Our Last Love

Our Last Love
Chapter 45 : Awal mencari kebenaran


__ADS_3

.


.


.


Hans meletakkan dimsum didepan istrinya. Selena tersenyum dan memakan pesanannya dengan semangat. Sudah lama ia tidak mencoba street food disini. Selena memakan makanannya sembari menatap ramainya orang yang datang mencicipi makanan yang ada.


“Kalau kau suka tempat ini, kita bisa setiap minggu kemari”


“Benarkah?!”


“Ya, asal kau dalam keadaan baik-baik saja. Jangan pas sedang control mau kemari”


Selena terkekeh pelan mendengar ucapan suaminya. Mata Hans terfokuskan kepala jari manis Selena yang kosong. Di mana cincin pernikahannya?.


“Selena…”


“Ya?”


“Mana cincinmu?” tanya Hans.


Selena menatap jari-jemarinya. Kenapa Hans tiba-tiba bertanya tentang cincin pernikahan mereka? Apa suaminya baru sadar jika ia tidak pernah memakai cincin pernikahan mereka?.


“Ah…aku meletakannya di lemari, aku takut hilang saat di kampus. Jadi aku tak memakainya”


Hans hanya menganggukkan kepalanya. Benar juga, istrinya pintar tidak memakai cincin pernikahan karena Royal University ketat dalam peraturan apalagi tentang status mahasiswa mereka. Banyak yang dikeluarkan dari kampus itu karena ketahuan mempunyai kekasih.


Hans mengeluarkan sapu tangan dan membersihkan mulut istrinya yang kotor karena saus.


Selena menatap suaminya yang tengah memakan kebab dengan santainya membuat terpikirkan apa yang harus ia ketahui saat ini. Ia harus tau rahasia apa saja yang disembunyikan suaminya darinya. Ia bukan tidak percaya, tapi jika ia terlanjur percaya sepenuhnya kepada Hans. Ia takut jika Hans melukainya lagi, maka ia akan langsung berada di titik terendah.


Ting!


Selena membuka ponselnya yang mendapat pesan masuk dan ternyata itu berasal dari Joe.


|| Selena\, maaf mengganggu. Dosen tiba-tiba menyuruh kita kekampus sekarang\, aku tau kau masih sakit. Tapi kurasa ini benar-benar penting\, kau ada di mana? Aku akan menjemputmu ||


“Hans, aku harus ke kampus sekarang”


“Sekarang juga? Tapi kau kan harus istirahat dulu”


“Hans…aku sudah baik-baik aja”


Hans menghembuskan nafasnya kesal. Padahal ia sudah meminta dosen untuk tidak meminta Selena datang ke kampus terlebih dulu agar bisa istirahat.


“Akan kuantar”


“Tidak merepotkanmu?”


“Karena kau ke kampus maka aku akan keperusahaan. Kita satu jalan, ayo”


Selena menganggukkan kepalanya. Ia mengirim pesan kepada Joe untuk tidak menunggunya.


Hans menyetir mobilnya dengan kecepatan penuh. Butuh waktu 3,45 jam untuk sampai di Royal University. Jadi ia harus cepat agar istrinya tidak mendapat masalah saat sampai disana.


*

__ADS_1


Selena keluar dari mobil Hans, ia menatap heran suaminya yang tak kunjung pergi. Jika sampai ada dosen yang tau ia diantar oleh seorang pria maka Hans bisa ikut terlibat masalah. Bukan hanya dirinya saja.


“Tipsnya belum Nyonya, aku tidak akan pergi sebelum diberi tips” ucap Hans.


Selena tersenyum lucu mendengar ucapan suaminya, ia menarik dasi Hans dan mengecup singkat pipi Hans setelah itu langsung pergi menuju kelasnya. Hans tersenyum puas dan segera pergi dari kampus itu menuju perusahaannya.


Joe menepuk bahu Selena dari belakang membuat Selena langsung berjingkat kaget dibuatnya. Selena menatap kesal Joe yang tiba-tiba mengagetkannya. Joe hanya tertawa melihat wajah kesal adiknya.


“Hm, Joe ada disini. Apa aku minta bantuan Joe saja ya…” guman Selena.


“Selena? Ada apa?” tanya Joe menyadarkan Selena dari lamunannya.


“Joe, bisa aku minta bantuan?”


“Tentu saja, memangnya bantuan apa?”


“Bisa kau mencari wanita ini untukku?” tanya Selena memberikan sebuah foto kepada Joe.


Joe menatap heran foto yang diberikan Selena kepadanya. Untuk apa Selena meminta bantuannyamencari wanita didalam foto ini? Apa wanita ini pernah menyakiti adiknya?.


“Ini masalah kecil, aku akan minta bantuan Daniel nanti”


“Terima kasih”


“Sama-sama! Ayo! Kita pergi keruangan dosen!”


*


Leo menatap geram wanita didepannya dengan nafas yang tersengal-sengal. Wanita didepan Leo hanya bisa menundukkan kepalanya sembari menangis.


“Kenapa bi?! Kenapa Bibi melakukan hal keji itu!?”


“Terpaksa?! Terpaksa karena apa bi?! Kenapa Bibi menjual Dear kepada pria itu?! Bibi tau bagaimana konsekuensinya bukan?!”


“Bibi tau sayang…Bibi tau”


Pria itu mengepalkan tangannya mencoba untuk tidak meluapkan marahnya sekarang. Sekarang, ini bukanlah hal terpenting. Ia harus menemukan kekasihnya secepatnya setelah ini.


“Bibi, sekarang Bibi jawab dengan jujur. Apa yang pria itu katakan hingga Bibi berani menjual Dearku seperti ini!? Jawab bi!”


“Bibi terpaksa melakukannya! Jika tidak Bibi tak akan membiarkan siapapun membawanya pergi dari Bibi! Pria itu mengancam akan membunuh putri Bibi! Bibi takut sesuatu buruk terjadi kepadanya! Jadi Bibi harus merelakannya agar dia aman sayang! Tolong kau mengerti posisi Bibi! Bibi juga tidak mau seperti ini”


Leo mengacak rambutnya frustasi. Ia memukul dinding dengan geram membuat keretakan pada dinding itu, bajin*an itu. Berani sekali melakukan ini kepada kekasihnya. Ia tidak bisa menerimaini, Dear hanya miliknya seorang. Dan tak seorangpun boleh merebut Dear darinya.


“Cari Dear sekarang juga! Sejauh apapun Dear pergi, temukan dia!”


“Baik Tuan muda”


Pria itu terduduk lemas disofa, ia tak bisa membayangkan hal buruk apa yang sudah terjadi kepada kekasihnya selama berada disamping pria itu. Jika pria itu menyakiti Dearnya bagaimana? Jika pria itu membuat Dearnya menangis bagaimana? Jika pria itu melukai Dearnya bagaimana?.


“Bibi seharusnya menghubunggiku! Aku akan mengirim bodyguard!”


“Lalu Bibi harus bagaimana lagi Leo?! Dia bukan pria yang bisa sembarangan diusik! Jangankan bodyguard! Pria itu sanggup menghabisi seorang presiden tanpa ragu! Bibi hanya tak mau putri Bibi terluka!”


“Tapi dengan Bibi melakukan itu! Bibi sama saja melenyapkan Dear!! Dear kekasihku bi! Dia calon istriku! Sudah tugasku melindunginya!”


Jennifer hanya bisa menundukan kepalanya sembari menangis. Waktu itu ia benar-benar tidak bisa melakukan apapun selain menuruti permintaan pria itu.

__ADS_1


“Hari ini seharusnya aku menikah dengan Dear bi…kenapa Bibi menghancurkan itu semua”


“Leo…Bibi benar-benar minta maaf…”


“Sia-sia…semuanya sudah sia-sia bi…semuanya sia-sia…aku tak menyangka. Kepulanganku kemari hari ini…mendapatkan hadiah yang benar-benar mengejutnya. Calon istriku…menikah dengan pria lain”


*


Hans menatap berkas-berkas yang menumpuk dimejanya, matanya sesekali melirik Assistant dan Sekretarisnya yang sudah pingsan dengan wajah pucat mereka karena terlalu banyak bekerja.


Sahabat-sahabat Hans masuk kedalam ruangan dan duduk dimeja kerja Hans.


“Ada apa?”


“Kau tidak takut?”


“Takut apa?”


“Kau…tidak takut jika istrimu bertemu dengan Mama tirinya?”


Hans langsung terdiam, jarinya langsung berhenti membalik berkas yang berada ditangannya. Benar, ia melalaikan hal penting ini. Terlalu lama bersama dengan istrinya membuatnya lupa akan tugas-tugasnya.


“Kau tau di mana keberadaan wanita itu sekarang?”


“Dia ada dikota ini, kau masih ingin diam ditempatmu hingga istrimu bertemu dengannya?”


“Tutup mulutmu! Aku tak akan membiarkan wanita itu menemui istriku dan mengatakan semuanya, tak akan pernah”


“Hans…kuingatkan, cepat atau lambat. Kau harus mengakui semuanya kepada istrimu”


“Tidak! Selamanya aku tak akan membiarkan Selena mengetahui semuanya! Aku akan membunuh wanita itu agar dia tak mengatakan semuanya kepada Selena!”


“Kau gila Hans! Kau sudah gila! Kau harus tau resikonya jika melakukan hal itu!”


.


.


.


.


**********


.


.


.


.


Happy reading semuanya....


Semoga nggak bosan sama cerita Clara ya....


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2