Our Last Love

Our Last Love
V1 : Chapter 194 : Like Father Like Son


__ADS_3

.


.


.


Selena dan Daniel menatap dingin 2 undangan didepan mereka. Haruskah mereka datang ke tempat undangan ini di adakan? Jika datang akan menguras emosi dan jika tidak datang akan di cap buruk oleh media. Benar-benar merepotkan…menambah beban saja.


“Tidak perlu datang, aku akan beralasan liburan keluar negri”


“Hadir”


“Tidak perlu, kau bisa dihina mati-matian disana”


“Who cares?”


Daniel menatap kesal Selena, untuk apa Selena mau menghadiri pesta makan malam yang diselenggarakan keluarga Georgino? Pasti keluarga itu lagi-lagi ingin mempermalukan Selena. Dan ia tidak mau sampai hal itu terjadi lagi kepada Selena.


Selena mengambil ponselnya, menghubungi seseorang yang berada jauh disebrang sana.


“Masukkan berkasnya ke pengadilan, minta pengacara keluarga Alexandra dan Leonardo datang menemuiku. Siapkan semuanya dalam 2 hari, dan hubungi Asasi. Dia akan mulai melakukan tugasnya kembali”


“Siap laksanakan!!”


Tut…


Daniel tercengang, apa yang ingin dilakukan Selena? Jangan bilang gadis ini ingin…


“Sudah waktunya mereka menjalani hukuman”


“Kau…ingin melakukan apa?”


“Menghukum keluarga Georgino atas perbuatan mereka”


Blarrrrrrr!!


Daniel tersentak kaget, ia tak salah dengar kan?! Selena akan memenjrakan keluraga Georgino?!!! Akhirnya!!! Setelah sekian abad menanti hingga firaun bangkit kembali dan dinosaurus kembali beranak Selena akhirnya mau melakukan hal ini juga!! Ia jadi tak sabar menanti hari di mana keluarga Georgino bertekuk lutut dihadapan gadis yang sudah mereka caci maki.


“Jika kau tidak mau ikut, kau bisa disini menjaga Leon dan Ivy”


“Aku ikut! Tapi siapa Ivy?” tanya Daniel.


“Leona”


“Ohhhh, kenapa kau memanggilnya Ivy?”


“Biar beda saja”


**************


Selena menatap gaun hitam yang dibelikan Daniel untuknya, pria itu pintar memilih baju. Perutnya yang masih sedikit membuncit tidak begitu terlihat ketika memakai ini.


“Sudah siap? Jetku sudah siap”


Daniel yang sedang membenarkan lengan kemejanya terdiam membatu melihat Selena yang memakai gaun yang ia belikan tadi. Wahhhh…cantik, ia akan beli beberapa lagi untuk Selena.


“Perutku tidak terlihat membuncit kan?”


“Tidak, memang perutmu kan tidak membuncit?”


“Kata siapa?”


“Dih?! Sudah rata begitu”


“Lebih buncit dari biasanya”


“Terserahlah, ayo berangkat. Oh, kau…tidak pakai cincinmu?”


“Aku tidak boleh memakai cincin dari orang yang sudah tiada, kalau dari Papa masih bisa”


“Maaf, aku tak bermaksud” ucap Daniel tak enak, sepertinya ia harus membaca pantangan keluarga Alexandra.


“Tak masalah”


Selena berjalan keluar bersama Daniel, Mikayra melipat kedua tangannya dengan bibir yang dikucurkan. Cih…ia ingin ikut pergi bersama cucunya! Tapi kenapa suaminya tidak memperbolehkannya pergi?!.


“Sayang…aku ingin pergi…aku ingin melihat wajah siluman wanita itu”


“Jangan, siapa yang jaga anak-anak jika kau pergi? Sudah disini saja, aku baru datang dan kau mau langsung pergi begitu saja? Teganya dirimu” ucap Zachery, jauh-jauh ia datang ke Australia dan baru sampai 1 jam yang lalu malah istrinya mau pergi bersama cucunya.


“Cih! Siapa suruh datang” kesal Mikayra.


“Oma disini saja, aku tak akan bisa menangani mereka jika Oma ada”


“Ayolah sayang…Oma janji tidak akan mengacau”


“Opa ada disini, Oma temani Opa saja”


Selena menarik tangan Daniel masuk kedalam lift, Selena menghembuskan nafasnya. Daniel menatap rambut Selena yang belum dirapikan.


“Nanti kurapikan rambutmu saat di jet, tidak mau potong rambut?”


“Tidak terima kasih” jawab Selena cepat.


^^^^^^^^^^^^^


Didalam Jet.


Daniel dengan hati-hati menyisir rambut lembut Selena, ini pertama kalinya ia menghias rambut seseorang. Semoga saja hasilnya tidak mengecewakan.


“Rambutmu panjang dan sangat banyak, mau kupangkaskan? Rambutmu sudah ada yang bercabang”


“…, boleh”


Daniel tersenyum, ia segera meminta Assistantnya mengambilkan gunting. Daniel dengan telaten memotong rambut Selena, tidak banyak hanya untuk menghilangkan rambut yang bercabang saja. Potongan rambut Selena secara teliti di kumpulkan oleh Assistant Daniel.


“Rambutmu cantik, aku suka”


“Rambutmu juga” jawab Selena.

__ADS_1


“Sejak kematian Papa aku tidak pernah memotong rambutku lagi, takut botak seperti 13 tahun lalu”


Mendengarnya Daniel langsung terdiam, ia baru ingat jika Selena pernah mengalami kerontokan rambut saat menjalani pengobatan di usianya yang ke-5-6 tahun.


“Nah, sudah”


Assistant Daniel memberikan sebuah cermin, Selena menatap dirinya serta rambutnya yang baru saja di potong. Wah, Daniel menepati ucapannya dengan hanya memotong ujungnya saja. Rambutnya terlihat sedikit rapi jika seperti ini.


“Kau cocok menjadi tukang potong dan juga Baby sister”


Jlep!


“Pujianmu menghina sekali ya?” ucap Daniel dengan kesalnya.


“Mau berapa juta perminggu?”


“Aku tidak kekurangan uang, dan apa kau menganggapku miskin huh?” kesal Daniel mencubit pipi Selena membuat gadis itu mengerang kesakitan.


.


.


.


Selena menggandeng tangan Daniel dan masuk kedalam mansion keluarga Jasson setelah menunjukan kartu unnagan kepada penjaga. Selena menatap sekelilingnya, tempat yang lumayan strategis dan susah untuk di jangkau orang luar. Keluarga Georgino benar-benar pandai memilih lokasi bersembunyi.


Mata Selena melirik kebelakang, menatap pria-pria yang berjaga lengkap dengan persenjataan mereka. Jika dulu Yeni selalu mempermalukannya, kali ini ia akan membuat wanita itu malu dipesta keluarganya sendiri. Kali ini, gelar bangsawannya akan ia lepas dan berjalan teguh pada prinsip berduri Alexandra.


“Berhati-hatilah Daniel, jangan menjauh dariku”


“Aku tau rencanamu”


“Kau tak mengetahuinya”


“Aku tau”


“Terserahmu saja”


Selena menatap Hans dan Gerry yang tengah berbincang di sudut hall room. Ia segera melepskan pelukannya pada lengan Daniel dan berjalan menuju Hans. Daniel yang melihat hal itu hanya bisa diam, akankah Selena kembali kepada Hans?.


Namun sebelum sampai pada Hans Selena membalik badannya dan kembali menghampiri Daniel, menarik tangan pria itu dan mengajaknya bertemu dengan Hans.


“Selena?!” ucap Hans dan Gerry bersamaan. Kenapa Selena ada disini?! Apa keluaga Georgino juga mengundangnya?!.


“Bagaimana bisa…kau disini?” tanya Hans, tangannya terulur hendak menyentuh Selena namun Daniel dengan kasar menepis tangan itu.


“Jaga tanganmu” sinis Daniel.


Selena mengeluarkan 2 buah gelang dari dompetnya dan diberikannya kepada Hans. Hans menatap gelang cantik dengan permata merah itu, kenapa Selena memberikannya 2 buah gelang ini?.


“Berikan itu untuk anakmu, aku belum sempat memberikannya hadiah. Satunya untuk anak Merry”


Hans terdiam namun sesaat kemudian ia mengucapkan terima kasih kepada Selena dan menyimpan gelang itu di saku celananya. Kenapa Selena datang bersama dengan Daniel? Di mana Leo? Seharusnya jika Daniel diundang Leo juga diundang. Tapi daripada memikirkan hal itu, ia lebih penasaran kenapa suara Selena terdengar datar dan tidak peduli begitu? Hilang di mana suara lembutnya?.


Selena menatap hall room yang mulai di penuhi tamu undangan, berapa banyak orang yang diundang? Sepertinya ia harus bertindak lebih hati-hati. Ia tak mau jatuh ke lubangnya sendiri.


“Selena, boleh aku tanya sesuatu?”


“Apa…yang terjadi dengan perutmu? Bukankah seharusnya kandunganmu masih 7 atau 8 bulan?” ucap Hans.


“Dikeluarkan dengan paksa, kenapa memangnya?”


“A-apa?” ucap Hans tak percaya, apa Selena mengalami keguguran? Lalu kenapa Leo tidak berada di sampingnya disaat yang seperti itu?.


“Jangan membahas mengenai itu lagi, kau paham?” dingin Daniel memeluk bahu Selena. Meskipun Selena terlihat acuh tak acuh ia tau hatinya pasti sedang sakit sekarang, mengingat sampai sekarang Selena belum bisa menerima sepenuhnya kehadiran Leon dan Leona.


“Apa kau mau minum sesuatu? Bibirmu telihat kering, kau haus?”


“Apa bibir kering menandakan aku haus?”


“Oh, kau tidak haus? Kalau begitu sebentar”


Daniel merih dagu Selena dan mengeluarkan pelembab bibir dari sakunya dan dengan teliti mengoleskannya di bibir Selena. Setelah Selena Selena berdecap bberapa kali, merasa bibirnya terasa aneh.


“Apa ini? Rasanya aneh”


“Kau tidak tau ini? Ini pelembab bibir, jangan dijilat hei!” ucap Daniel.


“Benda aneh apa lagi itu? Aku tidak suka” kesal Selena.


“Ah maafkan aku, aku akan membersihkannya” ucap Daniel mengeluarkan sapu tangannya dan membersihkan bibir Selena. Wah, apa bibir Selena memang seperti ini dari sananya? Bibir mungil yang merah, lucu.


Daniel tertawa lembut melihat wajah Selena yang masih kesal karena rasa pelembab bibir itu, ia pikir Selena suka menggunakan pelembab bibir tapi ternyata gadis ini bahkan tak tau apa itu pelembab bibir.


“Sepertinya acara akan dimulai, lebih baik kalian kesana” ucap Hans yang tak tahan lagi melihat kedekatan Daniel dan Selena. Bagaimana bisa Selena begitu dekat dengan Daniel? Apa Selena tidak memikirkan Leo? Meskipun wajah Selena terlihat cuek tapi perasaan Daniel kepada Selena tak bisa disangkal lagi.


Selena menatap semua orang yang berada di hall room, mencari keberadaan Yeni dan keluarganya. Namun saat mencari keberadaan Yeni mata Selena tertuju kepada Lucio bersama seorang wanita muda di sampingnya.


“Nanti kutunjukan hal yang menyenangkan” bisik Selena.


“Apa itu?”


“Nanti”


“Ayolah…katakan kepadaku sekarang, jangan membuatku penasaran”


“Nanti”


“Baiklah baiklah, aku tak akan bisa menang jika berdebat denganmu”


Daniel menggandeng tangan Selena ke hall room, musik diputar menandakan pesta dansa dimulai. Daniel membungkuk dan mengulurkan tangannya.


“Boleh aku yang mengambil dansa pertamamu kali ini?”


“Ini kedua kalinya”


“Masa?”


“Pesta keluargamu?”

__ADS_1


“Oh ya, boleh sekali lagi?”


“Why not?”


Selena memberikan tangannya, Daniel menarik pinggang Selena dan memulai dansanya. Mata Selena sesekali menatap sekitar, memeriksa keadaan bahaya atau tidak…namun matanya secara tidak sengaja menangkap ekspresi murung Hans.


“Whatever”


“Hei, itu Lucio dengan siapa?” bisik Daniel yang melihat kepala keluarga Georgino tengah bergurau mesra dengan seorang gadis yang masih muda. Tapi sepertinya masih muda Selena, wanita itu sepertinya seumuran dengan wanita itu (Arwin).


“Istrinya”


“What?!!” ucap Daniel secara spontan, keterkejutan Daniel langsung membuat semua mata menatap kearahnya. Selena menginjak kaki Daniel, apa Daniel baru tau jika Lucio punya istri selain Yeni?.


Setelah beberapa saat musik berhenti, Lucio bangkit dari tempat duduknya.


“Para tamu yang terhormat silahkan menikmati pesta ini. Bagi yang mempunyai undnagan VIP, silahkan ikut makan malambersama keluarga Georgino.


“Tamu VIP? Adakah? Sepertinya undanganku biasa saja”


“Benar, ahhhh…sayang sekali…”


“Iya, aku ingin sekali melihat pewaris keluarga Georgino yang baru saja lahir”


“Oh, putra Tuan Hans itu kan? Siapa namanya, Hansel ya?”


“Iya Hansel! Pesta ini pasti pesta perayaan kelahirannya juga”


"Wah calon pewaris baru"


“Tapi bukankah rumornya dia hanya seorang anak haram? Mana mungkin bisa menjadi pewaris keluarga?” bisik salah seorang wanita.


“Sttttt kecilkan suaramu, apa kau tidak ingat jika Tuan muda Hans juga…”


“Ops…”


Selena dan Daniel saling menatap, undangan yang mereka dapat apa ya? Mereka terlalu tidak peduli sampai tidak membaca keseluruhan undangan itu.


“Tidak perlu melihat undangan kalian, kami hanya mengundang 2 tamu VIP. Mereka berdua adalah Nona Leonardo dan juga Tuan muda Jasson” lanjut Lucio.


Selena dan Daniel langsung saling membuang muka, ah sial*n…rencana baru apa lagi yang sudah di siapkan keluarga Georgino?. Selena memajukan bibirnya merasa kecewa.


Hans menatap heran Papanya, kenapa Papanya memberikan undnagan VIP kepada Daniel dan juga Selena. Apa yang sedang Papanya coba lakukan kepada Selena? Apa ini lagi-lagi karena Mamanya?.


Selena menyelipkan rambutnya kebelakang telinga dan menekan alat ditelinganya yang terhubung langsung kepada para penjaganya yang berada di luar kediaman.


“Perubahan rencana, tunggu aba-aba. Jangan bertindak dulu”


“Baik…”


Daniel menggenggam tangan Selena dan mengikuti arahan dari penjaga yang menuntun mereka menuju ruang makan. Saat sampai diruang makan mereka berdua langsung ditatap oleh anggota keluarga besar Georgino. Daniel mengerutkan keningnya, siapa wanita-wanita asing yang tengah duduk berjajar di sebelah Yeni?.


Pelayan menarik kursi, mempersilahkan Selena duduk. Di meja yang begitu panjang, Selena mendapat tempat duduk tepat berhadapan dengan kepala keluarga Georgino, Lucio. Selena dengan tenangnya duduk, Daniel juga duduk di kursinya disusul oleh kedatangan Hans.


Mata Selena mencari keberadaan mainannya, di mana mainannya? Kenapa tidak terlihat? Apa mainannya masih rusak hingga tidak di bawa?.


*Lie


“Heh\, kali ini…kau benar-benar akan habis…pela*ur sial*n…” batin Yeni tersenyum sinis ke arah Selena. Akhirnya hari yang ia tunggu-tunggu telah tiba, setelah sekian lama akhirnya ia bisa melenyapkan penghalang ini.


Makanan di sajikan, Selena menghembuskan nafasnya ketika lagi-lagi menu yang dihidangkan adalah steak. Ya tuhan…ia sampai benci melihat makanan ini karena terlalu sering memakannya.


“Mau kupotongkan?” tawar Daniel.


“Tidak perlu, bawa ini pergi. Aku sedang diet” ucap Selena kepada pelayan dibelakangnya.


“Tapi Nona…”


Selena langsung menatap tajam pelayan wanita itu, wanita itu langsung membawa pergi steak dihadapan Selena. Selena menatap dingin Lucio serta istri-istrinya yang tengah menikmati makan malamnya.


“Memberikan undnagan VIP kepadaku dan mengajakku makan malam. Bukankah anda ingin membiarakan sesuatu, Tuan Lucio yang terhormat?”


“Lancang!! Di mana etikamu saat dimeja makan hah?!” bentak wanita disebelah Yeni.


“Adakah yang berbicara kepada anda? Nyonya ke-5?”


Daniel langsung menatap Selena, Selena memanggil wanita itu tadi apa?! Nyonya ke-5?! WTF!!.


“Kau gadis 18 tahun yang cerdas, tak heran jika putraku tergila-gila kepadamu”


“Jangan membuang waktuku TUA…”


Daniel langsung menahan tawanya mendengar panggilan Selena kepada Lucio. Saraf takut Selena benar-benar sudah terputus, bisa-bisanya memanggil Lucio tua. Tapi pria itu memang sudah tua sih dan sepertinya hanya Selena yang berani memanggil Lucio seperti itu.


“Papa pernah memanggilnya gigolo tua sial*n” bisik Selena kepada Daniel, jika tidak ada yang mengajari mana berani ia berkata seperti itu.


“Aku tak ingin melakukan apa-apa kepadamu, aku hanya ingin menjalin hubungan baik denganmu. Mengingat kau pernah mengandung anak putraku”


“Ya, tapi dibunuh oleh istri ke-4mu” dingin Selena.


Ucapan Selena langsung membuat semua orang yang berada disana menghentikan acara makan mereka tanpa terkecuali.


“Entah aku harus berterima kasih atau apa. Jika Yeni tidak membunuh anakku, maka anakku Leon, Leona dan Ryu…akan mempunyai saudara dari keluarga Georgino. Dan itu…akan merusak gen baik mereka”


“Stay cool Daniel…stay cool…” batin Daniel yang mati-matian menahan tawanya.


Lucio menatap Selena dengan kening yang mengkerut, ia sudah mencoba berbicara baik-baik didepan gadis itu tapi apa yang gadis itu lakukan? Beraninya bocah seperti itu berbicara dengan nada yang tidak menyenangkan didepannya. Ahhh…ia jadi teringat pria yang juga pernah melakukan hal yang sama kepadanya 13 tahun yang lalu.


“Sudahlah, jangan menutupinya lagi. Aku tau niat kotor kalian”


Semua istri Lucio langsung menatap sengit kepada Selena tapi Selena tak menggubris tatapan-tatapan tak menyenangkan itu. Ia lebih fokus bermain mental dengan Lucio yang sekarang sepertinya sudah tak punya kesabaran, berguna juga ajaran Said yang pernah ia anggap tak ada gunanya sama sekali.


“Tsk, tidak Ayah tidak anak. Sama-sama seorang gigolo”


Brakkkkkk!!


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2