
.
.
.
Hans ******* bibir istrinya dengan lembut, para bodyguard yang melihat itu hanya bisa memejamkan matanya. Sudah bisa ditebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Sepertinya mereka harus meminta Assistant Gerry kemari secepatnya sebelum mereka mendengar suara-suara laknat itu lagi.
Hans terus mencium bibir Selena membuat Selena perlahan goyah dan membalas ciuman suaminya.
Hans mengusap bibir istrinya yang basah karena ulahnya. Ia tersenyum melihat wajah malu istrinya yang terlihat menikmati ciumannya.
“Sayang…bolehkah aku melakukannya lagi?” Hans meminta izin istrinya untuk kembali berhubungan, ia tak mau memaksa istrinya jika istrinya tak mau membantunya menuntaskan hasratnya.
Selena menjinjit kakinya dan mencium bibir sexy suaminya membuat hasrat dalam diri Hans semakin menyala dibuatnya. Hans menggendong istrinya dan memutar badannya lalu meletakkan istrinya diatas meja makan.
“Tolong jangan disana Tuan muda!!! Kami tak sanggup melihatnya!!!!” para bodyguard ingin sekali berteriak mengatakan itu, tapi mereka tak punya keberanian untuk itu. Tuan mereka ini benar-benar keterlaluan, mau membuat mereka menderita dengan membuat mereka menonton acara live?!.
“Jangan…ada bodyguard…” cicit Selena sembari menutup bibir suaminya menggunakan kedua tangannya
“Apa aku menyuruh kalian berada disana? Cepat pergi”
Para bodyguard langsung berhamburan keluar dari rumah itu. Hans kembali mencium bibir istrinya. Selena memeluk punggung suaminya dengan erat.
“Kalau Assistant Gerry tiba-tiba datang bagaimana?”
“Dia tak akan berani masuk sayang…” jawab Hans dengan senyumannya.
“Mejanya keras…punggungku sakit…’
Mendengar hal itu Hans langsung membawa istrinya keruang tamu, membaringkan istrinya disofa. Sekarang istrinya tak punya alasan lagi untuk menolaknya berhubungan badan.
“Menurutlah…aku akan membuatmu nyaman”
.
.
.
Hans mengerang penuh nikmat saat mencapai puncaknya, ia menyesap bibir istrinya dengan kuat. Selena yang sudah sangat kelelahan langsung pergi kealam mimpi. Hans menyibakkan rambutnya kebelakang, ia menatap jam dinding yang menunjukan pukul 11.00 AM lalu beralih menatap istrinya yang sudah tertidur. Ia sudah melakukannya selama 3 jam tanpa henti, pantas istrinya langsung tertidur seperti ini.
Hans menunduk, mengecup dahi, pipi, serta bibir istrinya.
“Terima kasih…”
Hans menekan tombol disofanya membuat sofa melebar, Hans mengambil selimut yang ada didalam sofa dan berbaring disebelah istrinya dan menutupi tubuh mereka menggunakan selimut. Dengan perlahan mata Hans terpejam, menyusul Selena kealam mimpi.
Assistant Gerry yang sejak 2 jam yang lalu bermain catur dengan para bodyguard merasa ada hal aneh. Ia sudah tidak mendengar suara laknat itu, apa Bossnya sudah menghentikan pergulatan panasnya?. Kalau begitu ia bisa meminta Bossnya ke kantor sekarang juga.
Gerry berdiri dari tempat duduknya dan membuka pintu dengan perlahan.ia membeku mendapati Bossnya yang sedang tidur sembari memeluk tubuh Nyonya mudanya.
“Bagus ya Tuan muda…sudah selesai sekarang tidur…” Gerry berbicara sembari mengepalkan tangannya karena geram akan tingkah atasannya ini.
*
Hans membuka matanya dengan perlahan, ia tersenyum menatap istrinya yang masih tertidur dalam dekapannya.
“Sudah jam 2…”
Bibi Na datang menghampiri Hans, memberikan bathrobe kepada Hans. Hans memakai bathrobe itu dan membungkus tubuh istrinya menggunakan selimut dan membawanya masuk kedalam kamar.
Hans membaringkan istrinya ditempat tidur, dengan perlahan kelopak mata Selena terbuka. Hans tersenyum dan mencium dahi istrinya.
__ADS_1
“Mau mandi sekarang?”
Selena bangun dengan perlahan, ia mencengkram selimut merasakan sakit disekujur tubuhnya. Hans benar-benar kasar kepadanya.
“Sakit?”
“Hemmm”
Hans menyibakan selimut yang sedang membungkus tubuh istrinya dan menggendong istrinya menuju kamar mandi. Selena menutupi kedua buah dadanya karena malu.
“Kenapa malu? Aku sudah pernah menyentuh dan merasakannya sayang”
“Hans!” kesal Selena.
Hans tertawa kecil melihat kekesalan istrinya. Ia meletakkan istrinya didalam bathtube dan mengisinya menggunakan air hangat.
“Hans, nanti malam temani aku belanja ya?”
“Kemana?”
“Supermarket dong, memang di mana lagi? Tidak mungkin aku belanja di makam kan?” kesal Selena mendapat pertanyaan menjengkelkan dari suaminya.
“Hahaha, sayang…aku hanya bercanda…aku suka melihat wajah kesalmu. Itu mengemaskan” ucap Hans sembari menuangkan sabun di bahu istrinya.
“Oh ya, besok kau kekampus?”
“Sepertinya tidak, oh ya!”
“Apa?”
“Aku lapar…tadi belum sarapan…” rengek Selena.
“Hahaha, sayang…kukira apa. Maaf ya, aku baru ingat jika kau belum makan tadi”
Hans tertawa keras dibuatnya, ia memijat lembut bahu istrinya sesekali meremas dada istrinya membuat Selena mencipratkan air kewajah Hans.
“Hahaha okay…aku tak akan menjahilimu lagi. Oh ya, mau belanja ke mall?”
“Untuk?”
“Aku akan membelikanmu beberapa pakaian, anggap itu sebagai hadiah valentineku yang tertunda untukmu”
Setelah ritual mandi selesai Hans membawa istrinya kembali ketempat tidur, memakaikan pakaian ditubuh istrinya. Hans memakai kaus berwarna hitam dan celana jeans berwarna hitam.
“Hans…”
“Ya?”
“Kau hampir selalu menghabiskan masakanku, tapi tubuhmu tidak gemuk sama sekali. Curang…”
“Kau mau aku gemuk?” tanya Hans mendekat kearah istrinya.
“Tidak juga”
Hans tersenyum dan membawa istrinya keluar dari kamar. Para bodyguard langsung membungkuk hormat dibuatnya.
“Kalian ikut kami ke mall”
“Apa anda ingin bermain dengan Nyonya di mall Tuan?!” batin para bodyguard.
#
Mall!
__ADS_1
Hans menatap deretan baju dari merek terkemuka. Ia menatap istrinya yang hanya diam dengan tatapan polosnya.
“Bawakan pakaian yang sesuai dengannya” ucap Hans.
“Hans…itu tidak perlu, pakaianku masih banyak…”
“Benar juga…” ucap Hans.
“Bungkus semuanya, nanti kau coba satu persatu dirumah”
“!”
Selena dan para bodyguard langsung blank tak percaya mendengar apa yang baru saja dikatakan Hans. Tanpa basa-basi Hans kembali menggandeng tangan istrinya menuju toko aksesoris.
Saat berada didalam toko itu Hans melepaskan tangan Selena dan memilih beberapa penjepit rambut untuk istri kecilnya. Sedangkan mata Selena tertuju kepada sekotak tie tacks type. Penjaga toko yang melihat itu langsung membawakannya untuk Selena.
“Ini cantik! Aku akan membelikannya untuk Hans…” guman Selena tersenyum.
“Nona, bisa minta tolong berikan aku 2 kotak lagi?” tanya Selena.
“Baik Nyonya…”
Selena membayar 3 kotak tie tacks type itu tanpa sepengetahuan Hans. Ia ingin memberikan hadiah untuk suaminya.
Setelah beberapa jam berada di mall itu akhirnya Hans dan Selena menuju ke supermarket karena hari juga sudah mulai gelap. Hans menatap deretan bahan makanan yang ada, ini pertama kalinya ia datang ketempat seperti ini.
Selena mengambil beberapa sayur, daging, buah, dan minuman yang sudah tidak ada didalam kulkas lagi.
“Hanya beli itu?” tanya Hans.
“Kau mau beli sesuatu?”
“Belilah hal lain, seperti snack atau apa”
“No! Snack tak baik untuk kesehatan”
Hans hanya menganggukkan kepalanya. Saat berada dikasir Hans menatap heran kartu yang digunakan Selena untuk membayar belanjaan mereka.
“Sayang, itu bukan kartu yang diberikan Gerry. Di mana kartu yang diberikan Gerry?”
“Kartu apa yang kau bicarakan? Ini kartuku sendiri”
“Ka-kartumu sendiri?!”
“Iya”
“Ka-kau membeli semua bahan masakan dengan uangmu sendiri?!”
“Iya” jawab Selena dengan heran.
“Jadi…selama ini aku makan dengan uang Selena?! Gerry sialn!!”* batin Hans
Hans langsung menarik tangan istrinya keluar dari supermarket itu dan meminta bodyguard untuk membawakan belanjaan Selena. Hans menyetir dengan kecepatan penuh, saat sampai dirumah Hans langsung mendorong tubuh istrinya ke tembok dan mencium rakus bibir istrinya.
“Hmmmmm Hans…”
“Sthhhh diamlah sayang…jika kau menurut, kupastikan tidurmu cukup” bisik Hans seraya menjilat telinga istrinya.
.
.
.
__ADS_1