Our Last Love

Our Last Love
V1 : Chapter 158 : Death...


__ADS_3

.


.


.


Selena berhenti berlari ketika merasakan ia hampir kehabisan nafas, ia mengusap keringat yang mengucur deras didahinya. Ia menatap beberapa wanita yang tengah mengobrol ditepi jalan, tanpa ragu ia menghampiri wanita-wanita itu.


“Kakak…”


“Ya adik kecil? Ada yang bisa kami bantu?”


“Kakak…bisakah kakak membantuku?”


“Adik kecil…kau kenapa? Apa kau dikejar seseorang?”


“Tidak! Mereka bukan orang baik-baik! Aku harus lari!”


Saat Selena hendak berlari salah satu wanita itu langsung mencekal pergelangan tangan slenwa dan mengendongnya.


“Bocah tengil…kau benar-benar menyusahkan kami…”


“Lepaskan aku!!!” Selena mencoba memberontak dari gendongan wanita itu. Bahkan Selena tak segan-segan menggigit lengan wanita itu agar melepaskannya.


Karena kesal salah satu wanita memukul kepala belakang Selena dengan keras membuat gadis itu seketika pingsan dibuatnya.


“Apa kau gila?! Boss hanya menyuruh kita menangkapnya! Kenapa kau memukulnya hah?!”


“Ck! Dia benar-benar merepotkan! Jika dia tidak pingsan kita akan semakin kerepotan!”


“Jangan lupa jika dia adalah anak dari seorang pembunuh berdarah dingin!!!” bentak wanita yang sedang menggendong Selena kepada temannya.


“Ck! Lagipula dia akan segera mati di tangan Boss”


Tak mau berdebat lagi wanita-wanita itu segera pergi membawa Selena masuk kedalam sebuah mobil.


Sedangkan disisi lain Ruvelis dengan wajah paniknya menyetir kelokasi terakhir ponsel Rafindra berada. Putrinya…putrinya berada dalam bahaya. Ia benar-benar berharap semoga putrinya baik-baik saja.


“Aku akan ketempat Rafindra! Kalian berpencar cari putriku!”


“Baik Jenderal besar!”


Ratusan mobil mewah itu segera berpencar kesegala arah. Puluhan helicopter yang terbang terus menerus mencari keberadaan Nona kecil mereka. Jika sampai Nona kecil mereka ditemukan dalam kondisi tidak baik-baik saja, mereka harus siap kehilangan nyawa.


Ruvelis menginjak rem dengan spontan ketika melihat tubuh yang dikenalinya. Ruvelis segera keluar dan menghampiri tubuh Rafindra yang terkapar berlumurn darah.


“Rafindra! Bangun! Katakan di mana putriku!” ucap Ruvelis menopang tubuh Rafindra sembari menepuk beberapa kali pipi pria itu.


“Rafindra kumohon sadarlah!”


Tak berselang lama kelopak mata Rafindra terbuka, tatapan lemahnya memandang Ruvelis dengan wajah yang semakin panik.


“Tu-tuan…”


“Rafindra! Di mana putriku?! Di mana kau menyembunyikannya?!”


“Sa-saya menyuruh Nona lari…ma-maafkan saya…sa-saya gagal menjaga Nona…” lirih Rafindra sebelum kehilangan kesadarannya kembali.


Wajah Ruvelis seketika memucat, Ruvelis meletakkan kepala Rafindra di tanah. Beberapa bodyguard yang melihat Ruvelis bergegas menghampiri.


“Tuan!”


“Bawa Rafindra kerumah sakit”


Para bodyguard seketika gemetar melihat raut wajah Ruvelis. Gawat…benar-benar gawat jika sampai Nona kecil mereka kenapa-napa. Mereka harus berdo’a agar keselamatan Nona kecil mereka terjamin.


Ruvelis dengan kasar melepaskan seragam Jenderal besarnya dan masuk kedalam mobil. Ia berusmpah…jika sampai putrinya tergores sedikit saja ataupun rambut putrinya berkurang sehelai saja ia akan memberikan hukuman yang setimpal.


“Nara…Papa akan segera menemukan Nara…Nara jangan takut sayang…”


Drttttt drtttttt


“Kalian sudah menemukan keberadaan putriku?”


“Belum Jenderal besar, tapi kami menemukan sebuah mobil yang menuju kedesa terbengkalai di barat! Mobil hitam tanpa plat dan yang mengemudi seorang wanita. Dari catatan kepolisian, itu adalah mobil illegal!”


“Aku paham maksudmu. Aku akan segera kesana”


Ruvelis mematikan telfonnya dan segera memutar arah. Tak peduli pria maupun wanita, ia akan menhabisi siapapu yang berani menyakiti putrinya.


3 mobil hitam berhenti disebuah rumah kecil, beberapa wanita turun dan seorang wanita turun membawa Selena dan membawanya masuk kedalam rumah kecil terbengkalai itu.


“Boss!”


“Bagaimana? Kalian berhasil mendapatkan anak Ruvelis?”


“Kami berhasil mendapatkannya”


Wanita itu meletakkan Selena di lantai. Pria itu tersenyum sinis melihat gadis yang ia incar dalam 3 tahun terakhir. Akhirnya…dendamnya kepada Ruvelis akan segera terbalaskan. Ruvelis sudah membunuh istrinya, dan ia akan melenyapkan nyawa anak Ruvelis sebagai gantinya.

__ADS_1


Pria itu berdiri dan berjalan mendekati Selena yang tak sadarkna diri, menggunakan kakinya ia membalik tubuh Selena.


“Gadis kecil…jangan salahkan aku membunuhmu, siapa suruh kau terlahir menjadi anak dari musuhku”


Mata Selena dengan perlahan terbuka, dengan spontan ia berdiri dengan pandangan yang sedikit kabur. Setelah pandangannya jernih Selena seketika memucat karena dikelilingi oleh orang-orang asing.


“Kau sudah bangun?”


“Siapa kalian?!”


“Ck, benar-benar mirip dengan Ruvelis…menjengkelkan sekali”


Merasa dalam bahaya Selena mencoba untuk kabur namun pria itu dengan mudah menghentikan kangkahnya dengan mencekal tangannya.


“Diam atau kupatahkan kedua kakimu”


Dengan kedua tangan yang bebas Selena dengan sekuat tenaga menusuk mata kanan pria itu menggunakan jari telunjuknya. Pria itu dengan spontan melepaskan Selena membuat Selena langsung berlari kearah pintu.


Tak ingin terlibat didalam maslaah, wanita-wanita itu hanya diam menyaksikan Selena yang mencoba melarikan diri.


“Bocah sial*n” pria itu dengan geram meraih sebuah vas yang cukup besar dan melemparnya tepat mengenai kepala Selena. Selena seketika tumbang dalam hitungan detik, darah segar mengalir keluar dari kepala bagian belakang Selena.


“Bo-boss! A-anda membunuhnya!!” wanita yang tadi menggendong Selena berseru dengan wajah yang mulai panik.


“Jika dia mati itu akan lebih bagus!”


Sesaat pria itu mengatakan kalimatnya pintu terbuka dengan keras. Wanita-wanita yang berada disana seketika memucat melihat Ruvelis yang membawa pedang yang penuh dengan darah ditangan kanannya.


“Di mana…putriku?”


Saat hendak melangkahkan kakinya Ruvelis terdiam membeku ketika merasakan sebuah penghalang mengenai kakinya, matanya bergulis menatap bawah. Tubuhnya seketika lemas melihat tubuh putrinya yang terbaring di lantai dengan darah yang keluar dari kepala.


“Na-nara…”


Ruvelis terduduk dilantai itu, tangannya yang gemetar hebat mencoba menyentuh tubuh putrinya. Dengan hati-hati ia menggendong putrinya.


“Na-nara…sayang, buka mata Nara…ini Papa sayang…Papa mohon buka mata Nara”


Tak kunjung mendapatkan respon sedikitpun dari putrinya, Ruvelis dengan air mata yang mulai menggenang memeriksa nafas serta denyut nadi putrinya.


Degh!!!


Ruvelis terdiam membeku ketika tidak putrinya tak lagi bernafas, wanita-wanita yang berada disana seketika ingin mencoba melarikan diri. Tidak! Mereka tidak ingin terkena masalah karena Boss mereka!.


Namun saat wanita-wanita itu hendak keluar Ruvelis dengan geram menutup pintu dan menguncinya.


“Ini adalah balasan karena kau sudah melenyapkan nyawa istriku” pria itu berucap dengan senyum puasnya.


“Lalu kau mau apa?! Mau bertarung?!”


“Daripada bertarung, aku lebih ingin nyawamu”


Ruvelis meletakan tubuh putrinya dengan perlahan, mata elang itu menatap tajam wanita-wanita yang gemetar ketakutan.


“Tunggu hadiah kalian dariku”


Ruvelis dengan cepat menendang kepala pria itu saat pria itu hendak menyerangnya. Hancur…hatinya terasa hancur lebur melihat putrinya yang sudah tak bernyawa.


“Beraninya kau membunuh anakku…”


“Kau melenyapkan apa yang menjadi batas kesabaranku…dan apa kau pikir setelah ini aku akan membiarkan keturunanmu hidup?” dingin Ruvelis dengan mata tajamnya.


“A-apa?”


“Jangan harap…aku akan membiarkan satupun keturunanmu terlahir kedua ini…kudengar selingkuhanmu diam-diam melahirkan anakmu ya? Jika kuhitung…anakmu juga berusia 5 tahun saat ini…bagus…sangat bagus karena putriku juga baru berusia 5 tahun”


“Jangan macam-macam dengan mereka Ruvelis!!! Sampai kau berani menyentuh mereka…aku…akan melenyapkan wanitamu! Aku akan melenyapkan wanita yang paling kau cintai! Dan kau akan hidup menderita setelah itu!”


“Heh, kau baru saja membunuh wanita yang paling kucintai didunia ini. Apa kau tau? Aku mencintai putriku lebih


dari siapapun dan lebih dari segalanya…dan kupastikan…hari ini anak-anakmu akan menemani putriku disana”


“Jangan macam-macam Ruvelis!! Aku yang membunuh anakmu!! Jangan libatkan anakku!!” bentak pria itu dengan geram, ia tau pria didepannya ini tidak pernah tidak serius mengenai ucapannya. Apa yang pria itu ucapkan akan menjadi kenyataan.


“Aku yang membunuh istrimu lalu kenapa kau melenyapkan anakku hah?!!! Kau tau? Anak yang kau bunuh hari ini aku menunggu kehadirannya selama 6 tahun!!”


Ruvelis mengeluarkan ponselnya, namun dengan seketika Ruvelis melayangkan tendangan diperut pria itu saat pria itu hendak mengambil ponselnya.


“Jennifer…2 anak kembar dari Jodarcion. Aku mau kau minta bawahanmu melenyapkan mereka hari ini juga. Jika kau gagal, bunuh dirimu sendiri”


“Hanya itu? Okey”


Tut…


“Iblis!!! Kau bukan seorang manusia!!! Kau seorang iblis!!!”


“Ya! Aku memang iblis! Kenapa? Kau punya masalah dengan itu? Sebaiknya kusudahi pembicaraan ini. Karena aku ingin…mencabut kedua tangan dan kakimu dari tempatnya”


Sekujur tubuh pria itu seketika gemetar, pria itu dengan wajah paniknya meminta bodyguardnya untuk melawan Ruvelis. Namun tak satupun dari bodyguardnya berani bergerak dari tempat mereka.

__ADS_1


Tangan kiri Ruvelis menjambak rambut pria itu, ia mengeluarkan pisau dari saku celananya dna memberikan beberapa goresan di pipi pria itu. Namun pria itu dengan cepat melepaskan diri dari Ruvelis.


“Jangan harap kau bisa membunuhku Ruvelis!! Jangan lupa jika aku juga anggota dari kamp ke -4!”


Pria itu mengeluarkan pistol dan segera melepaskan beberapa anak peluru kearah Ruvelis. Ruvelis dengan wajah dinginnya menghindari peluru-peluru itu dengan mudah.


“Hmmmm perlu kuakui, stamina komamandan dari kamp 4 memang baik. Tapi jangan lupa…jika semua Jenderal besar kamp utama adalah iblis berdarah dingin”


Ruvelis dengan cepat menendang kepala pria itu, tak mau berhenti disitu saja Ruvelis menginjak tangan kanan pria yang tersungkur di lantai itu. Sejak kecil ia dibesarkan dilingkungan kemiliteran, melumpuhkan lawan yang kuat adalah makanan sehari-harinya.


Namun disaat menghajar pria itu mata Ruvelis kembali terfokus kepada putrinya. Tanpa disadari air mata Ruvelis mengalir, 6 tahun ia menanti…5 tahun ia merawat…dan hari ini pelanginya hilang selamanya! Tidak terima…ia tidak bisa menerima hal ini…


Pria itu mulai lemas akibat serangan tanpa henti dari Ruvelis. Ia tak punya tenaga sama sekali untuk melawan sekarang, ia salah…tak seharusnya ia main-main dengan keiblisan seorang Ruvelis. Apalagi ia tau…jika Ruvelis


tak pernah sekalipun melepaskan sesuatu yang sudah menjadi mangsanya.


Ruvelis kembali fokus kepada mangsanya, Ruvelis membungkuk dan menjambak rambut pria itu. Kaki panjangnya menginjak kepala pria itu dan menggenggam erat lengannya.


“Apa tangan ini yang kau gunakan untuk membunuh putriku?”


“A-ampun Ruvelis…”


Emosi Ruvelis semakin meningkat mengingat momentnya bersama dengan putrinya. Rahangnya mengeras membuat gemetar wanita serta pria yang berada diruangan itu.


“Arghhhhhh!!!! Persetan kalian semua!!!!” teriak Ruvelis dan dengan tenaga yang ia miliki ia mencabut paksa tangan pria itu dari tubuhnya yang sebelumnya juga sudah ia sayat terlebih dulu.


“KYAAAA!!!!” wanita-wanita itu berteriak dengan histeris melihat tangan yang berhasil tercabut dari tubuhnya.


“Arghhhhh!!!!”


Ruvelis melemparkan tangan itu kepada wanita-wanita yang sedang ketakutan di sudut ruangan. Ruvelis menyingkirkan kakinya dari pria itu, pria itu dengan air mata yang mengalir deras mencoba melarikan diri dari Ruvelis meskipun rasa sakit menjalar keseluruh tubuhnya.


Mata Ruvelis menatap sebuah pedang tajam yang terpajang di dinding. Dengan langkah panjang Ruvelis mengambil pedang itu dan membesihkannya.


“Pedang, ini adalah senjata yang sangat diinginkan putriku…tapi kau mengambil putriku sebelum putriku berhasil menebas tubuh musuhnya menggunakan senjata ini”


Ruvelis berlari keaah pria itu dan dengan sekali tebas kedua kaki pria itu terpotong. Pria itu langsung berteriak memecah cakrawala, tak tahan…ia benar-benar tak tahan dengan rasa sakit yang diberikan Ruvelis kepadanya.


Tak mau berlama-lama lagi, Ruvelis dengan sekali ayun langsung memotong tubuh pria itu menjadi dua. Ruvelis detik itu juga menjatuhkan pedang yang ia pegang, ia kembali menghampiri tubuh putrinya yang sudah tak bernyawa dan dengan hati-hati kembali menggendong tubuh itu.


“Sayang…buka matanya ya…ini Papa…Papa ada disini…Papa tidak akan meninggalkan Nara sendirian lagi…bangun ya sayang…” Ruvelis berucap seraya membelai kepala putrinya yang penuh darah. Sejak lahir…ialah yang menjaga putrinya. Istrinya sering keluar negeri untuk karirnya dan ialah yang menjaga putrinya. Jadi tak perlu diragukan lagi bagaimana perasaan hancur yang sedang ia rasakan sekarang.


“Nara…sayang…ini Papa sayang…buka ya matanya? Nara mau apa? Nara mau cake? Papa belikan untuk Nara sekarang ya…bangun ya sayang…Papa mohon…”


Ruvelis memeluk putrinya dengan erat dan berteriak histeris mengeluarkan kekecewaan didalam hatinya. George, Hendrick, Tuan Alexandra, dan para Alexandra yang berada di luar bangunan langsung mendobrak masuk mendengar teriakan Ruvelis.


“K-kak…a-apa ya-yang terjadi?” tanya Lewis terduduk lemas disamping Ruvelis.


“Nara…bangun sayang…Papa belum siap kehilangan Nara…”


Hendrick tak berani menatap Ruvelis, matanya menatap tubuh yang terpotong dan beberapa wanita dipojokan.


“Tidak…tidak boleh” ucap George.


George merebut Selena dari gendongan Ruvelis dan segera membawanya keluar. George berteriak kepada bawahannya agar mencarikan kain untuk menghentikan darah.


Tak butuh waktu lama bawahan George datang membawakan kain, George meletakkan Selena didalam mobilnya dan merobek kain itu dan membersihkan kepala Selena. Tidak…ia harus menyelamatkan Selena. Ia tak mau jika gadis yang sudah ia anggap seperti anaknya sendiri ini kehilangan nyawa.


“Hubungi Jenssica, Micle, Ciara, dan Joo!! Minta mereka kerumah sakit, minta pihak rumah sakit menyiapkan ruang operasi!”


“Baik!”


“George! Tolong selamatkan putriku…aku mohon padamu” ucap Ruvelis yang entah kapan sudah berada disebelah George.


“Tenangkan dirimu, masuk kedalam mobil. Kita langsung ke rumah sakit”


Ruvelis masuk kedalam mobil sembari memangku putrinya, saat sampai dirumah sakit Selena langsung dibawa keruang UGD oleh George. Jenssica seketika histeris melihat putrinya dalam kondisi yang separah itu, namun Nyonya besar Alexandra langsung mencoba menenangkan menantunya itu walaupun ia sendiri juga syock melihat kondisi cucu tunggalnya.


Ruvelis hanya bisa duduk diam termenung menatap pintu UGD. Beberapa saat kemudian Jenssica akhirnya mulai tenang, wanita itu ikut masuk kedalam UGD untuk memeriksa putrinya.


Segala tindakan dilakukan George untuk mengembalikan detak jantung Selena, 30 menit berlalu akhirnya dengan perlahan jantung Selena kembali berdetak. Jenssica tak henti-hentinya mengucap syukur sembari menciumi pipi buah hatinya.


“Dokter, hasilnya sudah keluar” seorang suster memberikan hasil X-Ray kepada George.


George menatap hasil Roentgen dengan teliti. Sial…terjadi keretakan serius dikepala bagian belakang Selena. Tapi itu tak masalah! Ciara dan Micle berada disini, semoga setelah operasi tidak ada hal buruk yang terjadi.


“Bawa Selena keruang operasi, 5 menit lagi operasi dimulai” ucap George sembari keluar dari UGD. Keluarnya George dari UGD langsung membuat para Alexandra berdiri dair tempat duduk mereka.


“Bagaimana?! Bagaimana keadaan putriku?!” tanya Ruvelis.


“Kepala bagian belakangnya mengalami keretakan serius, dia juga kehilangan banyak darah. Sangat kecil kemungkinan untuk putrimu bisa sadar, jikalaupun bisa sadar…mungkin akan mengalami kecacatan”


“Lakukan apapun asal putriku Selamat! Aku akan menanggung semua konsekuensinya asalkan kau selamatkan putriku” ucap Ruvelis.


“Kalian berdo’a saja. Semoga operasinya bisa berhasil”


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2