
.
.
.
Flashback!
Seorang anak laki-laki berusia 6 tahun menatap bingung 2 peti mati yang dimasukan kedalam tanah. Beberapa saat kemudian peti itu tertimbun oleh tanah.
“Paman, kenapa Papa dan Mama dimasukan kedalam sana?” tanyanya.
Seorang pria yang sedang menggendong anak perempuan berusia 3 tahun menatap sendu anak laki-laki itu. Ia menurunkan anak perempuannya dan berjongkok dihadapan anak laki-laki itu.
“Daniel…Papa dan Mamamu sedang istirahat disana, sekarang ayo pulang dengan Paman”
“Lalu kenapa mereka memasukkan Papa dan Mama ke tanah? Apa mereka bisa keluar nanti?”
“Itu adalah tempat istirahat mereka…selamanya…”
“Selamanya? Itu berarti aku tidak bisa bertemu dengan mereka lagi?”
“Iya, seperti itu”
“Wahhhh…hiks hiks…Daniel tidak mau…Daniel mau dengan Papa Mama. Daniel ingin ikut mereka Paman…” anak itu mulai menangis dengan keras. Pria itu memeluk erat anak laki-laki bernama Daniel itu, kakak dan kakak iparnya meninggal disaat yang bersamaan karena kecelakaan, meninggalkan putra tunggal mereka sendirian.
“Stttt Daniel tidak boleh sedih ya sayang…Daniel kan bisa tinggal dengan Paman dan Bibi, mulai sekarang…Daniel panggil Paman dan Bibi seperti Daniel memanggil Papa dan Mama Daniel”
“Daniel tidak mau!!! Daniel mau Papa Mama!!! Paman…minta orang-orang itu mengeluarkan Papa dan Mama hiks…aku ingin bersama mereka…”
Joe, anak perempuan itu memberikan lollipop kepada Daniel namun Daniel menepis kasar tangan gadis kecil itu.
“Aku tidak mau ini!! Aku ingin Papa dan Mama hiks…”
Emerland, wanita itu menatap sendu keponakannya. Ia menghampiri Daniel dan menggendong anak laki-laki itu, dengan lembut ia membelai kepala Daniel. Daniel menangis sesegukan di gendongan wanita itu.
“Jangan sedih lagi ya sayang…kan nanti Daniel bisa bertemu Papa dan Mama Daniel lagi” ucap wanita itu mencoba untuk menghibur Daniel agar tidak menangis.
Sepasang suami istri yang sudah cukup tua menghampiri Emerland, mereka menepuk bahu wanita itu.
“Pa…ma…” ucap Emerland membungkuk memberi hormat.
“Hiks…kakek…nenek…Daniel mau ikut Papa Mama” ucap anak laki-laki itu kepada kakek dan neneknya.
“Daniel…cucu kesayangan nenek, kemari sayang” wanita yang sudah cukup berumur itu mengambil Daniel dari gendongan Emerland. Cucunya baru berusia 6 tahun namun putra tertua dan menantu pertamanya pergi meninggalkan dunia bersama-sama dan meninggalkan anak tunggal mereka.
“Hei…Daniel tidak boleh bilang begitu sayang…Daniel mau apa? Nenek akan belikan semuanya untuk Daniel”
“Hiks…Daniel tidak mau apa-apa nenek…Daniel hanya mau Papa Mama hiks…”
Seorang pria muda masuk kedalam area pemakaman itu dengan menggendong seorang anak perempuan berumur 3 tahun yang tengah tertidur dengan lelap.
“Kami memberi hormat kepada Jenderal besar” semua orang-orang dewasa disana membungkukkan badan mereka kecuali Tuan dan Nyonya besar Jasson.
__ADS_1
“Tidak perlu formal seperti itu hari ini, Tuan Jasson…saya turut berduka cita atas kematian Rey dan Isabelle” ucap pria itu.
“Jenderal besar, terima kasih sudah menyempatkan untuk menghadiri upacara pemakaman putra dan menantu saya” ucap Tuan Jasson.
Ruvelis, pria itu menatap sendu Daniel yang tengah menangis sesegukan di gendongan Nyonya besar Jasson. Ia menatap putri kecilnya yang tengah tertidur.
Dengan hati-hati ia memberikan putrinya kepada Emerland untuk digendong sebentar, ia beralih kepada Daniel. Ia menggendong anak laki-laki itu dan mencoba menghiburnya.
“Hummm…Papa…” Selena, gadis kecil itu bergerak tak nyaman di gendongan Emerland. Emerland langsung membeku dibuatnya, apa ia membangunkan putri Ruvelis?! Ia tidak akan mati hari ini bukan?.
“Papa disini sayang…Nara sudah bangun?” ucap Ruvelis mengambil putrinya dari gendongan Emerland.
“Jenderal besar, biarkan saya saja yang menggendong Daniel” ucap Emerland.
Daniel mengeleng tidak mau, ia merasa nyaman berada di gendongan pria ini.
“Nara, sayang…mau ajak kakak ini main?”
“Main? Mau Papa!!” ucap Selena dengan wajah senangnya.
Ruvelis menurunkan putrinya dan Daniel bersamaan, Selena menarik tangan Joe dan Daniel keluar dari area pemakaman itu membuat para bodyguard berbubaran mengejar ke-3 anak kecil itu. Jika mereka ber-3 terluka, kepala mereka akan menjadi gantinya!.
“Jenderal besar…dia…” ucap Tuan Jasson menutup mulutnya, siapa anak kecil itu? Kenapa Ruvelis terlihat begitu dekat dengan gadis kecil itu? Dan bagaimana bisa gadis kecil itu benar-benar mirip Ruvelis?.
“Oh, dia putri saya…namanya Nara. Dia baru genap berusia 3 tahun hari ini” ucap Ruvelis sembari tersenyum.
“Anda mempunyai seorang anak?! Kenapa tidak memberitau keluarga kami hal baik ini?!” ucap Tuan besar Jasson terkejut, ia benar-benar terkejut. Ia tidak tau jika Jenderal besar Ruvelis sudah mempunyai seorang putri dan sudah berusia 3 tahun, ia tak menyangka karena dari rumor yang beredar bahwa Jenssica yang tidak bisa mengandung.
“Kami menghormati keputusan anda”
Ruvelis mengambil bunga yang diberikan tangan kanannya dan meletakkan bunga itu diatas kedua makam Tuan dan Nyonya Jasson.
“Semoga kalian tenang disana, kalian tenang saja…putra kalian, akan aman bersamaku. Kalian banyak membantuku saat dikemiliteran, kalian sangat berjasa bagi kemiliteran...terima kasih…kalian bisa beristirahat dengan tenang”
Ruvelis berdiri dan membungkuk hormat didepan kedua makam itu. Jordan, Papa dari Daniel adalah temannya saat berlatih di kamp dulu, sudah lama ia tidak bertemu dengan temannya karena kesibukan masing-masing. Sedih tentu saja…ia bertemu dengan temannya kembali disaat temannya sudah pergi jauh dari dunia ini.
“Sampaikan perintahku kepada Hendrick, bahwa Daniel! Tuan muda keluarga Jasson akan masuk ke kamp utama bersama dengan putriku”
“Baik! Saya menerima perintah anda!” jawab tangan kanan Ruvelis sembari memberikan penghormatan.
“Tuan besar Ruvelis…anda tidak perlu melakukan hal ini” ucap Tuan besar Jasson.
“Ini perintah langsung dari saya”
“Kami menghormati perintah anda” ucap semuanya membungkuk hormat.
Flashback Off
.
.
.
__ADS_1
.
.
.
.
Daniel membuka matanya dengan perlahan, ia mengusap air mata yang keluar dari sudut matanya. Lagi-lagi, ia memimpikan kematian kedua orang tuanya dan moment pertama di mana ia bertemu dengan Selena. Seorang gadis kecil yang manis dan penuh dengan canda tawa itu membuat perasaan sakit dihatinya sedikit terobati disaat hari kematian kedua orang tuanya. Dan mungkin, Selena juga sudah melupakan hari di mana mereka pertama kali bertemu.
“Daniel…kenapa? Kenapa kau menangis? Apa tubuhmu sakit?!” tanya Selena yang masuk membawakan makanan untuk Daniel.
“Aku baik-baik saja, terima kasih atas makanannya”
“Hem, makanlah…sudah siang, setelah makan cepat mandi ya”
“Iya” jawab Daniel tersenyum.
Selena membalas senyuman Daniel dengan sebuah senyuman manis yang lagi-lagi membuat pipi Daniel merona seketika. Selena keluar dari kamar Daniel dan menuju kamar Joe.
Daniel mengambil makanan yang diberikan Selena untuknya, setelah kematian kedua orang tuanya. Ia tidak pernah memakan masakan seenak buatan tangan Selena. Dan demi menghormati perintah dari kakek dan neneknya, ia memanggil orang tua Joe dengan sebutan ‘Papa dan Mama’ walaupun sebenarnya ia tidak mau melakukannya.
Daniel mengunyah makanannya dengan perlahan, ia baru pertama kali melihat pria seperti Ruvelis…seorang Ayah yang sangat menyayangi anaknya melebihi apapun. Pantas Selena bisa menjadi seperti sekarang. Dan setelah hari kematian kedua orang tuanya, kakek dan neneknya mengumumkan bahwa ia adalah pewaris keluarga Jasson kedepannya dan itu disetujui semua anggota keluarga besar dan juga Paman dan Bibinya resmi menjadi orang tua sambungnya.
Didalam kamar Joe, Selena memperhatikan Joe dengan intens. Ia heran…bukankah Daniel dan Joe adik kakak? Tapi kenapa mereka tidak punya kemiripan sama sekali? Bahkan sifat mereka sangat bertolak belakang. Apa nanti ia tanyakan kepada Daniel saja?. Pertama kali…pertama kali Joe memberitaunya bahwa Daniel adalah kakaknya ia merasa itu tidak mungkin terjadi. Karena tidak ada satu kemiripanpun diantara mereka berdua.
“Joe bangun, apa kau tidak mau makan siang?”
“Hm…Selena…aku masih mau tidur…jangan ganggu aku dulu”
“Ohhhh Okey…aku akan kembali ke kamar jika begitu”
Selena keluar dari kamar Joe dan kembali kekamar Daniel.
“Daniel…bisa kita bicara sebentar?”
“Selena? Masuklah, tidak dikunci”
Selena masuk kedalam kamar Daniel, ia menutup pintu itu dan menguncinya. Ia tak ingin siapapun mengganggu pembicaraannya dengan Daniel.
“Ada apa? Kenapa tiba-tiba kesini? Aku baru saja mau mandi” ucap Daniel.
“Bisa aku tanya sesuatu?”
“Tanyakanlah”
“Kau dan Joe…bukan adik kakak kandung kan?”
.
.
.
__ADS_1