Our Last Love

Our Last Love
Chapter 71 : Trauma


__ADS_3

.


.


.


Selena menutupi kedua telingganya sembari menggelengkan kepalanya dengan kuat, Selena menangis dengan keras. Leo mengepalkan tangannya melihat itu, apa yang sudah terjadi kepada kekasihnya?! Siapa yang membuat kekasihnya menjadi seperti ini?!.


“Sayang…ini Mama…”


“Tidak!!! Pergi kalian semua!!!”


Leo menatap darah yang mengalir keluar dari tangan Selena dan serpihan guci di mana-mana. Kekasihnya terluka?!. Leo segera menghampiri Selena dan memeluk erat gadisnya. Selena tentu memberontak, ia memukuli dada Leo agar pria itu melepaskan dirinya.


“Wahhh!!! Aku mau Papa!!! Lepaskan aku!!! Aku mau Papa!!!” teriak Selena langsung menghantam jiwa orang yang mendengarnya.


“Huwaaa!!! Hiks hiks…Papa!! Mama!!!”


Leo menggigit bibir bawahnya mendengar teriakan histeris kekasihnya. Apa yang membuat kekasihnya seperti ini? Apa kekasihnya kembali bermimpi buruk tentang kematian kedua orang tuanya? Jika benar, maka tak perlu lagi alasan lain mengapa Dearnya menjadi seperti ini.


Leo mengeluarkan ponselnya, ia menekan kepala Selena dengan kuat didadanya dan mengetik nomor Lonza. Untuk sekarang, hanya Lonza yang bisa membantunya menenangkan Selena.


“Leo, ada apa? Tumben telfon?” ~ Lonza.


“Hiks hiks…Papa!!! Wah!!! Aku mau Papa!!!”


“Selena?! Kau bersamanya Leo?!” ~ Lonza.


“Lonza…bantu aku…aku harus menenangkan Dear…”


“Dekatkan ponselmu kepadanya” ~ Lonza.


Leo meletakkan ponselnya ditelinga Selena.


“Sayang…Naranya Papa…kenapa menangis hm? Rindu Papa ya?” ~ Lonza.


“Hiks hiks…Papa?”


“Ada apa sayang…kenapa menangis?” ~ Lonza.


“Hiks…Selena rindu Papa Mama…”


Lonza yang berada di sebrang sana menggigit bibir bawahnya mencoba untuk tidak menangis. Begitupun dengan Leo dan Emerland, mereka mati-matian menahan diri untuk tidak menangis.


“Nara rindu Papa? Papa juga merindukanmu sayang…Nara baik-baik saja?” ~ Lonza.

__ADS_1


*Ruvelis tak pernah memanggil Selena dengan nama, Ruvelis selalu memanggil Selena dengan Nara ‘Nara = Bahagia’. Naranya Papa = Kebahagiannya Papa.


“Aku baik-baik saja…Papa kapan pulang? Selena rindu Papa…”


Leo yang tak bisa menahannya lagi langsung meneteskan air matanya. Lonza menutup mulutnya mencoba untuk tidak mengeluarkan isakan mendengar ucapan Selena.


“Papa akan pulang nanti…Nara sehat-sehat ya sayang…Naranya Papa harus baik-baik saja, Nara tidak boleh menangis…” ~ Lonza.


“Hem!”


“Papa tutup ya telfonnya sayang…sampai jumpa…Naranya Papa…” ~ Lonza.


“Papa! Papa nanti akan menjemputku kan? Papa akan mengajakku bertemu Mama kan?”


Lonza tak sanggup berkata-kata lagi mendengar pertanyaan keponakannya.


“Iya…nanti Papa jemput Nara…tapi Nara harus janji, Nara harus baik-baik saja. Nara tidak boleh menyusahkan Leo…” ~ Lonza.


“Iya pa…”


Tut…


Selena dengan perlahan terlelap di pelukan Leo, tangis Leo pecah seketika. Ia memeluk erat tubuh Selena, dalam keadaan ini. Selena tak akan ingat jika kedua orang tuanya sudah tidak ada. Suara Lonza sangat mirip dengan Ruvelis, sampai saat ini…yang bisa menenangkan Selena saat menangis histeris karena mimpi buruk hanya suara Lonza.


Leo menggendong tubuh Selena dan membaringkannya di tempat tidur. Leo mencari kotak obat, saat menemukannya ia langsung membersihkan luka Selena berserta darah yang masih belum berhenti mengalir. Setelah luka itu bersih, Leo dengan lembut membalut luka Selena dengan perban.


“Istirahatlah…Selena, biar aku yang jaga” ucap Emerland.


“Baik…terima kasih Nyonya…”


Leo keluar dari kamar mewah itu, Emerland duduk di tepi tempat tidur sembari membelai lembut pipi Selena. Air matanya menetes jatuh mengenai pipi Selena. Sesak...dadanya benar-benar sesak.


“Nyonya! Bawahan Nyonya Georgino terlihat mendekati mansion kita!” info salah satu bodyguard yang tiba-tiba masuk kedalam kamar membuat Emerland langsung menghapus air matanya.


“Apa?! Ketatkan penjagaan! Jangan sampai mereka berhasil mendekati mansion ini! Jika perlu! Bunuh mereka!”


“Baik!”


“Tak seorangpun…aku tak akan membiarkan seorangpun menyakiti putriku…beristirahatlah dengan tenang, Bunda akan melindungimu” bisik Emerland tepat ditelinga Selena.


Emerland mengambil pistol dari laci dan meletakannya dibawah bantal. Yeni tak mungkin sebodoh itu dengan membiarkan bodyguard suaminya mengetahui jejak bodyguard miliknya. Ada 2 kemungkinan untuk sekarang, Yeni akan menyerang dari arah utara. Atau dari belakang mansion ini. Pesta sudah berakhir, ia bisa bergerak dengan bebas.


Emerland mengeluarkan dompetnya, meletakkan sebuah foto ditangan Selena. Ia harus turun tangan, disini masih ada Leo dan Daniel. Ia yakin kedua pria itu bisa melindungi Selena selagi ia tidak ada.


“Hubungi Joe! Minta dia kembali sekarang juga!”

__ADS_1


“Baik Nyonya!”


“Yeni…jika kau berani menyentuh putri Ruvelis. Aku akan melenyapkan anakmu satu persatu”


.


.


.


Jennifer kini sedang terduduk tak berdaya didepan beberapa pria yang menatapnya dengan tajam. Jennifer tak berani mengangkat kepalanya, sial…bisa-bisanya ia tertangkap dengan cara konyol seperti ini. Ia ingin keluar secepatnya dari tempat ini sebelum mendapatkan kesialan yang berturut-turut.


“Bi-bisakah aku pergi sekarang?” tanya Jennifer.


“Masih berani bicara kau! Kau dasar sial*n! Kenapa kau menjual keponakan tunggalku kepada Hans hah?!” Deon mengebrak meja membuat Jennifer bergidik ngeri seketika. Entah kenapa, mentalnya benar-benar down saat sedang melawan para Alexandra bersaudara ini.


“I-ini…”


“Ini apa?! Aku sudah bilang! Aku hanya akan menitipkan Selena kepadamu selama 2 tahun! Setelah itu aku akan melatihnya dikemiliteran! Tapi apa yang kau lakukan?! Beraninya kau…”


“Je-jeff…a-aku…”


“Aku apa?! Sekarang bagaimana hah?! Jika sampai keponakanku kenapa-napa…aku akan memeganggal kepalamu”


Jennifer semakin menunduk tak berani berkata-kata lagi, jika sampai ke-3 monster ini tau apa saja yang sudah terjadi kepada putrinya. Maka kepalanya akan digantung diatas perapian oleh Thomas ( Adik ke 4 Ruvelis ).


Ponsel Jennifer berdering, Jennifer melirik siapa yang menelfonnya di situasi antara hidup dan mati seperti ini. Joe? Kenapa wanita kejam itu menelfonnya?. Tanpa basa-basi Jennifer langsung mengangkat telfon dari Joe.


“Kau di mana hah?! Bantu aku membereskan anak buah Yeni! Mereka sedang menuju mansion! Disana ada Selena” ~ Joe berkata dengan panik disebrang sana.


“Apa?! Wanita sial*n itu! Kenapa dia masih punya nyali sebesar itu!?”


“Aku tidak tau sialn! Cepat pergi!”* ~ Joe.


Tut…


“Selena sedang dalam bahaya! Anak buah Yeni mengincarnya! Selena ada di mansion utama keluarga Jasson!”


“Apa!?” ke-3 bersaudara itu berjingkat kaget mendengar ucapan Jennifer. Sial*n! jika sampai sesuatu terjadi kepada keponakan mereka, mereka benar-benar akan menyatakan perang kepada keluarga Georgino.


Mereka mengambil kunci dan bergegas keluar dari ruangan itu. Mereka harus membunuh bajin*an-bajin*an itu! Mereka tak akan membiarkan keponakan tersayang mereka terluka sedikitpun!. Mereka akan membuat bajin*an-bajin*an itu membayar mahal karena telah berani mendekati keponakan mereka.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2