
.
.
.
Selena menatap kosong kearah depan, pikirannya kacau. Ia tak bisa fokus kepada mata pelajarannya. Joe yang melihat itu langsung meletakkan tangannya di dahi Selena.
“AH?!”
“Selena, ada apa? Kau sakit?”
“Ti-tidak, Joe…bisa kita pulang. Aku tak bisa fokus sama sekali hari ini”
Joe menganggukkan kepalanya. Selena masih sakit, tak seharusnya tadi ia memberitau Selena tentang agenda yang akan diakan kampus. Joe menatap dosen yang sudah memperhatikan Selena dari tadi, dosen itu menganggukkan kepalanya paham apa yang diminta Joe.
“Ayo pulang, kau istirahat dirumah saja. Ada Mama, Mama bisa menjagamu”
“Joe…aku pulang kerumahku saja…aku tak mau merepotkan Mama”
“Tak masalah…Mama menyayangimu, ayo pulang”
Selena menganggukkan kepalanya, saat berdiri tubuhnya langsung tumbang membuat semua orang didalam kelas langsung berjingkat kaget.
“Selena! Selena!”
Joe mengeluarkan ponselnya dan menghubunggi Daniel.
“Ada apa Joe?” ~ Daniel.
“Kak! Kau ada di mana?!”
“Di café dekat kampusmu, kenapa?” ~ Daniel.
“Kau kekampus sekarang, Selena pingsan. Aku takut dia kenapa-napa”
“Aku akan kesana sekarang!” ~ Daniel.
Tak berselang lama Daniel datang dengan nafas yang tersengal-sengal. Dia langsung menggendong Selena keluar dari kelas dan menyetir dengan cepat menuju rumahnya. Saat sampai dirumahnya Daniel langsung membawa Selena masuk kedalam kamarnya dan menghubunggi Alex agar segera datang.
Alex yang tiba dengan cepat langsung memeriksa kondisi Selena.
30 menit kemudian!
“Bagaimana kondisi Selena?”
“Pendarahan uterus abnormal. Karena sebelumnya Selena sudah kehilangan terlalu banyak darah membuat pendarahan ini terjadi. Pendarahan ini dapat terjadi karena ketidak seimbangnya hormon, mungkin ditambah dengan banyak pikiran membuat pendarahan ini terjadi. Bisa kau bilang kepada adikmu ini untuk mengatur emosinya?”
“Iya iya, nanti kukatakan. Ada lagi?”
“Tidak ada”
“Kalau begitu pergilah”
“Cih, habis manis sepah dibuang!” sinis Alex.
“Untuk apa aku menyimpan hal yang sudah sepah?” tanya Daniel.
Alex menatap kesal temannya itu dan memilih untuk keluar dari rumah megah itu. Tidak adik tidak kakak, selalu saja membuatnya kesal setiap saat.
Daniel mengepalkan tangannya melihat Selena yang sekarang terbaring ditempat tidurnya. Pendarahan uterus abnormal, sebenarnya apa yang membuat Selena banyak pikiran sampai seperti ini?.
__ADS_1
Daniel mengelus kepala Selena perlahan. Ia mengecup lama dahi Selena sebelum keluar dari kamarnya. Ia menatap Mamanya yang tengah menangis sesegukan dipelukan Joe.
“Ma…Selena sudah baik-baik saja. Jangan menangis lagi…”
“Mama khawatir kepadanya Daniel…”
“Selena sudah baik-baik saja…Alex sudah memeriksa kondirinya, dia bilang hanya pendarahan uterus abnormal. Tidak ada hal lain…”
Daniel membawanya sang Mama kedalam pelukannya. Wanita itu menangis sesegukan dipelukan putranya. Ia benar-benar mengkhawatirkan kondisi anak bungsunya itu.
*
Leo menatap geram para bodyguardnya yang sampai sekarang belum menemukan keberadaan Selena. Pagi ia memberikan perintah tapi sampai malam. Orang-orang ini belum juga bisa menemukan keberadaan kekasihnya.
Tanpa basa-basi Leo menendang salah satu perut bodyguardnya meluapkan amarahnya. Ia tak akan bisa tenang sebelum ia tau di mana dan bagaimana kekasihnya sekarang.
“Bukankah kalian orang-orang handal? Hanya satu orang saja kalian masih belum bisa menemukannya?”
“Tuan muda…maafkan kami, keberadaan Nona muda benar-benar tidak bisa dideteksi”
“Lalu? Dari pagi hingga malam hanya itu yang kalian dapat simpulkan?”
“Ti-tidak Tuan…ka-kami menemukan informasi lain”
“Katakan”
“Nona muda mendapat beasiswa di Royal University. Disamping itu beliau juga bekerja disebuah rumah sakit sebagai Assistant dokter bedah. Tapi dari informasi rumah sakit itu, Nona muda absen selama hampir 1 bulan”
Leo menendang vas hingga hancur berkeping-keping. Sekarang di mana kekasihnya?! Apa yang terjadi kepada kekasihnya selama 1 bulan absen dari rumah sakit itu?.
Leo memeganggi kepalanya yang tiba-tiba berdenyut nyeri. Tubuhnya langsung tumbang membuat salah satu bodyguad langsung menggendong tubuh Tuan mudanya keluar dari villa dan langsung pergi kerumah sakit terdekat.
Alex menatap intens bodyguard itu. Ia dapat pasien Tuan muda darimana lagi ini? Yah semoga pasien ini tidak cerewet seperti Daniel.
“Tuan, mohon anda keluar” pinta Alex.
“Jika sampai terjadi sesuatu kepada Tuan mudaku…bersiplah untuk mati”
Glek
Alex menelan ludahnya kasar. Pria itu langsung keluar dari UGD, Alex menatap pria yang tengah terbaring diatas ranjang intens. Biar pria ini ditangani oleh dokter lain dulu, tapi sepertinya ia familiar dengan wajah pria ini. Tapi sepertinya mereka belum pernah bertemu sebelumnya.
“Dokter Alex, pria ini hanya mengalami sakit kepala karena penyak pikiran dan kurang istirahat. Seharusnya tak perlu dirawat”
Alex menganggukkan kepalanya lalu menatap bodyguard yang berjaga diluar UGD. Ia menelan ludahnya kasar, ia harus cari aman.
“Lebih baik pria ini dirawat 1-2 hari”
“Tapi…”
“Diamlah! Lakukan saja apa yang kuperintahkan”
“Baik…”
*
Selena membuka matanya perlahan, ia langsung terduduk dengan keterkejutan yang luar biasa. Ia berada dikamar Daniel?! Bagaimana bisa ia berada disini?! Ah, ia ingat. Ia pingsan saat hendak keluar dari kelas.
Pintu terbuka, Daniel masuk membawa semangkuk bubur ditangannya. Ia meletakkan bubur itu diatas meja dan menyentuh dahi Selena.
“Makanlah…setelah itu kuantar kau pulang…”
__ADS_1
“Daniel…antarkan aku pulang sekarang…Hans akan mencariku jika dia tau aku tidak ada dirumah” pinta Selena.
“Makan dulu baru kuantarkan”
“Daniel…kumohon…aku tak mau membuatnya khawatir lagi”
Daniel menghembuskan nafasnya. Benar apa yang dikatakan Joe bahwa Selena adalah orang yang sangat keras kepala.
“Iya, ayo kuantar pulang”
Daniel membawa Selena keluar dari kamarnya. Ia mengantar Selena pulang kerumahnya, saat sampai Selena langsung mengucapkan terima kasih dan masuk kedalam rumahnya memastikan suaminya sudah pulang atau belum. Ia selamat karena Hans belum pulang.
“Nyonya…kenapa anda pulang telat?” tanya Bibi Na.
“Bibi…Hans sudah pulang?”
“Tuan belum pulang…anda ingin makan sesuatu?”
“Tidak…aku akan mandi”
Selena masuk kedalam kamarnya tak berselang lama suara mobil terdengar. Hans keluar dari mobilnya dan langsung masuk kedalam rumahnya, apa istrinya sudah pulang?.
“Bi, di mana Selena?”
“Nyonya sedang mandi Tuan”
“Mandi? Oh…kucing kecilku juga baru saja pulang ternyata…” Hans dengan senyumannya masuk kedalam lift dan menuju kamar. Ia membuka pintu kamarnya dengan perlahan, mendengar sebuah percikan air membuatnya langsung melepaskan jaz serta dasi mahalnya.
Hans membuka pintu kamar mandi dengan amat perlahan membuat Selena yang tengah membersikan diri tak sadar akan kehadiran suaminya.
Hans menelan ludahnya melihat tubuh telanjang istrinya. Tubuhnya langsung bereaksi, sudah lama ia berpuasa untuk tidak menyentuh tubuh putih itu.
“Damn it…” lirih Hans menggigit bibir bawahnya.
.
.
.
.
**********
.
.
.
.
Happy reading semuanya....
Semoga nggak bosan sama cerita Clara ya....
.
.
.
__ADS_1