
.
.
.
Jennifer, Leo, dan Joe membersihkan darah yang ada tangan mereka dan menatap dingin mayat-mayat yang berlumuran darah. Joe mengambil air dan meneguknya sedangkan Jennifer meraih ponselnya dan menelfon Yeni.
“Siapa?!” ~ Yeni.
“Ini aku Yeni…jangan bilang kau sudah lupa denganku”
“Kau?! Jenssica! Apa maumu hah?!” ~ Yeni.
“Aku tak ingin apa-apa…aku hanya ingin bermain denganmu”
*“Apa maksudmu sial**n?!” ~ Yeni.
“Aku yakin kau orang yang berpendidikan. Kau pasti tau apa arti dari kata-kataku”
“Sial*n!!” ~ Yeni.
“Nyonya! Beberapa bodyguard kita hilang!” ~ Bodyguard.
“Apa?! Bagaimana bisa?!” ~ Yeni.
“Aku membunuh mereka Yeni…jangan khawatir…mereka sudah berada dialam baka sekarang”
“Kau! aku akan melaporkanmu kepolisi! Aku akan membuatmu mendekam dipenjara!” ~ Yeni.
“Hahahaha!!! Apa kau bercanda denganku?!! Yeni…jangankan polisi, bahkan presiden tak akan berani menyentuhku”
“Kau!! Dasar pela*ur sial*n!” ~ Yeni.
“Hahahaha, nikmati hari-harimu Yeni…selama kau berani mengusik putriku. Jangan harap kau bisa hidup tenang”
Tut…
Jennifer mematikan telfonnya sepihak dan tersenyum sinis. Yeni sudah berani mengusik putrinya, membuat calon cucunya gugur. Ia tak akan mengampuni Yeni, tak akan pernah sekalipun Yeni berlutut dan mencium kakinya. Ia tak akan mengampuni wanita yang sudah menghancurkan keluarganya hingga hancur berkeping-keping.
“Ck, aku heran kenapa Selena bisa menjadi putrimu”
“Hmph, putriku sangat mirip dengan mendiang kakak ipar. Bentuk wajah, rambut, bola mata, hingga warna kulit sangat mirip dengannya. Bahkan kakakku terkadang heran, kenapa putrinya bisa semirip itu dengan suaminya”
“Baguslah jika Selena tidak menurun sifatmu” cibir Joe.
Ctakkkk!!
Jennifer memukul kepala Joe dengan kesal. Ia heran,bagaimana putrinya bisa berteman dengan gadis gila seperti ini. Beruntung saja Daniel tidak seperti gadis ini.
“Namun, seandainya Selena memiliki sifat tegas seperti Mama. Maka keluarga Georgino akan tunduk didepannya” ucap Leo membersihkan pedangnya.
“Maksudmu”
__ADS_1
“Mama memiliki sifat yang tegas, mandiri, dan melawan apa yang seharusnya dilawan. Sangat berbeda dengan Papa yang memiliki sifat lemah lembut, pendiam, serta penyabar. Beliau hanya diam ketika ditindas, namun sekarang beliau menjadi salah satu orang yang berjasa diberbagai Negara” jelas Leo sembari tersenyum.
Ia menyukai Selena sejak kecil, bukan karena wajahnya yang rupawan melainkan dengan sifat yang dimiliki Selena yang tak pernah dendam kepada orang yang sudah menyakitinya.
“Pa…ma…mulai sekarang, aku akan menjaga harta warisan kalian dengan baik…aku bersumpah…” batin Leo.
“Kakak…kakak ipar…maafkan aku, tapi jika aku tidak seperti ini. Maka selamanya keluarga kita akan diinjak-injak…sekalilagi, maafkan aku” batin Jennifer.
“Aku berterima kasih kepada kalian yang sudah melahirkan gadis seperti Selena…” batin Joe tersenyum menatap bulan yang memancarkan sinarnya.
.
.
.
Flashback On!
Disebuah rumah sakit mewah, tampak seorang wanita cantik dengan berkas ditangan kanannya. Wanita itu bernama Jenssica, seorang dokter muda yang cantik nan berbakat.
Seorang pemuda masuk kedalam ruangan wanita itu, mengantarkan sebuah susu hangat. Wanita itu tersenyum dan meminum susunya.
“Kakak, apa menjadi dokter itu menyenangkan?” tanyanya.
“Tergantung Micle, tergantung kau mau menekuninya atau tidak” jawab wanita itu sembari tersenyum.
Pemuda itu tersenyum sembari menganggukkan kepalanya. Ia berjanji, setelah ia lulus sekolah.ia akan berkuliah dengan sungguh-sungguh agar bisa menjadi seorang dokter.
“Kakak, nanti kalau aku sudah lulus. Aku masih boleh bekerja dengan kakak?”
“Lanjutkan pendidikanmu dulu Micle, aku tak ingin pendidikanmu terhambat. Jangan buang-buang uang yang kukeluarkan untukmu”
“Huh! Kakak dan kakak ipar sama saja!”
Jenssica hanya bisa tersenyum tipis melihat kekesalan Micle. Ia melirik jam tangannya, sudah waktunya pulang. Ia harus segera pulang, suaminya juga akan pulang sebentar lagi.
“Micle, aku akan pulang. Kau bisa pulang juga sekarang”
“Okey!”
Jenssica memakai jaz dokternya dan keluar dari ruangan. Ia tersenyum melihat sang pujaan hati tengah menunggunya didepan rumah sakit. Tak biasanya suaminya menjemputnya seperti ini.
“Sayang…kenapa pulangnya lebih cepat? Aku belum menyiapkan makanan untukmu”
“Hari ini, biar aku yang memasak. Ayo pulang, kau tidak boleh kelelahan”
Jenssica menganggukkan kepalanya dan tersenyum, ia masuk kedalam mobil bersama suaminya.
Mobil itu berhenti disebuah rumah minimalis sederhana, kedua pasangan itu masuk kedalam disambut oleh suara keras dari Jennifer yang kelaparan meminta makan.
“Aduh…kau itu, sudah besar kenapa tidak bisa masak?”
“Aku bisa masak! Hanya saja masakan kakak ku terasa jauh lebih enak”
__ADS_1
“Modus!”
“Sayang, aku akan memasak dulu. Mandilah…” ucap sang pria.
“Tidak, biar aku yang masak. Kau lelah, jangan menyakiti dirimu sendiri”
“Justru kau yang harus istirahat dan tidak boleh kelelahan, ingat kata dokter kandungan”
“Hemmm”
Jenssica masuk kedalam kamarnya untuk membersihkan diri sedangkan sang pujaan hati langsung menuju dapur untuk memasak makanan.
Setelah selesai memasak, pria itu menjemput istrinya kedalam kamar. Jenssica yang baru saja selesai ganti baju langsung memeluk suaminya dengan erat.
“Terima kasih…terima kasih sudah mau menemaniku selama ini”
“Kau bicara apa, kau istriku. Aku mencintaimu Okey…”
Pria itu menggendong istrinya turun kemeja makan, Jennifer yang melihat pemandangan itu memilih untuk pergi. Tak seharusnya ia datang kemari tadi.
“Loh, Jennifer mau kemana?”
“Tidak tau”
Jenssica duduk dan menyantap makanan yang dibuat oleh suaminya. Disela-sela makannya ia mengecup pipi suaminya sembari mengucapkan terima kasih.
Ruvelis, pria itu tersenyum dan berdiri dari tempat duduknya lalu berlutut didepan istrinya. Ia meletakkan kepalanya dipangkuan sang istri sembari memberikan kecupan diperut rata sang istri.
“Segeralah tumbuh disana sayang…Papa dan Mama akan menunggu kehadiranmu”
Jenssica menteskan air matanya, sudah 5 tahun…5 tahun lamanya ia menikah dengan Ruvelis dan belum diberi kesempatan untuk mengandung. Ia sangat beruntung mendapatkan suami sebaik dan seperhatian Ruvelis.
“Aku takut mengecewakan Mama dan Papa lagi…” lirih Jenssica.
Ruvelis tersenyum dan menghapus air mata istrinya. Ia memberikan kecupan di wajah istrinya.
“Kita harus tetap berusaha dan berpikiran positive, aku yakin…dia akan segera datang dalam pernikahan kita sayang. Aku yakin itu. Jangan sedih, Mama dan Papa sangat menyayangimu. Mereka pasti bisa menunggu”
Jenssica memeluk erat suaminya. Ia benar-benar beruntung mendapatkan pria seperti ini dalam hidupnya, seorang pria yang tak pernah bisa dan rela melihatnya terluka. Seorang pria yang bertanggung jawab atas keluarga, ia benar-benar beruntung mendapatkan pria seperti ini.
.
.
.
Next Chapter Thor liatin visual Nyonya Jasson, Nyonya Georgino, ( Nyonya Alexandra )
( Kalo dapet sih...)
__ADS_1