Our Last Love

Our Last Love
Chapter 50 : Ucapan selamat tinggal


__ADS_3

.


.


.


Hans merenggangkan badannya yang terasa kaku. Matanya melirik jam dinding yang menunjukan pukul 10.00 PM. Akhirnya pekerjaannya selesai juga, ia ingin segera pulang dan memeluk erat istrinya.


Beberapa teman Hans masuk kedalam ruangan, mereka duduk dimeja Hans dan menatap Boss mereka yang terlihat sedikit kelelahan.


“Ada apa?”


“Hans…kami hanya ingin mengingatkanmu. Jangan menyakiti istrimu lebih dalam, wanita yang sudah terlanjur kecewa. Akan sulit membuka kembali hatinya”


“…” Hans hanya diam mendengar ucapan temannya. Entah kenapa ia merasa sahabat-sahabatnya ini suka sekali mengurus masalah rumah tangganya.


“Dimata kami, istrimu sempurna Hans. Dia cantik, baik, perhatian, bisa mengurus rumah dengan baik. Apa yang akan kau dapatkan dengan menyakiti wanita seperti itu? Pernahkah kau berpikir, bagaimana jika istri polosmu berselingkuh dibelakangmu sama seperti yang kau lakukan?”


“Tutup mulutmu sial*n! Atas dasar apa Selena akan berselingkuh dibelakangku?!” bentak Hans berdiri dari tempat duduknya dan mencengkram kerah baju temannya yang baru saja berbicara hal omong kosong.


“Hans…”


“Tutup mulutmu! Selena selingkuh?! Pria mana yang akan menjadi selingkuhannya?! Jawab!”


“Kau masih belum tau?”


“Apa?”


“Daniel, pewaris utama keluarga Jasson. Menyukai Selena, lalu Eugene…atasan Selena, dia juga menyukai istrimu”


Blarrrrr!!!


Hans membeku, tak percaya apa yang diucapkan sahabatnya. Pewaris utama keluarga Jasson menyukai istrinya?! Kenapa ia baru tau hal ini sekarang?!. Sial*n! Ia benar-benar tidak menduga jika Tuan muda dari keluarga Jasson menyukai istrinya.


Hans segera mengambil jaznya dan langsung keluar dari perusahaannya mengemudi untuk pulang. Namun saat ditengah perjalanan ia menghentikan mobilnya disebuah café untuk menjernihkan pikirannya agar ia tidak melukai istrinya lagi.


Saat tengah meminum teh Hans dihampiri oleh seorang pria. Pria itu hanya duduk dan memperhatikan Hans tanpa berbicara sepatah katapun.


“Tuan, boleh saya meminta waktu anda sebentar?” ucapnya.


“Ya”


Pria itu meletakkan 3 buah kartu didepan Hans dan meminta Hans untuk memilih salah satu kartu itu. Karena ingin segera bertemu dengan istrinya Hans dengan cepat memilih kartu tengah. Pria itu mengambil kartu yang dipilih Hans.


“Tuan, anda beruntung ada sebuah burung emas jatuh kedalam genggaman anda. 3 burung emas yang sama juga ikut jatuh ke genggaman anda. Lalu ada 1 buah telur emas yang dibawa burung pertama”


“Maksud anda?” Hans bertanya dengan heran kepada pria itu.


“…”


Hans semakin terheran-heran mendengar pria itu berbicara. Apa yang sedang dibicarakan pria ini? Apa pria ini orang gila?.


“…”


"Tuan, saya benar-benar tidak mengerti dengan maksud anda” ucap Hans.

__ADS_1


“Itulah takdir Tuan, anda tidak akan mengerti bagaimana permainan takdir. Saya hanya berpesan, jaga apa yang anda miliki saat ini dan jangan mendorongnya jauh dari anda”


Hans mengerutkan keningnya, pria ini benar-benar tidak jelas. Mengatakan sesuatu yang benar-benar membingungkan. Lebih baik ia pergi.


Hans keluar dari café itu dan masuk kedalam mobilnya. Pria yang sebelumnya berbicara dengan Hans menatap kartu ditangannya, burung emas.


“Banyak yang menunggunya, jangan membuatnya terluka”


*


Hans menghentikan mobilnya dan segera keluar dari mobil dan masuk kedalam rumahnya. Hans tersenyum melihat istrinya yang tertidur disofa sembari memegang sebuah remote televisi. Apa istrinya menunggunya hingga ketiduran seperti ini?.


Hans melepaskan dasi serta jaz mahalnya dan meletakannya disofa. Dengan hati-hati ia mengambil remote tive yang berada ditangan istrinya. Bibi Na keluar dari kamarnya dan menghampiri Hans.


“Istriku sudah tidur dari tadi?” tanya Hans kepada Bibi Na.


“Iya Tuan, Nyonya muda menolak untuk tidur dikamar dan merengek ingin menunggu anda pulang. Jadi saya membiarkan Nyonya menunggu anda disini”


“Tuan, apa perlu saya menyiapkan makanan untuk anda?” tanya Bibi Na.


“Tidak perlu, aku akan langsung istirahat”


Hans dengan hati-hati menggendong istrinya masuk kedalam lift dan menuju kamar mereka. Hans membaringkan tubuh istrinya ditempat tidur dan menarik selimut hingga batas leher.


“Hmmmm…” Selena mengeliat pelan dan membuka matanya.


“Hans? Selamat datang…” ucap Selena memeluk leher suaminya.


Hans tersenyum melihat tingkah lucu istrinya. Ia memeluk istrinya dan mencium pipi lembut istrinya itu.


“Tidak…”


“Kenapa pulangnya malam sekali?”


“Pekerjaanku banyak, kenapa tidur disofa? Punggungmu bisa sakit nanti”


“Aku menunggumu pulang…”


“Hmmmm…kalau begitu tidurlah lagi”


“Hans…”


“Ya?”


“Aku bermimpi hal aneh tadi”


“Apa itu?”


“Aku bermimpi, ada seorang anak kecil yang melambaikan tangannya kepadaku…setelah itu dia pergi…dia mengucapkan Selamat tinggal kepadaku”


Hans langsung terdiam, entah kenapa ucapan istrinya seperti memiliki hubungan dengan ucapan pria tadi. Apa hal buruk sudah terjadi? Dan hal itu luput dari pengetahuannya.


“Itu hanya mimpi…jangan dipikirkan lagi Okey…”


“Okey…”

__ADS_1


.


.


.


Hans membuka matanya perlahan, ia tersenyum kearah Selena yang masih tertidur didalam dekapannya. Benar apa yang dikatakan temannya istrinya cantik, lembut, perhatian, peruh kasih sayang, dan selalu melayaninya dengan tulus tanpa pernah mengeluh sedikipun. Apalagi yang ia cari?.


“Sanggupkah aku melepaskanmu?” lirih Hans.


Hans mencium bibir istrinya singkat dan menarik tangannya dengan perlahan agar tidak membangunkan istrinya. Dengan perlahan mata Selena terbuka, ia bangun dan segera menyiapkan pakaian suaminya. Entah kenapa Hans selalu bangun terlebih dulu darinya.


Setelah semua pakaian suaminya siap Selena turun kedapur untuk menyiapkan makanan. Hari ini ia tidak ingin kemana-mana, ia akan berada dirumah dan mencoba membuat masakan baru.


“Nyonya muda, ada yang bisa saya bantu?” tanya Bibi Na.


“Ah, Bibi bisa bantu panggilkan Hans untuk sarapan?”


“Baik Nyonya”


Bibi Na menuju lantai atas, ia mengetuk kamar majikannya. Tak ada sahutan.


“Tuan, Nyonya meminta agar anda turun dan sarapan”


“Katakan kepada istriku aku akan turun sebentar lagi”


Bibi Na kembali turun ke bawah, dia membersihkan rumah sedangkan Selena masih tampak sibuk dengan masakannya. Tak berselang lama pintu kamar terbuka, Hans dengan bathrobenya keluar dari kamar dan turun ke ruang makan dengan keadaan rambutnya yang masih basah.


“Hans…kenapa belum bersiap-siap? Aku kan sudah menyiapkan pakaianmu” kesal Selena.


“Sayang, jangan marah…aku tidak dapat menemukan kaus kakiku”


“Apanya yang tidak ada? Kaus kakimu ada di sepatumu, lain kali taruh ditempatnya”


Selena meletakkan makanannya di meja makan, hari ini ia membuat nasi goreng, omelet, sup ayam, dan makanan wajib yaitu lobster asam manis.


Para bodyguard menelan ludah melihat makanan lezat yang tersaji diatas meja makan. Tuan muda mereka beruntung sekali mendapatkan istri sebaik Nyonya muda mereka.


“Sayang…aku ingin menghabiskan semua masakanmu jika begini” ucap Hans.


“Perutmu akan tidak nyaman nanti…habiskan apa yang ada dipiringmu, setelah ini kubantu bersiap”


Selena kembali memakai celemeknya yang sebelumnya ia lepas. Hans menatap intens istrinya yang tengah memasak. Ia menginginkan istrinya sekarang juga.


Hans berdiri dan memeluk istrinya dari belakang, tangannya mematikan kompor yang tengah digunakan Selena untuk memasak.


“Hans apa yang kau laku hmppph”


Belum sempat menyelesaikan ucapannya mulut Selena dibungkam oleh ciuman Hans.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2