
.
.
.
Hans meringkuk di tempat tidurnya sembari memeluk baju milik Selena yang masih berada di rumahnya. Ia menangis dalam diam, hancur ia rasakan setelah mengetahui anaknya sudah gugur karena perbuatan keluarganya.
“Maafkan Papa sayang…maafkan Papa…” ucap Hans melirih, ia tak punya tenaga sama sekali karena lelah menangis.
Tok tok tok…
Gerry mengetuk pintu kamar Tuan mudanya, setelah mendapat izin tangannya membuka pintu dengan perlahan lalu menutupnya kembali. Ia tersenyuh ngilu melihat Tuan mudanya sedang meringkuk ditempat tidur dengan kondisi ruangan yang berantakan.
“Tuan muda, semua kelengkapan suratnya sudah saya buatkan. Anda bisa menandatanganinya” ucap Gerry.
“Apa anda ingin menemui Nyo-, ehm maksud saya Nona Selena?”
“Aku tak punya keberanian menemuinya Gerry…minta Jansen yang kesana, aku akan kesana jika sudah siap” ucap Hans.
“…, baik Tuan muda”
Assistant Gerry membungkuk hormat dan keluar dari kamar megah itu lalu menatap Jansen, William, dan Peter yang berada di ruang tamu.
“Tuan Jansen, Tuan muda meminta anda memberikan ini kepada Nona Selena” ucap Gerry.
“A-apa?! Kenapa aku?! Kenapa tidak kau saja?!”
“Tuan muda yang meminta”
Jansen menerima berkas yang diberikan Gerry dengan perasaan campur aduk, apa Hans sudah gila memintanya untuk memberikan ini kepada Selena?!.
“Tuan muda juga menyusuh anda meminta maaf kepada Nona Selena”
“Apa?! Kenapa?!”
“Karena anda telah menampar Nona Selena hari itu”
Jansen mengepalkan tangannya, sial*n! Haruskah ia meminta maaf kepada wanita yang sudah membuat hidup Hans menderita?!.
“Aku tidak akan meminta maaf kepadanya Gerry!”
“Terserah anda”
“Ck!”
Jansen mengambil kunci mobilnya dan pergi dari kediaman Hans. Pria itu menyetir menuju perusahaan Iskandar, saat sudah sampai didepan perusahaan Iskandar ia langsung masuk dan menuju meja resepsionist.
“Ada yang bisa kami bantu?”
“Aku ingin bertemu dengan Tuan muda Iskandar”
“Maaf, Direktur sedang tidak berada di perusahaan. Nyonya muda dirawat di rumah sakit, beliau disana”
“Dia sakit?”
“Baiklah, terima kasih. Saya permisi”
Jansen pergi dari perusahaan itu dan menuju rumah sakit pusat, tidak bersama Hans tidak bersama Tuan muda Iskandar, Selena tetap sering keluar masuk rumah sakit. Wanita yang merepotkan!.
Saat sudah sampai dirumah sakit pusat Jansen langsung masuk dan bertanya kepada bagian administrasi tentang di mana kamar Selena.
__ADS_1
“Kamar Nyonya Iskandar berada di lantai 22, ruangan VVIP khusus didepan ruangan Direktur”
Jansen menganggukkan kepalanya dan masuk kedalam lift.
Lift terbuka, Jansen keluar dari lift dan seketika tertegun melihat bodyguard yang berjaga sepanjang lorong. Benar kata Peter, dalam segi manapun…Hans kalah jauh dengan Tuan muda Iskandar dalam memperlakukan wanitanya.
“Maaf, ada keperluan apa anda kemari?”
“Aku ingin bertemu dengan Selena”
“Anda sudah mendapat persetujuan dari Tuan muda?”
“Hah? Apa? Persetujuan? Persetujuan apa?” bingung Jansen.
“Tanpa izin, tidak boleh masuk”
“Aku hanya ingin memberikan berkas ini kepada Selena, Hans yang memintaku kemari”
Para bodyguard seketika saling memandang. Jenderal Asahi berjalan mendekati Jansen dan menatap pria itu lekat-lekat. Bukankah dia bawahan keluarga Georgino?.
“Periksa dia, aku akan memberitau Tuan”
“Siap laksanakan”
Jansen tercengang mendapati beberapa bodyguard mengeledah tubuhnya dan menyita pistol serta ponsel miliknya. Keamanan yang gila! Ia hanya ingin memberikan berkas perjanjian damai ini kepada Selena tapi kenapa ia merasa seperti buronan?!.
“Berikan kepadaku, Nona besar belum bangun. Aku akan memberikannya saat beliau bangun nanti”
“Aku butuh tanda tangannya sekarang” kesal Jansen, apa susahnya sih membangunkan Selena sebentar untuk menandatangani hal ini?! Ia juga tidak ingin berlama-lama disini.
Lewis keluar dari ruangan keponakannya membuat seluruh orang yang berada di lantai itu membungkuk bahkan Jansen sekalipun.
“Apa kau tidak mengerti bahasa manusia? Jika kubilang berikan berkasnya kepada Asahi maka berikan”
“Jangan membuat keributan, para Jenderal muda berada didalam ruangan. Jika anda ingin membuat keributan, silahkan pergi” ucap Micle yang baru saja keluar dari lift.
“Kau siapa berani memerintahku?” tanya Jansen.
“Assistant pribadi Nona besar, berikan itu kepadaku. Jika Nona besar sudah stabil aku akan memberikan itu kepadanya”
“Kapan dia akan sadar?”
“Jangan banyak bicara, berikan itu kepadaku. Jika bukan karena Tuanmu, mana mungkin Nonaku seperti ini” sinis Micle.
“Apa maksudmu hah?!”
“Kau kemari disaat keponakanku belum bangun, anggap itu pertolongan dari tuhan untukmu. Kau lolos dari kematianmu, sekarang berikan dan cepat pergi dari hadapanku karena aku mulai muak melihat wajahmu” ucap Lewis membuat Jansen mau tidak mau memberikan berkas itu kepada Micle dan segera pergi dari lantai itu.
Lewis masuk kedalam ruangan Selena bersama dengan Micle, ia duduk bersandar disofa. Banyak hal yang ia lewatkan saat tidak ada disamping keponakannya.
“Hah, baru keluar dari penjara…kalau sampai membuat masalah lagi. Bisa-bisa Hendrick masuk rumah sakit jiwa”
“Ha? Siapa yang dipenjara?” tanya Lewis mengerutkan keningnya membuat Deon langsung menginjak kaki Louis.
“Selena, memang lagi?” tanya Liekai.
“HA?! Selena pernah dipenjara?!” tanya Lewis terkejut, kenapa tidak ada yang memberitaunya hal ini sama sekali?!.
“Masalah apa sampai keponakanku masuk jeruji besi?” tanya Lonza heran. Apa yang sudah dilakukan keponakannya sampai masuk kedalam penjara?.
“Membunuh 83 pria dewasa, semuanya bawahan keluarga Georgino. Keluaga Georgino membawa kasus itu kemeja hijau, dan alhasil…Selena dipenjara tapi dibebaskan dengan syarat”
__ADS_1
“Hahahahaha!! Dia memang keturunan keluarga Alexandra! Itulah keponakan kesayanganku!” ucap Lewis sembari tertawa senang. Keponakannya dipenjara? Itu berarti Selena sudah lulus secara resmi menjadi pewaris keluarga Alexandra. Tapi…kenapa keponakannya bisa dipenjara hanya karena kasus seperti itu?.
“Gila! Keponakan kandung dipenjara malah senang” cibir Deon.
“Hei! Kalau tidak dipenjara bukan anggota keluarga Alexandra namanya! Kita semua pernah dipenjara Okey? Bahkan Jeff saja menjadi pelanggan VVIP kepolisian” jawab Lonza.
Jeff yang merasa tersindir langsung berdecap kesal mendengar ucapan adiknya. Bisa-bisanya adiknya mengejeknya menggunakan hal itu. Apa salahnya menjadi pelanggan VVIP kepolisian? Kan lumayan ia kenal beberapa interpol karena itu. Dan juga bukankah keponakannya juga menjadi pelanggan VVIP rumah sakit?!.
Deon hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah kedua adiknya, memang benar…semua anggota keluarga Alexandra pernah dipenjara dengan kasus yang sama yaitu ‘pembunuhan massal’.
“Sejak kematian kak Ruvelis semuanya menjadi kacau balau, banyak pengkhianat kemiliteran jika ini terus terjadi bisa-bisa kamp hancur total. Belum lagi keluarga sama sekali tidak mau mempublikasikan Selena” ucap Thomas.
“Belum waktunya untuk mempublikasikan Selena sebagai pewaris, gelar Jenderal mudanya saja hanya sedikit orang yang tau. kupikir mungkin alasan Papa masih menyembunyikan Selena sampai saat ini. Dia bahkan belum menghapus marga Leonardo dari namanya. Dan semoga Papa bisa segera mengaktifkan Selena agar dia bisa menangani masalah kemiliteran”
“Hahhhh kau benar…tunggu keadaan kamp lebih stabil, saat ini bukanlah waktu yang tepat mempublikasikan Selena. Lagipula Selena juga belum tentu mau menyetujuinya”
Daniel dan Joe membersihkan tangan mereka yang berlumuran darah dan menatap belasan orang yang mati dengan cara mengenaskan. Senyum sinis terukir dibibir Daniel, ia mengambil beberapa foto untuk ditunjnukan kepada Selena. Gadis itu pasti senang melihat foto ini nanti.
“Bagaimana kondisi Selena?”
“Dia baik-baik saja, untung ada Jenderal muda Lonza saat dia bangun. Jadi dia bisa tenang saat aku dan Leo tidak ada disana”
“Leo tidak ada disana?”
“Dia ikut Jenderal besar, tidak tau kemana”
Joe menatap mayat-mayat yang berserakan. Hari ini tumben Daniel bergairah untuk membunuh, bisanya Daniel mau membunuh maksimal 2 orang. Tapi kali ini kakaknya membunuh 18 dari 19 orang yang mereka sekap. Ia hanya disisahkan satu…itupun sudah pingsan…
“Kenapa Tuan Chu tidak sekalian kau tangkap saja tadi?”
“Kalau aku membunuhnya sekarang, bisa-bisa Selena marah kepadaku” jawab Daniel sembari tertawa.
“Hahh…Selena seorang Ibu hamil, tapi bisa-bisanya masih bisa selincah itu”
“Heh, memang dia seperti dirimu yang kaki keseleo saja tidak berbuat apa-apa selama 1 bulan?!”
“Hei!! Kenapa kau membahas itu lagi?!”
“Memang benar kan?! Pakai alasan keseleo agar tidak kekampus! Bagaimana mau pintar seperti Selena jika sering absen?!”
“Kau itu mengejekku atau bagaimana!?” kesal Joe.
“Memang kan?! Keseleo saja seperti lumpuh, entah apa yang Bibi makan selama mengandungmu sampai kau aneh seperti itu”
“Baja! Puas?!”
“Pantas! Sudahlah! Aku mau kerumah sakit! Kau pulang naik taxi!”
“Apa?! Hei! Itu mobilku! Kenapa aku yang pulang naik taxi?!”
“Kau beli mobil pakai uang siapa mengaku itu mobilmu?!”
“…” Joe tak mampu berkata-kata lagi jika Daniel membahas mengenai ini.
Daniel mengambil kunci mobil dan pergi begitu saja meninggalkan Joe ditempat itu bersama dengan beberapa Mafia. Para Mafia menahan tawnaya melihat adu mulut antara Tuan dan Nona mereka. Nona muda mereka ini keras kepala sekali, sudah tau tidak mungkin bisa menang masih saja berdebat dengan Tuan mudanya.
“Boss kalian benar-benar menjengkelkan”
.
__ADS_1
.
.