Our Last Love

Our Last Love
The Our Last Love (5) : I Won't


__ADS_3

.


.


.


Selena terbangun dari tidurnya dengan keterkejutan yang luar biasa. Gila!! Ia bermimpi hal yang gila semalam!! Ya tuhan…bagaimana bisa ia bermimpi seperti itu?!!!.


“Sudah jam 8?!!” Selena langsung bergegas turun dari tempat tidurnya dan menuju dapur untuk menyiapkan makanan untuk Ryu. Ya tuhan…mimpi gila itu membuatnya bangun kesiangan!!.


Namun saat sudah sampai di dapur Selena blank ketika melihat ke-3 anaknya sedang duduk manis dengan beberapa makanan yang sudah tersedia diatas meja makan dan juga seorang pria yang kini tengah memasak. WTF?!.


“Selamat pagi Mama!!” ucap Ryu.


“Mama kesiangan lagi” ucap Leona.


“Pagi Mama!”


“Selena, sudah bangun? Aku baru saja ingin membangunkanmu” ucap Daniel sembari tersenyum.


Plakkkk!!


Selena menampar pipinya sendiri, woahhhh sakit…ia tidak bermimpi?! Jadi semalam bukanlah mimpi yang mengerikan?! Jadi semalam ia benar-benar tertidur di pangkuan Daniel?!.


“Kau ini kenapa? Coba lihat pipimu, duhhhh…merah begini. Akan kukompres dengan es” ucap Daniel langsung menghampiri Selena.


“Ka ka kau!! Kenapa kau bisa ada disini?!”


“Kambuh lagi lupanya, Mama…Mama yang mengajaknya kemari semalam” jawab Leona.


“Mama!! Duduklah, kita makan bersama”


“Nanti lagi bingungnya, sekarang ayo duduk dan makan”


Selena duduk dan tentu saja masih dalam keadaan blank, entah kenapa tiba-tiba otaknya terasa berhenti beroperasi.


“Wahhh! Ini enak Papa! Terima kasih!” ucap Ryu memakan sandwichnya dengan lahap.


“Sama-sama, kalian makanlah dengan perlahan. Ini makanan untukmu Selena”


Leon dan Leona menatap horror makanan didepan mereka membuat Daniel langsung kebingungan. Apa Leon dan Leona tidak menyukai masakan buatannya?.


“Kalian tidak makan?”


“Jangan pilih-pilih makanan sayang” ucap Selena.


Kedua anak itu menelan ludahnya dengan kasar, mereka membuka sandwich itu dan menyingkirkan selada dan juga alpukat dari sana. Daniel tercengang melihat itu, apa mereka tidak menyukai selada dan juga alpukat?.


“Mereka tidak suka selada dan alpukat”


“Ah, kemarikan piring kalian. Biar Paman buatkan sandwich yang baru”


Daniel berdiri dan membuatkan sandwich baru untuk Leon serta Leona.


“Papa! Ryu mau lagi!”


“Iya, Papa buatkan juga untuk Ryu”


Setelah beberapa menit hidangan untuk Leon, Leona dan juga Ryu selesai. Daniel tersenyum menatap ke-3 anaknya yang memakan makanannya dengan lahap, apalagi Ryu yang terlihat begitu menyukai sandwich.


“Leon dan Leona mirip denganmu, sama-sama tidak suka selada dan alpukat”


“Hehehe…”


“Setelah ini ikut aku ke rumah Alex”


“Untuk apa?” tanya Selena.


“Jangan banyak tanya, kau juga sudah tau jawabannya”


“Hisssss”


*********


Joe dan Alex menatap blank Daniel dan Selena yang datang ke rumah mereka secara tiba-tiba. I-ini Daniel? Kapan pria itu pulang?! Kenapa mereka tidak dikabari sama sekali?! Dan kenapa wajah Selena masam begitu?.


Teman-teman Daniel, Alex dan Joe yang kebetulan menginap di rumah Alex ikut penasaran dengan kedatangan Daniel yang secara tiba-tiba. Apalagi dengan membawa Selena.


“Jika kalian disini, di mana anak-anak?”


“Kutitipkan pada Rey” jawab Selena.


“Selamat ya atas pernikahan kalian, maaf aku tidak bisa hadir” ucap Daniel.


“Ahhhh tak masalah, aku senang kau datang menemuiku sekarang” jawab Joe.


“Berapa ronde semalam? Wajahmu terlihat lelah” ucap Selena ketika melihat kantung mata Joe.


Blussssss…


Alex dan Joe tersipu malu secara bersamaan, Daniel hanya bisa menggelengkan kapalnya melihat itu. tidak malu


bagaimana? Mereka saja jika bertemu bertengkar, jika tiba-tiba menikah dan saat malam pertama…ahhhhh ia tak bisa membayangkan bagaimana lucunya itu.


“Oh, ini hadiah dariku” ucap Daniel sembari menyodorkan sebuah box kepada Alex dan Joe.


“Terima kasih, minumlah” ucap Alex tersenyum.


“Jadi, apa maksud kedatangan kalian kemari?” tanya Joe sembari tersenyum karena melohat wajah bersemangat Daniel dan wajah masam Selena, sepertinya…ada topik menarik kali ini.


“Oh, Alex. Kudengar kau punya teman yang punya keahlian dalam membuat undangan bukan?”


“Iya, kenapa?”


“Bisa tolong hubungi dia? Minta dia untuk menemuiku, aku ingin memintanya membuat undangan”


“Undangan? Memang kau akan mengadakan apa?” tanya Selena, Alex dan Joe bersamaan.


“Aku akan menikahi Selena”


“WHAT?!!!” teriak semuanya bersamaan.


“Kau gila ya?! Aku belum setuju sama sekali!”


“Diam kau, aku tidak mau tau. Kau harus tepati janjimu”

__ADS_1


“Kau ini apa-apaan?! Tiba-tiba ingin membuat undangan?!”


“Sudah diam saja, kita akan tetap menikah! Aku tidak peduli!”


“Tidak mau! Opa dan Oma tidak akan me-”


Daniel menutup mulut Selena menggunakan tengannya dan mengeluarkan sebuah note dari sakunya dan memberikan itu kepada Selena. Selena membuka note itu, matanya membulat tak percaya pasalnya di kertas putih itu ada tanda tangan anggota keluarganya.


“Aku sudah mendapatkan restu dari semua anggota keluargamu…bagaimana? Masih punya alasan apa lagi?”


“Kau!! Kau ini seenaknya sendiri saja! Persetan dengan restumu!” kesal Selena pergi begitu saja dari rumah Alex dan Joe.


Daniel yang melihat itu menghembuskan nafas kesal, Selena ini plin plan sekali dan susah sekali dipaksa. Ia sengaja perngi ke kediaman Alexandra terlebih dulu untuk meminta restu hingga membuat daftar anggota keluarga Alexandra, dan ia bisa mendapatkan semua restu yang tanda buktinya berupa tanda tangan.


“Huh, dia semakin susah dikejar” kesal Daniel.


“Kau ini bodoh ya, 3 tahun di kamp apa caramu menaklukan Selena hilang begitu saja?”


“Apa maksudmu?” tanya Daniel mengerutkan keningnya.


“Oh ya! Seharusnya aku membicarakan ini dulu kepada Selena! Selena!! Tunggu aku!! Aku akan mengantarmu pulang!!” ucap Daniel membawa notenya pergi begitu saja.


Semua orang yang berada dirumah itu hanya bisa mengglengkan kepalanya melihat sikap Daniel. Pria itu terlalu ingin menikahi Selena hingga terburu-buru sampai melakukan semuanya sendiri. Selena yang tidak tau pasti benar-benar merasa kesal dengan tindakan Daniel.


“Dia semakin bodoh semenjak masuk kamp”


“Wajar, tidak ada yang bisa diajak latihan selama disana” jawab Alex.


Daniel mencekal tangan Selena yang hendak masuk kedalam taxi, Daniel menarik tangan Selena pergi dan meminta taxi itu untuk pergi.


“Kau ini apa-apaan?!” kesal Selena.


“Aku minta maaf…seharusnya aaku membicarakan ini terlebih dulu kepadamu dan bukannya bertindak sendiri”


“Cepat sadar juga kau!”


“Sebenarnya apa yang membuatmu begitu tak ingin menerimaku? Apa aku bukan pria sebaik Leo?”


“Aku tak ingin mencintai siapapun lagi! Jadi kumohon! Mundurlah! Aku tak ingin membuatmu berharap terlalu banyak!” tegas Selena.


“Aku tidak bisa dan aku tidak ingin melakukanya! Aku sudah mencintaimu 5 tahun lamanya! Apa kau masih tidak yakin dengan itu?” tanya Daniel penuh dengan kesedihan didalamnya.


“Leo yang bersamaku selama 16 tahun lamanya saja mampu meninggalkanku apalagi kau yang hanya 5 tahun?!” bentak Selena. Hanya didepan Daniel, dalam 3 tahun terakhir ia mencoba menahan emosinya terhadap siapapun…tapi didepan pria ini, emosinya bisa keluar begitu saja, entah harus dengan cara apalagi untuk membuat pria ini benar-benar berhenti berharap kepadanya!.


“Kumohon percayalah kepadaku, aku tak akan meninggalkamu. Aku berjanji”


“Bullshit! Aku tak perlu janji apapun! Aku tak ingin mencintai sipapaun lagi! Aku tak ingin hancur untuk kesekian kalinya! Cinta hanya bisa menghancurkanku! Dan aku tak akan terjebak dalam hubungan memuakkan itu lagi! jadi kubur dalam-dalam harapanmu itu!”


“A-apa?” ucap Daniel tak percaya dengan kata-kata yang baru saja ia dengar.


“Lupakan saja, pergilah…kau bisa menemukan wanita yang tepat untukmu”


“Kenapa aku harus mencari wanita lain disaat wanita yang sangat kucintai ada didepanku?”


“Kumohon berhenti Daniel! Jangan membuatku berharap kepadamu!” ucap Selena menutup telinganya rapat-rapat, ia benci…ia benci dengan cinta, ia benci kepada orang yang hanya bisa berjanji dan tidak bisa menepati, ia benci…ia benci…


Daniel langsung memeluk Selena dengan erat, Selena hanya bisa diam melihat Daniel yang tiba-tiba memeluknya. Apa pria ini mencoba untuk meluluhkannya? Apa pria ini mencoba untuk membuatnya kembali mencintai dan lagi-lagi pria ini juga yang akan membuatnya hancur? Cukup Papanya, Hans, dan juga Leo…pria yang mampu membuatnya tak berdaya. Ia tak akan mengulangi kehancuran itu untuk ke-4 kalinya.


“Aku berjanji tidak akan meninggalkanmu, aku akan terus berada disimu, aku akan berjalan di sampingmu, aku akan menjadi Ayah yang baik untuk anak-anak. Kumohon percayalah kepadaku…aku tak akan membuatmu merasakan kecewa lagi”


“Kenapa kau menangis? Apa ada sesuatu yang sakit? Katakan kepadaku? Atau pelukanku menyakitimu?” ucap Daniel bertubi-tubi.


“Jangan membuatku goyah…kumohon…aku tak ingin jatuh cinta lagi…”


Daniel meraih tangan Selena, ia menundukan kepalanya lalu meletakkan tangan itu diatas kepalanya.


“Aku bersumpah…aku tak akan pernah, meninggalkanmu…aku akan terus berada di sampingmu…”


“Hiks hiks hiks…”


“Jangan menangis, kumohon…” ucap Daniel seraya menghapus air mata Selena.


*************


Selena membuka pintu apartementnya dengan mata yang sembab, Ryu yang tengah membaca buku bersama Leon langsung turun dari sofa dan berlari menghampiri pintu yang terbuka.


“Mama! Selamat datang!”


Mata dingin Leona langsung menatap kearah pintu yang terbuka, kening di wajah cantik itu mengerut…kenapa mata Mamanya sembab? Siapa yang berani membuat Mamanya menangis?.


“Kenapa Mama menangis?” tanya Leon langsung menutup bukunya.


“Ah? Mama baik-baik saja, mata Mama tidak sengaja dimasuki debu tadi”


“Benarkah? Biarkan Ryu meniupnya


untuk Mama”


Selena menggendong putranya dan membawanya masuk, Daniel menutup pintu dan menguncinya lalu meletakkan bingkisan yang ia bawa diatas meja. Leon dan Leona langsung menatap sinis Daniel, Daniel yang merasakan hal itu hanya bisa menelan ludahnya…duhhhh…sepertinya Leon dan Leona tidak begitu menyukainya.


“Apa itu Mama?” tanya Ryu.


“Itu kue yang dibelikan Papa untukmu Ryu dan kakak, Ryu mau?”


“Mau! Tapi Ryu mau minum susu dulu”


“Iya, Mama buatkan…Daniel, tolong temani Leon dan Leona dulu”


“Selena ta-”


Daniel menelan ludahnya ketika Selena meninggalkannya bersama kembar, duhhhh…apa ia harus memulai pembicaraan?.


Tatapan Leon dan Leona masih tidak berubah kepada Daniel, Daniel menggaruk pipinya yang tidak gatal. Ia suka anak-anak, tapi ia tidak tau cara menangani mereka.


“Paman yang membuat Mama menangis?”


“Ini…Paman minta maaf” ucap Daniel tak enak.


“Aku akan ke kamar” Leona menutup bukunya dan pergi begitu saja.


“Leon…Paman…”


“Duduklah disini Paman, sampai kapan Paman mau berdiri disitu?” ucap Leon menepuk ruang kosong disebelahnya, ia harus bisa lebih bersikap dewasa daripada adik-adiknya.


Daniel duduk disebelah Leon, kecanggungan kembali berlanjut…Leon memainkan kakinya membuat Daniel benar-benar penasaran tentang apa yang tengah dipikirkan oleh anak berusia 3 tahun itu.

__ADS_1


“Dulu Mama pernah bilang, Papa kami bernama Leo bukan Daniel…Mama juga bilang Papa kami sudah pergi jauh dan tak mungkin kembali, jadi aku penasaran…kenapa Ryu bisa menganggap Paman adalah Papa kami”


“Leon…”


“Aku selalu penasaran dengan wajah Papa kami, tapi Mama bilang aku masih belum bisa melihat wajahnya. Aku ingin cepat tumbuh agar bisa melindungi Mama menggantikan Papa kami”


“Leon tak ingin Paman menjadi Papa Leon?”


“Leon tak pernah berpikir untuk bisa mempunyai Papa, tapi melihat Ryu…mungkin”


Daniel mengambang senyum mendengar ucapan Leon, andaikan ia bisa mengatakannya ia akan mengatakannya sekarang. Tapi Melihat Selena yang berusaha keras agar mereka tak terlalu memikirkan Leo membuatnya mengurungkan niatnya itu.


“Emmmmm…apa Leon mau ikut Paman nanti?”


“Kemana?”


“Jalan-jalan…Paman akan menunjukan sesuatu kepada Leon”


“Hmmmmm…baiklah”


Daniel tersenyum melihat hal itu, syukurlah Leon tidak sedingin Leona. Sepertinya dengan perlahan ia bisa meluluhkan hati putranya ini. Anak kecil tetaplah anak kecil, mereka pasti akan luluh seiring berjalannya waktu.


“Leon mau makan kue? Paman beli banyak, Leon mau rasa apa?”


“Hmmmm…strawberry boleh”


“Baiklah, ini untuk Leon”


Selena yang tengah berada di dapur langsung menurunkan Ryu yang sudah selesai meminum susu karena mendapat telfon dari Hendrick.


“Hm?”


“Datanglah ke kediaman Iskandar sekarang, ada yang harus kau ketahui”


“Kapan?”


“Nanti malam saja”


“Baiklah”


Tut…


Selena mematikan telfon secara sepihak, hm…kenapa Hendrick menyuruhnya pergi ke kediman suaminya? Adakah hal penting yang terjadi disana sampai-sampai ia harus mengetahuinya. Hisssss…apa ia harus meninggalkan Leon dan Ryu kepada Daniel?.


“Leon…nanti malam Mama harus pergi, Leon dirumah dengan Papa Daniel mau?”


“Mama mau pergi kemana?”


“Selandia Baru”


“Baiklah, Ryu akan dirumah dengan kakak dan Papa”


“Anak pintar, sekarang ayo…kita temani Papa dan kakak”


Selena menggandeng tangan putranya dengan tubuh yang sedikit membungkuk, Selena menatap heran ruang tamu yang hanya terdapat Leon dan Daniel. Di mana putri kecilnya? Kemana gadis kecil itu pergi?.


“Daniel, di mana Leona?”


“Ah?”


“Leona pergi ke kamar Mama, seperti biasa…marah” jawab Leon.


“Hahhhhh…meniru siapa tabiat anak itu?” gerutu Selena kesal.


Daniel dan Leon saling melirik, bukankah jawabannya adalah orang yang baru saja bertanya?.


“Mamamu kan?”


“Iya, kenapa Mama masih bertanya?” bisik Leon.


“Mama! Papa dan kakak membicarakan Mama” ucap Ryu menarik-narik ujung baju Selena.


“Mana ada!” sahut Leon.


“Mama, kakak bohong”


“Sudah-sudah, Daniel…nanti malam aku akan pergi ke Selandia Baru. Aku titip anak-anak ya?”


“Ah? Kenapa tiba-tiba?”


“Ada urusan mendadak, semoga saja tidak lama”


“Baiklah”


“Oh ya, jika besok aku belum kembali…tolong bawa Ryu ke rumah sakit ya. Berikan dia kepada Bei, dan periksakan gigi Leon. Dia akhir-akhir ini suka makan makanan manis”


Meskipun merasa ada yang aneh Daniel tetap menganggukkan kepalanya atas ucapan Selena.


“Mama…Ryu tidak mau…rasanya sakit…” lirih Ryu meremas dengan kuat baju Selena.


Selena menggendong putranya itu dan mencium pipinya.


“Jangan takut, kan ada Papa…nanti Ryu dengan Papa dulu, minggu depan dengan Mama lagi”


“Hmmmm…”


“Mau ya sayang? Biar cepat sembuh…”


“Tapi nanti kalau sudah sembuh tidak lagi kan Mama?”


“Tidak…tidak lagi, Mama janji”


“Baiklah, Ryu akan pergi dengan Papa dan kakak Leon”


“Oh ya Selena, lalu Leona…”


“Leona akan ikut denganku, kau tak akan bisa menghadapi Leona”


“Hmmmm, ok”


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2