Our Last Love

Our Last Love
Chapter 61 : Kau...satu-satunya wanitaku


__ADS_3

.


.


.


Hans mengepalkan kedua tangannya geram melihat tangan istrinya yang disentuh oleh adiknya. Tanpa basa-basi Hans langsung berlari dan menendang perut Arion hingga pria itu tersungkur kelantai. Ia langsung membawa Selena kedalam pelukannya. Ia menatap geram ke-3 adiknya.


Joe melepaskan pria itu dan menarik tangan Selena masuk kedalam pelukannya. Bagus juga, lumayan...ia bisa menonton pertunjukan seru. Ia akan menikmati teriakan serta wajah frustasi Yeni melihat anak-anaknya dihajar habis-habisan oleh Hans.


Hans melepaskan dasi serta jaznya. Adiknya benar-benar membuatnya geram dengan berani menyentuh istrinya. Tubuh Moses, Kyler, dan Stefen langsung dibuat gemetar melihat kemarahan kakak mereka. Seumur hidup mereka, ini pertama kalinya mereka melihat Hans yang seperti ini.


“Hans! Jika kau berani menyentuh adikmu! Maka Mama a-!”


Bugh!!!


Hans menendang kepala Kyler membuat pria itu langsung terjatuh dari ranjang. Kyler memeganggi kepalanya yang terasa benar-benar sakit akibat tendangan Hans. Kemarahan kakaknya kali ini tidak main-main. Ia tak akan mau mengusik kakak iparnya lagi.


Plakkkk!!!


Tamparan keras mendarat mulus di pipi Moses. Ia menjambak rambut adiknya itu.


“Beraninya kalian…”


Bugh!!


Hans menghantamkan kepala Moses kelututnya dan beralih kepada Stefen. Yeni hanya bisa berteriak meminta agar Hans tidak melukai anak kesayangannya.


“Aku akan membunuhmu Stefen”


Grep!


Selena memeluk perut suaminya erat. Tangan Hans yang terangkat hendak memukul Stefen langsung terhenti. Ia menatap istrinya yang menggelengkan kepala sembari menangis sesegukan.


“Lepas!”


“Kumohon jangan…itu akan melukaimu sendiri…kumohon…” lirih Selena.


“Jangan menghalangiku Selena…atau kau akan ikut terluka”


Selena semakin mengeratkan pelukannya. Ia harus meredakan amarah suaminya, jika tidak mereka semua bisa terkena imbasnya.


“Kali ini saja…kumohon…”


Hans menggigit bibir bawahnya. Ia membalik badannya dan memeluk erat istrinya. Ia menatap geram Stefen serta Mamanya. Ia bukan pria berhati malaikat, ia tidak akan mengampuni adiknya begitu saja.


Hans mengeluarkan pistol dari saku celananya dan menembak bahu adiknya. Ia menutup kedua telingga istrinya agar tidak mendengar teriakan adik-adiknya.


“Sekali lagi kalian berani menyentuh istriku…jangan harap kaki dan tangan kalian ada ditempatnya” geram Hans.


Hans menggendong istrinya keluar dari ruangan itu. Ia membawa kembali Selena keruangan VVIP, Selena menatap tangan suaminya yang berdapat noda darah.


“Hiks…maafkan aku…aku membuatmu terluka”


“Ini bukan darahku sayang, kau tak perlu meminta maaf…”


“Hiks…maaf…”


Hans memeluk istrinya, jika tadi istrinya tidak menghentikannya. Ia benar-benar akan membunuh ke-4 adiknya yang sudah berani menyentuh istrinya.


“Di mana saja mereka menyentuhmu? Apa mereka melukaimu?”

__ADS_1


“Tidak…mereka tidak melukaiku. Saat mereka hendak melecehkanku Joe datang…”


“Maaf…aku membirkanmu mengalami hal buruk lagi” ucap Hans menunduk.


“Hans…itu sudah berlalu…jangan mengungkitnya…aku baik-baik saja sekarang”


Hans membaringkan tubuh istrinya dengan perlahan. Ia menarik selimut dan membersihkan tangannya menggunakan sapu tangan. Dengan lembut ia membelai kepala istrinya membuat Selena perlahan menutup matanya.


Hans menghembuskan nafasnya. Tiba-tiba ia teringat kata-kata pria yang menemuinya di café.


|| Burung emas pertama yang jatuh ke gengaman anda terluka parah dan anda merawatnya hingga sembuh. Lalu burung kedua mati karena sentuhan anda || (…(1)( Chapter 50 ))


Kata-kata itu terngiang-ngiang dikepalanya. Apa pria itu adalah seorang peramal yang meramal nasibnya yang sekarang dan di masa depan? Tapi apa yang dimaksudkan pria itu benar-benar membuatnya binggung. Burung emas? 1 buah telur? Apa maksud itu semua?.


“Jangan-jangan Lie menjadi seperti ini karena perbuatan Mama sendiri?” guman Hans curiga.


Hans kembali membelai kepala istrinya. Ia mengecup lama dahi istrinya sebelum ikut larut ke alam mimpi.


.


.


.


Hans membuka matanya dengan perlahan, ia berdiri dan mengecup dahi istrinya yang masih tertidur dengan lelapnya.


“Selamat pagi sayang…”


“Hmmmm Hans…” ucap Selena membuka matanya dengan perlahan.


Selena bangkit dan memeluk leher suaminya erat sembari memberikan beberapa kecupan di pipi suaminya sebagai ucapan terima kasih karena sudah menyelamatkannya dari Yeni kemarin.


Selena melepaskan pelukannya, menatap wajah suaminya yang memerah. Apa suaminya sedang demam? Kenapa wajahnya merah seperti itu.


“Hans…kau sakit?” tanya Selena sembari meletakkan tangannya di dahi suaminya.


“Selena…aku…”


Selena mengerutkan keningnya. Sepertinya ia tau kenapa suaminya seperti ini. Mata Selena bergulir kebawah, menatap celana suaminya yang mengembung.


Blusshhhhhh!


Pipi Selena langsung merona dibuatnya. Sudut bibir Hans terangkat melihat rona malu dipipi Selena, ia mendorong tubuh istrinya hingga jatuh berbaring.


“Kau benar-benar meresahkan dipagi hari…” ucap Hans mencium bibir istrinya lembut.


Hans menggenggam erat kedua tangan Selena. Selena mengigit bibir bawah Hans agar pria itu melepaskan ciumannya.


“Besok seharusnya kau datang bulan, jadi biarkan hari ini aku memuaskanmu” bisik Hans.


“Ahhhh bagaimana bisa kau tau itu?!” ucap Selena tak percaya. Ia harus mencegah Hans melakukan itu lagi kepadanya, ia tak mau melakukan hal itu lagi bersama suaminya.


“Kau tidak perlu tau itu…lebih baik kau mementingkan permainanku”


“Ada CCTV…” cicit Selena.


Hans langsung membeku dibuatnya. Ia melupakan itu! Sial*n! Siapa yang menaruh CCTV diruangan ini?!. Hans bangkit dari tubuh istrinya. Ia masuk kedalam kamar mandi membuat Selena tersenyum lucu dibuatnya.



__ADS_1








Hans mendorong tubuh istrinya hingga membentur tembok. Ia mencium rakus bibir istrinya tanpa memberikan istrinya celah sedikitpun untuk bernafas.


“Jika aku melawan…Hans akan menyakitiku lagi…Leo…maaf...” batin Selena.


Hans mengangkat satu kaki istrinya dan beralih mencium leher jenjang istrinya membuat ******* berhasil lolos dari mulut Selena.


“Sial…aku benar-benar tidak bisa menahannya lagi”


Selena menutup mulut suaminya menggunakan kedua tangannya saat mulut itu hendak mencium bibirnya lagi. Entah kenapa, kali ini…sentuhan Hans membuatnya tak nyaman.


“Hans, aku ingin ramen”


Blarrrr!!!


“Sayang…nanti saja ya…aku benar-benar tidak bisa menahannya lagi” pinta Hans memasukkan tangannya kedalam baju istrinya.


“Huuuu kau bilang aku boleh melakukan apa yang kusuka hari ini…aku ingin jalan-jalan dan makan ramen”


Hans menggigit bibir bawahnya, ia benar-benar tak bisa menahannya lagi. Jika ia menahannya lagi, ia bisa membuat Selena tak bisa berjalan besok. Ia harus memikirkan cara agar istrinya mau diajak bekerja sama.


“Satu ronde saja, setelah itu kita jalan-jalan ya. Please…” mohon Hans.


“Satu? Janji?”


“Janji!”


Hans kembali mencium bibir istrinya. Satu ronde tak apalah, yang penting ia tidak main solo lagi. Ia sudah gagal bermain dirumah sakit ia tak mau sampai gagal lagi main dirumah sendiri.


Hans melepaskan ciumannya, tangannya dengan aktif meremas dada istrinya dan memberikan kecupan merah di leher serta dada istrinya. Selena menutup mulutnya mencoba untuk tidak mengeluarkan suara, ia benar-benar malu jika sampai suaranya didengar lagi oleh bodyguard yang berjaga diluar rumah.


Hans tersenyum, ia menyingkirkan tangan istrinya.


“Jangan ditutupi, bersuara saja…aku suka mendengar desahanmu sayang…” bisik Hans.


“Hans…aku malu…nanti didengar bodyguard…” cicit Selena pelan.


“Itu sudah menjadi risiko mereka, itulah kenapa gaji mereka lebih tinggi daripada manager kantorku”


“Oh, jadi sebelum denganku kau pernah melakukannya dengan wanita lain?” kesal Selena.


Hans tertawa pelan melihat kekesalan istrinya. Apa istrinya sudah mulai cemburu sekarang? Lucu juga jika istrinya kesal seperti ini.


“Hanya kau satu-satunya wanita milik Dederick Hans Georgino…”


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2