
.
.
.
Selena menghembuskan nafasnya sembari melihat matahari yang akan terbit, tanpa disadari air matanya menetes begitu saja. Selena dengan cepat mengusap air matanya, entah kenapa ia sedih mengingat kehidupannya setelah kematian Papanya. Dulu sebelum Papanya tiada semua permintaannya akan dikabulkan, bahkan saat Papanya masih ada ia tidak pernah dibentak oleh siapapun…itulah mengapa ia benar-benar takut saat Hans membentaknya, karena sejak kecil ia tidak terbiasa dibentak maupun dikasari.
Tok tok tok
“Siapa?”
“Ini saya Rafindra, Nona besar”
“Masuk, pintu tidak di kunci”
Rafindra membuka pintu dan kembali menutupnya, ia membungkukhormat saat Selena membalikan badan dan menatapnya.
“Ada apa Paman Raf?”
“Jenderal besar menelfon, dia menanyakan keberadaan anda”
“Hm? Kau menjawabnya?”
“Tidak Nona”
“Aku akan menghubungi Paman nanti, kau bisa istirahat. Bangunkan aku saat makan siang”
“Baik, Selamat beristirahat Nona besar”
Rafindra keluar dari kamar mewah itu, Selena melepaskan blazer yang dibelikan Wei untuknya. Ia mendekati tempat tidur dan berbaring dikasur empuk itu.
Selena bangkit dari tidurnya dan membuka laci dan mengeluarkan sebuah music box, ia kembali menteskan air matanya. Ini adalah music box pemberian Papanya sebelum meninggal.
“Nara rindu Papa…”
Dengan perlahan Selena berbaring sembari menggenggam music box itu, Selena memutar music box itu dan dengan perlahan terlelap.
Disisi lain
Lewis hanya bisa diam ketika Hendrick memarahinya habis-habisan, ia tidak tau kemana keponakannya pergi setelah kembali dari keluarga Georgino! Drone yang biasa mengikuti kemana Selena pergi pun secara tiba-tiba rusak.
“Dasar sial*n!! Kau tau jika Selena sedang mengandung dan kau biarkan pergi sendirian?!” kesal Hendrick.
“Dia hanya bilang akan ke keluarga Georgino…” ucap Lewis.
“Lalu?! Kau tau sendiri bagaimana tabiat keponakanmu itu! Dia bilang mau pergi membeli pizza pasti pergi ke Negara aslinya! Ini bukan sekali atau dua kali keponakanmu kabur! Seharusnya kau tau itu!” geram Hendrick.
“Sudah, tidak ada gunanya kau memarahinya. Sekarang coba telfon Wei atau Rafindra lagi. Aku yakin mereka tau di mana Selena”
“Mereka mematikan ponselnya! Puas kau sekarang?! Sudahlah! Aku akan cek ke mansion Alexandra”
“Tidak mungkin istriku kesana” jawab Leo.
__ADS_1
“Kau suaminya kenapa malah santai-santai begini?!” ucap Deon.
“Ya mau bagaimana?! Aku tidak boleh menyusulnya! Lihat pesan dari istriku!” kesal Leo memberikan ponselnya kepada Deon.
| Aku bersama Wei dan Rafindra sayang\, jangan khawatir. Aku ingin disini dulu\, nanti kalau sudah selesai aku pulang. Jangan menyusulku kemari! Urus perusahaanmu dulu! |
Deon menghembuskan nafasnya, punya keponakan satu saja bandelnya minta ampun. Jika Papanya sampai tau hal ini pasti mereka semua akan terkena imbasnya juga, ini semua gara-gara Lewis! Bisa-bisa pria itu memperbolehkan Selena pergi sendirian!.
“Aku akan segera memasukkan anak itu ke kamp utama untuk melanjutkan pelatihannya!” ucap Hendrick.
“Apa?! Istriku sedang hamil, setidaknya tunggu sampai dia melahirkan” ucap Leo tak terima dengan ucapan Hendrick.
“Kau juga kembali ke kamp 3! Aku akan mencari Selena dan membawanya ke kamp utama!” ucap Hendrick pergi begitu saja.
Leo menghembuskan nafasnya, ucapan Hendrick ada benarnya. Jika dihitung mulai dari Selena hiatus dari kemiliteran seharusnya istrinya sudah mulai aktif dari 2 minggu yang lalu, tapi ia benar-benar khawatir jika istrinya harus masuk kamp dalam kondisi berbadan dua seperti saat ini.
“Aku akan mencoba berbicara dengan Hendrick, aku tidak setuju jika Selena kembali aktif saat ini” ucap Jeff.
“Kau benar, lebih baik tunggu sampai keadaan fisik dan mentalnya stabil terlebih dulu setelah itu baru kita diskusikan dengan Papa” ucap Thomas.
“Leo, boleh aku tanya sesuatu?”
“Apa Daniel?”
“Di mana itu Death light?”
“Kenapa kau tiba-tiba bertanya tentang hal itu?” tanya Leo.
“Dari lokasi terakhir ponsel Selena aktif, dia berada di selatan Negara K”
“Selena sedang berada di markas?!!!!!!” teriak para Alexandra bersamaan.
“Segera hubungi Alexa, minta dia membuka akses ke markas utama. Jangan sampai orang luar tau keberadaan Selena dan markas itu!” ucap Thomas.
“Kami menerima perintah anda Jenderal muda!”
“Hei hei hei, kenapa kalian panik begitu?” tanya Leo.
“Istrimu sedang berada di markas Alexandra!! Dan kau masih santai begini?! Jika sampai musuh keluarga Alexandra mengetahui keberadaan Selena apa kau masih bisa sesantai ini?!” ucap Lonza.
“Berhenti bertengkar! Segera siapkan helicopter, amankan akses ke markas. Jangan sampai ada mata-mata yang mengikuti”
“Baik!”
*************
Selena membuka matanya dengan perlahan ketika sinar matahari masuk melalui jendela yang terbuka. Selena menatap beberapa wanita yang sudah cukup berumur tengah membungkukkan badan mereka.
“Jam berapa sekarang?”
“Sudah jam 2 siang Nona, sudah waktunya makan siang. Bisakah anda memberitau kami apa yang anda ingin makan hari ini?”
“Tidak perlu menyiapkan makanan, kalian boleh pergi. aku akan memasak sendiri”
“Tapi…”
__ADS_1
”Pergilah, kalian bisa mengerjakan pekerjaan lain”
“Ba-baik”
Wanita-wanita itu segera pergi dari kamar Selena, Selena turun dari tempat tidurnya dan masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Dibawah guyuran air dingin Selena membelai perutnya.
“Ryu mau makan apa sayang? Nanti setelah makan Ryu ikut Mama latihan ya…nanti jika Ryu dan kakak Leon, Leona sudah lahir Mama akan membuat kalian menjadi anak yang kuat”
Setelah selesai memberishkan diri Selena memakai pakaiannya dan segera turun ke dapur untuk memasak makanan. Selena membuka kulkas yang terisi begitu banyak bahan makanan.
“Hemmmmm…makan apa ya…”
“Nona, saya sudah mendatangkan koki dari kediaman utama kemari untuk melayani anda…anda tidak perlu memasak sendiri seperti ini...” ucap Rafindra.
“Aku ingin makan masakanku sendiri, kau mau juga? Kau mau makan apa?”
“Saya sudah makan siang bersama yang lainnya, anda lebih baik duduk dan koki akan segera menyiapkan makanan untuk anda”
“Tidak mau”
Selena mengambil daging salmon, tuna, dan ayam lalu menyiapkan bahan masakan lain. Selena mulai memasak makanannya, Rafindra mengepalkan tangannya. Sejak kapan Nona besarnya memasak makanan sendiri? Bertahun-tahun ia berada di samping Jenderal besarnya tak pernah sekalipun ia melihat seorang pewaris Alexandra memasak makanannya sendiri.
Beberapa saat kemudian Selena selesai dengan acaa memasaknya, ia duduk dan menyantap sup yang ia buat. Sejak kecil ia tidak pernah memakan nasi, dan ia baru pertama kali memakan nasi saat bersama Hans. Saat Hans menyuapinya nasi goreng, namun saat Hans pergi ia segera memuntahkan nasi goreng diperutnya. Bubur yang selalu ia makan saat dirumah sakitpun tidak terbuat dari beras putih, melainkan dari gandum.
“Hmmmmm yummy…”
“Saya akan membelikan susu untuk anda, saya akan menelfon Tuan muda terlebih dulu”
“Tidak! Aku tidak ingin minum susu, aku akan membuat jus sebentar lagi”
“Tapi…”
“Bolos minum susu sekali tidak akan membuatku koma!” kesal Selena.
Selena menikmati makanannya dengan perlahan, namun saat ia tengah menikmati ikan salmonnya tiba-tiba perutnya terasa berputar-putar. Selena berlari dan memuntahkan apa yang baru saja ia makan.
“Tolong panggilkan dokter sekarang! Cepat!” ucap Rafindra menghampiri Selena dikamar mandi.
“Huekkkk…”
“Nona…lebih baik kita kerumah sakit…saya takut anda kenapa-napa”
“Ti-tidak perlu…sepertinya anakku tidak mau makan salmon…aku akan segera baik-baik saja”
“Tidak! Anda tidak baik-baik saja! Di mana dokternya?! Kenapa lama sekali?!”
Selena membasuh wajahnya dan kembali ke meja makan, ia dengan hati-hati memakan tuna yang sudah ia masak. Untunglah, kali ini perutnya tidak mual.
“Aku yakin Ryu adalah anak laki-laki, dia tidak suka makanan kesukaanku…”
“Ryu…Ryu memang anak Papa ya?” ucap Selena sembari tertawa kecil karena mengingat bahwa Leo juga tidak menyukai salmon.
Setelah selesai makan siang Selena membereskan piringnya setelah itu ia langsung pergi ke arena latihan yang berada dibelakang mansion. Ia akan melatih kemampuannya yang sudah lama menganggur disini.
.
__ADS_1
.
.