Our Last Love

Our Last Love
V1 : Chapter 176 : Bad Mood


__ADS_3

.


.


.


Selena membelai lembut wajah suaminya yang tengah tertidur pulas sembari memeluknya. Pria dihadapannya ini adalah pria yang paling ia cintai sampai saat ini, meskipun bukan pria yang menjadi cinta pertamanya…ia ingin pria ini menjadi cinta terakhirnya.


“Aku tak ingin apa-apa lagi selain berharap untuk kesehatan untukmu…aku akan melakukan apapun asalkan kau tetap bersamaku. I love you…Dear…I love you” Selena mengecup bibir suaminya lama.


Selena menaikkan selimut hingga batas leher suaminya dan dengan lembut membelai kepala belakang suaminya. Hmmmm, kenapa rambut suaminya terasa berbeda?.


“Apa lagi yang kau sembunyikan dariku Dear…”


Selena dengan perlahan melepaskan pelukan suaminya, ia turun dari tempat tidur dan keluar dari kamar itu. mata dinginnya menatap Rafindra dan William yang tengah berdiri tegap di pintu.


“Paman Raf, antarkan aku menemui Tuan X”


“Baik”


“William, kau disini. Telfon aku jika Leo bangun, dan…minta Micle kemari”


“Baik”


Selena pergi bersama dengan Rafindra meninggalkan William dengan beberapa Mafia. Sepanjang perjalanan kerumah sakit Selena terus melamun bahkan wanita itu tidak sadar jika sudah sampai di tempat tujuan.


“Nona besar pasti memikirkan Tuan muda” batin Rafindra.


“Nona, kita sudah sampai”


Ucapan Rafindra langsung membuyaran lamunan Selena. Selena menganggukkan kepalanya dan membuka pintu mobil lalu berjalan masuk kedalam rumah sakit.


“Ruangan Nyonya Bram?” ucap Rafindra kepada staff  bagian administrasi.


“Nyonya Bram…Nyonya Bram berada di ruang VIP lantai 5”


Selena menganggukkan kepalanya dan masuk kedalam lift. Hm, rumah sakit milik siapa ini? Ia baru tau jika ada rumah sakit sebesar ini selain rumah sakit milik Daniel.


Saat sampai di lantai 5 Rafindra menunjuk earah seorang pria yang tengah duduk di kursi.


“Apa itu Tuan X?”


“Benar Nona”


Selena menghampiri pria itu, pria itu seketika berdiri ketika Selena menghampiri dirinya.


“Maaf, ada yang bisa saya bantu?”


“Kau Tuan X?”


“…ya, anda mencari saya?”


Pria itu menatap Selena dari atas kebawah, tunggu…ia familiar dengan gadis didepannya ini. Ia yakin mereka sudah pernah bertemu sebelumnya, tapi di mana ya?. Tiba-tiba matanya tertuju kepada sosok dingin dibelakang Selena yaitu Rafindra.


“Tuan Rafindra?!”


“X, sudah lama tidak bertemu. Ini Nona besar Alexandra”


“A-ah?!”


“Saya memberi hormat kepada Nona besar Alexandra! Nona, saya minta maaf atas kelancangan saya yang berani menatap anda”


Pria itu langsung bertekuk lutut dihadapan Selena, Selena menepuk bahu pria itu meminta untuk berdiri. Matanya menatap kearah seorang wanita yang tengah menggendong seorang bayi didalam ruangan.


“Istrimu?”


“Be-benar”


“Boleh aku masuk?”


“Ma-mari”


Pria itu dengan spontan membukakan pintu untuk Selena. Selena tersenyum dan menghampiri wanita yang tengah tersenyum sembari menyusui bayinya.


“Hallo”


Wanita itu langsung mendongkakan kepalanya menatap Selena.


“Ya? Ada yang bisa syaa bantu?” tanya wanita itu dengan ramah


“Vinca, beri hormat kepada Nona besar Alexandra”


Ucapan dari suaminya langsung mengejutkan wanita itu, wanita itu dengan terburu-buru membenarkan pakaiannya namun Selena langsung menghentikan tindakan wanita itu.


“Jangan, susui dulu bayimu. Dan jangan terlalu formal kepadamu, ini bukan di keluarga Alexandra”


“Nona besar…maafkan ketidaksopanan saya”


“Laki-laki atau perempuan?”


“La, laki-laki”


“Boleh aku menggendongnya jika dia sudah selesai menyusu?”


Rafindra mengambil kursi dan meletakkannya disamping tempat tidur lalu meminta Selena agar duduk. Selena duduk dan terus menatap kearah bayi yang dengan rakusnya menyusu.


Setelah bayi itu selesai menyusu dengan hati-hati Vinca memberikan bayi itu kepada Selena, Rafindra dengan spontan membantu Nonanya untuk menggendong bayi itu.


“Wahhhh…apa dulu aku juga sekecil ini Paman Raf?” tanya Selena dengan wajah kagumnya.


“Tidak Nona, anda lebih kecil daripada ini…” jawab Rafindra sembari tersenyum.


Selena hanya tersenyum dan menatap hangat bayi didalam gendongannya. Ya tuhan…sebentar lagi ia bisa menggendong anaknya sendiri. Ia benar-benar tidak sabar menantikan hari di mana ia menggendong dan menyusui anaknya untuk pertama kali.


“Paman Raf! Coba foto aku dan kirimkan kepada Paman, Leo dan Daniel!”


“A-anda serius Nona?” ucap Rafindra terkejut, ia takut para tuan muda itu akan kembali salah paham seperti terakhir kali.


“Ya, ayo cepat”


Rafindra mengeluarkan ponselnya dan memotret Selena, setelahnya ia mengambil bayi itu dari gendongan Nona besarnya lalu meletakannya di Box bayi. Nona besarnya tidak boleh terlalu lama berada di rumah sakit.


“Nona besar…”


“Oh ya Tuan X, aku minta maaf karena harus menyita waktumu bersama dengan anak dan istrimu. Tapi aku sedang membutuhkan bantuanmu”


“Jika saya boleh atu, apa itu Nona?”


“Tolong ikut aku ke kamp utama, 1 minggu lagi aku harus ke perbatasan bersama dengan Paman Jeff dan Deon. Paman meminta selama aku tidak ada, aku mengambil setengah dari Assistant Papa dan Mama untuk menangani pekerjaan disana. Anda lebih tau karakter mereka daripada aku, jadi aku minta tolong pilih orang yang akan ikut ke kamp”


“Baik, saya menerima perintah anda”


“Nyonya Bram, boleh saya membawa dengan suami anda ikut bersama saya”


“Te-tentu Nona, sudah tugasnya untuk melayani anda”


“Tapi…” ucap Selena ragu akan keputusannya membawa X pergi.


“Anda jangan khawatirkan saya dan putra saya. Saya masih punya kakak yang bisa membantu saya mengurus anak saya”


“Baik, terima kasih atas pengertian anda Nyonya. Dan Tuan X, anda akan ikut pergi ke perbatasan. Besok kita akan terbang ke kamp, tapi anda jangan khawatir. Anda bisa menghubungi istri anda selama disana”


“Maaf Nona, tapi tolong jangan melakukan itu. Saya benar-benar akan pergi dengan sukarela dengan anda”

__ADS_1


“Yakin?”


“Sangat”


Selena tersenyum dan menganggukkan kepalanya, matanya menatap box bayi. Sudut bibirnya terangkat membuat perasaan Rafindra seketika cemas dibuatnya.


“Siapa namanya?”


“A-ah, ka-kami belum memberinya nama” gugup X.


“Boleh aku yang memberinya nama?”


“Tentu, itu suatu kerhormatan bagi keluarga saya jika anda memberi putra kami nama” ucap Vinca sembari tersenyum. Dan ucapan wanita itu disetujui oleh suaminya.


“Erlangga Alana Zeona Bram, itu namanya. Kuharap, dia bisa tumbuh bersama anak-anakku”


“Terima kasih atas kehormatan yang anda berikan kepada keluarga kami” ucap Vinca sembari tersenyum.


“Tidak perlu berterima kasih. Aku harus pergi sekarang, jaga dirimu baik-baik”


Rafindra membantu Selena berdiri, X…pria itu mencium kening istrinya sebelum pergi bersama dengan Selena dan Rafindra. Vinca tersenyum lembut, ia menatap kearah box bayi.


“Alan, Ibu ingin kau mengabdikan dirimu kepada keluarga Alexandra sama seperti Ayahmu sayang. Terima kasih untuk hadiah anda, Nona besar Alexandra. Semoga keberkahan dan kejayaan menyertai anda”


“Bagaimana Paman Raf? Sudah dapat informasi tentang Daniel?”


“Maaf Nona, saya tidak bisa menemukan keberadaan Tuan muda Jasson. Ponsel beliau tidak bisa dilacak”


“Pergi keperusahaan Jasson”


Rafindra menganggukkan kepalanya dan segera menyetir menuju perusahaan Jasson. Saat sampai tak perlu berlama-lama Selena langsung masuk kedalam lift menerobos penjaga yang mencegahnya agar tidak masuk.


Selena membuka pintu ruangan Daniel dengan keras mengejutkan orang-orang didalamnya. Selena menatap ruangan mewah yang begitu berantakan, pecahaan kaca dan guci di mana-mana. Apa ruangan ini baru saja terjadi gempa?.


“SIAPA YANG BERANI MASUK KEDALAM RUANGANKU?!!!” teriak Daniel yang tengah bebaring di sofa.


“Ini aku Daniel”


Daniel langsung bangkit dari posisi tidurnya menatap tak percaya siapa yang datang kedalam ruangannya. Namun ia langsung memalingkan wajahnya ketika melihat Selena, tidak…ia tidak mau Selena melihat wajah marahnya.


“Kenapa kemari?”


“Kenapa tidak mengangkat telfonku?”


“Aku tidak ingin diganggu”


“Kau marah denganku?”


“Tidak”


“Lalu kenapa menghindariku?”


“Aku hanya tidak ingin menemui siapapun”


“Apa yang sudah Leo katakan kepadamu sampai kau menjadi seperti ini?”


Ucapan Selena langsung membuat Daniel mendongkakan kepalanya. Tidak, ia tidak boleh membiarkan Selena tau apa yang dikatakan Leo kepadanya semalam. Ia tak mau membuat Selena terpikirkan masalah ini.


“Tidak ada, dia hanya menyinggung persaanku. Kau lebih baik tidak tau, apa pesawat akan segera take off”


“Kita baru kembali besok. Leo tiba-tiba drop, jadi aku meminta Paman Hendrick membiarkanku disini 1 hari lagi”


“Drop…?”


“Lalu bagaimana keadaannya sekarang?”


“Aku berharap Leo bisa lekas membaik, tubuh Leo tidak punya imun yang kuat. Obat-obat tertentu juga bisa memicu alerginya, jadi kuharap dia bisa segera baik-baik saja”


“Jadi, sekarang kau kembali bersamaku atau tetap disini sampai diseret Paman Hendrick kembali?”


Daniel berdiri dan merapikan pakaiannya lalu segera pergi bersama dengan Selena. Namun sebelum ia keluar dari perusahananya ia meminta kepada Sekretarisnya untuk menatap ulang ruang kerjanya.


Daniel masuk kedalam mobil yang sama dengan Selena, ia menatap seorang pria asing yang duduk disebelah Rafindra. Siapa pria itu?.


“Dia Paman X, minggu depan aku akan keperbatasan selama 1 bulan. Jadi selama aku tidak ada, kau akan berlatih bersama dengan Paman Raf dan juga Paman Lewis. Aku akan kembali disaat sudah waktunya bertemu kembar, dan kau akan pulang terlebih dulu daripada aku”


“Apa?! Ke perbatasan?! Itu tempat yang sangat berbahaya! Jangan nekad!”


“Memastikan perbatasan aman, adalah tugasku Daniel. Itu juga akan menjadi tugasmu”


“Aku tau!! Aku sudah sering ke perbatasan! Tapi tidak denganmu! Jangan aneh-aneh”


“Daniel…”


“Tidak!! Tidak ada alasan! Aku tidak mau kau pergi kesana!”


“Patuhi apa yang menjadi keputusanku Daniel”


“Tapi Selena”


“Ini perintah!” final Selena.


Daniel hanya bisa diam, ia tidak bisa membantah ataupun melarang Selena jika Selena sudah mengatakan ‘Ini perintah!’ ah sial*n!! Ia benar-benar tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika Selena pergi ke perbatasan dalam keadaan hamil seperti ini.


“Jika Tuan Rafindra tetap berada di kamp…kau pergi dengan siapa?”


“Paman Jeff, Deon, dan Paman X”


“Tidak dengan Jenderal besar?” tanya Daniel dengan perasaan cemasnya.


“Sekarang hanya ada aku, Paman Raf, Paman Hendrick yang diandalkan. Paman Hendrick pasti akan menangani tanggung jawabku di kamp utama, dan Paman Raf harus melatihmu dan juga mengawasi para komandan. Tidak mungkin aku bisa pergi bersama Paman


Hendrick”


“Kalau begitu biarkan aku pergi bersama denganmu!”


“Tidak, aku tidak akan bisa fokus jika kau ikut bersamaku. Fokus saja dengan latihanmu”


“Sigh…”


Tuan X tertawa lembut melihat perdebatan Selena dan Daniel, mereka pasangan yang lucu dan serasi. Tapi sifat mereka terbalik, dan itulah yang akan membuat kehidupan mereka warna warni.


“Kalian pasangan yang serasi, semoga tuhan selalu mendatangkan kebahagiaan kepada kalian. Dan semoga bayi kalian mendapat keberkahan”


“Ha?”


“Ha?”


Rafindra langsung mencubit lengan X, pria ini…tidak bisakah pria ini tidak mengatakan sesuatu secara sembarangan?.


“Apa yang Paman katakan? Ini bukan suamiku, bayi ini juga bukan anaknya”


“Ah?”


“Suamiku Leo, bukan Daniel”


“A-ah, ma-maafkan ketidak sopanan saya Nona, Tuan”


“Hn”


Suasana seketika menjadi canggung begitupun dengan Daniel, Daniel menggaruk pipinya yang tidak gatal. Duhhh…sepertinya mood Selena sedang tidak baik. Ia lebih baik memikirkan cara untuk mengembalikan mood Selena.


“Hmmmm…mau mampir ke-”

__ADS_1


“Tidak” potong Selena.


Daniel diam tak lagi berbicara, sepertinya sejak tadi mood Selena memang sudah menurun. Ditambah dengan ucapan X yang mungkin membuat mood Selena semakin down.


“Besok kau kembali lebih awal, aku akan kembali dengan William”


“A-apa?!”


“Tidak terima?”


“…, baiklah”


Selena memejamkan matanya, saat sampai Selena langsung turun dari mobil dan masuk kedalam dan menuju penthouse suaminya. Rafindra menginjak kaki X dengan kesal, pria itu langsung meringis kesakitan.


“Sekali lagi kau bicara sembarangan, awas saja” dingin Rafindra.


“Ma-maaf”


Selena membuka pintu kamarnya dengan perlahan lalu menguncinya, ia menatap suaminya yang tengah duduk di balkon dengan sebuah buku tentang kehamilan ditangannya.


“Sayang” panggil Selena.


Leo menoleh kearah sumber suara, ia tersenyum melihat istrinya yang sudah kembali. Selena mendekati suaminya, ia duduk di pangkuan Leo dan memeluk erta tubuh itu.


Leo mengerutkan keningnya, apa yang sudah terjadi kepada istrinya? Kenapa pulang-pulang menjadi seperti ini? Apa ada orang yang sudah membuat mood istrinya buruk.


Selena mendongkakan kepalanya, ia merangkup pipi suaminya dan mencium bibir suaminya. Leo hanya diam melihat tingkah istrinya, sekarang ia yakin bahwa istrinya benar-benar mengalami penurunan mood.


Selena menggigit bibir bawah suaminya lalu melepaskan ciumannya.


“Katakanlah ada apa sayang…” ucap Leo sembari memeluk pinggang istrinya.


“Hmmmm aku hanya merindukanmu…”


Jari lentik Selena dengan perlahan melepaskan kancing kemeja suaminya, Leo tersenyum…apa istrinya sedang kambuh sekarang? Tumben sekali memintanya terlebih dulu.


Leo membelai lembut bibir istrinya lalu mencium bibir marum itu. Selena tersenyum dan membuka mulutnya membuat lidah suaminya langsung masuk kedalam mulutnya.


“Hmphhh…hmmmm”


Tok tok tok…


Selena dan Leo dengan spontan melepaskan ciumannya, Leo mengeram kesal! Siapa yang berani mengganggu momentnya bersama dengan istrinya?!.


“Siapa?!”


“Ini saya Tuan muda”


“Ada apa?!”


Selena memajukan bibirnya, bubar sudah moment romantisnya bersama dengan suaminya. Kenapa Paman Rafnya tiba-tiba mengganggu? Bisanya jika tidak ada hal yang penting tidak akan mengganggu dirinya yang sudah masuk kamar.


“Tuan besar Leonardo datang”


“Kakek?!” ucap Selena langsung turun dari pangkuan suaminya.


Selena langsung buru-buru membenarkan pakiannya yang sempat acak-acakan karena tangan suaminya. Leo pun membenarkan kemejanya dan segera keluar dari kamar.


“Disini ternyata kau, tidak ingat kah jika punya kakek?” seorang pria yang duduk di kursi berujar dengan nada dinginnya.


“Kenapa kakek kesini? Tanpa memberitauku?” ucap Selena.


“5 tahun tidak pernah mengunjungi keluarga Leonardo kau masih bertanya alasan kakek kemari?”


Selena memutar bola matanya jengah mendengar ucapan kakeknya, ia bertanya apa dijawab dengan pertanyaan juga oleh kakeknya.


Daniel menatap bingung Selena yang tengah berdebat dengan seorang pria yang datang entah dengan undangan siapa.


“Siapa dia?” tanya Daniel menggunakan bahasa isyarat kepada Leo.


“Tuan besar Leonardo, kakek istriku”


Daniel langsung blank, dengan spontan ia langsung berdiri disebelah William daripada ditanyai nantinya.


“Punya cucu satu saja sudah bandel, tidak mau dikekang, jarang pulang pula”


“Aduhhhhh…kakek ini datang-datang langsung marah-marah” ucap Selena sembari menghampiri kakeknya.


“Bagaimana kakek tidak marah?! Sudah kabur dari keluarga Alexandra! Jadi istri kontrak bajin*an Hans! Keguguran tidak bilang!! Menikah diam-diam dengan Leo!! Masuk kamp tanpa memberitau!! Sekarang hamilpun masih mau dirahasiakan dari keluarga Leonardo?!”


Selena langsung berlutut dihadapan kakeknya, mampus…darimana kakeknya mengetahui itu semua?. Ia bukan masih marah dengan keluarga Leonardo, tapi ia hanya takut jika akan dipaksa masuk ke keluarga Leonardo jika keluarga Leonardo tau hal apa saja yang sudah dialaminya selama ini.


Leo berdiri disamping Daniel, ia lebih baik disini daripada ikut dimarahi kakek mertuanya. Daniel menyenggol lengan Leo membuat pria itu mengerutkan keningnya.


“Apa?”


“Belum sempat keluarkah?”


“Apanya?” tanya Leo dengan wajah herannya.


“Kau belum sempat klimaxs kan? Celanamu masih mengembung” bisik Daniel membuat Leo langsung menginjak kaki Daniel dengan kuat. Daniel memeganggi kakinya karena kesakitan, sial*n! Pria ini benar-benar kasar!.


“Bagaimana mau keluar? Belum masuk sudah diganggu”


Daniel kembali berdiri dan menatap Selena yang masih dimarahi habis-habisan oleh Tuan Leonardo.


“Maaf atas perkataanku semalam”


“Lupakan, aku mencoba melupakannya. Jangan membuat Selena cemas karena pertengkaran kita”


“Bangun, kau sedang hamil. Jangan duduk seperti itu” Tuan Leonardo membantu Selena untuk berdiri, ia meminta cucu tunggalnya untuk duduk disebelahnya. Selena duduk mematuhi ucapan kakeknya.


“Nara minta maaf kakek….”


“Kenapa minta maaf?”


“Nara sudah membunuh Mama…”


Tuan besar Leonardo menghembuskan nafasnya mendengar ucapan cucunya, ternyata karena kematian putrinya.


“Anak bodoh, meskipun tanpa sengaja kau sudah membunuh Mamamu tapi itu bukan kesalahanmu. Kau tau sendiri kan bagaimana Mamamu sangat menyayangimu. Kau bagai putri kandungnya sendiri, kakek sudah merelakan kepergian Jennifer. Jadi kakek minta kau juga jangan terus berpikiran bahwa kau yang sudah membunuhnya”


“Tapi…”


“Apa yang dia lakukan adalah untuk melindungi anaknya. Dan kakek menghormati keputusannya itu, sebelum dia ditangkap Hans dia sempat menelfon kakek untuk meminta maaf. Dia melakukan ini untukmu, dan kakek menghormati keputusannya itu”


Selena menggigit bibir bawahnya, Tuan Leonardo mengusap kepala cucunya.


“Meskipun Papa dan kedua Mamamu sudah tidak ada…keluarga Leonardo masih tetap menjadi keluargamu. Darah keluarga Leonardo mengalir ditubuhmu, jadi jangan harap bisa lari dari keluarga Leonardo” ucap Tuan Leonardo dengan senyum evilnya.


Selena menelan ludahnya, orang-orang bilang keluarga Alexandra adalah keluarga terkejam yang penah ada karena membunuh orang tanpa belas kasihan. Tapi menurutnya, keluarga Leonardo lebih menyeramkan karena keluarga Leonardo berhasil membuat mentalnya terguncang dengan pelajaran etika.


“Mulai main mental kakek mertuaku” bisik Leo.


“Ya, terlihat dari wajah tertekan Selena”


“Ya, istriku berani menentang keluarga Alexandra. Tapi mati kutu jika berhadapan dengan keluarga Leonardo,mereka satu-satunya keluarga yang bisa membuat istriku tertekan”


“Aku jadi penasaran didikan yang mereka berikan kepada Selena”


“Harus lulus tes tatakrama dalam waktu pelatihan 1 minggu sekaligus menghafal silsilah beberapa keluarga besar” bisik Leo langsung membuat Daniel menelan ludahnya kasar. Sepertinya ia beruntung terlahir di keluarga Jasson bukan Alexandra maupun Leonardo.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2