
#
Esoknya!
Selena menatap dirinya dari pentulan cermin. Tangan nya menyentuh bekas tamparan yang masih begitu merah padahal kemarin Eugene sudah mengompres pipinya menggunakan es tapi bekasnya masih belum juga hilang.
Jika sampai Hans atau Daniel tau ini, tamat sudah riwayatnya. Selena akhirnya menutupi bekas tamparan itu menggunakan bedak.
Selena dengan cepat memakai pakaian nya saat mendengar suara bel pintu. Ia langsung bergegas keluar dari kamar untuk membuka pintu. Tubuh Selena gemetar hebat melihat Hans yang sudah pulang dengan wajah geramnya.
Hans mendorong Selena hingga tubuh Selena membentur tembok. Hans mencengkram kuat rahang Selena membuat Selena mendesis kesakitan dibuatnya.
“Hans…lepas, itu menyakitkan…”
“Sakit? Jika kau tau ini sakit, kenapa kau pergi dengan pria lain hah?!!!!” teriak Hans geram.
Hans benar-benar pias mendapati kabar bahwa istrinya terlihat di restaurant bersama dengan seorang pria. Saat itu juga ia memutuskan untuk langsung kembali kemari walaupun pekerjaan nya di Korea belum sempat terselesaikan.
“Hans…aku bisa menjelaskan nya…”
“Kau berselingkuh dariku!! Kenapa kau melakukan itu Selena?!! Jawab aku!!!” bentak Hans.
Selena kembali menangis, apa yang sedang Hans bicarakan? Selingkuh apa?. Ia benar-benar tidak bisa memahami apa yang sedang Hans bicarakan.
Hans mencium bibir Selena dengan brutal. Selena semakin menangis dibuatnya, sungguh. Hans yang seperti ini seperti bukan Hans yang ia kenal akhir-akhir ini. Rasa nyamanya saat bersama Hans lenyap seketika.
Hans melepaskan ciuman nya, ia menarik kasar tangan Selena dan membawa gadis itu masuk kedalam kamarnya.
__ADS_1
Awalnya Hans berpikir saat ia pulang ia bisa menghabiskan waktu dengan Selena dan saling berbagi kasih sayang. Namun nyatanya, Selena diam-diam berkencan dengan pria lain disaat ia bekerja diluar.
Hans menutup pintu kamarnya dengan keras. Ia membawa Selena masuk kedalam kamar mandi, ia mendorong tubuh Selena hingga kepala belakang Selena membentur dinding.
“Bersihkan dirimu, bersihkan bagian yang disentuh pria itu”
Hans keluar dari kamarnya meninggalkan Selena yang menangis dibawah guyuran air. Ia pergi entah kemana, yang terpenting ia lebih baik menenangkan pikiran nya dulu. Jika tidak, Selena bisa mati ditangannya.
“Kenapa kau seperti ini Hans…kenapa kau kasar lagi…?”
Darah mengalir keluar dari kepala Selena. Selena tak menyadari itu, ia mematikan shower air dan kembali kekamarnya sendiri. Ia berbaring ditempat tidur, membungkus tubuhnya menggunakan selimut.
*
Hans menghembuskan nafasnya, tidak seharusnya ia memperlakukan Selena seperti itu.
Hans menyetir pulang, saat sampai ia langsung masuk kedalam kamarnya. Ia membeku mendapati bercak darah menghiasi lantai kamarnya, ia mengikuti bercak darah itu hingga sampailah dikamar Selena.
"Apa Selena sudah tidur?"
Ia membuka pintu itu perlahan, ia duduk ditepi tempat tidur Selena. Tangan nya menggapai dan menurunkan selimut Selena. Ia menyentuh kepala Selena, ia membeku melihat tangan nya yang ternodai oleh darah. Ia sontak langsung menepuk pelan pipi Selena.
“Selena, hei! Kau serius?!”
“Ha-hans…”
Hans menggendong Selena dan berlari keluar dari rumah. Ia mengemudi dengan cepat menuju rumah sakit. Saat sampai Hans langsung membawa Selena ke UGD.
__ADS_1
“Tuan, mohon anda tunggu diluar”
Hans keluar dari UGD. Ia terduduk dikursi tunggu, ia menatap tangan nya yang sudah terlumuri oleh darah. Ia hanya ingin membuat Selena mengerti akan posisinya, tapi ia malah melukai Selena.
1 jam kemudian.
Dokter Alex keluar dari UGD membuat Hans sontak menanyakan kabar Selena.
“Maaf, anda siapa?”
“Saya…saya kakaknya”
“Owhh…baiklah. Adik anda sudah baik-baik saja, namun benturan dikepalanya mengakibatkan gegar otak ringan. Lain kali mohon lebih hati-hati ya”
“Ahhh baik”
“Kalau begitu saya permisi”
Hans menghembuskan nafas lega. Syukurlah jika istrinya sudah baik-baik saja. Ia bisa sedikit tenang. Ia kembali menatap tangan nya, dengan tangan inilah ia menyakiti istrinya.
“Selena…aku minta maaf…” lirih Hans.
.
.
.
__ADS_1