
.
.
.
Hans menatap sendu istrinya yang lagi-lagi harus dirawat untuk beberapa hari karena pendarahan lagi. Baru kemarin istrinya bisa keluar dari rumah sakit dan sekarang kembali masuk kerumah sakit dengan kondisi yang sama.
Hans menggenggam tangan istrinya erat. Ia mencium punggung tangan putih itu. Micle yang baru masuk keruangan Selena hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan kasar.
“Istrimu lagi-lagi mengalami pendarahan uterus abnormal karena stress. Seharusnya kau bisa membantunya agar tidak terlalu stress. Tapi untung saja kali ini pendarahannya tidak separah sebelumnya. Lain kali, bantu istrimu mengontrol emosinya”
“Hm”
“Boleh aku tanya sesuatu?” Ujar Micle ditengah keheninggan yang ada.
“Apa?”
“Kalian sudah menikah bukan, kalian sudah punya anak?” tanya Micle langsung membekukan Hans.
Hans terdiam mendengar ucapan temannya. Bagaimana bisa punya anak jika Selena saja masih belum mencintainya, apalagi ia memang tak menginginkan Selena untuk hamil terlebih dulu. Setiap kali selesai berhubungan dengan Selena ia selalu memberikan sejumlah uang kepada Selena untuk membeli obat pencegah kehamilan.
“Aku tak ingin punya anak dulu, jangan bertanya lebih dari itu”
Micle terdiam, ia langsung keluar dari ruangan Selena dan menuju ruangannya. Melihat reaksi Hans, pria itu sepertinya memang tak ingin mempunyai anak terlebih dulu. Tapi saat ia memeriksa keadaan Selena ia menemukan hal bahwa rahim Selena tidak dalam kondisi baik. Selena seperti baru mengalami keguguran, dan untunglah ia tidak mengatakan hal itu kepada Hans tadi.
“Hah…dokter Jenssica, saya benar-benar tak menyangka bisa bertemu putri anda. Benar kata anda, putri anda cantik dan baik. Saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk memastikan kondisi putri anda baik-baik saja”
Micle tersenyum menatap sebuah foto yang menunjukan foto sepasang kekasih yang tengah menggendong seorang bayi.
“Selamanya…saya akan berhutang kepada anda”
.
.
.
Selena membuka matanya perlahan. Bau karbol, ia berada dirumah sakit lagi?. Dengan sekuat tenaga ia bangun dari tempat tidurnya dan menatap suaminya yang tengah terlelap disofa.
__ADS_1
“Hans…” panggil Selena lembut.
Hans membuka matanya perlahan, ia langsung berdiri dari sofa melihat istrinya yang sudah bangun. Ia menghampiri Selena dan memberikan air putih kepada Selena.
“Maafkan aku, sekarang bagaimana keadaanmu?” ucap Hans.
“Hans…seharusnya aku yang minta maaf kepadamu. Tak seharusnya aku marah kepadamu kemarin. Maaf...”
“Jangan minta maaf, kau tidak salah. Wajar jika kau marah kepadaku, aku tak memberitaumu mengenai hal ini” Hans menunduk sembari menggenggam tangan istrinya.
Selena hanya tersenyum dan mengelus pipi Hans. Hans menggenggam tangan Selena dan menciumnya. Ia bersyukur, hari ini Selena tak marah lagi kepadanya. Ya walaupun ia tau Selena masih kecewa kepadanya. Namun setidaknya hari ini istrinya bisa tenang membuatnya sedikit lega.
“Aku tau aku bersalah kepadamu karena menyembunyikan hal ini. Tapi aku berjanji, aku tidak akan pernah menemani wanita lain selama kau menjadi istriku”
“Lalu, bagaimana saat kita bercerai nanti?” batin Selena.
“Janji?”
“Aku berjanji kepadamu”
Selena tersenyum membuat senyum ikut mengembang diwajah Hans. Hans memeluk istrinya erat sembari mencium pipi lembut istrinya.
“Hans…”
“Ya?”
“Jika nanti, aku pergi darimu dan tak ingin kembali lagi bagaimana?”
Hans terdiam sejenak mendengar pertanyaan istrinya. Kenapa istrinya menanyakan pertanyaan seperti ini?.
“Maka aku akan membuatmu kembali dengan caraku. Sejauh apapun kau pergi, aku tetap akan bisa menemukanmu”
Kini Selena yang terdiam mendengar ucapan Hans.
“Aku ingin bertanya kepadamu. Kau akan memilih siapa antara suami dan seorang ayah?”
Selena terdiam sejenak mendengar ucapan suaminya sebelum akhirnya membuka suara.
“Aku tau, bagi seorang anak perempuan yang sudah menikah dia adalah tanggung jawab suaminya. Saat menikah orang tua menyerahkan putrinya kepada laki-laki pilihannya untuk dijaga. Bagi seorang wanita yang sudah menikah, ucapan suami harus ditaati”
__ADS_1
Hans mengembang senyum mendengar ucapan istrinya.
“Namun, apa itu juga berlaku untukku yang hanya seorang istri kontrak? Jika tidak, maka aku akan lebih memilih ayah yang akan dan selamanya akan menjadi ayahku Hans. Karena seorang ayah, adalah orang yang menjaga anaknya dari kecil sampai dinikahkan. Aku tak tau apa yang akan terjadi kedepannya Hans. Kau bisa saja mengkhianatiku, dan perlu kau ketahui. Ayahku, adalah cinta pertamaku yang tak akan pernah mau kulupakan sampai kapanpun”
Senyuman Hans pudar seketika mendengar ucapan istrinya. Dengan perlahan ia melepaskan pelukannya dari tubuh sang istri.
Selena menatap wajah suaminya, ia tau jawabannya mungkin tidak terlintas dipikiran Hans. Namun entah kenapa, meskipun ia nyaman berada didekat suaminya tapi rasa aman terasa begitu jauh darinya.
*
Yeni melemparkan cangkir tehnya dengan geram mendengar informasi baru bawahannya. Ia menatap geram para mata-matanya, sebenarnya apa yang membuat Hans masih mempertahankan wanita itu disisinya?!. Bawahannya sudah membuat cacat wanita itu namun kenapa putranya masih belum meninggalkan jala*g itu?!.
“Kalian sekumpulan orang tidak berguna! Enyah kalian!”
Pria-pria itu hanya bisa menganggukkan kepalanya dan keluar dari rumah megah itu. Yeni menatap geram foto Hans yang tengah membawa Selena pergi ke Jerman untuk berobat. Sampai sekarang putra bungsunya masih belum sadarkan diri dan ia akan membuat wanita itu merasakan akibatnya karena tak kunjung pergi dari sisi putranya.
“Jala*g murahan itu! Aku akan membuatnya meninggalkan putraku bagaimanapun caranya, aku tak peduli jika hal itu harus mengorbankan setengah hartaku”
*
Joe menatap para mata-matanya dengan senyum puas. Sampai saat ini, putra bungsu Yeni masih belum sadarkan diri. Itulah akibatnya jika bermain-main dengannya. Dan ya, jika sampai Yeni berani melukai adiknya lagi. Maka target selanjutnya, ia pastikan akan membuatnya menjadi lebih parah.
“Pantau terus keluarga Georgino terkhususkan Yeni”
“Baik Nona muda”
“Sekali lagi kau berani menyuruh bawahanmu menyentuh adikku. Putra ke-8mu, akan kubuat membayar harganya. Yeni John Margareth, kau kasar kepada adikku. Maka aku juga akan kasar kepada anak-anakmu. Main-main dengan psychopath ternyata”
“Aku tak mau tau bagaimana caranya, aku tak ingin anak manja itu bangun lebih cepat dari perkiraan Alex.”
“Baik, kami akan meminta Tuan Alex menjalankan perintah anda”
“Ya, kalian boleh pergi sekarang”
.
.
.
__ADS_1
.