
.
.
.
“A-anak ki-kita?”
“Ya…Mamamu melenyapkan anak kita…ya!!! Dia melenyapkan nyawa anak kita!!! Dia melenyapkan anak pertamaku!! Jadi kenapa dia membunuh Mamaku untuk balas dendam atas kematian putrinya?!!!! Tidakkah dia belum puas sudah melenyapkan anakku sekarang dia melenyapkan Mamaku?!!!” teriak Selena menampar pipi Hans dengan keras.
Dada Selena naik turun, wajahnya merah padam karena geram. Hans hanya mampu terdiam, Selena…pernah mengandung anaknya? Kenapa ia tidak tau hal ini sama sekali? Bagaimana bisa hal sebesar ini tidak ia ketahui?.
“Cukup Selena!!! Pergi dari sini sekarang juga!!” ucap Jansen.
“Kenapa harus aku yang pergi?!! Kenapa bukan kau saja?! Kau bukan aku Jansen!!! Jadi tutup mulutmu dan berhentilah menjadi yang paling benar dan paling suci disini!!! Karena kau…sama menjijikannya seperti Yeni!!! Jadi berhenti menjadi seperti orang yang paling suci disini!!” geram Selena.
“Kenapa kau diam Hans?”
“Itu hanya segumpal darah!! Dia belum menjadi apapun!!! Mamamu sudah membunuh anakku yang berusia 18 tahun!!! Bagaimana bisa janin berumur 1 bulan bisa dibandingkan dengan gadis yang sudah berusia 18 tahun?!!!” bentak Yeni.
“Seorang anak tetaplah seorang anak!!! Itu adalah anak pertamaku!! Dan kau membunuhnya!!! Aku tidak bisa menerima itu!! Kau sudah membunuh anakku dan juga sudah membunuh Mamaku!! Sekarang kubalikan kata-katamu!! Bagaimana bisa kau membunuh seorang wanita berumur 41 tahun hanya karena dia membunuh seorang gadis berusia 18 tahun?!! Bagaimana bisa wanita yang sudah berumur 41 tahun kau bandingkan dengan anak gadis berusia 18 tahun hah?!!! Jawab!!!” teriak Selena.
Hans memeluk Selena dari belakang, menyembunyikan wajahnya dibahu sempit wanitanya.
“Maafkan aku…aku tak bisa menjagamu dan anak kita dengan baik…maafkan aku…” Lirih Hans. Sekarang hanya kata maaf yang bisa ia ucapkan.
Selena mendorong tubuh Hans dengan spontan, dengan dada yang naik turun ia menatap geram Yeni dan Hans bergantian.
“Kalian berdua…benar-benar memuakkan…dan kau…benar-benar wanita yang menjijikan!” geram Selena langsung membuat sekujur tubuh Yeni gemetar karena geram.
“Satu hal! Satu hal yang paling kusesali dalam hidupku ini!! Yaitu pernah jatuh cinta dengan seorang pria yang tidak pernah punya hati sepertimu! Jatuh cinta kepada seorang anak dari seorang wanita yang menghancurkan hidupku!! Kenapa harus anakku bukan kau saja yang mati hah?!! Kenapa harus anakku dan bukan kau saja yang mati?!! Kau benar-benar pria yang tidak punya hati!!”
Hans langsung terduduk lemas dilantai perusahaannya. Sakit...dadanya benar-benar sakit mendnegar perkataan Selena.
Butiran air mata keluar dari kelopak mata indah Selena. Namun Selena dengan cepat mengusap air matanya.
“Kenapa?! Kenapa kau membeliku?! Kenapa kau mengambilku dari Mama?! Apa alasanmu melakukan kontrak perjanjian dengannya?! Jawab aku Hans! Kenapa kau diam saja?! Kenapa? Kenapa kau harus menghancurkan hidupku?! Keluargamu merenggut anak dan juga Mamaku!! Bagaimana bisa kau mempertanggung jawabkan hal itu Hans?! Bagaimana caranya kau membayar itu semua?! Siksa aku! Tampar aku sepuasmu asalkan kembalikan Mamaku!! Dia satu-satunya wanita yang mencintaiku saat ini…kenapa kau harus merenggutnya…?”
Selena terduduk dihadapan Hans sembari menangis, sakit dan sesak bercampur menjadi satu didalam dadanya.
“Maaf…aku benar-benar minta maaf…” ucap Hans meneteskan air matanya.
“Kenapa kau harus merenggut semuanya dariku…kenapa…? Apa salahku kepadamu…kenapa kau harus merenggut semuanya dariku untuk menghancurkanku…jika kau membenciku…siksa aku sepuasmu…asalkan jangan lukai orang-orang disekitarku…aku mohon padamu…kembalikan Mamaku…dia tidak bersalah…aku membutuhkan Mamaku…kumohon…kembalikan dia kepadaku…aku merindukan pelukannya…kedua orang tuaku sudah tiada…kenapa kau harus merenggut Mamaku juga…? Kenapa kau harus merenggutnya…”
Selena menangis dihadapan Hans. Gerry, Peter, dan juga William tak kuasa menahan air mata mereka mendengar perkataan Selena. Benar…mereka sudah keterlaluan…
“Terbuat dari apa hatimu Hans…tidak kah kau punya rasa kasihan sedikit saja kepadaku? Mama satu-satunya Ibu yang kupunya di dunia ini…kenapa kau harus merenggutnya juga…apa dendammu belum selesai dengan kematian anak kita? Bunuh aku! Bunuh aku juga! Aku tak ingin hidup lagi disini…”
Hans meraih tangan Selena dan menggenggamnya dengan erat lalu menciumnya.
“Maafkan aku…aku benar-benar minta maaf kepadamu…kau boleh melakukan apapun kepadaku sepuasmu…tapi kumohon maafkan aku…”
“Aku akan mengabulkan apapun permintaanmu asalkan kembalikan apa yang sudah kau renggut dariku…kembalikan milikku…jangan renggut mereka…mereka bintangku…mereka harapanku…jangan renggut mereka dariku…aku mohon kepadamu…”
Sekretaris Merry berlutut disamping Selena. Ia meminta pengampunan dari Selena.
“Maafkan saya…maafkan saya Nyonya…maafkan saya tidak bisa melepaskan anda dari Tuan muda…maafkan saya…”
Pintu didobrak, Leo langsung berlari memeluk istrinya dari belakang.
“Mereka kejam Leo…mereka kejam…mereka merenggut bintang-bintangku…” lirih Selena dengan tangisan yang mulai melemah.
__ADS_1
Leo membalik badan istrinya dan memeluk erat istrinya.
“Manangislah…menangislah…jangan ditahan…kau bisa sesak nafas nanti…” ucap Leo membelai kepala istrinya dengan lembut.
“Huwaaa!!! Kenapa mereka begitu kejam Leo…kenapa mereka membunuh Mama…”
“Sakit…tidakkah cukup mereka membunuh anakku…kenapa mereka juga harus membunuh Mama…apa mereka tidak punya perasaan sedikitpun? Bunuh aku…biarkan aku menyusul Papa dan Mama…aku tidak ingin berada disini lagi…aku tak ingin hidup lagi…”
“Jika kau mati siapa yang akan menjadi bintangku? Aku tak ingin kehilanganmu…maafkan aku…aku tak bisa memberikan kebahagiaan yang pantas untukmu…maafkan aku...” ucap Leo meneteskan air matanya dipelukan sang istri.
Jeff dengan nafasnya yang tersengal-sengal berdiri diambang pintu membuat tangan kanan Hans seketika berlutut memberi hormat.
Wajah Jeff memucat melihat keponakannya tengah menangis dipelukan Leo. Orang-orang tak punya hati ini…beraninya mereka menyakiti keponakannya.
“Pela*ur tua sial*n! Beraninya kau…” geram Jeff menatap Yeni dan menghampiri Leo dan keponakannya. Ia mengambil Selena dari pelukan Leo.
“Mereka kejam Paman…mereka kejam…mereka membunuh Mama…” ucap Selena.
Yeni seketika memucat, wanita itu memanggil Jenderal muda Andra apa? Paman?!. Apa wanita sial*n itu adalah keponakan dari Jenderal muda Andra?!.
“Yeni John Margareth!!!! Beraninya kau…” geram Jeff dengan wajah piasnya menatap Yeni.
“Je-jenderal
muda…”
“Ini peringatan pertama dan terakhirku untuk kalian semua…jika sampai kalian sekali lagi membuat keponakanku meneteskan satu saja air matanya…1 nyawa juga harus lenyap. Jangan anggap aku sedang bercanda sekarang” Jeff berdiri sembari menggendong Selena. Selena memeluk erat leher Jeff sembari menangis sesegukan.
Jeff memeluk erat keponakannya, kasta tertinggi dikeluarganya adalah Selena. Dan mulai hari ini juga…ia tak akan membiarkan siapapun menyakiti keponakannya lagi.
“Sudah cukup diamku selama ini meladeni tingkah keluargamu, tunggu saja surat larangan resmi dari kemiliteran untuk keluargamu. Dan jangan harap aku akan menarik kembali perintah itu” dingin Jeff membuat wajah Yeni semakin memucat bahkan keringat dingin mulai keluar dari kening wanita itu.
Jeff pergi menggendong Selena keluar dari ruangan Hans. Leo berdiri dan mendekati Hans.
“Aku minta keputusanmu malam ini juga, jika kau masih tidak mau melepaskan istriku. Aku akan menggunakan caraku sendiri untuk membuatmu mau melepaskan istriku”
*************
Sedangkan disisi lain Lonza dan Lewis tampak sibuk menangani kemiliteran hingga ponsel milik Lewis berdering. Lewis menatap ponselnya yang tertera nama Liekai disana.
“Kakakmu telfon nih” ucap Lewis memberikan ponselnya kepada Lonza.
“Seperti dia bukan kakakmu saja!” sinis Lonza mengambil ponsel kakaknya.
“Ada apa Liekai?”
“Kau tidak mau ke A.S?”
“Kenapa? Selena mencariku lagi?” tanya Lonza.
“Jennifer sudah meninggal”
“Ha?! Kapan!? Kenapa aku tidak tau sama sekali?!” tanya Lonza mengebrak meja kerjanya.
“Beberapa hari yang lalu, kami sedang di A.S sekarang. Aku tak yakin Hendrick bisa menangani Selena disini”
“Kami akan segera kesana! Katakan kau di mana sekarang?!” ucap Lewis mengambil ponselnya dari tangan Lonza.
“Rumah sakit pusat A.S, rumah sakit milik Tuan muda Jasson. Lantai VVIP khusus”
Tut…
__ADS_1
“Kalian tangani ini, aku dan Lonza akan ke A.S”
“Ta-tapi Jenderal muda…” tangan kanan Lewis hendak berbicara tapi Lonza langsung menatap pria itu dengan dingin.
“Keponakanku sakit, sampai dia kenapa-napa…kau mau tanggung jawab?” dingin Lewis mengambil mantelnya dan pergi dari ruangan itu bersama dengan Lonza, kedua pria itu dengan terburu-buru masuk kedalam helicopter dan segera terbang ke A.S.
.
.
.
Leo mengusap air mata yang keluar dari kelopak mata istrinya yang tengah tertidur. Dengan lembut ia membelai kepala istrinya sesekali menciumi pipi lembut itu.
Deon dan Jeff menatap horror keponakannya setelah itu beralih menatap Micle yang sempat terkena tamparan dari Selena lagi. Ahhhhh mereka beruntung karena tidak mendapat tamparan maut itu.
“Bagaimana? Sakit?” tanya Liekai.
“Coba sendiri saat Nona besar bangun nanti” jawab Micle yang tengah mengompres pipinya menggunakan air dingin, 2 kali…2 kali ia ditampar Tuannya. Dan rasanya? Mantap!.
Para Alexandra beralih menatap Daniel yang tengah membaca buku dengan santainya disofa sembari menikmati teh. Daniel dan Leo adalah saudara? Ahhhhhh…rasanya sulit percaya dengan kenyataan ini.
“Dia mirip Paman Ruvelis” ucap Leo tiba-tiba seraya menatap Daniel.
“Ha? Apa?” ucap Daniel.
“Dari rupa tidak, tapi dari tabiat iya…mereka benar-benar mirip dalam hal sifat” jawab Hendrick.
Daniel mengerutkan keningnya, sifatnya mirip dengan Jenderal besar Ruvelis? Hah! Tidak mungkin!.
“Berhentilah berbicara hal yang sulit dipercaya Leo” ucap Daniel.
“Tidak percaya ya sudah”
“Oh ya Daniel, surat perjanjian Mama dan Hans masih ada ditempatmu kan?” tanya Leo langsung membekukan Daniel.
“Tidak denganku, sepertinya ada di tempat Wei” jawab Daniel.
“Hah?! Jangan bilang yang Wei berikan kepada istriku tadi adalah kontrak perjanjian itu?!!” ucap Leo dengan spontan berdiri dari tempat duduknya begitupun dengan Daniel.
“Ah ****! Jika seperti itu pantas saja Hans ditampar oleh Selena” ucap Daniel menyibakan rambutnya kebelakang. Semarah-marahnya Selena, gadis itu tidak mungkin akan menampar orang begitu saja jika tidak benar-benar geram.
“Aku akan keperusahaan Hans”
“Untuk apa kau kesana?” tanya Hendrick tak suka.
“Melakukan apa yang harusnya kulakukan sejak dulu”
Daniel memakai jaznya dan mengambil kunci mobilnya dan langsung keluar dari ruang rawat Selena namun sebelum pergi ia berpesan kepada Micle dan Alex agar Selena jangan sampai bangun sebelum ia kembali.
“Hahhhh…tidak Ayah tidak anak, sama-sama suka membuat orang sakit kepala” ucap Hendrick memijat kepalanya
“Kau membicarakan Selena atau Daniel?” tanya Liekai.
“Keponakanmu!” kesal Hendrick.
“Lewis dan Lonza akan segera datang, jangan menyinggung Lewis dengan ucapanmu” ucap Deon.
“Aku juga tak ingin menyinggung pria gila itu” sinis Hendrick.
.
__ADS_1
.
.