
.
.
.
“Aku…menunggumu…”
Selena menghembuskan nafasnya mendengar jawaban Hans. Ia meletakkan tasnya dan membantu suaminya untuk duduk. Sudah tau keadaan lemah begini masih saja tidak mau makan, Selena melepaskan masker oksigen suaminya dan mengantinya nasal cannula.
“Setelah makan, minum obat ya…kau tak mau terus disini kan?”
“Jika itu membuatmu akan disini menemaniku, maka aku akan tetap disini”
“Jangan berpikiran bodoh Hans”
Selena dengan telaten menyuapi suaminya.
“Alex bilang, kau akan disini selama beberapa hari kedepan”
Hans hanya diam tak mnegatakan apapun untuk membalas ucapan istrinya. Istrinya pasti masih kesal kepadanya karena pesta waktu itu.
“Aku benar-benar minta maaf kepadamu…aku tak bermaksud membohongimu” ucap Hans dengan suara paraunya.
“Aku mengerti Hans, aku bukan seorang aktris, model, idol, maupun Nona muda. Aku tau posisiku, aku tau alasan mengapa kau tak mau mengajakku kepesta keluarga Jasson. Kau malu kan?”
“Ti-tidak sayang…bu-bukan seperti itu. Kau salah paham…”
“Sudah, jangan membahasnya. Ayo habiskan makananmu, setelah itu minum obat”
Hans menarik tangan istrinya membuat mangkuk bubur terjatuh, Hans memeluk istrinya dengan erat membuat infus terpaksa terlepas dari punggung tangannya.
“Maaf…maafkan aku. Aku benar-benar tak bermaksud membohongimu…jangan pergi lagi dariku, aku kesepian…aku merindukanmu”
Selena menggigit bibir bawahnya, ia menghembuskan nafasnya. Ia memeluk tubuh suaminya yang sedikit mengurus.
“Lupakan yang sudah terjadi, sekarang fokus kepada pemulihanmu dulu”
Drttttt drtttttt…
Ponsel Selena berdering, Selena mengangkatnya. Tumben sekali rektor menelfonnya.
“Ya rektor?”
“Benar dengan Nona Selena?”
“Ya dengan saya sendiri”
“Nona, bisa saya minta tolong. 3 jam lagi bisa anda datang ke kampus? Ada hal yang perlu kita bahas”
“Ah? Apa saya melakukan kesalahan?!” tanya Selena sontak melepaskan pelukan Hans.
“Ah, tidak Nona. Anda tidak melakukan kesalahan, nanti kita bicarakan saat anda sudah disini”
“Baiklah, saya akan datang”
“Dan, tolong anda ajak Nona Joe juga…saya tidak berani menelfon beliau”
“Baik”
__ADS_1
Tut…
Selena menghembuskan nafasnya, apa yang ingin dibicarakan rektor dengannya. Apa beasiswa akan segera dicabut karena ia jarang masuk ke kampus?.
“Ada apa?”
“Kepala rektor ingin membicarakan sesuatu, aku akan kesana nanti”
Selena mengambil sarung tangan dan membersihkan pecahan mengkuk bubur, Hans mencekal lengan Selena meminta Selena untuk tidak membersihkan serpihan mangkuk itu lagi. Hans memanggil Merry, wanita itu masuk dan langsung membersihkan bubur dan serpihan mangkuk yang berada di lantai.
Seorang wanita masuk kedalam ruangan Hans membuat Merry melotot seketika. Kenapa wanita ini ada disini?!.
Hans dan Selena mengerutkan kening mereka, siapa wanita itu? Kenapa masuk kemari? Kenapa penjaga membiarkannya masuk?.
“Hans…” panggil wanita itu lembut.
“Kau…siapa?” tanya Hans.
“Aku Yolanda! Tunanganmu!”
Degh!
Hans tersentak kaget seketika? Ia menatap istrinya yang hanya memasang tatapan datar. Sial*n! Kenapa wanita itu ada di Negara ini?! Apa Mamanya yang memanggilnya kemari?!.
“Maaf…kau siapa ya?” tanyanya kepada Selena.
“Perawat yang sedang bertugas, maaf saya permisi dulu”
Saat hendak beranjak pergi tangan Selena dicekal oleh Hans. Hans menarik tangan istrinya hingga jatuh kedalam pelukannya. Tubuh wanita itu gemetar melihat perilaku Hans.
“Dia bukan perawat, dia istriku. Keluar dari ruanganku sekarang”
“KELUAR!!!”
Wanita itu langsung keluar dari tunangan Hans sembari menutupi wajahnya. Hans melepaskan pelukannya dan menatap istrinya yang masih memasang ekspresi yang sama. Dingin, ekspresi istrinya begitu dingin begitupun dengan sorot matanya.
“Maaf…”
“Kenapa minta maaf? Aku juga punya tunangan Hans, kau pernah bertemu dengannya juga”
Selena mengambil obat yang berada diatas nakas dan memberikannya kepada Hans. Hans mengambil obat itu dan menelannya tanpa menggunakan air. Selena melotot seketika melihatnya, ia langsung memberikan Hans segelas air.
“Minum jika kau tidak mau mati!” ucap Selena membuat Hans langsung meminum air itu.
“Jangan dibiasakan minum obat tanpa air, sudah…sekarang istirahatlah”
“Kau mau kemana?”
“Sebelum ke kampus aku akan ke ruangan dokter Alex dulu”
“Apa Alex lebih menarik daripada diriku?” ujar Hans dengan wajah kesalnya.
“Omong kosong apa yang kau bicarakan, aku akan membantu Alex menangani sesuatu”
“Disini saja”
Selena menghembuskan nafasnya, ia tak kuat jika harus berdebat panjang lebar dengan Hans yang pada akhirnya ia juga tak punya alasan untuk menolak. Hans tersenyum melihat istrinya yang setuju untuk menemaninya disini, ia menggenggam erat tangan istrinya.
Selena melirik infus suaminya akan akan segera habis, ia melepas nasal cannula suaminya dan kembali memasangkan masker oksigen dan membantu suaminya berbaring.
__ADS_1
Hans meletakkan tangan istrinya diatas kepalanya, meminta istrinya untuk membelai kepalanya. Selena menuruti kemauan suaminya, dengan perlahan Hans mulai terlelap. Selena tersenyum lembut melihat itu, Hans terlihat seperti anak kecil sekarang.
Dengan hati-hati, Selena melepaskan genggaman tangan suaminya dan keluar dari ruang rawat Hans. Ia menatap perawat yang hendak masuk mengantarkan obat.
“Jangan lupa, 2 jam lagi infusnya harus diganti. Buburnya haluskan sedikit lagi”
“Baik!”
“Di mana dokter Alex?”
“Dokter Alex masih berada diruangannya, beliau meminta anda untuk segera bersiap-siap”
“Aku akan segera kesana, bisa aku meminta rekam medis pasien?”
Perawat itu memberikan Selena berkas yang diminta, setelah itu perawat wanita itu masuk meletakkan obat sedangkan Selena duduk dan membaca rekam medis pasien.
“Anak berumur 5 tahun yang mengidap leukimia, itu berati kemo…”
“Hiks hiks hiks…”
Semua orang yang berada di koridor tersentak kaget mendengar suara tangisan anak kecil. Selena yang juga mendengarnya langsung mencari sumber tangisan anak kecil ini. Selena terkejut mendapati seorang anak kecil tengah berjongkok sembari memeluk lututnya sendiri.
“Hai…kenapa menangis hm?”
“Hiks…kakak siapa?”
“Kakak perawat disini, adik kecil…kenapa kau ada disini? Siapa namamu?”
“Namaku Youra…”
“Anak yang akan menjalani kemo hari ini juga namanya Youra. Apa anak ini…”
“Youra…kenapa kau ada disini. Di mana ibumu?”
“Hiks…kakak jangan beritau Ibu aku ada disini, aku tidak mau melakukan kemo lagi. Rasanya menyakitkan…”
Selena menggendong anak kecil itu dan duduk di kursi tunggu sembari menunggu orang tuanya datang kemari. Sekretaris Merry mendekat mencoba mengambil anak itu dari gendongan Selena, namun Selena menghentikan tangan Merry.
“Nyonya…saya akan mengembalikannya ke dokter Alex” ucap Merry.
“Kakak…aku tidak mau hiks…”
“Hei jangan menangis, begini saja. Nanti kakak temani Youra kemo ya? Nanti kalau kemonya sudah selesai, kakak akan memberikan Youra boneka kelinci. Mau?”
“Mau…”
“Sudah dong, jangan menangis lagi. Nanti manisnya hilang, sekarang ayo…kakak temani Youra kemo ya?”
“Tapi janji kakak peri temani kan?”
“Iya, kakak temani ya…nanti kalau Youra sudah sembuh. Kakak akan memberikan hadiah yang banyak untuk Youra”
“Hem!”
Selena masuk kedalam lift bersama anak perempuan itu. Tangan Merry mengepal, wanita itu menggigit bibir bawahnya melihat sikap Nyonya mudanya kepada anak kecil. Nyonya mudanya terlihat begitu menyukai anak kecil, anak kecilpun bisa tenang didalam gendongan Nyonya mudanya. Jika sampai Nyonya mudanya tau bahwa dia sudah pernah keguguran maka itu akan menjadi pukulan besar untuknya.
.
.
__ADS_1
.