
.
.
.
Leo menggigit bibir bawahnya menahan sesuatu dibawah sana, ia harus tahan…istrinya sedang hamil muda sekarang. Dan *** akan membahayakan calon anaknya. Ia harus bisa menahan hasratnya. Tapi tidak bisa! Ia benar-benar tak bisa menahannya lagi!.
“Sayang…” bisik Leo sembari menghembuskan nafas ditelinga istrinya.
Selena yang sejak tadi belum tidur menggigit bibir bawahnya merasakan nafas panas suaminya. Sejujurnya ia malu, tapi ia juga menginginkannya!.
Selena membalik badannya dan langsung menindih tubuh suaminya. Leo terbelalak kaget mengetahui sejak tadi istrinya belum tidur. Dan…kenapa istrinya memakai pakaian tembus pandang begini?!!!!!!!.
“Kenapa?” tanya Selena sedang suara serak basahnya.
“Sa-sayang, ke-kenapa belum tidur? Da-dan…da-darimana ka-kau me-mendapatkan baju ini?” tanya Leo terbata-bata.
“Ini? Oh! Joe bilang ini baju tidur yang kau belikan untukku, jadi aku memakainya. Bagus tidak?”
“Joe sialn!!!!!”*
Leo menelan ludahnya sedang kasar ketika istrinya bergerak kecil diatas tubuhnya. Tuhan…cobaan apa lagi ini?.
“Come on Dear…no…” ucap Leo.
“Ayolah sayang, aku ingin…apa tidak bisa?” tanya Selena dengan tatapan sayunya.
“Kan sedang hamil muda, dan Daniel bilang tidak boleh. Jangan dulu ya…”
“Aku dan Ryu baik-baik saja…come on…” ucap Selena sembari mencium leher suaminya.
Leo mengepalkan tangannya, sekuat apapun ia menahan hasratnya. Itu akan runtuh dengan mudah jika istrinya menggodanya seperti ini.
Leo membalik posisi tubuh mereka dan langsung menindih tubuh kecil istrinya, ia mencium habis bibir mungil itu dengan salah satu kakinya berada diantara kaki istrinya.
“Hahh…besok pagi, kita check up ya. Aku tak mau kau dan Ryu kenapa-napa karena ini”
“Oh besok pagi? Memang setelah ini kita bisa bangun pagi?” tanya Selena sembari tertawa.
“Hmmmm…jika kita tidak bisa bangun pagi, kupindahkan rumah sakitnya kemari bagaimana?”
Tangan besar Leo masuk kedalam lingerie putih milik istrinya. Ia memberikan bekas kecupan yang begitu merah di leher erat bahu istrinya.
“Ahhhhh…jangan merah-merah, malu kalau ada yang lihat…” ucap Selena.
“Biar…kau kan milikku” ucap Leo sembari tersenyum. Apa karena sedang hamil istrinya menjadi rewel begini? Lucunya…
Leo dengan lembut membelai kaki jenjang indah istrinya, apa benar akan baik-baik saja jika ia melakukan ini? Ia takut anaknya terluka dan istrinya akan kesakitan karena itu.
“Sayang, aku benar-benar takut melakukan ini. Lebih baik aku menahannya, aku tak mau kau dan Ryu dalam bahaya”
“Aku baik-baik saja, come on…” bisik Selena tepat ditelinga suaminya.
Leo tersenyum dan menjilat telinga istrinya membuat suara ******* keluar dari mulut istrinya. Dengan perlahan, ia melucuti pakaian istrinya tanpa menyisahkan satu benangpun ditubuh putih itu.
__ADS_1
Leo menunduk, dengan lembut ia mengecup seluruh bagian tubuh istrinya. Ia mencium lama perut istrinya, ia tak sabar menanti kelahiran bayinya.
“Hah…Dear, I love You”
“Me too Dear…”
.
.
.
Selena menatap suaminya yang terlelap sembari memeluk tubuh telanjangnya. Ia membelai lembut wajah rupawan suaminya, ia memberikan beberapa kecupan di pipi serta bibir suaminya.
Ia turun dari tempat tidur, membuka lemari pakaian dan mengambil kemeja suaminya serta celana panjang yang dibelikan Leo untuknya kemarin.
“Maaf sayang, bukan aku tidak mempercayaimu. Tapi aku tau, kau punya beban lain. Jadi…biarkan aku menyelesaikan urusanku terlebih dulu” ucap Selena sembari menempelkan keningnya di dahi suaminya.
Selena mencium lama kening Leo, ia mengambil sebuah pisau yang berada di laci. Suaminya selalu menyimpan senjata di mana-mana demi keamanan.
“Aku pergi, Beautiful dream hubby…”
Selena keluar dari ruang istirahat itu meninggalkan suaminya yang terlelap karena obat tidur. Matanya menatap beberapa penjaga yang berada diluar ruangan, sepertinya lebih baik ia kabur melewati jalur rahasia.
Selena mencari sebuah buku yang berada di atas meja suaminya, ia menemukan buku yang berisi beberapa nomor untuk membuka ruang rahasia. Dengan lihai ia menekan nomor yang menjadi nomor ulang tahunnya, dan sesaat kemudian. Sebuah ruang rahasia yang berada di bawah meja terbuka. Selena segera masuk dan menutup ruang rahasia itu setelah mengambil kunci mobil milik suaminya. Biarlah nanti ia tertangkap polisi, nanti bisa kabur.
Selena masuk kedalam lift, saat sampai di lantai bawha tanah ia masuk kedalam mobil suaminya dan segera menyetir keluar. Semoga saja penjaga tidak menemukannya.
“Mama…aku berharap Mama tidak terluka, atau aku…akan membunuh semua orang yang berada disana”
Saat sampai di kastil Selena langsung masuk dan kehadirannya mengejutkan seluruh orang yang sedang dilanda kepanikan di kastil itu.
“Nona besar?!” semuanya seketika membungkuk hormat melihat Selena.
“Mama belum ditemukan?”
“Ma-masih belum Nona”
Selena mengeluarkan ponselnya. Ia menelfon Hans, ia akan mencoba bertanya apa kemauan dari pria itu.
“Siapa?”
“Ini aku Hans”
Semua pria-pria diruangan itu terkejut, bagaimana bisa Nona besar mereka menghubungi Hans?! Apa Nona besar mereka ingin memberitaukan rencana mereka kepada Hans?!.
“Selena? Ahhh…aku hampir tidak mengenali suaramu, kenapa?”
“Di mana Mamaku?”
“Apa kau berpikir aku akan memberitaumu?”
“Kau orang yang cerdas Hans, mana mungkin kau mau memberitauku”
“Itu kau tau”
__ADS_1
“Tapi…jika kau tidak ingin memberitauku. Aku akan mencarinya sendiri”
“Silahkan, meskipun jika kau bisa menemukan Mamamu. Kau harus bisa mengalahkan bodyguardku”
“Hmmmph…”
“Jangan membuang tenagamu, kembalilah bersamaku. Tinggalkan Leo, maka kulepaskan Mamamu”
Mendengar ucapan Hans Selena melemparkan pisaunya tepat mengenai lampu gantung diatas sana. Lampu gantung itu jatuh dan hancur berkeping-keping ke lantai. Wei menutup mulutnya, bagaimana bisa Nona besarya melakukan hal itu?.
“Suara apa itu Selena?!”
“Apa kau berpikir aku akan menyetujui ucapanmu? Perlu kau ketahui Hans, aku tau lokasi kau menyekap Mamaku masih ada di Negara ini. Dan perlu kau tau, suamiku sudah menutup semua akses keluar masuk melewati jalur apapun. Jadi, dalam kurun waktu 2 jam, aku berjanji…akan menemukan Mamaku dan membawanya kembali”
“Hmph, aku yakin kau akan kesulitan menemukan Mamamu”
“Bagaimana bisa kau menyimpulkan hal itu dengan singkat? Aku yakin, markas yang kau gunakan untuk menyekap Mama. Berada di antara barat dan utara dari posisimu sekarang”
“Kenapa kau bisa mengatakan hal itu?”
“Karena…itu, adalah wilayah yang belum bisa di jangkau dunia gelap milik Mama”
“…”
“Sepertinya benar, dan Hans. Kau tau? Bekas merah yang pernah kau tinggalkan dileherku sekarang muncul dengan jelas”
“Apa maksudmu hah?!”
“Bekas itu muncul, tapi bukan tanda milikmu. Tapi itu tanda kepemilikan dari Leo…kau…tersingkir, baguslah kini cintaku hanya milik Leo seorang. Sepenuhnya, perasaanku padamu tersingkirkan seiring berjalannya waktu”
“Jaga kata-katamu Selena!!!”
Tut…
Selena mematikan telfonnya dengan senyum sinisnya. Ia suka menjatuhkan mental seseorang dengan kata-kata. Ia tidak suka dipermainkan seperti ini, jika memang mengincarnya…maka jangan pernah melibatkan orang terdekatnya, karena ia sangat muak dengan itu.
“Kalian berpencarlah menjadi 2 bagian, satu ke barat dan satu ke selatan. Wei, ikut aku ke barat terlebih dulu”
“Baik!”
Wei mengambil pistol dan peluru cadangan sebelum pergi bersama dengan Nona besarnya.
Selena memberikan kunci mobil kepada Wei, mereka pergi sesuai dengan ucapan Selena. Selena memejamkan matanya, sudah pukul 1 malam. Seharusnya ia beristirahat, namun ia tidak bisa tenang karena memikirkan Mamanya.
1 jam kemudian>
Wei menghentikan mobilnya ditepi sungai melihat wajah merah padam Nona besarya. Tuhan…selamatkan nyawanya hari ini.
Selena keluar dari mobil dan berjalan ke tepi sungai.
“ARGHHHH!!!! Persetan kalian semua!!!!! Aku bersumpah akan menghukum kalian semua atas perbuatan kalian!!!! Ini sumpahku sebagai Jenderal muda Nara!!!!”
.
.
__ADS_1
.