Our Last Love

Our Last Love
Chapter 38 : Ancaman Joe


__ADS_3

.


.


.


Hans dengan telaten memasukan bubur kedalam mulut istrinya. Matanya sesekali melirik buku yang tengah dibaca oleh istrinya. Seserius itu istrinya membaca buku hingga lupa untuk makan.


“Selena…nanti lagi baca bukunya, kau harus minum obat”


“Tapi nanti kalau aku tak bisa menjawab soal bagaimana?”


“Kau kan sedang sakit, aku akan mengajukan libur untukmu” jawab Hans.


“Hmmmmm”


Selena meletakkan bukunya di nakas dan menerima suapan dari suaminya. Matanya sesekali menatap kearah jendela yang tertutup rapat.


“Tidak boleh dibuka?”


“Angin dingin, jangan ya”


“Hummm…”


Hans menghembuskan nafasnya dan berjalan untuk membuka jendela. Selena tersenyum senang ketika angin masuk dan mengenai wajahnya. Sejak menginap dirumah sakit ia tak pernah merasakan udara bebas seperti ini.


Hans kembali duduk ditempatnya semuka, ia mencubit pipi lembut istrinya karena gemas. Jika nanti ketahuan Alex kan bisa dimarahi lagi, kemarin saja untuk makan ramen harus diam-diam.


Selena menatap suaminya intens, Hans yang ditatap seperti itu hanya bisa tersenyum dengan ribuan pertanyaan dibenaknya.


“Hans…”


“Ya?”


“Kau…tidak lelah mengurusku?”


“Tidak, kenapa?” tanya Hans bangkit dan duduk ditepi ranjang sembari mengelus kepala istrinya.


“Aku takut merepotkanmu, kau sudah tidak bekerja beberapa hari untuk menemaniku. Apa benar tidak apa-apa?”


Hans menghembuskan nafasnya dan tersenyum mendengar ucapan istrinya. Untuk apa istrinya memikirkan hal yang tidak penting seperti itu? Tidak seharusnya istrinya sampai berpikiran mengenai pekerjaannya. Toh ia punya Assistant dan Sekretaris yang bisa diandalkan.


Beberapa pria berbaju hitam masuk dan membungkuk hormat. Wajah Selena langsung memucat seketika, Hans yang melihat itu langsung menyembunyikan kepala istrinya didadanya.


“Ada apa? Mereka bodyguardku…jangan takut…” ucap Hans.


Selena mengelengkan kepalanya cepat tak mau mendengarkan ucapan suaminya. Ia tak mau melihat pria-pria itu.

__ADS_1


Hans membelai kepala istrinya lembut, sepertinya hari itu benar-benar membuat trauma besar didalam diri istrinya. Pria-pria ini adalah bodyguard kepercayaannya yang akan menjadi bodyguard milik istrinya.


“Lepaskan kacamata, jaz, dan dasi kalian” ucap Hans.


Pria-pria itu menganggukkan kepala dan melepaskan kacamata, dasi, dan jaz mereka. Sepertinya apa yang dikatakan Assistant Boss mereka benar adanya. Nyonya muda mereka mengalami trauma berat, entah bagaimana reaksi Boss mereka jika tau calon anaknya sudah tidak ada.


“Nyonya muda…” sapa mereka.


“Sayang…hei, lihat mereka”


Para bodyguard itu langsung tersentak kaget mendengar panggilan lembut Boss mereka kepada Nyonya muda mereka. Mereka tak salah dengar kan Boss mereka memanggil ‘Sayang’ kepada Nyonya muda mereka?!.


“Tidak mau…suruh mereka pergi…” cicit Selena.


“Hah…baiklah, kalian jaga diluar dulu. Kalau istriku sudah tidak ketakutan kupanggil kalian masuk”


“Baik…”


Bodyguard - bodyguard itu keluar dan langsung berjaga bersama dengan bodyguard yang lain.


“Bagaimana? Nyonya muda cantik kan” tanya salah satu bodyguard.


“Ya…namun nasib buruk menyertainya”


Semua bodyguard langsung terdiam tanpa berani berkata-kata lagi mendengar ucapan Joe yang tiba-tiba keluar dari ruangan Daniel yang terletak tak jauh dari kamar rawat Selena.


“Sebenarnya aku heran, apa salah Selena kepada keluarga Georgino hingga keluarga Georgino terus menyakitinya? Bisa kalian menjawab itu?”


“…”


Tak satupun bodyguard berani menjawab pertanyaan Joe. Jika Joe saja heran apalagi mereka, Nyonya muda mereka adalah gadis berhati lembut, penyabar, dan tak pernah kasar kepada siapapun. Entah apa yang membuat Nyonya mereka begitu membenci Nyonya muda mereka.


“Kenapa Nyonya kalian berani menyakiti Selena sedangkan dia tak berani menyakitiku? Apa keluarga Georgino selalu memandang seseorang memalui derajat keluarganya? Apa aku perlu membangun sebuah kerajaan untuk Selena agar Selena dihormati oleh keluarga Georgino?” tambah Joe lagi.


Bodyguard semakin terdiam mendengar ucapan Joe. Alex yang baru saja keluar dari lift hendak memeriksa keadaan Selena langsung mengurungkan niatnya ketika melihat Nona mudanya yang lain yang terlihat sedang marah.


“Di mana Alex? Seharusnya idiot itu melakukan pemeriksaan kepada Selena saat ini”


Joe langsung melirik kearah lift yang terbuka. Alex langsung berlari keluar dari lift dan langsung masuk kedalam ruangan Selena tanpa menyapa Joe terlebih dulu.


“Kuperingatkan kepada kalian, jika sampai mata-mataku melihat kalian mengatakan yang tidak-tidak kepada Yeni. Maka bersiaplah untuk kubunuh”


Joe kembali masuk keruangan Daniel. Para bodyguard langsung menghembuskan nafas, mereka langsung menahan nafas ketika melihat psychopath gila namun cantik itu. Mereka bukan bodyguard dari kediaman utama, mereka tak memiliki tugas untuk memberitau apapun tentang Selena kepada keluarga besar. Mereka lebih baik tutup mulut daripada mati konyol ditangan Joe.


“Joe, ada apa?” tanya Daniel ketika melihat wajah pias adiknya.


“Kemarin mata-mataku menemukan bahwa dalang dari celakanya Selena ini memiliki sangkut paut dengan keluarga Georgino. Karena saat mereka datang kerumah Hans, ada sebuah lencana dibawah kursi dan setelah diselidiki itu adalah lencana milik keluarga Georgino. Hans memakai lencana itu diantingnya, jadi itu bukan lencana milik Hans. Apalagi ada darah di lencana itu, dan setelah di tes darah itu cocok dengan darah milik Selena” jelas Joe.

__ADS_1


Daniel mengepalkan tangannya, terbukti sudah dugaannya. Keluarga itu…semakin keluarganya diam, maka mereka akan semakin melunjak.


“Joe, lakukan hal yang sama kepada salah satu anak Yeni. Lakukan apa yang terjadi kepada Selena, aku ingin mereka merasakan penderitaan keluarga kita”


"Tapi…Mama melarangku melakukannya”


“Aku bisa menangani Mama, buat mereka menderita. Aku tak peduli, aku ingin mereka menderita”


“Siap laksanakan”


Joe mengembang senyum sinis. Ia mengambil pisau dan pistol lalu memasukannya kedalam saku jaznya. Setelahnya ia langsung pergi setelah mengambil masker.


“Terus awasi keluarga Georgino, laporkan semua pergerakan mereka. Jika sudah saatnya, aku akan membuat mereka tak bisa berkutik sedikitpun”


“Baik, lalu masalah Nona muda Selena…”


“Aku akan menangani itu nanti”


“Baik…Selamat istirahat Tuan muda…”


"Wanitaku...aku tak akan membiarkannya terluka lagi"


.


.


.


.


**********


.


.


.


.


Happy reading semuanya....


Semoga nggak bosan sama cerita Clara ya....


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2