakin kau bisa melewati ini…aku yakin kau bisa melewatinya”
“Ahhhhhh hiks hiks hiks…aku aku ikut Leo…aku tak ingin sendirian”
__ADS_1
“Kau tidak sendirian…kau masih punya
kami…”
“Hiks hiks hiks…”
Daniel merangkup kedua pipi Selena dan menciumi wajah yang penuh akan air mata itu, setelah beberapa saat…setelah Selena mulai melemah, Daniel menggendong tubuh itu dan membuka pintu yang benar-benar tidak bisa dibuka dari dalam.
Zachery menerima tubuh cucunya dan memeluknya dengan begitu erat, Mikayra ikut memeluk tubuh itu sembari menangis sesegukan. Zachery membaringkan tubuh cucunya diatas tempat tidur, Daniel serta Micle langsung memeriksa kondisi tubuh Selena terkhususkan luka caesar yang bisa saja terbuka lagi.
.
.
.
“Tuan, saya akan pergi. Jika Selena bangun nanti tolong berikan obat sesuai anjuran Micle” ucap Daniel sembari memberikan beberapa obat kepada Zachery.
“Iya, kau cepatlah kembali” jawab Zachery.
“Baik”
“Pa, kami pergi dulu. Papa jaga keponakanku baik-baik” ucap Jeff.
“Banyak bicara, sudah diam saja kau. Sana pergi” usir Zachery.
Daniel pergi bersama para Alexandra, sesaat setelah kepergian semua orang…Zachery menatap istrinya yang tengah menggenggam dengan erat tangan cucunya sembari mengatakan hal-hal yang penuh akan kasih sayang. Ahhhhh, ia jadi teringat hal manis dulu saat ia pertama kali menggendong anak pertamanya, Ruvelis…pemandangan ini mengingatkannya ketika Ruvelis jatuh sakit dan istrinya akan selalu berada di samping putranya.
“Cepat sembuh ya sayang…jika kau sembuh, Oma janji akan berikan apapun yang kau inginkan setelahnya”
“Sudah…biarkan Nara istirahat, kau makanlah dulu…biar aku yang menjaganya” ucap Zachery sembari membelai lembut kepala cucunya.
“Aku ingin disini…aku akan temani Nara sampai bangun”
“Nara kan baru saja tertidur, sudah…kau sudah melewatkan sarapan…tidak baik jika melewatkan makan siang juga”
Mikayra menganggukkan kapalanya, Zachery tersenyum dan keluar untuk mengambil makan siang istrinya. Namun alangkah terkejutnya Zachery saat kembali dan sudah mendapati istrinya terkapar di lantai dan ranjang rumah sakit yang kosong. Nampan yang berada di tangan Zachery langsung jatuh, ia langsung bergegas menghampiri istrinya.
“Rafindra!!!! Asahi!!! Micle!!!”
Ke-3 pria yang dipanggil oleh Zachery langsung masuk kedalam ruangan, nafas Rafindra tercekat mendapati Nonanya tak berada di tempat. Rafindra langsung bergegas pergi untuk mencari Nonanya begitupun dengan Asahi sedangkan Micle langsung menangani Mikayra.
“Kau jaga istriku, aku akan pergi”
“Baik!”
Zachery menyambar kunci mobilnya dan segera bergegas untuk menyusul Rafindra serta Asahi, ya tuhan…di mana cucunya? Lengah sedikit saja cucunya bisa menghilang seperti ini? Bahkan Rafindra saja bisa tidak tau jika cucunya dibawa pergi.
“Bagaimana Rafindra?”
“Saya sedang mengikuti alat pelacak di anting Nona Tuan, saya pasti akan segera menemukan Nona”
“Di mana posisimu sekarang”
“Arah utara, 2 km dari jembatan utama”
“Aku akan segera kesana”
Zachery menambah kecepatan mobilnya, ia akan memotong kaki tangan orang yang sudah berani menculik cucu kesayangannya. Ia tak akan mengampuni orang itu, orang yang sudah menculik cucunya dan juga membuat istrinya celaka.
Rafindra menatap mobil putih didepannya, dengan cepat ia meminta Asahi untuk menghentikan mobil itu. Asahi menganggukkan kepalanya dan segera mendahului mobil Rafindra dan menepikan mobil putih itu.
Rafindra segera turun dari mobilnya dan membuka paksa pintu mobil itu. Matanya membulat melihat seorang pria yang tengah menodongkan sebuah pistol di kepala Nonanya.
“Letakkan senjatamu! Atau kutembak mati wanita ini!”
“Lancang!” bentak Asahi.
“Turunkan pistolmu Asahi!” ucap Rafindra segera memundurkan tubuhnya
Rafindra meletakkan pistolnya di aspal dan mengangkat tangannya, itu adalah bawahan keluarga Georgino. Tangan kanan kepercayaan dari Lucio, ia tidak boleh salah langkah…ia tak bisa membahayakan Nonanya.
“Aku sudah meletakkan senjataku, sekarang letakkan senjatamu”
“Hahahaha, Rafindra Rafindra…memang ya, kau bawahan yang paling setia…kau tak mau Nonamu ini terluka bukan? Maka serahkan berkas yang kau curi”
Tiba-tiba, puluhan orang yang datang entah dari arah mana langsung mengepung Rafindra dan juga Asahi. Rafindra menatap satu persatu orang itu, shit…sepertinya ada mata-mata dirumah sakit itu.
“Bagaimana? Kau pria yang jenius Rafindra, jangan mengulur waktu”
Pyarrrrrrrrrr!!!
Sebuah tangan besar tiba-tiba menembus kaca mobil di belakang pria itu dan langsung menggenggam pistol itu.
“Lepaskan cucuku bajingan…”
Rafindra yang melihat itu dengan sigap mengambil pistolnya dan menodong salah satu pria yang mengerumuninya.
“Kau hanya sendiri Rafindra, jangan bertindak sok hebat”
“Turunkan senjata kalian dan angkat tangan diatas kepala!!!”
Puluhan orang turun dari helicopter dan langsung menodongkan senjata mereka. Pria-pria yang mengerumuni Asahi serta Rafindra langsung menjatuhkan senjata mereka.
“Pengecut tetaplah pengecut, jangan bertindak sok hebat dihadapanku sial*n…”geram Zachery.
Rafindra langsung menarik Selena dari mobil itu dan memeluknya dengan erat.
“Bawa Nona kedalam mobil Rafindra” ucap Asahi.
Pria-pria itu langsung diamankan oleh bawahan Rafindra zerta Zachery. Zachery menarik keluar pria itu dari mobil dan mendorong jatuh ke jalanan.
“Kau sentuh cucuku…maka seharusnya kau sudah siap menemui ajalmu”
Tubuh pria itu gemetar dengan hebat, siapa pria didepannya ini? Kenapa auranya begitu menyeramkan? Bahkan aura pria ini bergitu berwibawa daripada Tuan besarnya. Dengan tangan yang gemetar pria itu mengambil pistol yang dijatuhkan bawahannya dan segera menodongkanya kearah Zachery.
Senyum sinis terukir di bibir Zachery, pria ini gila ya? Mau membutuhnya dengan sebuah pistol? Mustahil.
Zachery menendang tangan pria itu saat hendak meletupkan peluru dan dengan kasar langsung menginjak leher pria itu. Pria itu memukuli kaki Zachery karena kesusahan bernafas.
“Heh, hanya seorang Lucio kau bandingkan denganku? Pria pengecut yang hanya bisa bersembunyi dibalik bawahannya itu yang kau anggap sebagai Tuan? Apa kau tidak tau…jika kau hanya dijadikan anjing olehnya?”
“Uhukkk uhukkkk…hngghhhhhhh…le-lepasssss”
“Berikan aku sebuah alasan kuat agar aku tidak membunuhmu”
“Pedang” ucap Rafindra kepada bawahannya.
__ADS_1
Salah seorang pria memberikan pedang kepada Rafindra, Rafindra membungkuk dan memberikan benda itu kepada Zachery. Mata pria itu membulat melihat Zachery yang mengusap pedang dengan tangan kosong.
“Ti-tidakhhhhh ughhhhhh”
Crasssssss…
Dalam sekali ayun, Zachery memotong kedua kaki pria itu. Zachery langsung mendaratkan kakinya pada mulut pria itu agar tidak berteriak dan membangunkan cucunya yang masih tertidur.
“Kau mau berteriak dan membangunkan cucuku?”
Setelah memotong kedua tangan pria itu, Zachery menancapkan pedangnya pada mulut pria itu. Dalam hitungan detik, pria itu langsung kehilangan nyawanya.
Zachery berjalan menuju mobil Rafindra, membukanya dengan niat untuk memindahkan cucunya ke mobilnya. Namun matanya lagi-lagi membulat ketika melihat si empu kembali tidak ada di tempat.
“Nona hilang lagi?!!!!!!”
Tubuh Zachery langsung terduduk lemas di jalanan, hal itu membuat semua bawahan yang ada disana ikut terduduk di jalanan.
“Kenapa kalian malah ikut-ikutan duduk?!! Cepat cari cucuku!!” geram Zachery.
“A-ah! Baik!!”
Pencarian kembali di lakukan untuk kedua kalinya, Zachery memukul stir mobilnya dengan kuat. Cucunya sudah sebesar itu kenapa tak ada satupun bawahannya yang melihat kemana cucunya pergi?! Ia bisa gila jika terus seperti ini.
“Kalian semua kembali kesini sekarang dan cari cucuku!!!” ucap Zachery saat menelfon Jeff.
.
.
.
.
.
.
Selena berjalan ditrotoar sebuah jembatan dengan tatapan kosong, telapak tangan yang teraliri darah, dan wajah pucatnya. Kondisi Selena mampu menarik para pengguna jembatan yang melintas. Bahkan beberapa diantara mereka menghentikan mobilnya dan turun menghampiri Selena.
“Nona, apa anda baik-baik saja? Saya akan memanggilkan ambulance untuk anda”
“Pergi…pergi…”
“Nona, anda sedang tidak baik-baik saja Okey? Biarkan kami membantu anda” ucap seorang wanita dengan perut buncitnya, ia meminta suaminya untuk menelfon polisi namun tangan pria itu langsung dihentikan oleh Selena.
“Jangan…mereka tidak bisa membantu…” lirih Selena.
“Mari saya antar kerumah sakit, sayang. Bantu dia”
Selena menunjukan telapak tangannya tepat dihadapan wajah pria yang hendak membantunya. Ia tidak ingin siapapun berada di sampingnya sekarang.
“Pergi…” ucap Selena sembari berjalan menuju ke telfon umum yang berada tepat dipinggir pembatas jembatan.
Selena dengan tangan gemetarnya menekan sebuah nomor, tak berselang lama panggilan itu langsung terhubung.
“Dengan pusat pencegahan bunuh diri, ada yang bisa kami bantu?”
“Aku berada di jembatan Victoria, aku merasa seorang wanita akan mengakhiri hidupnya disini”
“Jembatan Victoria? Bisa anda katakan lebih jelas?”
“Aku ingin bertanya kepadamu…”
“…silahkan”
Sepasang suami istri dan beberapa pemuda tampak menghubungi polisi. Mereka tak berani mendekat, jika mereka mendekat…wanita itu bisa meloncat kapan saja.
“Pantaskah aku hidup didunia ini? Pantaskah aku melanjutkan hidupku didunia yang kejam ini?”
“…”
…orang tuaku pergi saat aku masih belia, nenekku juga pergi, anak pertamaku juga pergi, Mama angkatku juga pergi meninggalkanku. Dan sekarang…aku juga kehilangan seseorang yang sangat mencintaiku. Jadi pantaskah aku masih hidup tanpa seorangpun yang mencintaiku didunia ini?”
“Apakah…anda yang ingin bunuh diri?”
“Ya…aku ingin terjun dari jembatan ini…aku ingin menyusul orang-orang yang mencintaiku” ucap Selena sembari naik ketasa pembatas jembatan itu membuat beberapa wanita langsung mencoba mendekat dan mencegah Selena. Ya tuhan…gadis ini masih tampak begitu belia tapi sudah mengalami hal seperti ini.
“Aku lelah terus berpura-pura kuat, aku lelah menutupi kesedihanku dengan sebuah senyuman. Hanya suamiku yang menjadi harapanku hidup selama ini, tapi dia juga pergi meninggalkanku. Aku ingin terus bersamanya, aku tak ingin sendirian disini…”
…aku pernah bilang sebelumnya bahwa
suamiku adalah harapanku satu-satunya untuk hidup didunia ini. Dan dia sudah
pergi ke tempat yang indah sekarang, meninggalkanku dengan ke-3 buah hati kami”
Puluhan helicopter terbang diatas jembatan itu dan disusul dengan ratusan mobil-mobil mewah yang juga berhenti di jembatan itu membuat mau tak mau jalanan itu tertutup karena mobil.
“Nona besar!!!” para bodyguard serta Mafia berseru melihat Selena yang hanya tinggal beberapa cm lagi bisa terjun ke sungai dengan arus yang begitu deras.
“Nara! Sayang! Turun sayang…jangan berbuat nekad” ucap Deon dengan wajah pucatnya. Seputus asakah ini keponakan kecilnya?.
Beberapa mobil polisi ikut memenuhi jembatan itu, mereka mengamankan orang-orang yang berada disekitar Selena. Dan tak berselang lama, mobil Daniel berhenti. Pemuda itu langsung turun dari mobilnya.
Selena menatap sekilas Daniel dan mematikan sambungan telfonnya.
“Nona, mohon anda tenang Okey…kita bisa bicarakan ini baik-baik” ucap Wei dengan wajah tak kalah pucatnya dari para Alexandra.
“Aku lelah…aku ingin bersama Leo…aku ingin bersama Papa dan Mama…”
“Jangan berfikiran dangkal sayang! Turun sekatang juga!” ucap Jeff mencoba mendekati Selena namun langsung dicegah oleh Wei. Jika ada yang mendekat, maka Nona besarnya bisa meloncat detik itu juga.
“Anak-anak membutuhkanmu Okey? Turun ya sayang…” ucap Liekai.
“Kau ingin apa Selena?” tanya Daniel.
“Bersama orang-orang yang tersayang…”
“Lompatlah…lompatlah jika kau ingin bersama mereka” ucap Daniel.
“Tutup mulutmu sial*n!!” bentak Jeff. Apa pria ini sudah gila mengatakan hal seperti itu?!.
Selena mulai bergerak…tak butuh waktu lama tubuh itu langsung terjun kebawah.
.
.
__ADS_1
.