
.
.
.
Daniel menatap Selena yang langsung tertidur setelah berbicara dengan Hans. Ia menyentuh lengan ramping Selena, begitu dingin…Daniel melepaskan jaznya dan memakaikannya ditubuh Selena dengan hati-hati.
“Aku mencintaimu…tapi aku tak punya keberanian mengungkapkannya” batin Daniel melajukan mobilnya dengan perlahan, ia menatap Joe yang juga sudah tertidur. Kedua gadis ini…benar-benar kelelahan.
“Kalian sudah bekerja keras untuk hari ini, setelah kalian berhasil lolos…akan kuberi hadiah sebagi imbalannya” ucap Daniel sembari tersenyum.
Daniel menghentikan mobilnya disebuah hotel, jarak hotel ini cukup dekat dengan kampus. Lebih baik mereka bermalam disini, jaga-jaga jika Joe dan Selena terlambat bangun.
Daniel mengambil ponselnya dan menghubungi Assistantnya.
“Ya Tuan muda?”
“Josseph, ke hotel V’xx sekarang”
“Baik, saya akan segera kesana”
Tut…
Tak berselang lama sebuah mobil melaju menghampiri mobil Daniel. Josseph keluar dari mobilnya dan membungkuk hormat kepada Daniel, Daniel keluar dari mobilnya dan mengendong Selena.
“Bawa Joe masuk”
Josseph menganggukkan kepalanya, dengan hati-hati ia menggendong Nona mudanya masuh kedalam hotel bersama Daniel. Kedatangan Daniel langsung disambut dengan ramah oleh para karyawan hotel.
“Presidential suite”
“Baik”
Daniel masuk kedalam lift dan menuju kamarnya tempat biasa ia menginap jika pulang terlalu malam. Saat sudah sampai di kamar Presidential suite Daniel membaringkan tubuh Selena diatas tempat tidur dan menyelimuti tubuh Selena.
Josseph pun meletakkan Joe diatas tempat tidur namun hal itu langsung ditolak mentah-mentah oleh Daniel.
“Kau bawa Joe ke Presidential suite sebelah, kau seperti tidak tau saja gaya tidur Joe bagaimana. Bisa-bisa Selena ditendang jatuh nanti”
Daniel dengan cepat mencekal tangan Joe yang hendak memukul pipi Selena, baru juga ia bilang. Tidur adiknya ini benar-benar bahaya. Josseph dengan hati-hati kembali menggendong Joe keluar dari kamar menuju kamar lain.
“Hah…” Daniel menghembuskan nafasnya sembari melonggarkan dasinya, ia membaringkan tubuhnya di sofa. Ia menatap langit-langit kamar mewah itu, ini pertama kalinya ia mengajak wanita selain Joe masuk ke kamar Presidential suite yang dikhususkan untuknya.
“Matikan lampunya, dan tutup pintunya” ucap Daniel kepada salah satu pegawai yang masih berada di depan pintu.
“Baik Tuan muda”
.
.
.
Esoknya>
Daniel membuka matanya dengan perlahan, ia menatap Selena yang masih tertidur dengan lelapnya. Josseph membuka pintu dengan perlahan lalu membungkuk hormat. Ia meletakkan barang-barang Joe dan Selena didekat pintu.
“Selamat pagi Tuan muda”
“Pagi Josseph, mana ponselnya?”
Josseph memberikan sebuah ponsel kepada Daniel, Daniel berdiri dan mengambil ponsel Selena. Ia memindahkan semua data di ponsel Selena yang baru ia beli.
__ADS_1
“Kau sudah memberikan ponsel yang sama kepada Joe?”
“Sudah Tuan muda”
“Sebentar lagi waktu makan Selena, belikan dessert, kebab, dan ramen, dan Selena suka dessert strawberry”
“Baik, untuk Nona muda Joe?”
“Belikan dia cappucinno dan cheese cake. Untuk makanan beratnya seperti biasa”
“Anda?”
“Makanan seperti biasa, makanan hotel tidak cocok untuk lidahku”
“Baik”
Beberapa saat setelah kepergian Josseph, Selena membuka matanya dengan perlahan. Daniel tersenyum melihat itu, Selena bangun dengan terkejut. Ia ada di mana?! Ini bukan apartementnya!.
“Ini Hotel, mandilah…Josseph sedang membelikan makanan”
“Kenapa kita disini?”
“Jarak hotel lebih dekat ke kampus daripada apartementmu. Sekarang, mandilah”
“Okey!”
Selena masuk kedalam kamar mandi, Daniel menghampiri tas Selena. Ia membuka tas itu dan memastikan Selena tidak melupakan hal-hal yang penting, seperti vitamin.
“Kan…lupa pasti”
Daniel mengambil ponselnya dan menghubungi Alex.
“Alex, kehotel V’xx sekarang. Bawa minuman yang kau berikan kemarin dan beberapa kotak vitamin”
“Mau kupotong gajimu?”
“Hotel mana? V’xx? Aku kesana sekarang”
Tut…
Selesai dengan barang bawaan Selena, Daniel berganti ke tas adiknya. Begitu rapi, pasti Selena yang menyiapkan ini untuk Joe. Joe mana bisa merapikan baju seperti ini.
“Hmmmm…dia kurang membawa sesuatu, dia lupa membawa otaknya”
Daniel menutup tas Joe dan merapikan tempat tidur. Ia paling benci dengan hal yang tidak sesuai dengan apa yang ia inginkan.
Daniel keluar dari kamar itu dan beralih kekamar yang ditempati Joe. Ia kembali menghembuskan nafasnya melihat adiknya yang masih tertidur dengan nyenyak.
“Bangun, kau mau terlambat? Selena sudah mandi tuh”
Joe langsung membuka matanya dengan spontan, ia langsung berlari masuk kedalam kamar mandi dan membersihkan tubuhnya.
Daniel menggelengkan kepalanya, ia kembali kekamar Selena.
“Selena, kau sudah selesai mandi?”
“Sebentar lagi Daniel…ada apa??”
“Aku akan membawakanmu baju terlebih dulu. Sementara pakai kemejaku dulu ya”
“Ohhh Okey…”
Daniel keluar dari kamar itu dan turun ke loby, meminta resepsionist membelikan Selena dan Joe beberapa baju untuk dipakai.
__ADS_1
30 menit kemudian
Resepsionist dan Josseph datang bersamaan membawa pesanan Daniel. Daniel mengambil pakaian dan makanan lalu membawanya masuk kedalam lift menuju kekamarnya.
Daniel membuka pintu menggunakan sikunya, pipinya seketika merona melihat Selena yang duduk manis sembari memakai kemejanya yang tentu saja kebesaran untuk tubuh kecil itu.
“Emmm, ini makannmu dan ini pakaianmu. Cepatlah ganti baju dan makan” ucap Daniel langsung pergi setelah meletakkan pakaian dan makanan diatas tempat tidur.
Selena tersenyum, ia mengambil pakaiannya dan masuk keruang ganti. Setelah rapi ia duduk diatas tempat tidur, menunggu Daniel dan Joe untuk makan bersama.
Tak berselang lama Daniel dan Joe pun masuk kedalam kamar dan segera menyantap makanan mereka. Setelah selesai Daniel membereskan bekas makanan dan duduk menunggu kedatangan Alex.
“Daniel…boleh aku makan ini?” tanya Selena sembari menatap lapar dessert yang ada.
“Makanlah jika kau mau”
Selena langsung mengambil dessert itu dan memakannya, ahhhh enak sekali…ia sudah lama tidak makan dessert strawberry selezat ini. Di mana Daniel membelinya? Ia ingin beli lagi.
“Jika kau suka, aku akan mempekerjaan kokinya untukmu” ucap Daniel sembari tersenyum.
“Ah?! Ti-tidak perlu!”
“Kau seperti sangat menyukai itu, jika kau tidak mau kokinya. Aku akan meminta resep dessertnya untukmu”
“Dih, dengan Selena saja kau begitu!” kesal Joe memakn cheese cakenya.
“Apa? Kau mau juga?”
“Tidak”
“Ya sudah”
Alex pun datang dengan nafas yang tersengal-sengal. Selena mengerutkan keningnya, kenapa Alex tiba-tiba kemari?. Alex memberikan sekotak minuman dan beberapa botol vitamint kepada Daniel. Selena tersentak kaget, benar…ia lupa membawa vitamintnya.
“Lain kali jangan sampai lupa bawa vitamintnya” ucap Alex.
“Ahhhh maaf merepotkanmu Alex, aku benar-benar lupa”
Daniel hanya tertawa pelan melihat Alex yang sedang menasihati Selena. Ia berdiri dan memasukkan satu botol obat kedalam tas Selena dan juga beberapa minuman.
“Sudah ayo berangkat, kalian akan terlambat nanti”
Selena berdiri dengan semangat mengikuti Daniel sedangkan tasnya dan tas Joe dibawa oleh Josseph. Apa pria itu tidak keberatan membawa tasnya dan tas Joe sekaligus?.
“Alex, kau punya obat yang bisa membuatku demam tinggi tidak?” tanya Joe.
“Dih!? Kau ini aneh sekali memang, tidak ada!” tolak Alex.
“Hah…kau itu dokter atau apa?! Sudah sana pergi! Aku kesal melihatmu!”
“Tunggu…jangan bilang kau ingin sakit agar tidak mengikuti acara kampusmu ya?”
“Itu kau tau”
“Ikut saja, lagipula ada Selena. Gadis itu lebih lemah darimu, seharusnya itu bukan masalah untukmu”
“Cih, gadis lemah apanya? Kau membuatnya marah tulangmu retak semua dibuatnya” jawab Joe keluar dari kamar menyusul Joe dan Selena yang sudah masuk kedalam lift.
.
.
.
__ADS_1