
.
.
.
“Maafkan kelalaian kami Nyonya muda!!”
Selena berlari menghampiri putrinya lalu menggendongnya, ia menatap hidung mungil putrinya yang berdarah. Anak itu!!!!.
“Kau!!!!!”
“A-anakku tidak sengaja! Dia hanya seorang anak kecil! Apa yang mau kau lakukan?!”
“Mama…sakit…” cicit Leona.
Seolah-olah tuli, Selena tak mendengarkan cicitan sang putri sama sekali. Kedua mata itu masih menatap tajam Mona serta Arkan. Lebih baik dibunuh!.
“Jika terbukti anak itu bukan anak suamiku! Segera eksekusi mati dia!”
“Apa maksudmu hah?! Putraku hanya tak sengaja menyenggolnya! Dan kau mau menjatuhkan hukuman mati hanya karena itu?! Apa kau tak punya hati hingga ingin membunuh anak kecil yang notabenenya adalah saudara tiri dari anakmu?!”
“Anakku adalah anakku…sejak dia bayi, terluka sedikit saja pun dia tak pernah dan hari ini putramu membuatnya terluka” ujar Selena sembari menuruni anak tangga, kini ia tau perasaan Papanya ketika melihatnya terluka atau jatuh sakit.
“Mama…”
“Jadi sekarang…lebih baik siapkan pemakaman untuk anakmu dan dirimu”
“Kau!! Bagaimana bisa kau sekejam ini hah?! Apa kau tidak pernah punya rasa belas kasihan sedikit saja?! Putrimu hanya terluka sedikit saja! Dia tidak mati ataupun koma!”
“Apakah aku harus menunggu samapi hal itu terjadi baru aku bisa membunuh anak harammu itu? Apa kau benar benar ingin anakku mati?”
“Jika bisa ya!! Aku ingin dia mati dan juga anak-anakmu yang lain mati! Dengan begitu putraku lah yang akan dianggap sebagai pewaris keluarga Iskandar! 5 tahun aku menyembunyikannya dengan usah payah! Aku harus menerima imbalan karena hal itu!”
“Lalu kenapa kau tidak bunuh anakmu saja jika kau tak mau repot menyembunyikannya?” tanya Selena.
“Kau!!! Bagaimana bisa Leonardo menjadikan seorang wanita yang tak punya rasa belas kasihan sebagai istri?! Sekarang aku tau kenapa Leonardo selalu mengatakan bahwa tunangannya tak hanya miskin tapi juga punya tabiat yang buruk! Dan sekarang aku yakin! Leonardo pasti hanya menggapmu sebagai budak *** atau alat pembuat keturunan saja! Mengingat kau!! Bukanlah wanita yang punya hati nurani!!”
“Kau bilang apa?”
“Kenapa?! Kau ingin aku mengulagi perkataanku lagi?!” bentak Mona dengan dada yang naik turun.
“Bawa Leona ke kastilku terlebih dulu, minta dokter datang memeriksa”
“N-nyonya…”
“Bawa dia pergi, atau kalian juga ikut kubunuh disini”
Salah seorang bodyguard langsung mengambil Leona dari gendongan Selena dan membawanya pergi. Selena melepaskan jasnya dan diletakannya di sofa.
“Ma-mau apa kau?” tanya Mona gemetar, ia menyembunyikan Arkan di balik tubuhnya.
“Membunuhmu, ada pesan terakhir?”
“A-adik ipar, re-redakan amarahmu”
Tanpa banyak bicara tangan Selena langsung mencengkram rambut Mona dan menariknya dengan kuat. Mona mengerang kesakitan sembari memegang tangan Selena.
“Mama!”
“Di tangga yang begitu luas, haruskan anakmu berlari hingga menyenggol tubuh putriku? Seandainya tadi, Leon yang jatuh…kubunuh anakmu disini” geram Selena.
“Lepaskan aku sial*n!!”
“Lepaskan Mamaku! Dasar wanita jahat!” ucap Arkan memukuli tangan Selena. Dengan dengan ekspresi dinginnya langsung menghempaskan tangannya membuat Arkan jatuh terduduk.
“Siapa kau hingga berani menyentuhku? Apa kau tak pernah diajari etika oleh ibumu?”
“Kau berbicara tentang etika?! Lalu di mana etikamu sekarang hah?! Aku akui anakku memang bersalah! Tapi haruskan kau memperlakukan kami seperti ini?!”
“Anakmu bersalah, lalu kenapa dia tidak minta maaf malah langsung bersembunyi?”
Selena melemparkan kepala Mona hingga kepala wanita itu membentur sudut meja, Selena mendecih karena lagi-lagi amarahnya surut begitu saja karena panggilan telfon. Siapa yang kurang ajar menelfonnya disaat yang seperti ini?!.
Drttttt drtttt…
“APA?!”
“Hih, galak sekali. Aku hanya ingin memberitau jika rekaman yang kau inginkan sudah ada”
“Tunjukan”
Selena mematikan telfonnya dan melihat satu persatu rekaman yang dikirimkan rekannya itu, setelah beberapa saat mata Selena membulat, tubuhnya langsung terpaku di tempatnya manatap tak percaya layar ponselnya. 5 tahun lalu, suaminya pergi ke hotel dengan wanita ini?. Ya tuhan…sakit…
“Apa sekarang kau masih tidak percaya?!” geram mona sembari memeganggi keningnya yang berdarah.
“Persetan!!!”
Selena membanting ponselnya hingga benda pipih itu hancur berkeping-keping, dadanya naik turun dengan nafas yang tidak stabil.
“Aa-adik ipar”
“Menantu…”
“Bawa semua tahanan!! Bawa mereka ke kastil!!”
“Ba-baik!”
************
Brakkkkkkk!!!
Selena menendang pintu kastilnya dengan keras dan langsung berjalan menaiki tangga membuat tak seorangpun penjaga yang ada disana berani membuka mulutnya hanya untuk sekedar bertanya.
“Mama! Mama sudah pulang?” Leona dengan kaki pendeknya mencoba mengikuti langkah sang Mama menaiki anak tangga.
“Pergilah!”
“Nona kecil” panggil Rafindra.
“Pergilah Leona!! Aku sedang tak mau melihatmu!!”
“Mama, aku salah apa…? Aku minta maaf jika membuat Mama marah” Leona tetap mengikuti langkah Selena, namun karena tak hati-hati kakinya salah menginjak membuat tubuhnya kembali terjatuh.
“Nona kecil” Rafindra datang menghampiri dan menggendong Leona, tangis Leona langsung pecah…namun tangisannya tak membuat sang Mama menoleh sedikitpun kebelakang.
Rafindra menatap sendu punggung Nonanya yang sudah menghilang, sepertinya ia tau jawaban dari pertanyaan apa yang membuat Nonanya seperti ini. Sepertinya, ia harus menyiapkan diri menerima amarah dari Nonanya.
“Huwaaaa Mama…Mama!!!”
“Dokter!”
.
.
.
Daniel menghembuskan nafasnya mendengar cerita Selena, haihhhhhh…kedatangan wanita itu benar-benar masalah besar. Yang kemarin Bellina, lalu mantan tunangannya, sekarang datang lagi wanita yang mengaku punya anak dari Leo. Sebenarnya Selena salah apa sampai masalah tak kunjung berhenti mengusik kehidupannya?!.
__ADS_1
“Nanti aku ada urusan, kau temani Ryu”
“Kau tidak ikut?”
“Kau tidak dengar tadi?”
“Iya iya iya, oh ya…seandainya anak itu memang benar anak Leo…apa yang akan kau lakukan?”
“Membunuhnya sebelum keluarga Alexandra tau”
Daniel mengerutkan keningnya, Selena bisa setega itu? Bisakah Selena membunuh anak kecil? Itu sedikit mengejutkan meskipun Selena memang ahli dalam membunuh. Tapi sebaiknya ia yang membunuh anak itu daripada Selena.
“Hubungan keluarga Alexandra dan Iskandar yang sudah terjalin selama puluhan tahun lamanya tak mungkin aku tega melihat kedua keluarga itu berperang hanya karena anak haram. Meskipun tuhan akan marah kepadaku aku tak peduli”
“Kau juga punya anak kecil Selena, bagaimana jika sampai anak-anak tau ini?”
“Aku tidak peduli, toh mereka juga akan mengerti nanti”
“Jika mereka membencimu?”
“Aku tak perah membutuhkan orang yang membenciku”
Ucapan sarkas Selena langsung membuat Daniel terdiam bungkam, sudah 3 tahun berlalu…apa Selena masih belum sepenuhnya terbuka kepada anak-anaknya?. Tapi mungkin ia akan bersikap sama jika berada diposisi Selena, membesarkan anak-anak sendiri tanpa didampingi pasangan hidup dan anak-anaknya begitu mirip dengan sang pemilik hati.
“Sudah berakhir, ayo pergi” ajak Selena.
“Mau mampir ke tempat lain dulu?”
“Hm, beli makanan untuk anak-anak. Kemarin Leona bilang ingin makan seafood”
“Baiklah”
Daniel membuka pintu dan mempersilahkan Selena masuk lalu pergi dari tempat itu. ditengah kefokusannya menyetir mata Daniel diam-diam melirik kearah Selena yang hanya diam dengan tatapan dinginnya. Semua orang yang berada disekitar Selena pasti merasakan perubahan besar ini, sosok yang dulu begitu ceria, ramah, pemalu dan penuh dengan kehangatan kini berubah menjadi gunung es tidak ada senyuman lagi diwajah cantik itu. Tapi entah kenapa, ia menyukai sosok ini…sosok yang begitu dingin dan ambisius.
“Jangan melamun” ucap Daniel sembari mencubit pipi Selena.
“Aw! Apa sih Daniel?!”
“Jangan melamun, kerasukan kau nanti”
“Hish! Kau itu menyetir saja! Jangan mengangguku!”
“Tapi aku ingin menganggumu” jawab Daniel sembari mengacak rambut Selena.
Selena mencubit punggung tangan Daniel dengan kesal membuat pria itu langsung mengibaskan tangannya karena sakit. Ia sedang bad mood malah diganggu.
“Kau ini ya!”
“Apa?! Mau lagi?!”
************
Daniel tersenyum lembut melihat putra keduanya yan tengah terlelap setelah seleai melakukan cuci darah, Ryu adalah anak yang kuat…ia yakin dia bisa bertahan. Ia benar-benar berharap semoga salah satu bawahannya bisa mkendapatkan ginjal yang cocok sesegera mungkin, jika tidak…ia yang akan mencarinya sendiri.
“Cepat sembuh ya sayang…”
“Kali ini Ryu benar-benar patuh, biasanya dia akan rewel dulu sebelum cuci darah” ucap Bei yang tiba-tiba masuk kedalam ruangan.
“Dia hanya anak berusia 3 tahun Bei…” jawab Daniel sembari membelai kepala Ryu dengan lembut.
Bei hanya tersenyum dan memberikan rekam medis milik Ryu serta Leon dan Leona. Daniel menerima itu dan membacanya, syukurlah…diantara ketiga anaknya hanya Ryu yang sakit…ia bisa lega jika kondisi Leon dan Leona baik-baik saja, cukup Ryu yang membuat Selena kuwalahan.
“Oh ya, di mana Selena? Tumben tidak temani Ryu”
“Sedang ada urusan diluar, kenapa?”
“Tidak, aku senang kau kembali”
“Yah, Selena sepertinya jauh lebih baik ketika kau kembali”
“Tidak mungkin, jangan membual”
Bei terkekeh pelan mendengar jawaban cepat Daniel, apa Daniel tidak menyadarinya? 3 tahun ini ia yang merawat Selena dan ketiga anak-anaknya.
“Oh ya, kemarin rumah sakit mendapatkan kode Zero. Ada apa? Aku juga dengar dari dokter lain jika Rafindra memberintahkan untuk melakukan tes DNA, jangan-jangan Selena curiga ya jika Leon dan Leona anakmu?”
“Matamu!”
“Lalu?”
“Nanti juga kau akan tau sendiri, di mana kembar?”
“Ada didepan, kenapa?”
“Aku akan mengajak mereka makan
siang”
“Oh baiklah, biar Ryu aku yang jaga”
“Hn”
Daniel keluar dari ruangan Ryu dan langsung disambut dengan keberadaan Leon dan Leona. Dan tersenyum dan berjongkok dihadapan anak kembar itu.
“Bagaimana keadaan Ryu?”
“Adik kalian baik-baik saja, kalian tak perlu khawatir”
“Baguslah, kali ini dia tidak membuat kami turun tangan”
“Sayang, bagaimana kepalamu? Masih sakit?”
“Tidak” jawab Leona.
“Ayo ikut Paman, biar Paman mengganti perbanmu”
“Tidak perlu”
“Sana ganti dulu perbanmu! Patuh sehari kenapa sih?!” semprot Leon.
“Dih mengatur”
“Baiklah jika Leon tak mau ganti perban sekarang, sekarang ayo ikut Paman…kita makan siang di restaurant depan”
Daniel menggandeng tangan Leon sedangkan Leon menggandeng tangan Leona untuk pergi bersama, Leona yang hendak memberontak tak mau ikut langsung patuh ketika Leon menatapnya dengan dingin.
“Kau tidak patuh, kuadukan Mama tentang hasil hari ini” bisik Leon.
“Jangan…”
“Makannya patuh”
“Iya…”
Daniel menatap bingung wajah Leona yang sepertinya sedang tertekan, apa yang baru saja dibisikan Leon kepada adiknya hingga membuat wajah adiknya seperti itu?.
Drttttt drtttttt…
Daniel mengambil ponselnya yang berdering di saku celana, kenapa Alex menelfonnya?.
__ADS_1
“Ya Alex?”
“Dasar sialn!! Apa yang kau lakukan hah?! Kenapa Selena sampai membuat kode Zero disemua rumah sakit?!”*
“Apa? Kenapa kau menyalahkanku?”
“Kau sedang bersama Selena kan?! Pastinya kaulah yang membuatnya kacau”
“Bukan aku sial*n! Ini semua karena jal-” ucap Daniel terhenti karena sadar jika Leon dan Leona berada di sampingnya.
“Karena jal apa ? Jalangkung?!”
“Nanti kuceritakan! Aku akan mengajak anak-anak makan siang dulu! Bye!”
Tut…
“?”
“Kalian berdua mau makan apa?”
“Kau mau kebab Leona?” tawar Leon.
“Hm”
“Kebab sosis Paman?”
“Kalian tidak mau kebab daging?”
“Leona tidak suka daging”
“Baiklah”
Drtttttt drttttttt…
Daniel menatap ponselnya yang berdering, Selena? Kenapa Selena menelfonnya? Apakah ada masalah?.
“Ya Selena?”
“…”
“Apa?!”
“…”
“Baiklah, aku akan menghubungi Sekretarisku sekarang juga”
“Terima kasih”
“Aku tidak suka kau berterima kasih dengan ucapan saja”
“Lalu kau mau apa?”
“Ayo menikah, besok”
“GILA KAU!”
Tuttt…
Daniel tertawa kecil melihat telfon yang dimatikan begitu saja.
“Paman” panggil Leon.
“Ya?”
“Ada apa dengan Mama? Mama di mana?”
“Emmm…Mama sedang bekerja, kenapa?”
“Tidak, aku hanya penasaran kenapa Mama mengatai Paman gila”
“Sudah jangan dipikirkan, ayo kita makan”
**************
Selena membanting apa saja yang dihadapannya membuat Wei, Rafindra dan juga Bei tak berani bergerak dari tempat mereka berdiri sekarang. Selena menjambak rambutnya dengan frustasi, sial*n! Ia benar-benar akan gila jika terus seperti ini! bagaimana bisa mencari data seorang anak kecil saja butuh waktu selama ini?!.
“Sampai hasilnya tidak keluar dalam 5 menit…kau akan tau konsekuensinya Bei…” geram Selena.
“Nona, data sedang dalam proses pencarian. Data anak itu disembunyikan oleh seseorang, saya akan segera mendapatkan hasilnya” ucap Wei.
“Semakin cepat, semakin aman nyawamu”
Glek…
Selena menyibakan rambutnya kebelakang, hahahaha…hanya karena seorang wanita dan anak kecil yang tidak jelas asal usulnya mampu membuatnya seperti ini hingga mengeluarkan begitu banyak uang dna tangan kanan, jika sampai ia tidak mendapatkan hasil yang memuaskan…ia tak bisa menahan keluarga Alexandra jika ingin menghancurkan keluarga Iskandar.
“Nona!! Saya sudah mendapatkan data dirinya!” seorang pria berlari masuk dengan nafas yang tersengal-sengal.
Selena mengambil berkas itu dengan cepat dan membacanya, Arkana Zolaya Mona Iskandar?! Beraninya wanita itu memakaikan marga Iskandar kepada anak yang belum jelas asal-usulnya itu! Lagipula dia hanya seorang anak haram! Beraninya dia…
“Kapan hasil tes DNAnya akan keluar?”
“Paling cepat malam ini Nona, kita juga harus menunggu hasil dari rumah sakit pusat dan rumah sakit lainnya apakah sama atau tidak”
“Sampai anak itu bukan anak Leo…habisi”
“Baik!”
Drtttttt drtttttt…
Rafindra menunjukan ponselnya yang berdering kepada Selena dengan tangan yang gemetar, Selena mengerutkan keningnya melihat tangan Rafindra yang gemetar. Siapa yang menelfon hingga Rafindra gemetaran seperti itu?.
“Opa?!” Selena membulatkan matanya ketika melihat nama ‘Tuan besar’ di ponsel Rafindra. Sial*n, apa kabar ini sudah sampai ditelinga Opanya?!.
“Y-ya Opa?”
“Nara, katakan Opa…mau dengan cara apa Opa meratakan keluarga Iskandar?
Glek…
“O-opa…”
“Hari ini juga, datanglah ke keluarga Iskandar…Opa menunggumu disana”
Tut….
Pyarrrrrrrrr
Selena membanting ponsel Rafindra hingga hancur berkeping-keping, sial*n! Siapa yang memberitau Opanya masalah ini?!. Selena menyambar jas hitamnya dan langsung pergi dari tempat gelap itu, tak lupa ia menghubungi Daniel agar segera menyusul ke mansion.
“Siapkan helicopter! Terbang ke kediaman Iskandar!”
“Siap laksanakan!”
***************
.
.
__ADS_1
.