Our Last Love

Our Last Love
Chapter 55 : Bertemu Mama tiri


__ADS_3

.


.


.


Selena membuka matanya dengan perlahan, ia meraba wajah rupawan Leo. Namun ia terkejut ketika selimut sedikit menurun. Kenapa Leo tidak pakai baju lagi?!!!!!.


“Ada apa sayang? Kenapa kau bangun pagi sekali?” Leo mengusap matanya setelah itu mencium telapak tangan Selena.


“Dear…kenapa tidak pakai baju lagi?”


Leo duduk dan meletakkan tangannya didahi Selena. Sudah tidak panas, untunglah.


“Demammu akhirnya turun” ucap Leo sembari mengecup pelipis mata seena.


Selena menatap AC yang mati. Ah ia baru ingat, ia demam kemarin malam. Jadi semalam demi tidak membuatnya kedinginan Leo sampai lepas baju seperti ini?!.


“Dear…maafkan aku, kau pasti kepanasan kemarin malam”


“Tidak kok” jawab Leo.


“Dear…” cicit Selena.


“Ya? Kau sudah lapar? Mau makan apa?”


“Bukan…”


“Lalu?”


“Aku rindu Mama…aku mau bertemu Mama…”


Leo terdiam seketika mendengar permintaan Selena. Seumur hidupnya salah satu hal yang paling tidak ia inginkan adalah, menolak permintaan Selena.


“Iya…nanti kita ketemu Mama ya? Oh ya, rindu tidak dengan Joe…temanmu”


“Joe?! Kita akan bertemu Joe?!” tanya Selena senang.


“Bersiaplah, kita akan terbang ke A.S”


Selena menganggukkan kepalanya dan langsung masuk kedalam kamar mandi.


.


.


.


Mobil berhenti, Selena membuka pintu dan langsung berlari masuk kedalam mansion keluarga Jasson yang terbuka. Ia langsung memeluk Joe yang tengah membaca buku.


“Selena?! Akhirnya pulang juga…aku sangat merindukanmu” Joe tersenyum senang dan langsung menarik tangan Selena menuju kamarya. Sudah 4 hari lamanya ia tidak bertemu dengan Selena. Ia benar-benar merindukan adik cantiknya ini.


Leo hanya bisa tersenyum melihat itu, Daniel yang masih syock hanya bisa diam mematung. Ia tidak salah lihat kan?! Selena sudah kembali?!. Mata Daniel perlahan tertuju kepada Leo yang berdiri diambang pintu, siapa pria itu? Apa pria itu adalah tamu special yang dikatakan Assistantnya kemarin?.


“Hallo, perkenalkan. Aku Leonardo”


“O-oh, a-aku Daniel…duduklah, Bi! Siapkan minuman!”


Leo duduk disebelah Daniel. Daniel menatap heran Leo hanya hanya tersenyum, pria imut ini. Apa dia pria yang dibahas Joe beberapa hari yang lalu.


“Sebelumnya…boleh aku tau, apa maksud kedatanganmu kemari?”

__ADS_1


“Dear bilang dia merindukan adikmu. Jadi aku langsung membawanya kemari, aku juga ingin berterima kasih kepadamu”


“Berterima kasih? Untuk apa?” tanya Daniel heran.


“Aku berterima kasih karena jika kau tidak memberikan darahmu kepada Dear waktu itu, maka aku tak bisa mengatakan hal yang akan terjadi kepada Dear”


“Kau…bagaimana kau bisa tau hal itu?”


“Aku tunangan adik keduamu”


Dheg!


“Haih…sudah kuduga” ucap Daniel menghembuskan nafasnya. Sudah Hans! Sekarang Leo pula yang akan menjadi saingannya! Kenapa saingannya berat-berat seperti ini sih?! Yang satu suami, yang satu tunangan!. Sial! Sial!


“Tapi…jika kau tunangan Selena, bagaimana bisa Selena menikah dengan Hans?” akhirnya pertanyaan ini keluarga juga dari mulutnya.


“Beberapa tahun yang lalu, aku melamar Dear. Namun karena masalah pendidikan aku harus pergi meninggalkan Dear”


Daniel menganggukkan kepalanya paham apa yang dimaksudkan Leo. Jadi jika waktu itu Selena tidak dinikahi oleh Hans diatas kontrak maka Selena dan Leo seharusnya sudah menikah sekarang.


“Namamu Leo kan, sekarang Selena menjadi milik Hans. Apa yang bisa kau lakukan?” tanya Daniel.


“Itu bukan masalah besar, kontrak akan tetap berjalan. Hans boleh malampauiku, tapi tidak jika dia menyakiti Dear selama masih ada aku”


“Tipikal pria overprotective, logis, penuh perhatian, gaya bicara yang halus nan lembut, dan manis. Kenapa bertolak belakang sekali ya dengan Hans?” batin Daniel heran.


“Apa kau…sudah tau semuanya?”


“Semuanya?”


“Perihal Selena”


“Ya, aku sudah tau”


“Biarlah itu menjadi masalah Selena, biar dia yang memainkan bidak caturnya”


Daniel menganggukkan kepalanya, paham apa yang dimaksudkan pria didepannya ini. Jadi ini tipikal pria yang disukai Selena, hehehe…ia masih punya kesempatan jika begini.


Joe menarik Selena keluar dari kamarnya, dengan nafas yang tersengal-snegal ia duduk disamping Daniel.


“Kak…boleh…aku…membawa…Selena…keluar?” tanya Joe seraya mengatur nafasnya.


“Maaf…tapi Selena baru sembuh dari demam. Aku takut dia akan terkena demam lagi nanti” tolak Leo dengan halus.


Leo menghampiri Selena. Ia melepaskan jaznya dan memakaikannya dibahu sempit kekasihnya.


“Ayo pergi, katanya ingin bertemu Mama…”


“Dear…tapi masih mau dengan Joe…”


“Iya…nanti kesini lagi, sekarang Dear ikut dulu. Kalau urusan dengan Mama selesai Dear boleh disini”


“Menginap juga boleh?!” tanya Selena.


“Boleh”


“Kak…kau kalah jauh dengan pria ini” bisik Joe.


“Kau lebih baik diam Joe…”


“Maaf, kami harus pergi”

__ADS_1


“Boleh kami ikut?” tanya Joe.


“Baiklah…” jawab Leo.


*


Selena, Leo, Joe, dan Daniel keluar dari mobil dan masuk kedalam café yang sudah dibooking sebelumnya. Saat hendak memilih tempat duduk Selena langsung dipeluk dengan erat oleh seseorang


“Mama?” ucap Selena dengan tubuh yang gemetar hebat.


“Ini Mama sayang…tuhan…terima kasih sudah menjawab do’aku. Bagaimana keadaanmu? Kau baik-baik saja?” wanita cantik itu menciumi seluruh permukaan wajah Selena. Selena memeluk Mamanya dengan erat, ia benar-benar merindukan Mama sambungnya ini.


Sedangkan Joe dan Daniel hanya bisa diam, wanita cantik itu adalah ibu tiri Selena yang sudah menjual Selena kepada Hans?. Mereka benar kan?.


“Hiks…Mama kemana saja? Aku rindu Mama…”


“Mama selalu berada disisimu sayang…Mama tak pernah pergi jauh darimu. Tuhan…kau semakin cantik sekarang”


“Kita duduk dulu, tak enak jika bicara sambil berdiri seperti ini” ucap Leo.


Jennifer, wanita itu membawa putrinya duduk disofa yang nyaman, ia terus menciumi wajah putrinya yang kini sudah semakin dewasa dan cantik.


“Aku sangat merindukan Mama…”


“Mama juga sangat merindukanmu…”


Joe menatap intens Jennifer. Jennifer yang melihat tatapan Joe kepadanya merasa bingung, kenapa gadis itu menatapnya dengan heran seperti itu?.


“Ah, aku baru ingat jika kalian tidak memiliki hubungan darah. Pantas kalian tidak mirip”


“Hahahaha, Joe…apa yang kau katakan? Mama adalah kembaran Mama kandungku, mereka anak kembar”


“APA?!!!!”


Joe total blank seketika. Jadi maksud Selena adalah Mama tirinya adalah Bibi kandungnya?! WTF?!!!.


“Ma…kenapa Mama membuangku…apa salahku kepada Mama?” Selena akhirnya mengungkapkan apa yang tertahan dimulutnya selama ini. Pertanyaan yang selalu menyelimuti hati-harinya.


“Kenapa kau bicara seperti itu sayang? Selamanya kau adalah putri Mama, putri kesayangan Mama…Mama tak pernah membuangmu. Mama sangat mencintaimu” Jennifer berkata dengan lirih sembari mengusap air mata yang mengalir membasahi pipi putri tercintanya.


“Lalu kenapa Mama menjualku kepada Hans ma..?”


“Mama tak pernah menjualmu sayang. Mama hanya tak punya pilihan lain selain memberikanmu kepada Hans…”


“A-apa? Apa maksud Mama?”


“Sayang…sebenarnya…”


Brakkkkkk!!!!


Pintu café dibuka dengan keras, Hans dengan langkah kaki cepat langsung menarik lengan Selena masuk kedalam pelukannya. Hans menatap geram kearah Jennifer. Jennifer yang melihat itu hanya bisa memasang tatapan dinginnya.


“Sepertinya anda lupa dengan kesepakatan kita Nyonya…”


Hans menarik tangan Selena keluar dari café itu. Selena mencoba melepaskan tangannya dari cengkraman Hans, namun kali ini Hans sepertinya benar-benar marah kepadanya.


“Kak, bagaimana ini? Jika Selena terluka bagaimana?” Joe berkata dengan panik.


“Ada yang lebih penting dari itu untuk sekarang, Dear mungkin tak punya keberanian untuk melawan. Tapi jika Dear berada dibatas kesabarannya. Tak ada yang bisa mengelak” ucap Leo.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2