
.
.
.
Hans langsung tercengang mendengar ucapan istrinya. Bagaimana bisa istrinya mengatakan hal seperti itu? Ia tau istrinya adalah seorang gadis yang polos. Lalu bagaimana dia bisa tau jika hal ‘Itu’ melelahkan?.
.
.
.
“Pfttt…Tuan muda…apa yang sudah anda ajarkan kepada Nyonya muda?” ~ Assistant Gerry.
“Diamlah!”
Hans mendekatkan wajahnya di wajah istrinya. Ia yakin istrinya ini bukan orang lain, lalu kenapa istrinya bisa mengatakan hal seperti itu?.
“Sayang, bisa kau jelaskan maksud ucapanmu?” tanya Hans.
“Hm? Kau menjagakku bulan madu kan?”
“Iya, lalu?”
“Lalu bagaimana caramu membawa madu kebulan? Jika mau melumuri bulan dengan madu butuh berada ton madu nanti? Aku juga tak pernah membaca sejarah ada orang yang berhasil melumuri bulan dengan madu. Apa kau sudah gila mau mengajakku melakukan hal melelahkan seperti itu? Belum lagi kalau nanti kita tidur dan melayang-layang. Ahhh!!! Aku tidak mau!! Pergi saja sendiri!”
“Bwahahahahahaha!!!” ~ Assistant Gerry tertawa terbahak-bahak mendengar penjelasan polos Nyonya mudanya.
Hans tercengang untuk ke-2 kalinya mendengar penuturan istrinya. Ia bersyukur karena istrinya tak tau apa-apa tentang 'Honeymoon’. Istrinya masih polos, ia hampir mati karena terkejut saat mendengar ucapan istrinya tadi. Sepertinya ia harus merefresh otaknya agar tidak terus berpikiran buruk.
“Kau atur saja, aku tak mau jika tiba-tiba ada agenda yang mengharuskanku datang”
“Baik Tuan muda” ~ Assistant Gerry.
“Hm”
Tut…
Tok tok tok
“Masuk”
__ADS_1
Merry masuk dan membungkuk hormat kepada Hans dan Selena. Merry menatap Hans dan menganggukkan kepalanya. Hans yang paham maksud kedatangan Sekretarisnya itu hanya menganggukkan kepala agar istrinya tidak bertanya apa-apa.
“Mau kemana?”
“Aku…ada urusan sebentar, sebentar lagi kembali. Jangan banyak bergerak”
“Hmmmm Okey…”
Hans mencium dahi Selena setelah itu keluar bersama dengan Sekretarisnya menuju kantin. Merry meletakkan beberapa foto dimeja, Hans menatap foto itu satu persatu.
“Ini, adalah bodyguard yang anda utus untuk menjaga Nyonya”
“Ya, aku tau mereka. Mereka yang mengatakan kepadaku Selena berkencan dengan pria lain”
“Ya, dan mereka adalah bodyguard milik Nyonya tua. Secara tidak langsung, anda memberitau Nyonya tua tentang Nyonya muda”
Degh!
Hans langsung membeku mendengar ucapan Sekretarisnya. Jadi, waktu itu. Sekumpulan pria yang datang kepadanya hendak melamar menjadi bodyguard istrinya adalah bawahan Mamanya. Itu berarti, Mamanya sudah tau tentang Selena?!.
“A-apa yang kulakukan? A-aku membahayakan istriku sendiri…”
“Tuan muda…” lirih Merry. Tak ada yang menduga hal ini akan terjadi, ia saja baru tau ketika melihat semua data bodyguard yang diutus menjaga Nyonya mudanya.
“Merry, kau atur penempatan para bodyguard. Selidiki mereka semua, untuk kedepannya biar Gerry yang memilih bodyguard untuk Selena”
“Baik Tuan muda”
Hans berdiri dari tempat duduknya dan kembali keruang rawat istrinya. Karena Mamanya sudah tau, ia hanya bisa membuat penjagaan untuk istrinya.
Hans menatap sendu istrinya yang tengah terlelap. Ia benar-benar bodoh, ia terlalu menyepelekan masalah bodyguard. Ia juga tak habis pikir dengan Mamanya, darimana Mamanya tau tentang Selena? Orang luar tak tau hal ini sama sekali kecuali orang-orang diperusahaannya. Dan itupun mereka harus menjaga rahasia ini walaupun taruhannya adalah nyawa.
Hans duduk dikursi dan menggenggam erat tangan istrinya. Ia sebenarnya kenapa? Kenapa perasaannya menjadi campur aduk seperti ini? Saat awal pernikahannya ia benar-benar tidak menyukai Selena. Namun saat hari berganti entah kenapa ia merasa kesal jika Selena bertemu dengan pria lain bahkan hanya mengobrol. Setelahnya ia malah melakukan hubungan badan dengan Selena, ia kenapa? Kenapa semakin hari rasa nyaman timbul dihatinya saat bersama dengan Selena?.
“Aku benar-benar bingung bagaimana harus memperlakukanmu, kau tak mempunyai salah kepadaku namun aku menyakitimu”
*
Joe membanting guci dan menendang meja kaca diruang tamu hingga hancur berserakan di mana-mana. Geram, ia benar-benar geram. Seumur hidupnya, ini pertama kalinya ia benar-benar membenci seseorang melebihi rasa bencinya kepada seekor ulat ( Joe phobia dengan ulat dan serangga ).
“Joe…sayang…tenangkan dirimu” Mama mencoba menenangkan Joe yang hendak membanting guci lagi.
“Bagimana aku harus tenang ma?! Pela*ur tua itu sudah menyakiti Selena berulang kali!! Aku diam bukan berarti aku pengecut ma!! Aku diam karena aku tau dia sudah tua dan sudah seharusnya mati! Bukannya berbuat hal keji seperti ini!”
__ADS_1
“Nona muda….” Bodyguard mencoba mendekati Joe.
“Kalian diam!!! Jangan ikut campur!!! Apa salah Selena kenapa jala*g tua itu ma?! Selena tak pernah menyakiti siapapun! Kenapa dia harus mencelakai Selena?! Apa dia masih seorang ibu?! Apa seorang ibu pantas berperilaku seperti itu?! Selena bukan miliknya! Dia tak punya hak menyakiti Selena sampai seperti ini!”
Joe meluapkan marahnya, mengeluarkan apa yang selama ini tertahan dimulutnya. Mama hanya bisa terdiam melihat kemarahan Joe yang tidak mungkin bisa ditenangkan oleh siapapun. Bahkan Papapun tak berani menghalangi Joe melakukan apa yang di inginkannya.
“Kau! kau dasar pria penakut! Sana, tenangkan anakmu!”
“Kau saja tak berani apalagi aku? Kau ngidam apa sih saat hamil Joe dulu?” ujar Papa.
“Semen!” semprot Joe kesal.
“Sayang…tenang dulu ya…kita pikirkan baik-baik…jangan gegabah…” ucap Mama mencoba menenangkan Joe.
“Tenang bagaimana?! Kenapa jala*g tua itu masih hidup ma?! Kenapa seseorang tidak membunuhnya saja?! Dia itu hanya sampah yang hanya bisa berlindung dibalik kekuasaan keluarga! Dia tidak seharusnya memperlakukan Selena bagai sebuah target bidik yang bisa ditancapi panah kapan saja! Seharusnya sebuah truk sampah mengangkutnya untuk didaur ulang menjadi tempat sampah agar bermanfaat!”
“Nona muda…anda sedang melawak?” Batin para bodyguard menahan tawa mereka.
.
.
.
.
**********
.
.
.
.
Happy reading semuanya....
Semoga nggak bosan sama cerita Clara ya....
.
.
__ADS_1
.