
.
.
.
“Sayang…aku pulang”
Leo membuka pintu lalu kembali menutupnya, ia melepaskan coat panjangnya dan meletakkan di atas cabinet. Namun matanya seketika membulat melihat Daniel yang tengah gemetar ketakutan dengan dua macan yang sedang menunggu dibawah. Tuan? Kenapa dua macan ini bisa ada disini?.
“Sighhh really? Come on Daniel…” ucap Leo.
Selena yang mendengar suara suaminya langsung berlari dan berhambur memeluk tubuh Leo. Leo tersenyum dan mencium puncak kepala istrinya, Leo memberikan beberapa box dimsum kepada istrinya membuat Selena langsung mengambil box itu dan membawanya duduk disofa.
“Tuan, kemari. Dia bukan mainan kalian”
Dua macan tutul salju itu tak mematuhi ucapan Leo, keduanya masih setia menatap Daniel yang tengah gemetar ketakutan. Leo tertawa lembut melihat Daniel yang seperti itu, ia tak menyangka jika Tuan muda keluarga Jasson takut terhadap macan tutul salju.
“Leo! Ini enak, terima kasih!!”
“Iya, makanlah. Aku akan mandi”
“Apa kau tidak punya niatan membantuku?!!”
“Tidak tuh”
“Hei ayolah!!! Minta dua hewan ini pergi”
“Mereka hanya kucing, apa yang kau takutkan?” tanya Selena.
“Kucing kucing!! Ayo cepat singkirkan ini!! Kalau tidak jangan harap kau mendapatkan makananmu!”
“Hisssss iya-iya! Tuan, come here please”
Kedua hewan buas itu langsung berlari kearah Selena, mereka tidur dikaki Selena. Selena tersenyum dan menyentuh perut salah satunya.
“Kenapa kakek membawa mereka kemari Paman Raf?”
“Tuan Leonardo bilang persediaan daging mereka habis Nona. Beliau takut mereka memangsa salah satu penjaga. Jadi beliau mengirim mereka kemari menggunakan helicopter”
“Tanpa tali begini?”
“Benar”
“Ahhhhhh, kalian sudah makan terlalu banyak! Diet!! Nanti ikut pulang ke kamp!”
.
.
.
Esoknya…
Selena dengan teliti memasukkan beberapa senjata kepada tas yang sudah disediakan oleh kakeknya. Perbatasan bukan tempat yang aman, ia harus selalu siap siaga. Dan pastinya, tak akan ada etenangan selama ia disana.
“Barang dari Azizah sudah sampai?”
“Sudah Nona, barang-barang yang anda minta sudah saya masukkan kedalam pesawat” jawab Rafindra.
“Kalian sudah menyiapkan barang-barang kalian?”
“Sudah Nona”
Setelah memasukkan barang-barang yang penting Selena memakai coat panjangnya siap untuk pergi ke bandara. Leo mencium puncak kepala istrinya dan mengajak istrinya untuk berangkat ke bandara karena sejak tadi Hendrick sudah menelfon menanyakan keberadaan Selena yang sudah berangkat atau belum.
Namun saat berada di ambang pintu Selena menghentikan langkahnya lalu mengeluarkan ponselnya, berniat menelfon seseorang.
“Ya Selena?” suara disebrang sana berujar dengan begitu lemah lembut.
“Bisa aku minta tolong kepadamu, Hans?”
“Apa itu?”
“Minta kepada Ibumu, jangan usik suamiku. Jika sampai ada kabar bahwa Ibumu mencoba macam-macam dengan suamiku, kau akan tau akibatnya”
Tut…
Selena mematikan telfonnya sepihak, bukan tanpa alasan…perasannya tiba-tiba menjadi tidak nyaman. Ia yakin sesuatu yang buruk akan terjadi, dan ia harap…Yeni benar-benar segan untuk mengusik suaminya. Karena ia tau, wanita itu…tak mungkin mau berhenti menjatuhkannya.
“Ada apa hm? Kenapa tiba-tiba…”
“Tidak ada, ayo pergi sekarang”
Selena memeluk lengan suaminya sebelum masuk bersama kedalam lift. Para tangan kanan Leo saling menatap, ya tuhan… kali ini mereka benar-benar tidak berdaya. Mereka tak bisa melakukan apapun untuk menyelamatkan hubungan ini.
Saat sampai di bandara barang-barang yang dibawa dari apartement langsung diberikan kepada pramugara agar dimasukkan kedalam pesawat. Leo berlutut dihadapan istrinya, ia mencium lama perut buncit itu, Maternity Shoot yang ia lakukan sepanjang sore hingga malam tadi membuat perasaan bahagia mencuah didalam hatinya.
“Semua fotonya kau bawa, jika Ryu lahir kau pasti tidak mencintaiku lagi” goda Selena kepada suaminya.
“Mana mungkin? Hanya kau Ratu dihatiku, tempatmu tak akan tergantikan oleh siapapun. Jangan khawatir tentang diriu, fokus saja kepada dirimu sendiri”
“Hmmmm suamiku tampan begini, aku takut kalau suamiku ini akan dipeluk wanita lain saat aku tidak ada”
“Aku bersumpah hal itu tidak akan pernah terjadi” jawab Leo dengan spontan membuat Selena tertawa lucu dibuatnya.
Selena mencium dengan lembut bibir suaminya, tak ada ******* hanya sebuah kecupan untuk kembali berpisah.
“Jaga diri baik-baik, beberapa orangku akan tetap disini. Dan untuk kalian bertiga, jangan sampai suami kesayanganku satu ini kenapa-napa”
Alex, Micle, dan Bei hanya bisa menundukan kepala mereka mendengar ucapan Selena. Mereka benar-benar tidak akan bisa selamat dari masalah kali ini.
“Aku harus berangkat sekarang”
“Tunggu…”
Leo memeluk erat tubuh istrinya, mencium lama puncak kepala itu berharap ini bukan terakhir kalinya ia memeluk wanita yang ia cintai ini.
“I love you…I love you…”
__ADS_1
“I love you too Dear…see you again my hubby”
“See you again my love”
Terakhir, Leo mencium kening Selena sebelum melepaskan pelukannya. Selena berjalan bersama Daniel masu kedalam pesawat disusul Rafindra, Tuan X, Wei, Dion dan lainnya. Leo melambaikan tangannya sesaat sebelum pesawat pribadi itu take off.
Leo menurunkan tangannya, senyumnya dengan perlahan pudar berganti dengan rasa sakit yang ia rasakan di dada serta kepalanya. Melihat hal itu Math langsung menghampiri Tuan mudanya.
“Kita lebih baik pergi kerumah sakit sekarang Tuan muda”
“Ba-baiklah…”
Leo pergi dari bandara dibantu oleh beberapa tangan kanannya, sedangkan Selena yang berada didalam pesawat merasa cemas akan keadaan suaminya. Ya tuhan…baru beberapa saat yang lalu ia bertemu dengan suaminya. Kenapa perasaannya semakin tidak tenang begini?.
“Kenapa?”
“Daniel…aku tak tau mengapa perasaanku cemas begini. Aku takut Leo kenapa-napa”
“Jangan berpikiran yang tidak-tidak, ingat…apa yang kau rasakan akan dirasakan bayimu juga. Kau baru bertemu Leo, dia baik-baik saja bukan? Sudah…jangan khawatirkan apapun”
Selena menggigit bibir bawahnya, ia yakin ada yang tidak beres dengan suaminya. Sejak kemarin suaminya bertingkah sedikit aneh dari biasanya, suaminya sering melamun dan juga lebih lemah dari sebelumnya kecuali diatas tempat tidur.
“Kuharap kau baik-baik saja Leo…”
********
Para tangan kanan Leo hanya bisa saling tersenyum melihat kebahagiaan dibawah Tuan mudanya yang akan segera bertemu dengan kedua buah hatinya. Leo merenggangkan badannya yang terasa kaku akibat terlalu lama berada dirumah sakit, akhirnya hari ini datang juga…hari ini ia bisa menggendong kedua buah hatinya.
“Anda tampak pucat Tuan muda, bisakah anda memakan sesuatu terlebih dulu?”
“Aku baik-baik saja, jangan khawatirkan aku”
“Bagaimana kami tidak khawatir, tubuh anda sudah tidak terurus. Anda banyak kehilangan berat badan”
“Aku akan makan dengan istriku nanti”
“Nyonya tidak akan menyukai anda yang seperti ini, setidaknya anda makan sesuatu terlebih dulu. Apa anda ingin bertemu dengan Nyonya dalam keadaan seperti ini?”
Leo langsung tersentak, benar…istrinya akan cemas jika melihat kondisinya yang sekarang. Ia tidak bisa membiarkan sampai istrinya mengetahui apa yang sudah terjadi kepadanya.
“Berikan aku beberapa buah”
“Baik!”
Beberapa jam berlalu, saat pesawat mendarat Leo bergegas turun dan langsung masuk kedalam mobil karena tak sabar bertemu istri dan anaknya. Menempuh perjalanan kurang lebih setengah jam akhirnya deretan mobil mewah itu berhenti didepan sebuah laboratorium milik Daniel.
“Selamat datang Tuan Iskandar”
“Istriku sudah datang?”
“Belum Tuan, Nyonya belum datang” jawab salah satu penjaga kepada Leo.
Leo menganggukkan kepalanya dan masuk bersama dengan para tangan kanannya, ia menghampiri beberapa ilmuan yang tengah berbincang didepan sebuah ruangan.
“Kami memberi hormat kepada Tuan Iskandar”
“Jangan formal begitu, apa Daniel sudah ada disini?”
“Cepat juga datangnya, Selena akan sampai 30 menit lagi. Mau bertemu dengan anakmu?”
“Boleh sekarang?”
“Ya, bersihkan tubuhmu dan ganti apakianmu. Kutunggu didalam, kalian…bantu Leo”
“Baik master…”
Daniel kembali masuk kedalam ruangan itu, ia menatap lekat-leat dua bayi kecil yang sedang bertahan hidup mengandalkan beberapa alat yang terpasang ditubuh mereka.
“Sehat-sehat ya sayang…lihat, Papa kalian sudah ada disini”
Daniel tersenyum bahagia tatkala melihat gerakan kecil pada kedua bayi mungil itu. Berat mereka kurang dari 1 kg karena harus lahir diusia yang ke-6 bulan. Walaupun kemungkinan kecil mereka bisa bertahan hidup itu tak mematahkan semangatnya untuk terus mencoba memberikan kehidupan dikeduanya. Dan untunglah sekarang setelah 1 bulan masa-masa mencekam yang dilalui oleh para ilmuannya kecua bayi ini bisa tumbuh dengan baik.
“Leo?”
“Daniel, di mana mereka?”
“Kemarilah, lihat ini…”
Leo mendekati Daniel, matanya seketika berkaca-kaca melihat dua bayi kecil yang tengah berada didalam incubator khusus dengan beberapa alat ditubuhnya. Apa mereka…anak-anaknya?.
“Selamat, kau mendapatkan putra dan putri. Mereka kembar pengantin”
Leo langsung memeluk Daniel dengan erat, Leon dan Leona!! Putra dan putrinya, ya tuhan…ia benar-benar merasa seperti sedang bermimpi sekaang. Ia tak menyangka jika sekarang ia resmi menjadi seorang Ayah.
“Terima kasih! Terima kasih!”
“Jadi, mau menggendong mereka?”
“A-apa? Apa boleh?”
“Why not?”
“Ma-maksudku mereka begitu kecil, mereka juga lahir premature. Jika aku menggendongnya…”
“Tak pa, duduklah dengan nyaman disana. Akau akan mengurusnya”
Leo menganggukkan kepalanya, ia duduk disofa dan tak berselang lama Daniel mendorong dua incubator itu mendekati Leo. ia dibantu oleh beberapa ilmuan memindahkan kedua bayi itu dari incubator kepelukan Leo. Air mata Leo langsung jatuh menetes namun langsung diusap oleh Daniel agar tidak mengenai kedua bayi itu.
“Kau cengeng Leo…”
Leo menatap kedua buah hatinya, ia ingin melihat reaksi istrinya ketika melihat kedua malaikatnya ini.
“Sudah siapkan nama?”
“Ahhh, aku belum…”
“Sudahlah, hei…mau kuberitau gender anak ketigamu? Ryu?”
“Apa?”
__ADS_1
“Kau dapat laki-laki lagi”
Leo kembali menangis dibuatnya membuat Daniel kuwalahan menyeka air mata Leo yang terus mengalir. Daniel hanya bisa tersenyum lembut melihat itu, ia tak bisa membayangkan bagaimana bahagianya Leo saat ini.
Tak berselang lama pintu terbuka, Leo tersenyum cerah melihat istrinya yang baru datang dengan pakaian yang sudah diganti.
“Bagaimana disana?”
“Sangat! Memuakkan!”
Mata Selena bergulir menatap suaminya yang tengah menggendong sebuah kain, apa yang sedang suaminya bawa? Dan kenapa mata suaminya sembab begitu?.
“Sayang, lihatlah ini”
Selena mendekati suaminya, matanya membulat tak percaya melihat makhluk yang sedang berada didekapan suaminya. A-apa itu? Alien kah?!.
“Mereka anakmu, Leon dan Leona. Kau mendapatkan kembar pengantin”
“Apa?! Mereka anakku?! Kenapa tidak ada mirip-miripnya denganku atau Leo?! Kau pasti salah Daniel!”
“Ya kan baru 7 bulan! Lahirnya juga premature! Kau ini kalau bodoh tidak tanggung-tanggung ya?!”
“Hah?! Apa kau bilang?!”
“Kemari sayang, mau coba gendong mereka”
Selena dengan cepat menggelengkan kepalanya, su-suaminya memintanya menggendong bayi sekecil itu? Ohhhh tidak mau…ia tidak mau…
Selena duduk disebelah suaminya dan menatap lekat-lekat kedua buah hatinya. Kecil…mereka berdua tampak begitu kecil didalam dekapan suaminya.
Leo mencium pipi istrinya dan mengucapkan terima kasih.
“Paman Raf, apa aku sekecil ini dulu?”
“Hmmmm, anda sedikit lebih besar daripada ini. Karena anda lahir saat berusia 8 bulan,tapi anda benar-benar terlihat sangat kecil saat berada digendongan Jenderal besar” jawab Rafindra sembari tersenyum.
“Wahhhhh…lalu, bagaimana keadaan mereka?”
“Ahhhh selain gangguan pernafasan tak ada gangguan lain dalam tubuh mereka. Mereka sehat, dan kuharap…pernafasan mereka bisa segera membaik”
Selena mendekatkan kepalanya disalah satu bayi itu lalu mencium kepalanya, jari lentiknya dengan lembut membelai keduanya. Wahhhh lembut…mereka berdua lembut.
“Lihat lihat, mereka bergerak! Wahhhhh…aku jadi tidak sabar untuk mengajak mereka bermain!”
“Sabar…kau harus menunggu beberapa bulan lagi” ucap Daniel.
“Sayang, mau coba gendong satu?”
“Tidak mau, nanti kalau jatuh bagaimana?”
“Ada Daniel, tidak akan jatuh. Ayo coba”
Selena menelan ludahnya sedangkan Daniel memindahkan salah satu bayi dari gendongan Leo ke gendongan Selena. Tangan Selena gemetar hebat namuan Daniel langsung menyangkah tangan Selena.
“Relax…perasaanmu, akan mempengaruhi bayinya”
Selena menghembuskan nafasnya dengan perlahan, ia menatap bayi digendongannya dengan lekat-lekat. Ya tuhan…ini pertama kalinya ia menggendong bayi sekecil ini. Jauh lebih kecil daripada Alan.
“Mereka tumbuh dengan baik, sebelumnya berat mereka tidak sampai 1 kg. Namun sekarang sudah hampir 2 kg”
“Apa ini putraku?” tanya Selena kepada Daniel.
“Ya, kau sedang menggendong Leon. Yang digendong Leo adalah Leona”
Dengan perlahan Selena mencium lembut kepala putranya, tubuhnya gemetar…air matanya jatuh menetes mengenai pipi bayi itu. bayi itu membuka matanya dengan perlahan, menatap Ibunya untuk pertama kali.
“Hello my Baby…hello my Leon…”
Bayi kecil itu tersenyum mendengar ucapan Selena, tangannya bergerak membuat Selena, Daniel, dan juga Leo mengembang senyumnya.
“Boleh aku yang beri nama?” tanya Selena dengan antusias.
“Tentu, dia putramu. Kau boleh memberinya nama” jawab Leo sembari mencium pelipis mata istrinya.
“Jonathan Ryu Frederick Naomi Devano Leon Aileen Iskandar, hey boy…I’m Your Mommy Okey, so…patuh dengan apa yang Mommy katakan”
“Jadi Mama muda dong…hebat tidak aku Paman? Tidak kalah kan aku dengan Oma dan Mama?”
“Dulu Nyonya besar melahirkan mendiang Jenderal besar saat berusia 20 tahun, sedangkan Nyonya melahirkan anda saat berusia 22 tahun, dan anda mempunyai seorang anak diumur 18 tahun. Tentu saja anda yang unggul”
“Hehehe, keren kan aku? Anak 3 sebelum usia 19 tahun…”
Rafindra hanya menganggukkan kepalanya mengiyakan ucapan Nona besarnya, setelah sekian lama…semenjak kematian Jenderal besarnya…ini kedua kalinya ia melihat senyum yang begitu bahagia dari wajah Nona besarnya, yang pertama adalah senyum bahagia yang dipancarkan saat Nona besarnya menikah dengan pria yang dicintainya.
“Saya berharap semoga kebahagiaan dan kemakmuran menyertai anda Nona…”
“Pertahankan posisi kalian, aku akan mengambil foto”
Daniel keluar untuk mengambil kameranya, ia kembali dan langsung mengambil beberapa foto Selena dan Leo bersama kedua bauh hatinya dari beberapa sisi yang berbeda.
“Wahhhhh 3 minggu tidak bertemu bukan hanya tinggimu yang berubah, tapi auramu semakin wow ya” ucap Daniel.
“Iya dong, auraku berbeda semenjak berbaur dengan para Jenderal besar. Dan itu diakui sendiri oleh Oma dan Opa”
“Bagaimana kalau kau istirahat dulu, nanti lagi mainnya. Kau baru kembali, pasti lelah” ucap Leo menatap hangat mata istrinya.
“Aaaaaa sebentar lagi…”
“Leo benar, kau istirahat saja dulu. Biar aku yang jaga Leon dan Leona, kau juga sudah tidak bertemu dengan Leo selama 3 minggu bukan?”
“Ahhhh kau benar, aku sangat merindukan suami tampanku ini”
.
.
.
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1443H bagi seluruh umat muslim yang merayakan.
__ADS_1
Semoga seluruh amalan ibadah di bulan suci Ramadhan diterima, dan kita diberikan rezeki agar bisa kembali bertemu dengan Ramadhan tahun berikutnya oleh Allah Azza Wa Jalla. Aamiin