Our Last Love

Our Last Love
V1 : Chapter 199 : I'm Back!!


__ADS_3

.


.


.


“Kasus ini sudah berada diluar jangkauan pengadilan, semua kasus kejahatan dapat dibuktikan. Maka dengan ini saya membuat keputusan bahwa…keputusan hukuman yang akan diterima keluarga Georgino, akan diserahkan kepada penuntut, Jenderal muda Nara” ucap ketua hakim, bukan tanpa alasan ia emlakukan hal ini. Kasus-kasus ini menyeret nama keluarga Alexandra, Leonardo dan juga Iskandar. Dan pengadilan tak mampu menjatuhkan hukuman yang pantas bagi keluarga Georgino yang sudah terbukti melakukan kejahatan-kejahatan itu. Maka biarlah hukum Alexandra yang berbicara (Selena).


Zachery tersenyum puas, sudah ia duga ketua hakim akan memutuskan hal ini. Kasus yang dibawa cucunya ke meja hijau militer merupakan kasus yang mambawa nama 3 keluarga besar didalamnya. Selain memberikan hal bagi cucunya untuk menghukum, tak ada lagi yang bisa dilakukan ketua hakim karena jika sampai pengadilan salah atau kurang dalam menjatuhkan hukuman. Keluar lagi iblis cucunya, dan itu…benar benar mengerikan.


Selena tersenyum puas tatkala keputusan pengadilan adalah memberikannya hak untuk menghukum keluarga Georgino. Jika sudah seperti ini, ia bisa balas dendam sesuka hati tanpa khawatir akan menimbulkan masalah bagi orang-orang disekitarnya. Haknya untuk menghukum keluarga Georgino akan dilindungi oleh hukum, dan tak siapapun bisa merebut hak itu darinya.


“Tidak bisa seperti itu!! Wanita ini juga harus mendapatkan hukuman karena telah membunuh putriku!! Anda harus bersikap adil yang mulia!!!” teriak Lucio putus asa.


“Dia sudah menjalani hukumannya, dengan dipenjara selama 7 tahun. Dan hukuman itu dilakukan sendiri oleh Jenderal besar Nami dan Hendrick. Dia sudah kehilangan masa indahnya dari umur 9 sampai dengan 16 tahun hanya karena membunuh wanita tak berguna itu, bisa-bisanya seorang Jenderal muda dipenjara hanya karena membunuh” jawab Deon, karena wanita itu membuat kakaknya menjatuhkan hukuman kepada keponakannya.


Yeni terduduk tak berdaya di lantai pengadilan yang dingin, hancur…usahanya selama puluhan tahun hancur hanya karena seorang gadis bahkan belum genap berusia 19 tahun. Bagaimana bisa…usahanya untuk membawa keluarga Georgino dipandang tinggi oleh keluarga lain hancur begitu saja?.


“Selamat menikmati hari-hari kalian di penjara, keputusanku untuk kalian…adalah dipenjara seumur hidup dan tak seorangpun boleh menjenguk kalian” ucap Selena kepada adik-adik Hans.


“Tolong maafkan kami!! Kami bersalah!! Tolong ampuni kami!!” ucap mereka bersujud memohon ampun didepan Selena. Daniel dan teman-teman Selena yang lain tersenyum puas melihat itu. hari yang mereka nantikan akhirnya tiba juga.


“Tidak ada untungnya aku mengampuni kalian”


“Dan Yeni, kau masih tidak mau minta maaf dan mengakui kesalahanmu?”


“Untuk apa?! Untuk apa aku meminta ampun kepada orang yang sudah melenyapkan putri kesayanganku?! Untuk apa aku meminta maa kepada orang yang juga telah menghancurkan keluargaku?! Aku tak akan pernah memaafkanmu Selena!!” ucap Yeni, meskipun ia sudah hancur tapi ia tak akan memaafkan Selena yang sudah membunuh anak perempuannya…anak perempuan satu-satunya yang dimiliki keluarga Georgino, ia tak akan mengampuni wanita ini begitu saja setelah apa yang diperbuatnya!!.


“Well…umumkan ke pusat kota, bahwa akan ada pertunjukan gratis. Mereka harus melihat dan jauhkan anak-anak dari hal ini”


“Apa…apa yang mau kau lakukan hah?!” ucap Yeni gemetar, entah kenapa ia punya firasat buruk mengenai ucapan Selena. Apa yang ingin dilakukan wanita itu kepadanya?!.


“Menelanjangimu, dan membiarkan seluruh dunia tau…seperti apa Nyonya keluarga Georgino yang membawa banyak pria keatas tempat tidurnya”


“A-apa?” ucap Yeni tak percaya, wanita ini serius ingin melakukan hal itu?!”


“Siap laksanakan Jenderal muda!!”


“Kau pikir ucapanku waktu itu bercanda? Setelah melakukannya, penjarakan Yeni di sel yang sama dengan para pembunuh berantai tapi sebelum itu…lepaskan kukunya satu persatu. Dan tanpa seizinku, dia tidak boleh mati. Dan untuk para Nyonya yang lain, jadikan mereka sebagai tubuh kedua”


Mata Selena melirik kearah Hans yang tengah terduduk tak berdaya disebelah Lucio, ahhhh…pria yang dulu sangat arogan kini hanya bisa diam dan menjalani hukumannya.


“Kau tenang saja Hans, selama kau disini. Aku pastikan, kedua anakmu…akan hidup dengan baik dan tak akan kekurangan apapun selain kasih sayang”


“Kau tak perlu melakukannya, ini sudah menjadi hukumanku. Aku tak mau merepotkanmu”


“Sayangnya…aku sudah menyewa Baby sister untuk mereka. Dan Gerry, uruslah perusahaan Hans dengan baik”


“Baik Nona”


Gerry menghapus air matanya yang tak bisa lagi ia bendung, ia tak menyangka…gadis lemah yang dulu selalu dihina oleh keluarga Tuan mudanya bisa berdiri setangguh ini dengan kedua kakinya. Gadis yang lemah dulu kini sudah menjadi gadis yang penuh dengan keberanian dan tanpa mempunyai rasa takut.


Rafindra mendekat sembari membawa sebuah pakaian ditangannya, hendercik mengambil pakaian itu dan memakaikannya ditubuh Selena, setelah diperbaiki pakaian ini tampak lebih baik dari sebelumnya.


Melihat pakaian yang dikenakan Selena semua orang disana kecuali keluarga Georgino langsung berdiri dan membungkuk hormat.


“Hari ini, Selena…sebagai Jenderal muda Nara akan menyampaikan keputusan pertamanya”


Asahi mendekat kepada Hendrick, Hendrick mengambil sebuah gulungan dari tangan Asahi dan diberikannya kepada Selena. Selena menarik nafas dalam-dalam lalu membuka gulungan itu.


“Hari ini, saya sebagai Jenderal muda Nara dari kamp utama telah mengambil keputusan, bahwasannya peraturan ke-78 yang telah dibuat oleh Jenderal besar nami resmi dihapus dan kamp militer tidak akan pernah ikut campur lagi terhadap masalah yang tidak ada sangkut pautnya terhadap kemiliteran. Keamanan dan keistimewaan yang diberikan kemiliteran terhadap keluarga-keluarga yang terdaftar sebagai anggota militer akan dicabut, hal itu secara otomatis akan membuat kamp akan lepas tangan terhadap masalah yang ditimbulkan kedepannya. Dan dengan ini juga saya sebagai Jenderal muda Nara akan menetapkan peraturan baru yaitu : ‘Bagi orang yang ingin menjadi anggota kamp militer diwajibkan untuknya menjalani berbagai tes dan latihan sesuai dengan prosedur lama dan tidak ada lagi anggota kamp militer yang memiliki jabatan tinggi membantu orang luar masuk. Barang siapa yang melanggar akan mendapat hukuman berupa menurunan jabatan’. Tertanda, Jenderal muda Nara dari kamp utama’


Keputusan yang dibacakan Selena tentu saja membuat semua orang yang mendengarnya terkejut selain Hendrick dan juga Zachery. Peraturan ke-78 akan dihapus? Itu berarti mereka tidak akan bisa meminta bantuan militer jika keluarga mereka mengalami masalah yang bersifat pribadi? Mereka ingin menolak, tapimereka tidak bisa melakukannya.


“Saya menghormati keputusan anda, Jenderal muda Nara”


Selena menganggukkan kepalanya dan memberikan salam penghormatan untuk semuanya, Selena menatap keluarga Georgino yang tampak tak memiliki gairah untuk hidup lagi.


Selena memejamkan matanya, untuk sekarang biarlah ini menjadi hukuman keluarga Georgino. Ia akan menghukum orang-orang ini secara perlahan, ia tak akan membuat nyawa mereka melayang begitu saja setelah menghancurkan keluarganya terlebih lagi YENI.


Selena mengeluarkan fotonya bersama Leo saat berada di Sydney. Ini adalah foto di mana ia dilamar oleh suaminya, foto yang sangat amat berharga untuknya.


“Sayang sekali…suamiku tidak bisa melihat hal yang sangat ingin ia lihat, semoga kau tenang disana sayang…aku akan selalu mencintaimu” Selena mencium foto itu untuk terakhir kalinya sebelum membakarnya menggunakan korek api.


Daniel yang melihat itu langsung mendekati Selena, ia memberikan Leon. Selena menerima putranya dan menciumi wajah bayi kecil itu.


“Mama akan menjaga kalian sampai nafas terakhir Mama…Mama sayang kalian”


“Kenapa dibakar jika berharga?”


“Karena jika foto itu terus ada, Leon, Leona dan Ryu…tak akan mendapatkan kasih sayang dari Mamanya” sendu Selena.


Selena menatap kedua anaknya, sekarang ia akan kembali dengan gelar baru dan perilaku baru. Gelar Nona besar Alexandra sekaligus Jenderal muda Nara dari kamp utama…ia akan kembali menyandang gelar itu tanpa adanya ikatan dari pria manapun. Dalam kurun waktu kurang dari 10 tahun, gelarnya sudah berubah sebanyak 3 kali.


“Pa…Nara akan mewujudkan keinginan Papa, Nara akan mewujudkan cita-cita Nara”


Zachery dan Mikayra berdiri dan menghampiri cucu mereka dan memeluknya dengan erat. Selena tak mampu menahan air matanya ketika mendapat pelukan hangat dari Opa dan Omanya.


“Opa sangat yakin kau adalah gadis yang kuat…sekarang hiduplah semaumu. Ambil kebebasanmu…Opa akan membuka sangkar emasmu, Opa akan mengembalikan masa mudamu yang terbuang”


“Benar…jika demi kebahagianmu Oma harus menghancurkan sangkar emas itu, tak masalah…yang terpenting…cucu kecil Oma ini bisa kembali bebas dan tertawa”


“Tidak perlu…biarkan Nara hidup dalam sangkar, Nara sudah nyaman. Jika kebebasan hanya akan menghancurkan, lebih baik dididalam sangkar meskipun dalam tekanan”


“Kami menyayangimu…kau tak akan pernah merasakan perasaan tertekan lagi. Opa janji…”


“Terima kasih Opa”


“Sekarang ayo pulang, biar sisanya diurus Rafindra”


“Baiklah”

__ADS_1


Semuanya pergi dari pengadilan itu, meninggalkan keluarga Georgino dengan penjagaan yang begitu ketat.


*************


Selena menatap putra-putrinya yang tengah terlelap diatas tempat tidur setelah lelah bermain dengan Daniel, bahkan pria itu ikut terlelap dengan damainya.


Drttttt drtttttt…


Selena menatap ponselnya, ia berjalan menuju balkon dan menutup pintu balkon itu. ia mengangkat telfon yang berasal dari Hendrick, sejak kematian suaminya hubungannya dengan paman-pamannya sedikit merenggang.


“…”


“Hm?”


“…”


Selena terdiam mendengar perintah dari pria disebrang sana, ya tuhan…bagaimana bisa ia melupakan hal sepenting ini?.


“Paman tunggu keputusanmu secepatnya”


“Aku tau, akan kupikirkan matang-matang ucapan Paman. Tapi sekarang, biarkan dia berada disini dulu”


“Tidak perlu sekarang, dia baru bisa berangkat 1 bulan lagi. Kau masih punya waktu memikirkannya”


“Aku tau”


Tut…


Selena menghembuskan nafasnya, ia kembali masuk kedalam kamarnya. Ia menatap Daniel lekat-lekat, semoga saja keputusannya bersama Pamannya Hendrick benar. Ia hanya bisa mengandalkan Daniel untuk masalah ini.


“Hahhhh…”


Selena duduk di sisi ranjang, ini adalah kamar utama yang biasa ia tempati jika ia sedang malas ke kamarnya sendiri. Jika dipikir-pikir, ini kedua kalinya ada pria yang masuk ke kamar ini. Leo dan Daniel, mereka berdua adalah 2 pria yang pernah tidur di tempat tidur ini.


Selena berdiri dan pergi dari kamar itu, ia menuruni anak tangga satu persatu hingga ke lantai 3. Selena berjalan kearah ruangan yang berada di ujung lorong, ia membuka pintu itu dan menatap Pamannya Jeff yang sedang meminum vodka. Ia duduk disebelah Pamannya dan meminta bartender membuatkannya minuman yang aman dan tidak mempengaruhi kualitas asinya.


“Minum dulu obatmu, setelah itu baru boleh minum. Jangan sampai kualitas ASImu menurun”


“Aku tau”


Selena mengeluarkan obat dari sakunya dan meminumnya menggunakan air.


“Semua sudah baik-baik saja? Kenapa mau minum?”


“Sedang tidak mau gila saja”


Jeff menatap keponakannya lalu kembali meminum vodkanya, semua anggota keluarganya adalah peminum yang hebat. Setinggi apapun kadar alkohol minumannya itu tidak akan membuat mabuk, tapi semakin rendah kandungan alkoholnya akan semakin cepat mabuk. Itulah gen aneh yang ada disetiap tubuh keluarga Alexandra.


Selena meneguk minumannya disaat minuman itu sudah selesai dibuat, Jeff menatap intens keponakannya. Tumben sekali keponakannya ini mau minum disaat yang seperti ini, punya masalah apa lagi dengan kamp? Atau jangan-jangan Hendrick yang membuat keponakannya seperti ini?.


“Mau minum segelas dengan Paman?”


“Boleh”


“Tuan, Nona”


Bartender itu keluar dari ruangan itu dan memberitau Tuan besarnya tentang keberadaan anak dan cucunya yang sudah mabuk di bar keluarga.


“Jeff dan Nara mabuk? Kau membiarkan mereka berdua meminum wine?”


“Saya tidak bisa mencegah mereka Tuan”


Zachery menghembuskan nafasnya, jika putranya Jeff memang sering meminum alkohol jika pikiran pria itu sedang kacau. Tapi…tumben sekali cucunya mau minum wine, di kondisi seperti ini pula.


“Deon, bawa Nara ke kamarnya. Biar Jeff disana saja, nanti juga pindah sendiri”


“Okey”


Deon menaiki tangga, saat sudah sampai di bar keluarga ia menatap keponakannya yang tengah tertidur di meja bartender. Sudah tau tidak bisa minum wine kenapa masih diminum? Ini pasti ulah Jeff.


“Sayang, ayo bangun…tidur dikamar”


Tak mendapatkan respon dari keponakannya membuat Deon mau tidak mau harus menggendong keponakannya sampai ke lantai teratas. Hah…untung ada lift.


Deon menggendong Selena dan keluar dari bar itu, dengan hati-hati ia menuruni anak tangga dan masuk kedalam lift untuk menuju kamar Selena. Namun saat di kamar Selena ia terdiam membatu ketika mengingat hanya Selena yang punya kunci kamar ini, ahhhh sial*n…harus turun lagi.


“Papa!!! Papa punya kunci cadangannya tidak?!!” teriak Deon.


“Tidak!!!” teriak Zachery dari lantai dasar.


“Bawa saja ke kamar kakakmu!! Biasanya juga Nara tidur disana!!”


“Okey!!”


Deon berjalan menuju kamar disebelah kamar Selena. Dilantai ini hanya punya 2 kamar, kamar kakaknya dan kamar keponakannya. Jadi jangan dibayangkan lagi seberapa luas kedua kamar ini. ia bahkan bisa bermain sepak bola didalam sana meskipun sudah diisi oleh barang-barang.


“Buka kamarnya”


Penjaga membuka pintu kamar itu membuat Deon langsung masuk dan membaringkan Selena diatas tempat tidur. Hah…sudah lama ia tidak masuk ke kamar ini, kamar ini masih sama seperti dulu…kamar yang ditempati kakaknya sebelum menikah dan setelah menikah kamar ini hanya ditempati saat Selena ingin tidur dengan kakaknya.


Deon tiba-tiba tertawa lembut ketika mengingat wajah cemburu kakak iparnya jika kakaknya lebih memilih tidur dengan anaknya. Setelah keponakannya lahir, jarang sekali kakaknya tidur dikamar pengantinnya. Kakaknya lebih sering tidur bersama dengan Selena di kamar ini.


Tok tok tok


“Siapa?”


“Ini aku, Daniel”


“Masuklah”


Daniel masuk matanya langsung menatap Selena yang sudah terkapar di tempat tidur. Ini pertama kalinya ia melihat Selena yang seperti ini, ia pikir Selena tidak diperbolehkan minum alkohol.

__ADS_1


“Ada apa?”


“Oh, aku ingin memeriksa jahitan Selena. Dia bilang akhir-akhir ini jahitannya terasa sakit”


“Periksa baik-baik, aku akan keluar. Dan…jangan macam-macam”


“Aku tidak sebajingan itu”


Deon keluar dari kamar itu membuat Daniel menarikan selimut hingga pinggang Selena dan dengan perlahan membuka kaus yang dipakai Selena. Ia menatap luka jahit yang memerah…ahhh…lukanya sedikit terbuka, pantas saja Selena kembali merasakan sakit. Tapi ia heran, jika terasa sakit apa gadis ini tidak merasakan perih saat mandi?.


Daniel berdiri dan mencari kotak P3K, lama mencari akhirnya ia menemukan kotak itu di lemari. Daniel membukanya dan menatap isi kotak yang begitu lengkap bahkan ada pinset disana.


“Semoga dia tidak terbangun…” ucap Daniel mengoleskan obat pada perut Selena dan dengan hati-hati kembali membalut luka itu.


“Hmmmmm”


Degh!


“Leo…Leo…jangan tinggalkan aku sendirian…aku tidak mau sendirian, kembalilah…kau boleh mengkhinatiku…asalkan jangan meninggalkanku”


Daniel terenyuh ngilu ketika Selena kembali mengigau dan mengatakan kalimat yang sama seperti sebelumnya, ya tuhan…kapan ia bisa mengembalikan senyuman di bibir mungil ini? Sejak kematian Leo, Selena belum pernah tersenyum sekalipun. Bahkan gadis ini hanya bisa menampilkan eksprsi datarnya meskipun bersama dengan anak ataupun keluarganya.


“Hiks hiks…jangan tinggalkan aku…aku mohon padamu…”


Daniel menghapus air mata Selena yang keluar dari sudut mata indah itu, Daniel mencium lama kening Selena dan dengan lembut membelai pipi itu.


“Maaf…”


Daniel menghembuskan nafasnya dan menatap rembulan yang begitu cerah, itu rembulan yang indah…sayangnya rembulannya jauh lebih indah. Namun sekarang, sinar rembulannya menghilang…dan semoga saja ia bisa mengembalikan sinar rembulan itu sebelum semuanya benar-benar tidak bisa diperbaiki lagi.


.


.


.


Selena terbangun dari tidurnya, ia memegangi kepalanya yang tiba-tiba pusing. Ahhh…wine sial*n…ia lupa jika tidak bisa minum wine dan gilanya lagi kenapa Paman Jeffnya malah menawarkannya untuk meminum minuman laknat itu?.


“Kau sudah bangun? Aku membawakan sarapan untukmu, makanlah setelah itu mandi. Apa kepalamu masih sakit?”


“Tidak, siapa yang memindahkanku kemari? Jangan-jangan”


“Bukan aku, Deon yang memindahkanmu. Haisssss…aku masih belum mau mati sampai berani menggendongmu yang mabuk dihadapan keluargamu”


“Punya etika itu juga kau ternyata”


“Tentu saja, aku juga pernah diajari etika keluarga Yokara oleh Mamaku dulu”


“Hn, taruh saja disana. Aku akan makan setelah mandi”


“Baiklah, kalau kau butuh apa-apa panggil aku. Paman-pamanmu sedang sibuk, Tuan dan Nyonya juga pergi. Jadi jika ada apa-apa, panggil saja aku”


“Hn”


Daniel keluar dari kamar Selena dan menuju kamar Leon dan Leona. Ia menatap gemas kedua anaknya yang baru saja terbangun dari tidurnya.


“Anak Papa sudah bangun ternyata…tolong bersihkan tubuh mereka, aku akan menyiapkan ASI mereka”


“Baik Tuan muda…”


2 orang pelayan wanita yang dipekerjakan Daniel untuk memandikan Leon dan Leona langsung melakukan tugasnya, Daniel membuka lemari dan memilih baju yang dipakai kedua anaknya hari ini..


“Nanti kalau sudah selesai ASInya kutaruh di kabinet, aku ada urusan dengan Selena sebentar”


“Baik”


Setelah menyiapkan ASI kembar Daniel keluar dari kamar itu dan kembali ke kamar Selena, ia menatap Selena yang melamun dan belum menyentuh makanannya.


“Memikirkan apa lagi? Bukankah sudah selesai?”


“Daniel, kau masih lama disini?” tanya Selena.


“Ya, aku akan membantumu menjaga anak-anak. Perusahaan ditangani oleh Assistantku, dan tambang diurus oleh Sekretarisku. Kenapa memangnya?”


“Bukan apa-apa, kau sudah lama berada disini untuk menjaga kembar. Aku hanya khawatir kau tidak bisa mengurus urusanmu sendiri”


“Jangan khawatir, aku bisa mengurusnya”


Selena meremas selimutnya dengan kuat, entah kenapa lidahnya terasa keluh ingin berkata yang sebenarnya kepada Daniel. Ia masih belum punya alasan untuk mengirim pria itu pergi, jika tiba-tiba ia mengatakannya ia takut Daniel akan semakin menolaknya sedangkan masalah kali ini…ia hanya bisa mengandalkan Daniel.


Daniel menatap heran Selena, ia merasa ada sesuatu yang ingin dikatakan Selena kepadanya. Tapi kenapa Selena tidak mengatakannya dan memilih menahannya? Sebenarnya ada masalah apa lagi? Satu selesai datang lagi masalah lain.


“Kapan…Ryu bisa dibawa pulang?”


“Bulan depan, kenapa? Kau sudah tidak sabar bertemu dengannya?”


“Mungkin?”


“Bersabarlah, tunggu Ryu sudah lebih sehat. Nanti kubawa dia kemari untuk bertemu Mama dan kakaknya. Ya sudah, aku ingin keluar beli baju. Mau titip sesuatu?”


“Tidak, terima kasih”


“Baiklah”


Daniel keluar dari kamar itu membuat Selena langsung menggigit bibir bawahnya, sebenarnya…apa motif tersembunyi Daniel bersikap begitu baik kepadanya? Apa pria itu merasa kasihan kepadanya karena baru saja ditinggal oleh suaminya?.


“Aku harus segera mengatakan ini kepada Daniel”


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2