
.
.
.
Selena membuka matanya dengan perlahan, matanya dengan lemah menatap kesekeliling. Malam hari? Ia tidur berapa lama?. Mata indah itu bergulir menatap Lonza yang tengah tertidur sembari menggenggam erat tangannya.
Selena bangun dari posisi tidurnya, ia melepas infus yang ada ditangannya dan dengan hati-hati turun dari tempat tidur.
“Sial…kenapa tubuhku lemas begini?”
Selena berpegangan kuat pada kabinet, kakinya gemetar menahan berat tubuhnya. Apa yang sudah dilakukan Micle sampai ia tak punya tenaga seperti ini?.
“Kau harus bisa Selena…kau harus bisa! Kau harus bisa!”
Mata Selena menatap kearah jendela yang terkunci, sial*n! Apa Pamannya sudah mengantisipasi hal ini sejak awal?! Apa mereka bekerja sama agar ia tidak bisa macam-macam saat masih berada disini?! Tapi sebelum ia membalas kematian Mamanya, ia tidak akan tinggal diam seperti ini.
“Terima kasih Hans…berkat perlakukan kasarmu kepadaku…apa yang kutakuti selama ini perlahan menghilang”
Selena menghembuskan nafasnya, ia mengambil pisau buah yang ada dan memasukannya kedalam saku celana baju rumah sakit yang ia kenakan.
“Yeni…kau membunuh Mamaku bukan? Maka aku akan membuatmu menderita karena anak kesayanganmu”
Selena dengan langkah pelan meraih gagang pintu, ia benar-benar berharap semoga diantara ke-7 Pamannya tidak ada yang terbangun, saat pintu terbuka Selena segera keluar namun ia langsung membeku mendapati para bodyguard serta Mafia sedang menatap kearahnya sembari tersenyum. Aduh…sial*n! Lupa jika Paman Lonza dan Lewisnya ada disini.
“Ingin kemana Nona besar ditangah malam seperti ini?” tanya tangan kanan Lewis tersenyum hangat kepada Selena.
“Mampus aku…”
“Jenderal muda…silahkan kembali kedalam kamar dan beristirahat…karena hari sudah larut” ucap Jenderal Asahi sembari tersenyum. Ternyata benar prediksi Jenderal besarnya bahwa Jenderal muda Nara mereka ini suka kabur tengah malam berbeda dengan Jenderal besarnya yang selalu kabur disaat pagi dan kondisi di mana fajar masih belum muncul.
“Biarkan aku pergi, aku tidak akan lama” ucap Selena.
“Maaf atas kelancangan kami tapi Jenderal besar memerintahkan agar kami tidak membiarkan anda kemana-mana. Lebih baik anda istirahat, saya akan memanggilkan Tuan muda untuk anda”
“Jangan membuatku mengulagi perkataanku untuk kedua kalinya Jenderal Asahi!”
“Maaf, tapi ini demi kebaikan anda Jenderal muda Nara”
“Jangan membuatku semakin muak Jenderal!!”
“Biarkan dia pergi” ucap Lewis.
Selena membalik badannya, ia menatap Lewis yang memasang tatapan dinginnya seperti biasa.
“Tapi Jenderal muda…”
“Biarkan Selena pergi, kau boleh pergi. Tidak akan ada yang mencegahmu, tapi jika kau pulang dengan 1 goresan luka atau bahkan sehelai rambutmu hilang…kau akan tau apa yang akan Paman lakukan”
__ADS_1
“Heh! Jika aku pulang dengan keadaan baik-baik saja. Aku akan membuat Paman meminum susu Ibu hamil!” ucap Selena.
Selena berjalan kedepan lift, menunggu lift terbuka. Saat lift terbuka Selena segera masuk membuat para bodyguard seketika berlomba menuruni anak tangga.
“Tapi Jenderal muda…sampai Jenderal besar tau ini…”
“Sifatnya sama seperti kak Ruvelis, semakin dilarang semakin menjadi-jadi. Jika kau semakin melarangnya, bisa-bisa aku mengurus pemakamanmu besok. Kau mau dikuburkan utuh beserta organ atau di kremasi?”
Glek!
“Dia anak Jenderal besar Nami okey? Meskipun dia terlihat lemah lembut begitu Hendrick pernah dibuat patah tulang. Jika kau tidak percaya, tanya Hendrick nanti”
.
.
.
Selena membuka pintu kediaman Georgino tanpa adanya penahanan dari bodyguard. Selena membuka pintu dengan keras mengejutkan orang-orang yang masih terjaga didalamnya.
“Oh? Kukira sudah tidur ternyata belum” ucap Selena.
“Mau apa kau kesini hah?!” bentak Yeni mengepalkan tangannya geram.
“Santai saja Nyonya…saya kemari bukan untuk membunuh anda”
“Selesai? Sudahkah saya menyetujui untuk selesai?”
“Jala*g! Apa yang mau kau lakukan hah?! Pergi darisini sekarang juga!” bentak Moses.
“Berikan alasan kenapa aku harus pergi dari sini” ucap Selena.
“Karena ini kediaman keluargaku! Aku berhak mengusir siapapun yang tidak diinginkan disini!” jawab Moses.
“Hm? Tapi aku belum mendapatkan apa yang aku inginkan, mana mungkin aku pergi?”
“Apa yang kau inginkan?!” bentak Yeni mengeraskan rahangnya.
“Berikan aku anakmu, salah satu anakmu harus menganti nyawa Mamaku yang sudah kau hilangkan” jawab Selena dengan tatapan dinginnya langsung membuat sekujur tubuh Yeni gemetar.
“Pergi!! Jangan pernah muncul dihadapan keluargaku lagi!!” bentak Kyler.
“Hahahahaha!! Jangan macam-macam denganku Kyler…seharusnya kalian sudah menyiapkan mental jika aku membunuh salah satu dari anggota keluarga kalian…karena aku adalah wanita yang jika belum balas dendam, tidak akan pernah diam”
“Pergi atau aku akan memanggil polisi kemari!!”
“Hmph, kau pikir aku takut dengan ancamanmu? Aku saja bisa bebas setelah membunuh begitu banyak bawahanmu apalagi hanya masalah kecil seperti ini…Yeni…jika kau ingin tenang, tidak seharusnya kau membangunkan singa yang tertidur. Tuan Rafindra! Tangkap Lie, dan bawa kepadaku”
“Baik Nona besar”
__ADS_1
Rafindra memukul para penjaga yang hendak menghentikan langkahnya menaiki anak tangga. Tak butuh waktu lama ia membawa keluar Lie dari dalam kamar membuat Yeni seketika memucat.
“Tidak!! Jangan lukai Lie!” ucap Yeni.
Selena menatap dingin Yeni yang mulai histeris, apa wanita itu pikir ia akan berhenti hanya karena wanita itu memintanya berhenti? Wanita itu sudah menghancurkan keluarganya, wanita itu sudah membunuh Mamanya. Ia tidak bisa menoleransi hal yang dilakukan wanita itu lagi.
“Lepaskan aku sial*n!! Beraninya kau menyentuhku!!!” geram Lie mencoba memberontak dari gengaman Rafindra walaupun dia tau mustahil bisa lepas dari seorang Rafindra.
“Kau yang memulai perang denganku Nyonya…jadi jangan harap perang ini bisa selesai dengan perintahmu karena perang ini akan berakhir…jika aku yang mengakhirinya”
“Tidak!!! Jangan bunuh Lie!! Kau juga akan menjadi seorang Ibu bukan?! Jadi jangan membunuh putraku! Aku akan memberikan apapun kepadamu asalkan jangan libatkan putra-putraku!!”
Selena mengepalkan tangannya, ia benci seseorang yang menyinggung hal ini. Walaupun ia akan menjadi seorang Ibu kenapa?! Apa ia tidak boleh membalaskan dendam Mamanya?!.
“Jika kau memang tidak ingin anakmu mati, maka jangan pernah menyentuh keluargaku!!! Kau sudah melenyapkan nyawa Mamaku!! Aku ingin salah satu anakmu mati menggantikan nyawa yang sudah kau lenyapkan!!! Kau melenyapkan anakku dan juga Mamaku!! Jika kau memang punya masalah kepadaku maka lampiaskan kepadaku!! Jangan melibatkan keluargaku!!! Awalnya aku ingin membunuhmu, tapi karena kau menyeret Mamaku dalam dendammu kepadaku maka aku juga akan menyeret anakmu dalam dendamku” geram Selena.
“Dasar wanita tidak punya hati!!” geram Kyler.
“Ya!!! Aku memang tidak punya hati!! Karena kalian sudah melenyapkan apa yang menjadi buah kesabaranku selama ini!! Aku memang tidak punya hati karena hatiku telah mati disaat kalian menghancurkan apa yang kumiliki!! Tuan Rafindra!! Lakukan tugasmu dan jangan membuatku menunggu!”
“Tidak!!! Rafindra!! Kumohon jangan sakiti putraku!!”
“Maaf Nyonya, anda bukan lagi Tuan saya. Saya hanya perlu mendengarkan perintah Tuan saya saja” jawab Rafindra mengeluarkan pistol dari sakunya dan menodongkan tepat di kepala Lie.
“Tidak!!! Aku akan memberikan apapun yang kau minta asal lepaskan putraku!!”
“Aku juga akan memberikan semua yang kau minta asal kembalikan Mamaku!! Jika kau tidak bisa mengembalikan Mamaku, anakmu akan lenyap hari ini juga!”
“Ma!! Aku tidak mau mati!! Rafindra! Lepaskan aku!” ucap Lie.
“Jangan lukai Lie! Jika kau melukainya kak Hans akan benar-benar murka kepadamu!” Stefen berbicara dengan nada tinggi kepada Selena.
“Beranikah Hans murka kepadaku? Aku dan Hans punya urusan sendiri. dan seharusnya kalian yang harus menyiapkan mental jika Hans murka mengenai kematian anaknya” jawab Selena tersenyum sinis.
Wajah Yeni semakin memucat mendengar ucapan Selena. Sial*n!! Ia benar-benar melupakan hal itu!.
“Tuan Rafindra, bawa Lie. Aku akan membereskannya nanti, sekarang aku ingin mencari Tuan Chu”
“Baik Nona!”
Rafindra menyuntikan obat bius kepada Lie dan membawa pria itu pergi. Yeni menangis histeris melihat putranya yang dibawa pergi oleh Rafindra.
“Ma…Mama tenang saja Okey? Aku akan menelfon kak Hans dan memintanya membawa Lie kembali”
.
.
.
__ADS_1