
.
.
.
Tok tok tok
Seorang dokter wanita mengetuk pintu kamar rawat milik Daniel. Joe mendongkakan kepalanya, melepaskan genggaman nya pada tangan sang kakak dan keluar dari ruangan itu membiarkan kakaknya dijaga terlebih dulu oleh bodyguard.
“Ada apa?”
“Nona muda, bisa kita bicara sebentar? Ada hal penting yang ingin saya sampaikan” jawabnya dengan nafas yang tersengal-sengal.
“Tentang?” dingin Joe.
“Nona muda Selena”
Degh!
Joe tersentak kaget. Ia menganggukkan kepalanya, dokter wanita pergi keruangannya dan diikuti oleh Joe. Joe duduk tepat didepan dokter wanita itu. Dokter wanita itu memberikan sebuah berkas kepada Joe. Joe menerimanya dan dengan cermat membacanya.
Joe menjatuhkan berkas itu kelantai ketika selesai membacanya. Dokter wanita itu sontak berdiri dan membereskan kertas-kertas yang berjatuhan itu. Saat sudah selesai mengumpulkan kertas-kertas itu ia kembali ketempat duduknya.
“Seperti yang anda lihat, dari keterangan disana. Keguguran Nona muda tidak hanya diakibatkan oleh tusukan pisau. Namun sejak awal kondisi rahim Nona muda memang sudah lemah. Ditambah pola makan yang tidak teratur, istirahat yang kurang, dan sering stress dan tertekan membuat kondisi ini semakin memburuk”
“Jika Nona muda terus menerus seperti ini. Maka itu bisa berefek serius kepada rahim dan kesehatan beliau. Terlalu sering tertekan dan menahan rasa sedih juga bisa membuat kesehatan mental Nona muda terganggu. Jadi saya minta, tolong…tolong jangan biarkan sampai Nona muda tertekan lagi”
Joe mengacak rambutnya frustasi mendengar penjelasan dokter wanita didepannya ini. Sekecil mungkin, ia harus tau perlakukan keluarga Georgino kepada adiknya selama ini. Ia juga harus tau bagaimana Hans memperlakukan adiknya. Sekecil mungkin, ia harus tau itu semua.
“Bicarakan ini dengan dokter yang lain, dalam 1 bulan. Aku ingin, tak ada hal buruk yang mengganggu kesehatan adikku. Atau kalian akan tau akibatnya”
“Ba-baik Nona muda…”
Joe keluar dari ruangan itu dan menuju ruangan Selena. Ia masuk kedalam ruangan itu membuat Hans berdiri dari tempat duduknya.
“Bisa kau keluar? Aku ingin bicara sebentar dengan Selena?”
__ADS_1
“Ada apa? Kenapa aku harus keluar?”
“Lebih baik kau keluar sekarang, jangan mengganggu”
Selena menelan ludahnya. Jika Joe sampai bersikap dingin dan kejam seperti itu kepada Hans. Itu berarti ada yang sudah Joe ketahui. Apa Joe mengetahui bagaimana Hans memperlakukannya dulu?.
Hans dengan berat hati keluar dan membiarkan Joe bersama dengan istrinya. Joe duduk disamping tempat tidur Selena, ia menggenggam tangan Selena dengan erat.
“Joe…ada apa? Kenapa kau kemari sendirian? Di mana Daniel?”
Joe hanya bisa diam tanpa menjawab pertanyaan Selena. Ia sudah berjanji kepada Daniel untuk tidak mengatakan yang sejujurnya kepada Selena. Ia juga tak mau jika sampai hal ini mempengaruhi kondisi Selena.
“Selena, kita keluarga bukan?”
“Iya, kenapa Joe?”
Joe mengeraskan rahangnya, ia harus menahan dirinya untuk tidak bertanya tentang hal yang sensitive terlebih dulu kepada Selena. Ia harus membuat Selena merasa aman dan tak lagi ketakutan.
“Tak apa, istirahatlah dengan baik. Aku akan pergi dulu”
Joe pergi dari ruangan Selena membuat Hans langsung kembali masuk kedalam ruangan istrinya. Joe dengan pandangan kosong pergi keruangan Daniel. Ia duduk dikursi dan kembali menggenggam tangan Daniel.
“Kondisi Tuan muda sudah sedikit membaik, karena beliau kehilangan terlalu banyak darah itu membuatnya tak sadarkan diri untuk beberapa waktu kedepan.”
Joe menyibakan rambutnya kebelakang dan melirik kearah pintu meminta dokter itu keluar. Dokter itu menganggukkan kepalanya dan keluar dari ruangan Daniel.
Joe menatap sendu kakaknya. Setelah operasi Selena selesai, seorang dokter wanita memberitaukan bahwa Selena kehilangan terlalu banyak darah. Dan darah Selena adalah tipical darah yang langka. Namun untungnya Daniel memiliki darah yang sama dengan Selena. Dan itu membuat Daniel merelakan 3 liter darahnya untuk dialirkan kedalam tubuh Selena. Awalnya ia tidak setuju Daniel melakukan itu, namun Daniel bersikukuh ingin melakukannya. Jika ia mempunyai golongan darah yang sama dengan Daniel. Maka ia akan mendonorkan darahnya juga agar Daniel tidak menjadi seperti ini.
“Aku tak mau kau kenapa-napa…aku akan patuh kepadamu asalkan kau bangun dari ini”
“Janji?”
Daniel tiba-tiba bangun membuat Joe langsung terjatuh dari tempat duduknya. Joe menatap gemetar Daniel yang tengah tersenyum dengan bibir pucatnya.
“Ma-mayat hidup?!”
“Gundulmu! Aku masih hidup sial*n! Dasar adik tidak berotak!” semprot Daniel.
__ADS_1
“Aaaaaaaaa!!!”
Bugh!
Joe langsung melempar sepatunya tepat mengenai kepala Daniel membuat Daniel pingsan seketika. Joe yang melihat itu langsung berdiri dan menepuk pipi kakaknya.
“Huwaaa!!! Kakak!! Jangan mati dulu!!! Kau kan belum memberiku uang jajan!!! Aku jajan pakai uang siapa nanti?!! Kakak?!!”
Para bodyguard menggelengkan kepala melihat kelakuan Joe kepada Daniel. Tadi menangis meminta Daniel untuk bangun pas bangun malah dilempar sepatu sampai pingsan. Apa uang jajan lebih berharga daripada Tuan muda mereka?. Entah kenapa mereka bisa menerima tawaran untuk menjadi bodyguard orang seaneh Joe.
Entah kenapa mereka iri dengan bodyguard milik Nona muda Selena mereka. Bodyguard yang memiliki bagian untuk mengawasi dan menjaga Selena selalu diperlakukan dengan baik oleh Tuan (Selena) mereka. Sedangkan mereka yang mendapat bagian mengurusi Joe harus siap mental setiap hari.
.
.
.
.
**********
.
.
.
.
Happy reading semuanya....
Semoga nggak bosan sama cerita Clara ya....
.
.
__ADS_1
.