Our Last Love

Our Last Love
The Our Last Love (14) : Drama 1


__ADS_3

.


.


.


.


.


“Anak-anak sudah bangun?” tanya Selena kepada pengurus anak kembarnya, ini adalah hari di mana drama besar akan dimulai…drama yang pasti akan membuatnya muak dan menyebabkan bencana untuk kedepannya.


Selena menatap kedua anaknya yang keluar dari kamar dengan pakaian yang sudah rapi, entah kenapa melihat kedua anaknya yang semakin hari semakin tumbuh, rasa untuk memutar waktu semakin kuat.


“Ma…kami sudah siap”


“Ayo kita turun, di mana Paman Daniel?”


“Kami tidak tau”


“Tuan muda sedang membersihkan diri Nona” jawab Math sembari menundukan kepalanya.


“Minta dia turun setelah selesai”


“Baik…”


Selena menggandeng tangan anak-anaknya dan menuruni tangga dengan perlahan dan langsung menuju ruang makan, para Paman Alexandra dan juga keluarga Iskandar langsung menatap Selena dan kedua anaknya.


“Tidurmu sepertinya tidak nyenyak”


“Jika kau tidur aku takut tanpa sadar membunuh semua orang” dingin Selena sembari mendudukan anaknya dikursi masing-masing. Tuan dan Nyonya besar Iskandar menelan ludahnya, mereka senang cucu kesayangan mereka kembali tapi mereka juga harus siap dengan keputusan Selena dan akibat yang akan datang.


Drtttt drttttt


Selena mengangkat panggilan yang masuk, akhirnya orang ini telfon juga.


“Berkasnya sudah selesai, mau dikirim kemana?”


“Bawa kemari, kutunggu secepatnya”


“Pesankan tiket pesawat, aku tak punya uang”


“Miskin”


“Hei hei hei! Semua uangku habis karenamu! Kenapa sih masalahmu tak ada hentinya?! Uangku yang jadi korbannya”


“Nanti kuganti, langsung datang saja ke bandara. Ada helicopterku disana”


“Oh ok”


Tuttt…


Tak berselang lama Leo datang ke meja makan membuat para Alexandra langsung memasang wajah pokernya, Selena menatap anak kembarnya yang tengah fokus kepada pisau dan garbu dihadapan mereka.


“Selamat pagi Selena” Selena menahan kursi yang hendak ditarik oleh pelayan sebagai tempat duduk Leo, Selena menatap dingin pelayan itu membuat sang pelayan memundurkan langkahnya.


“Ini tempat duduk Daniel, tempat dudukmu disana” Sebenarnya ini memang tempat duduk Leo, tapi karena ia sudah pernah berjanji bahwa Daniel akan menjadi menantu keluarga Alexandra selanjutnya maka tempat ini bukan milik Leo lagi.


“Tapi aku ingin berada disebelah istriku”


“Jangan buat aku bertindak kasar didepan anak-anak” Tak ingin berdebat Leo segera pergi dan duduk disebuah kursi kosong disamping Tuan besar Iskandar.


“Tolong siapkan 1 kursi lagi” ucap Leo pada pelayan, Selena mengerutkan kening…apa Leo berniat mengundang Mona dan anaknya untuk sarapan bersama? Tapi itu bukan masalah, karena ia juga akan menekankan posisinya dan posisi anaknya dikediaman ini.


Tak berselang lama Mona datang bersama Arkan dan langsung duduk disebelah Leo, Selena memalingkan wajahnya semalam keadaannya benar-benar kacau jadi ia meminta Math memulangkan Arkan pada jala*g itu.


“Maafkan keterlambatan kami, kakek nenek” ujar Mona membuat para Alexandra sekilas melirik Selena, Selena mengangkat jari kelingkingnya yang terletak diatas meja. Para Alexandra menganggukkan kepala dan kembali memasang wajah pokernya.


“Ma, apa Papa Daniel masih lama?” tanya Leon.


“Kalian menunggu Papa ya?” pelayan menarik kursi membuat Daniel langsung duduk diantara Selena dan Leon.


“Sajikan makanannya” ucap Nyonya besar Iskandar.


Para pelayan menganggukkan kepalanya melihat kode mata dari Nyonya muda mereka, Selena menghembuskan nafas dan menyenggol kaki Daniel. Daniel otomatis menatap kearah Selena.


“Apa?”


“Aku ingin bicara denganmu setelah sarapan”


“Hm” Selena kembali tersentak, wahhhh Daniel benar-benar mengacuhkannya…awas saja pria ini nanti kalau sampai nangis minta dimaafkan. Tapi ia tak bisa menyalahkan Daniel juga sih, tapi kali ini Daniel memang sedikit kekanakan…apa harus sampai mengabaikannya?!.


Leon dan Leona menatap steak didepan mereka, hahhhh makanan yang mereka benci sejauh ini…tak adakah makanan lain?! Rasanya mereka ingin muntah melihat makanan ini lagi.


“Kenapa? Mau Papa potongkan?”


“Papa…bisakah Papa membuatkan sesuatu untuk kami?”


“Leon, Leona…kenapa? Kalian mau makan apa?” tanya Tuan besar Iskandar, tak bisanya cucu kembarnya serewel ini bahkan langsung minta ganti menu.


“Kami mau sandwich dengan sosis juga”


“Biar Papa buatkan” ujar Leo sembari berdiri dari tempat duduknya.


“Duduklah, biar Daniel yang membuatkan makanan mereka” dingin Selena.

__ADS_1


“Tapi aku ingin memasakan sesuatu untuk mereka”


“Kau tak tau apa yang mereka suka, Daniel”


“Kalian mau sandwich tuna mayo?”


“Mau!”


“Tunggu sebentar ya” Daniel segera pergi menuju dapur, Selena menatap wajah sendu Leo…ahh, sudah berapa lama ia tak melihat wajah itu?.


“Kau itu apa-apaan? Seharusnya biarkan saja Leo membuatkan makanan untuk anakmu, bukan malah membiarkan orang lain yang melakukannya”sengit Mona, tapi hal itu tentu saja menguntungkannya…dengan sikap Selena yang dingin begini kepada Leonardo maka perhatian Leonardo akan fokus kepada dirinya dan anaknya.


“Papa Daniel bukan orang lain! Dia yang orang lain!” Selena dan para Alexandra langsung berdiri dari tempat duduknya mendengar suara keras Ryu, loh?! Bukankah seharusnya bocah itu bersama Ray sekarang?! Kok bisa ada disini lagi?!


Ryu berlari dan memeluk kaki Selena, Selena menggendong putranya dan mengusap keringat putranya menggunakan sapu tangan. Pasti kabur saat dibandara, sekarang ia tak tau betapa paniknya Ray mencari kebeadaan anaknya yang satu ini.


“Kenapa kau ada disini Ryu?” tanya Leona.


“Aku ingin bersama Papa!”


“Ryu?”


“Papa!” Ryu langsung merentangkan tangannya meminta Daniel menggendongnya, Daniel tersenyum dan mengambil Ryu dari gendongan Selena lalu menatap sinis kearah Leo. Liekai benar, ke-3 malaikat ini sudah menjadi miliknya…dan itu bisa menjadi jalur VVIP baginya mendapatkan Selena.


“Anak-anak, pergilah bermain dengan Paman Derian. Ada yang ingin Mama bicarakan, Derian bawa anak-anak pergi makan”


“Ok, nahhh ayo ikut Paman! Paman akan membelikan kalian banyak mainan”


Leon, Leona dan Ryu langsung mengikuti kemana Derian pergi, Selena dan Daniel kembali duduk ditempatnya lalu menyantap makanan mereka.


“Kami selesai, terima kasih atas makanannya” ujar para Alexandra sebelum pergi dari ruang makan. Selena menghentikan acara makannya begitupun dengan Daniel. Dengan tajam Selena menatap Mona yang tengah menyuapi putranya sesekali bersenda gurau dengan Leo, dia tak sadar diri.


“Peraturan meja makan Iskandar dan keluargaku berbeda jauh, jadi katakan apa maksudmu membiarkan selingkuhanmu berada disatu meja dengan istrimu. Leo?”


“A-ah, ini…aku hanya ingin meminta maaf kepadamu, seharusnya aku menjelaskan ini sejak awal”


“Lalu maumu apa sekarang?”


“Tentu saja aku ingin dinikahi oleh Leo, sesuai janjinya dulu ketika aku mengandung Arkan”


“Benar Selena…aku ingin menjadikan Mona sebagai istri keduaku dan aku minta persetujuan darimu”


Selena melirik Daniel yang hanya diam tanpa ingin bicara apa-apa, haisss pria kekanakan ini! Apa pria ini benar-benar tak mau bicara sedikitpun kepadanya?! Buat kesal saja!.


“Boleh…nikahi saja dia” Daniel dan lainnya seketika terkejut mendengar jawaban Selena, apa Selena akan membiarkan Mona menjadi istri kedua Leo?! Apa Selena rela diduakan oleh Leo?!.


“Benarkah?”


“Iya, kapan kalian akan menikah? Mau kubantu mempersiapkannya?”


“Terima kasih, maaf jika merepotkanmu” jawab Mona sembari tersenyum puas, akhirnya! Akhirnya ia akan menjadi Nyonya muda keluarga Iskandar!.


“Selena! Apa yang kau lakukan?! Kenapa kau membiarkannya?!”


“Akhirnya kau mau bicara padaku”


“Apa?! Bukan itu yang terpenting sekarang!!” kesal Daniel, ya tuhan…bagaimana bisa Selena sesantai ini?! Tak bisakah Selena menghilangkan sifat tenangnya untuk sebentar saja?!.


“Apa masalahnya? Semua harta Leo sudah atas namaku dan anak-anak, memang apa yang akan didapatkan Mona setelah menikah nanti?” Mona seketika tersentak, apa itu masih berlaku untuk sekarang?! Leo masih hidup! Dan pastinya akan terjadi pembagian harta warisan lagi!.


Selena berdiri dari tempat duduknya begitupun dengan Leo dan Mona, Daniel menatap Selena tak percaya…sungguh, ia benar-benar tak paham dengan apa yang Selena pikirkan.


“Kau bisa menikah dengan Leo tapi kau tak mungkin bisa mendapatkan sepeserpun hartanya, semua aset Leo sudah atas namaku dan anak-anak. Jadi jangan berharap lebih”


“Apa?! Tidak bisa begitu! Aku juga akan menjadi istri Leo! Dan juga Arkan adalah anak pertama Leo, sudah seharusnya dia mendapatkan lebih! Leo! Katakan sesuatu!”


“Selena…dengarkan aku, Arkan lebih tua dari Leon. Jadi kita harus mempertimbangkan lagi masalah pewaris dan harta warisan” ujar Leo.


“Benar! Arkan yang seharusnya mewarisi keluarga Iskandar! Ia putra tertua!”


“Tapi anak haram kan?”


“A-apa kau bilang?!”


“Biar kujelaskan ya, memang sedikit sulit bicara dengan orang yang tak berpendidikan. Dalam 4 keluarga besar, anak haram mustahil bisa bisa mewarisi keluarga bahkan untuk diterima didalam keluarganya sudah menjadi keberuntungan. Aku punya 2 putra dan 1 putri yang lahir secara sah dalam pernikahan, kau tak bisa mengubah itu, kau tak bisa mengubah fakta bahwa putraku Leon…akan menjadi pewaris selanjutnya keluarga Iskandar digaris pertama disusul Ryu diposisi kedua dan Leona diposisi ketiga. Jangan berpikir bahwa yang tertua lah yang akan mewarisi sebuah keluarga, kalau anak tertua anak haram bisa apa?” ujar Selena sembari tersenyum sinis.


Daniel dengan sigap menangkap sebuah gelas yang mengarah kepada Selena, Mona sial*n! Beraninya wanita itu bertindak sembrono dihadapan Tuan dan Nyonya besar.


“Aku tak peduli! Putraku adalah yang tertua! Jadi dia harus menjadi pewaris!”


Selena pergi begitu saja bersama dengan Daniel, ia sudah cukup bosan dengan drama memuakkan ini.


.


.


.


.


.


.


Selena menatap ke-3 anaknya yang baru pulang saat malam hari, Derian sial*n…diajak kemana saja anak-anaknya?! Jangan bilang pria itu menunjukan sesuatu yang aneh-aneh?!.

__ADS_1


Ryu langsung berlari kearah Selena dan naik kepangkuan Selena, Selena mengerutkan kening melihat putranya yang tengah tersenyum. Apa ini? Kenapa putranya senyum-senyum sendiri?.


“Kemana saja kalian?”


“Kami pergi ke taman bermain, ke wahana, ke perpustakaan, ke kebun binatang! Kami juga pergi ke Istana Negara!” jawab Ryu antusias, Selena menghembuskan nafasnya. Yahhh pantas saja Ryu sesenang ini, dan lihatlah…buku apa yang sedang dipegang Leon dan Leona.


“Buku apa itu sayang?”


“Ini buku ‘Hidup tak ada artinya’ karangan Virdina”


“Ini buku ‘Balas dendam untuk hidup’ dan ‘Hidup untuk mati’ karangan Vivi”


Derian tersenyum canggung melihat ekspresi syock bibinya, yahhh ia tak bisa menolak membelikan kedua keponakannya buku-buku laknat itu.


“Yahhh itulah hidup, Mama punya buku ‘Kematian adalah takdir’ kalian mau baca?”


“Selena!! Jangan ajarkan yang tidak-tidak pada anak-anak! Leon Leona! Berikan bukunya pada Papa, kalian belum boleh membaca buku itu!” Leon dan Leona mematuhi ucapan Daniel dan memberikan buku itu pada Daniel.


Selena memajukan bibirnya, apa salahnya anak-anaknya membaca buku itu diusia dini? Ia juga membaca buku itu saat diumur 3 tahun, itulah buku yang menginspirasinya untuk membunuh pelayan yang mencoba menggoda Papanya.


Daniel memijat pelipis matanya, tidak Ibu tidak anak…kok bisa gilanya Selena menurun pada kembar, ia ingin kembar tumbuh seperti Ryu! Makan, main dan tidur! Bukan malah baca buku laknat seperti ini!.


Leo dan Mona turun dari kamar mereka menuju ruang tamu, Selena melirik kedua orang itu terutama Mona yang memiliki bekas merah dilehernya. Wahhh lumayan ganas ya.


“Berapa ronde?”


“Se-selena…” gugup Leo.


“Jangan membuat tempatku belajar menjadi kotor”


“Apa masalahnya? Bukankah itu hal yang wajar? Kami sepasang kekasih yang akan menjadi suami istri, wajar kami bercinta”


“Kesenangan itu hanya sesaat” dingin Leon.


Leo menghampiri Leon dan Leona lalu berjongkok dihadapan kedua anak itu, dengan lembut Leo menggenggam tangan Leon dan Leona secara bersamaan.


“Kalian tumbuh dengan cepat…Papa senang bisa melihat kalian”


“Tapi kami tidak”


Daniel tersentak mendengar jawaban spontan dari Leona, tunggu bukankah Leona pernah bilang ingin bertemu dengan Papa kandungnya? Lalu kenapa reaksi Leona seperti itu? Bahkan Leon juga…


“Papa minta maaf sudah meninggalkan kalian begitu lama”


“Kenapa tidak lebih lama lagi? Baru sekarang anda menemui kami? Lalu 3 tahun ini kemana?” dingin Leon melepaskan tangannya dari genggaman Leo begitupun dengan Leona.


“Apa kau tak mengajari anakmu sopan santun, kasar sekali”


“Apa kau juga mengajari anakmu sopan santun?”


“Tentu saja! Aku bukan Mama kalian yang membiarkan kalian bersikap liar begini!” kesal Mona.


“Lalu? Kenapa anakmu tak bisa minta minta maaf? Untuk ukuran seorang Tuan muda dari keluarga besar, anakmu memalukan jika tak bisa mengubah sikapnya”


“Beraninya kau bicara seperti itu!!”


Plakkkkk!!


Selena menampar keras pipi Mona, berani sekali wanita ini meneriaki anak-anaknya, benar-benar wanita yang tak punya etika.


“Adakah yang salah dari ucapan putraku?”


“Selena, tak seharusnya anak usia 3 tahun mengatakan hal yang tak sopan seperti ini, apalagi lawan bicaranya adalah orang yang lebih tua dan juga Arkan akan menjadi saudaranya, seharusnya dia bisa lebih menjaga ucapannya”


“Saudara? Kami bukan anak anda, jadi kami tak akan menerima anak itu sebagai saudara”


“Dan juga kami tak suka disentuh barang palsu seperti anda” tambah Leon menyahuti ucapan adiknya.


“Leon…Leona…” lirih Leo.


“Papa Daniel jauh lebih baik daripada anda, dia memperlakukan kami dengan baik meskipun kami bukan anaknya. Jadi tolong jaga sikap anda, karena anda tak lebih dari seorang yang tiba-tiba datang tanpa diundang”


Daniel kembali tersentak, sejak kapan Leon bisa berbicara sarkasme seperti ini? Siapa yang mengajarinya berbicara seperti itu? Leo adalah Ayah kandung Leon dan Leona, tak sepantasnya mereka berbicara seperti itu.


“Bagimana sih kau mengajari anakmu? Mereka benar-benar liar”


“Yang liar itu kau, siapa kau berani mengatai seorang pewaris utama keluarga Iskandar liar? Kau saja bukan Nona dari keluarga besar, beraninya bicara tanpa menundukan kepala dihadapan orang yang kastanya lebih tinggi daripada dirimu. Apa kau tak pernah diajari etika kerajaan oleh kedua orang tuamu?” dingin Leon.


“Jika dia diajari, maka dia tak mungkin mau mengandung anak dari suami orang lain dan melahirkan anak diluar pernikahan, ohh aku lupa…dia kan juga anak diluar pernikahan” sinis Leona.


“Leon Leona! Kalian tidak boleh bicara seperti itu, darimana kalian tau kata-kata seperti itu”


“Dari buku berjudul ‘Neraka untukmu’”


“Papa tak ingin kalian bicara seperti ini lagi, itu tidak sopan…”


“Paman Daniel, jika Paman tak bisa menerima kami yang seperti ini…Paman tak perlu menemui kami lagi, terima kasih”


Blarrrrrr!!


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2