
.
.
.
Selena menatap rembulan yang bercahaya begitu terang, hembusan angin sesekali menerpa lengan telanjangnya. Hembusan nafas lelah dikeluarkan Selena, ia tidak bisa berlama-lama disini. Ia harus segera kembali ke perbatasan, menyelesaikan masalah terakhir disana sebelum dibebas tugaskan kembali selama 4 bulan.
Leo menutup pintu dengan perlahan lalu menghampiri istrinya, ia memeluk perut istrinya dari belakang membuat Selena langsung menyentuh kepala suaminya yang diletakkan dibahunya.
“Kenapa hm?”
“Bisa tidak jika lusa saja kembalinya? Aku masih ingin bersama denganmu, dengan Leon dan Leona juga…apalagi anak kita didalam sini” ucap Leo seraya membelai lembut perut istrinya yang semakin membuncit.
“Maaf ya sayang, besok aku sudah harus kembali. Tapi janji, minggu depan aku akan terus menemanimu sampai Ryu lahir” ucap Selena seraya membalik badannya menghadap suaminya. Ia tau suaminya ini pasti tidak mau ia pergi lagi apalagi setelah kehadiran kedua buah hatinya.
“Benar-benar tidak bisa?”
“Sekali lagi maaf ya, besok siang aku harus kembali. Kalau kau mau disini kau disini dengan Daniel saja ya, minggu depan aku akan kemari lagi”
“Tidak mau…” rengek Leo.
“Sayang…jangan begitu dong…kan nanti aku bisa menemanimu selama 4 bulan…” jelas Selena mencoba memberikan pengertian kepada suaminya. Hari ini suaminya sedikit aneh, meskipun Leo memang biasa merengek kepadanya tapi kali ini ia merasa rengekan suaminya benar-benar berbeda dari sebelumnya.
“Ya…sayang ya? 1 hari saja…temani aku 1 hari lagi saja…mau ya?”
Selena menghembuskan nafasnya, ia mencium pipi dan kening suaminya. Sepertinya bukan hanya ia yang kehilangan berat badan tapi suaminya juga kehilangan banyak berat badannya.
“Kenapa kenapa semakin kurus? Kan sudah kubilang untuk jaga kesehatan…”
“Jangan mengalihkan pembicaraan sayang, aku tidak menyukainya…katakan ya? Please…?” ucap Leo memasang wajah memelasnya kepada sang istri.
Ughhhh…
Selena yang menatap ekspresi imut bercampur manis dari suaminya langsung tidak bisa berkata-kata. Selena emmalingkan wajahnya agar ta lagi menatap wajah suaminya, selain mengatakan ‘Ya’ atas permintaan suaminya. Ia tak bisa melakukan apa-apa.
“Baiklah”
Leo langsung tersenyum senang dibuatnya, besok…ia akan membawa istrinya untuk jalan-jalan. Melakukan terapi untuk merelax-an diri dan juga membawa istrinya ke tempat kencan pertama mereka.
“Baru naik berat badannya sudah turun lagi ya?” ucap Leo.
“Ya…mau bagaimana lagi…”
Leo menarik tangan istrinya agar masuk kedalam kamar, ia menutup pintu balkon dan membawa istrinya duduk disisi tempat tidur.
“Kenapa?”
“Emmmmmmm…mau kencan besok?” tanya Leo.
“Kenapa tiba-tiba?” tanya Selena smebari tertawa lucu karena sikap suaminya yang lucu sekaligus aneh, Leo tak pernah mengajaknya kencan setelah menikah tapi suaminya ini langsung membawanya untuk pergi dinner romantis. Lalu kenapa hari ini tiba-tiba bertanya?.
“Hmmmmm…kalau aku menolak bagaimana?” tanya Selena.
“Pilihan jawabannya hanya ada YA dan YAA”
“Hahahaha, kau ini sedang kenapa sih sayang…tumben begini. Ayo katakan ada apa”
“Hmmmmm…kau begitu sibuk…jadi…”
“Ohhhh…apa suamiku ini sedang mencoba menarik perhatianku hm?” ucap Selena sembari tersenyum.
Leo dengan perlahan membaringkan tubuh istrinya dan memeluk erat perut buncit itu sesekali menciuminya.
“Huh? Di mana putraku yang ini? Ryu…ini Papa sayang…” ucap Leo sembari meletakkan telinganya di perut sang istri.
“Akhir-akhir ini aku sedikit lelah, mungkin itu alasan Ryu mengurangi pergerakannya. Tapi kemarin sebelum kemari aku check up ke dokter, dia bilang Ryu baik-baik saja…tidak ada masalah pada kandunganku”
“Serius? Aku sedang tidak berbohong bukan sayang”
“Tidak…untuk apa aku berbohong untuk masalah ini”
“Kalau begitu biarkan aku memelukmu dengan posisi ini”
“Ah?”
Dengan perlahan mata Leo mulai terpejam dengan posisi kepala yang mencium perut Selena. Selena hanya tersenyum dan bergerak mencari posisi yang nyaman.
“Oh? Ryu? Kenapa sayang?” ucap Selena yang merasakan tendangan diperutnya, tapi untunglah suaminya tidak terbangun karena tendangan dari putranya.
“Ryu rindu dengan Papa ya sayang? Ryu sabar dulu ya, nanti kalau Ryu sudah lahir pasti ketemu dengan Papa”
Dengan perlahan Selena melepaskan pelukan suaminya, ia turun dari tempat tidur berniat untuk mencari makanan. Inilah yang membuatnya sedikit kesal akhir-akhir ini, ia selalu ingin makanan manis saat tengah malam tapi besoknya pasti akan dimuntahkan.
Selena keluar dari ruangan, menatap lorong yang sepi tak ada satupun disana. Rafindra pasti sedang beristirahat bersama dengan Tuan X, lebih baik ia mencari Daniel dan bertanya di mana letak dapur.
“Nyonya? Kenapa anda bangun tengah malam begini? Ini tidak bagus untuk anda dan bayi anda”
“Ah, aku ingin mencari Daniel. Di mana dia?”
“Ah, Master sedang berada diruangan Tuan muda”
“Terima kasih”
Selena masuk kedalam lift dan turun keruangan bayinya berada, saat sampai bibirnya menampilkan senyum tipis tatkala melihat Daniel yang tengah tertidur disofa dengan wajah lelahnya.
“Bisa tolong berikan aku selimut?”
“Sa-saya akan mengambilkannya” salah satu ilmuan yang tengah berjaga langsung pergi mengambilkan selimut untuk Selena, saat kembali Selena mengambil selimut itu dan masuk kedalam ruangan anaknya tanpa mengganti bajunya terlebih dulu.
“Terima kasih sudah menjaga anak-anakku Daniel…” ucap Selena seraya menutupi tubuh Daniel menggunakan selimut lalu beralih kepada putra-putrinya yang tengah terlelap.
“Ryu…lihat…kakak Leon dan Leona sedang tidur, Ryu pasti tidak sabar untuk bertemu dengan mereka”
“Sehat-sehat ya sayang…”
Setelah
mengatakan hal itu Selena keluar dan kembali ke kamarnya mengurungkan niat untuk
memakan camilan. Ia menatap posisi tidur suaminya yang sama sekali tidak
berubah. Selena duduk dan mengambil ponselnya, menelfon Hendrick.
“Disana seharusnya tengah malam, kenapa menelfon? Bukannya beristirahat?”
__ADS_1
“Paman Alexa?”
“Jawab”
“Ahhhhh, insomnia lagi Paman. Aku akan meminum teh dan segera tidur, di mana Paman Hendrick?”
“Dia sedang berlatih dengan Pamanmu Jeff, kenapa? Ada pesan?”
“Ya, sampaikan kepada Paman. Aku akan kembali lusa, Leo tidak bisa ditinggal”
“Ya, baiklah. Nikmati waktu bersama suami dan anakmu, jangan memikirkan pekerjaanmu dulu”
“Ya, terima kasih Paman”
Tut…
Selena mendongkakan kepalanya lalu menghembuskan nafasnya, tugas yang menumpuk…tanggung jawab yang besar, apa yang sudah ia katakan…itu semua membuatnya terbelenggu semua ini. Terjerat dalam tugasnya sebagai seorang pewaris sekaligus seorang Jenderal muda membuat perhatiannya kepada suaminya teralihkan sampai-sampai suaminya harus meminta perhatian darinya.
“Maaf ya sayang…tunggu sebentar lagi saja…setelahnya aku akan bersamamu” ucap Selena seraya mencium lembut bibir suaminya.
Selena mengelus perutnya dengan perlahan, sudah tidak bisa tidur lagi…sejak di perbatasan ia mengalami insomnia karena terlalu memikirkan jika tiba-tiba ada yang menyerang atau menjatuhkan bom. Dan…tumben sekali suaminya bisa tidur selelap ini.
.
.
.
Leo terbangun dari tidurnya, ia tersentak kaget pasalnya tak menemukan istrinya disampingnya. Ia langsung bergegas turun dari tempat tidur dan mencari keberadaan istrinya.
“Tuan, anda sudah bangun? Apa anda mencari Nyonya?”
“Ya”
“Nyonya sedang berada di ruangan Tuan muda bersama dengan master”
Leo menganggukkan kepalanya dan langsung masuk kedalam lift menuju lantai anak-anaknya. Saat sudah sampai tubuhnya terhenti sesaat ketika melihat Daniel yang tengah melihat kondisi kedua anak-anaknya dengan senyum yang begitu hangat dibibir itu.
Tiba-tiba dada dan kepalanya berdenyut nyeri secara bersamaan, Leo dengan sontak mencengkram dadanya yang terasa benar-benar sakit. Ia menutup mulutnya mencoba tidak mengeluarkan suara apapun.
“Tuan muda!!”
Math yang kebetulan lewat langsung menghampiri Leo dan membantu pria itu agar berdiri, Daniel yang mendengar hal itu langsung meletakkan Leon dan segera keluar dari ruangannya.
“Leo? Kau kenapa?” tanya Daniel ikut membantu Leo beridri, nafas Leo tersengal-sengal membuat Daniel dengan spontan memanggil dokter pribadinya.
‘Ti-tidak…be-berikan aku obat…” ucap Leo dengan tubuh yang gemetar.
“Ka-kau duduk dulu” bingung Daniel.
Daniel dan Math membawa Leo duduk di kursi tunggu, Math langsung pergi untuk mengambilkan obat untuk Tuan mudanya. Sedangkan Daniel langsung memeriksa denyut nadi sepupunya ini.
“Leo katakan kepadaku apa yang terjadi”
“Obat…berikan aku obat…”
Tak berselang lama Math membawakan obat untuk Leo. Leo yang melihat itu langsung mengambil obat dan segelas air dari tangan Math dan tanpa berlama-lama langsung menelan semuanya tanpa satu persatu.
“Apa kau sudah gila?! Kau minum obat sebanyak itu?! Obat apa itu?!”
“Tidak khawatir bagaimana?!! Wajahmu pucat begini masih bilang baik-baik saja?!” kesal Daniel.
“Ada apa ini? Ada masalah apa lagi kalian berdua!”
Daniel dan Leo dengan sontak saling berpelukan ketika melihat Selena keluar dari ruangan bayi.
“Kami baik-baik saja, benar begitu bukan?!” ucap Daniel seraya mencubit pinggang Leo membuat pria itu langsung menganggukkan kepalanya dengan cepat.
“Hah…kupikir ada apa berisik-berisik, ya sudah kapan kau mau melepaskan suamiku?!”
Daniel langsung melepaskan pelukannya dan berdiri, ia menatap Selena dan Leo secara bergantian…firasatnya tidak enak mengenai Leo. apa sesuatu sudah terjadi kepada pria itu sampai-sampai gelagarnya seperti orang yang ingin ‘Berpamitan’, ah…tapi semoga itu hanya firasat tidak jelasnya saja.
Leo ikut berdiri dan memeluk istrinya setelah itu matanya dengan hangat menatap kearah incubator, menatap putra dan putrinya.
“Cepat besar ya sayang…setelah itu kalian bisa membantu Papa Daniel menjaga Mama kalian…menggantikan Papa”
Daniel mengepalkan tangannya dengan begitu erat tatkala melihat tatapan sepupunya yang tertuju kepada kedua buah hatinya, tatapan itu…tatapan hampa yang mengisyaratkan kepergian. Sial…ia tidak boleh terus disini, jika ia terus disini ia bisa meluapkan ketidak senangannya kepada siapapun termasuk Leo.
“Maaf, aku harus pergi. Kalian nikmati waktu kalian”
“Ah? Kau mau kemana?”
“Aku akan pergi sebentar, nikmati waktumu bersama suami dan anakmu. Besok kau kan sudah ke perbatasan lagi” ucap Daniel tersenyum seraya menepuk bahu Selena beberapa kali.
Selena mengerutkan keningnya, tak bisanya Daniel menepuk bahunya. Apa ada yang salah?.
.
.
.
Leo menginjak rem ketika sudah sampai di depan sebuah kampus mewah yang terletak tak cukup jauh dari lab milik Daniel. Selena menurunkan kaca mobil, tersenyum menatap tempat yang menjadi tempat kencan pertamanya bersama suaminya. Tempat ini tidak banyak berubah, dan…inikah alasan suaminya memintanya memakai seragam kampus ini?.
“Ayo turun aku akan membuatmu mengingat kencan romantis kita”
Leo turun dari mobilnya dan membukakan pintu untuk Selena lalu menggandeng tangan istrinya masuk kedalam kampus itu. Selena tersenyum lembut tatkala melihat sebuah pohon sakura yang selalu mekar, namun ada yang berbeda dari pohon itu. Ada sebuah pagar kayu yang mengelilingi pohon itu.
“Lihat, Rektor meminta penjaga kebun untuk memagari pohon kita. Jadi…tak siapapun bisa merusaknya” ucap Leo sembari mencium punggung tangan istrinya.
“Hm, kupikir…pohon itu sudah tidak ada”
“Tidak mungkin, aku meminta rektor menjaganya untukmu. Dan…mana mungkin rektor menolak permintaan mahasiswa kesayangannya ini”
Leo mencium bibir istrinya dengan lembut, hari ini ia akan membawa istrinya berkeliling kota. Dan juga saat kembali ia akan minta maaf sebesar-besarya dengan Daniel karena telah meninggalkan kedua buah hatinya kepada pria itu.
“Tapi…apa Daniel tidak keberatan menjaga Leon dan Leona?”
“Biar nanti aku yang bicara kepadanya, sudah…ayo”
Leo menggenggam tangan istrinya dan membawa istrinya menuju kantin kampus untuk membeli makanan serta minuman. Selena tersenyum senang tatkala melihat suaminya yang memberikan sebuah milkshake kepadanya.
“Ayo” ucap Leo kembali menggandeng tangan istrinya.
…………………
__ADS_1
Daniel menatap kesal mobil Leo yang baru kembali di jam larut seperti ini, sudah tau Selena sedang hamil dan kehamilannya rawan masih saja pulang di jam larut seperti ini.
“Hehe, maaf Daniel…”
“Sudahlah, bawa istrimu masuk. Jangan sampai masuk angin”
“Itu…bisakah kau membawa istriku masuk?”
“Kenapa aku?” tanya Daniel, tumben sekali pria itu memperbolehkannya menggendong Selena.
“Aku tidak kuat lagi menggendongnya”
Daniel menghembuskan nasnya, ia membuka pintu mobil itu dan menggendong Selena keluar disusul oleh Leo. Daniel menatap lekat-lekat Selena, baru tambah berat badan sekarang kurus lagi. Dikeadaan hamil seperti ini seharusnya Selena bisa menambah berat badannya, tapi kenapa ini tambah sedikit sudah berkurang lagi?.
“Tubuh istriku tidak bisa gemuk sejak kecil, jika berat badannya bertambah pasti akan turun lagi dalam beberapa hari”
“Sekalipun dia makan banyak?”
“Ya”
Daniel hanya bisa menghembuskan nafasnya dan membawa tubuh itu masuk kedalam laboratorium miliknya.
>>>>
Esoknya…
Selena membuka matanya dengan perlahan, ia menatap pakaianya yang basah karena sesuatu. Ia langsung berteriak tatkala kasur yang ia pakai basah dibagian dada.
Daniel dan Leo yang mendengar teriakan Selena langsung berlari kearah sumber suara, Leo langsung menghampiri istrinya dan memeriksa keadan istrinya.
“Ada apa?” tanya Daniel.
“Ini kenapa dadaku basah?!”
“Oh, asimu sudah keluar ya?”
“Apa?! Kau bilang apa?!”
“Kalian, tolong bantu Selena. Leo ayo keluar”
Daniel dan Leo keluar meningalkan Selena bersama beberapa ilmuan. Tatapan mengintimidasi Daniel langsung dilayangkan kepada Leo, Leo yang merasakan hawa tidak enak dari tatapan Daniel hanya bisa tersenyum canggung. Entah kenapa pria ini setelah kembali dari kamp utama auranya 11/12 dengan istrinya dan ia yakin beberapa tahun lagi Daniel di kemiliteran aura dan sifatnya akan sama persis dengan mendiang Papa mertuanya..
“Tidak ada yang mau kau katakan kepadaku?”
“Ti-tidak ada”
“Yakin?”
“Te-tentu saja!”
“Kenapa bicaramu gagap begitu?”
“Tuan muda!”
Daniel menoleh kearah tangan kanan Leo yang memanggil Tuannya, sial*n…kenapa harus ada penganggu disaat sebentar lagi ia bisa mendapatkan informasi dari Leo?!.
Leo menghembuskan nafas lega tatkala melihat Assistantnya yang datang disaat yang tepat, ia akan memberikan pria itu bonus nanti saat kembali ke AS.
.
.
.
Selena bergidik ngeri tatakala melihat beberapa botol ASI yang dimasukan Daniel kedalam kulkas. Adakah hal semacam itu yang keluar dari dadanya?!. Dan untuk apa juga Daniel menyimpan makanan bayi itu?!.
“Kau sedang hamil, wajar jika kau sudah mengeluarkan ASI. ASImu akan kusimpan untuk Leon dan Leona, aku sudah memasukkan alatnya didalam tasmu. Jika keluar lagi kau bisa memompanya”
“Ha? Apa itu masih belum cukup?!!”
Daniel hanya bisa tertawa pelan mendengar ucapan Selena, apa Selena belum diajari ilmu dasar ini saat di keluarga Alexandra?.
“Leon, Leona, dan Ryu akan terus membutuhkan ASImu selama 2 tahun. Jadi jaga pola makan dan istirahatmu”
“A-apa?! 2 tahun?!”
“Ya…”
Selena seketika lemas mendengar ucapan Daniel, apakah ia harus memproduksi ASI untuk ke-3 anaknya hingga 2 tahun kedepan?!. Oh tuhan…membayangkannya saja sudah sangat melelahkan.
“Sudah, cepatlah bersiap. Helikoptermu sudah siap, Rafindra sudah menunggu”
Selena menganggukkan kepalanya, sejak tadi ia tidak melihat suaminya. Di mana suaminya itu? Oh, ia baru ingat jika semalam suaminya izin untuk terbang terlebih dulu ke AS karena ada urusan mendadak.
“Daniel, bisa berikan aku beberapa pisau?”
“Hm, memang pisaumu dimana?”
“Haih…kemarin terjatuh ke laut,
padahal aku baru saja mendapatkannya dari Paman Louis”
“Ya, nanti kumasukan kedalam tasmu. Ayo, temui Leon dan Leona dulu sebelum pergi”
Selena menganggukkan epalanya dan pergi bersama Daniel keruangan buah hatinya, saat sampai Selena mencium ening kedua ananya yang tengah digendong oleh ilmuan.
“Sehat-sehat ya sayang…Leon dan Leona disini dulu dengan Paman Daniel, nanti Mama kemari lagi untuk menjemput kalian. Jadi anak baik ya selama Mama dan Papa tidak ada”
Daniel menepuk bahu Selena membuat Selena langsung mendongkakkan kepalanya menatap sang empu.
“Ada apa Daniel?”
“Aku akan ikut denganmu ke perbatasan, tapi besok aku akan kembali lagi kesini”
“Haaaa, untuk apa?!” tanya Selena, apa Daniel mencoba mengamati gerak-geriknya selama disana?! Jika Daniel sampai melaporkan kepada Opanya kelakuan biadabnya selama disana…tamat sudah riwayatnya.
“Kau tidak perlu tau, ayo berangkat. Kalian tolong jaga Leon dan Leona”
“Baik master!”
.
.
.
__ADS_1