
.
.
.
Lonza tersenyum lembut melihat keponakan kecilnya yang tengah tertidur lelap ditempat tidurnya. Ia memberikan ciuman dipipi Selena sebelum keluar dari kamarnya. Lonza menatap kakak-kakaknya yang tengah menikmati teh diruang tamu kecuali Deon yang tampak memikirkan sesuatu.
“Ada apa? Kenapa wajahmu serius begitu Alexa?” tanya Lonza kepada kakaknya.
“Tunangan Hans…ada di Negara ini”
“Lalu? Apa yang kau khawatirkan dengan itu?”
“Jika sampai Yeni berhasil membuat keponakan kecil bertemu dengan wanita itu…aku takut dia akan merasa sedih”
“Itu bukan masalah besar, biarlah jika mereka bertemu. Selena juga punya Leo, apa masalahnya? Toh mereka itu suami istri yang saling selingkuh. Bukan masalah besar, kecuali jika wanita itu menyentuh Selena…itu menjadi masalah besar” ucap Lonza.
“Bukan itu yang kumaksudkan Lonza, ini memang bukan masalah besar. Tapi Yeni yang menjadi masalahnya, jika sampai pertemuan tunangan Hans dan keponakan kecil terjadi, maka…itu akan membuat celah besar bagi Yeni menyakiti Selena. Kau tau sendiri…bagaimana kondisi Selena saat ini”
“Apa kau lupa Selena siapa? Dia putri Ruvelis, jika Selena ingin…aku bisa membuat Yeni bersujud dikaki keponakan kecil sekarang juga jika perlu”
Deon menatap telapak tangannya, sebelum hari kematian kakak dan kakak iparnya. Keponakannya adalah seorang gadis yang jenius dan mahir menggunakan senjata apapun itu. Bahkan kemampuan menembaknya lebih tinggi daripada dirinya. Namun sekarang…hanya dengan mendengar nama pistol terucapkan…itu akan menjadi sebuah mimpi buruk yang tak akan pernah terlupakan.
“Ini tak semudah dulu…ini tak semudah dulu…” lirih Deon mengusap rambutnya dengan kasar.
.
.
.
Selena membuka matanya dengan perlahan, ia bangun dengan terkejut. Ini bukan rumah Leo maupun Daniel! Ia ada di mana sekarang?!.
Deon membuka pintu dengan perlahan, Selena yang melihat itu langsung berlari memeluk Deon sembari menangis sesegukan.
“Ada apa? Kenapa menangis? Mimpi buruk lagi?”
“Hiks…ini di mana? Aku mau pulang…”
“Hm? Kan kemarin kau sendiri yang bilang mau menginap di tempat Lonza…lupa?”
Selena menggelengkan kepalanya dengan cepat, ia tak ingat jika ia meminta menginap dirumah Pamannya yang terakhir. Ia ingat jika ia masih berada di taman bermain dengan Lonza, saat itu ia meminta Pamannya untuk membelikannya permen kapas.
Deon mengerutkan keningnya, ada sesuatu yang salah dengan keponakannya.
__ADS_1
“Tak pa…jangan menangis Okey? Ayo makan dulu, setelah makan...mandi. Nanti Paman antar ke kampus”
Selena menganggukkan kepalanya. Setelah selesai makan ia langsung masuk kedalam kamar mandi.
“Jeff, minta Bei datang. Ada yang tidak beres dengan Selena”
“Tidak beres?” tanya Jeff mengerutkan keningnya.
“Telfon saja dulu, nanti kujelaskan”
Selena keluar dari kamarnya, Deon yang melihat itu langsung mengambil kunci mobilnya dan membawa keponakannya turun ke parkiran untuk segera berangkat ke kampus.
Deon menghentikan mobilnya saat berada tepat didepan kampus keponakannya. Keponakannya lumayan juga bisa mendapat beasiswa di Royal University.
“Nanti pulang mau dijemput siapa?”
“Hm…nanti aku pulang dengan Joe saja Paman!”
“Joe? Siapa?”
“Temanku!”
“Kau punya teman? Darimana? Bagaimana sifatnya? Pria atau wanita? Dari keluarga mana?”
“Jasson? Oh! Keluarga yang Nyonya-nya bernama Emerland itu?”
“Iya! Paman tau darimana?”
“Heh, keponakanku tersayang…bagaimana Paman tidak tau jika Emerland sendiri adalah sahabat Mamamu. Dasar gadis bodoh” batin Deon tersenyum tipis.
Deon mengacak rambut Selena, Selena menggigit tangan Deon karena kesal. Ia segera keluar dari mobil Deon, saat hendak berlari kearah Joe yang sedang berjalan di koridor lantai 5 tangannya dicekal oleh Deon.
“Hm? Ada apa Paman?”
“Hari ini jangan keluar dulu, Paman akan menjemputmu lebih awal. Bei akan datang, Paman harus tau bagaimana keadaanmu”
Deon mengeluarkan sebotol vitamin kepada keponakannya. Selena menerima vitamin itu dan memasukkan kedalam saku lalu mencium pipi Deon dan segera masuk kedalam lift menyusul Joe yang sudah masuk kedalam kelas.
Deon menggenggam setir dengan kuat, jika sampai ia mengetahui sesuatu sudah terjadi kepada keponakannya. Jangankan Hans, Leo dan Jennifer akan ia larang bertemu dengan Selena.
Deon menyetir mobilnya menjauh dari kampus keponakannya. Selena satu-satunya keponakan yang ia punya, satu-satunya barang berharga milik kakak dan kakak iparnya. Ia tak akan menerima jika sesuatu terjadi kepada Selena. Ia tak akan membiarkan, pewaris keluarganya…tersakiti oleh siapapun. Tunggu keadaan keponakannya sudah lebih baik, ia akan membalas dendam yang selama ini tersimpan.
Joe menatap kesal Selena, bahkan Joe mengabaikan Selena saat Selena menyapanya. Selena mengerutkan keningnya, ada apa dengan Joe? Apa ada sesuatu yang sudah ia perbuat dan itu memancing amarah Joe?.
“Joe, ada apa? Kenapa kau mengabaikanku?”
__ADS_1
“Pergi sana! Aku kesal denganmu!”
“Hum? Kenapa?”
“Kenapa kau tidak mau bilang jika kau adalah anggota keluarga Ale-hmpppp”
Mulut Joe langsung dibungkam oleh Selena. Untung saja Joe tak menyelesaikan ucapannya, apa Daniel yang memberitau hal ini kepada Joe? Ia bukan tak mau jujur, hanya saja…ia tak mau membuat masalah untuk paman-pamannya.
“Maaf…jangan marah lagi…aku akan menjelaskan semuanya lain hari” ucap Selena melepaskan tangannya dari mulut Joe.
“Tsk, kenapa kau tak mau jujur saja? Apa ada masalah lain yang kau sembunyikan dariku?”
Selena mencengkram ujung bajunya mendengar pertanyaan Joe. Joe yang melihat itu hanya menghembuskan nafas, ia tak boleh memaksa Selena mengatakan yang sebenarya. Perlahan…ia akan membuat Selena bercerita sendiri kepadanya.
Dosen membuka pintu, seorang pria masuk kedalam ruang kelas membuat Selena tersentak kaget seketika. Tubuhnya gemetar dengan hebatnya, kenapa suaminya ada disini?.
Hans menatap Selena yang gemetar. Tanpa basa-basi ia langsung menarik tangan Selena keluar dari kelas. Joe langsung tersentak kaget, namun saat ia hendak mengikuti kemana Hans membawa Selena pergi dosen mengelengkan kepalanya. Joe menggigit bibir bawahnya, sial...
Hans membawa Selena masuk kedalam ruangan rektor. Ia mengunci pintu dan mencium habis bibir istrinya. Selena memukuli dada Hans agar pria itu melepaskan ciumannya. Hans menggenggam kedua tangan istrinya dan terus mencium bibir istrinya. Ia menggigit bibir bawah istrinya agar istrinya mau membuka mulutnya.
Hans melepaskan ciumannya, Selena menghempaskan tangan Hans dan mengusap kasar bibirnya.
“Kenapa? Beberapa hari tak bertemu membuatmu asing dengan sentuhanku? Kenapa sayang…kau tak mau menikmati sentuhanku lagi? Kau tak mau suamimu ini menyentuhmu?”
Selena mendorong tubuh Hans menjauh dari tubuhnya.
“Tolong jangan sentuh aku lagi, aku akan segera menjadi istri Leo. Tolong jaga sikapmu”
Degh!
Hans tersentak kaget mendengar ucapan istrinya. Selena dan Leo akan menikah?! Tidak! Ia tak akan membiarkan itu terjadi! Ia tak akan membiarkan istrinya menjadi istri Leo!.
“Tidak! Aku tak akan membiarkan itu terjadi! Kau masih terikat kontrak denganku Selena…jangan harap aku akan membiarkanmu bersama pria lain!” tegas Hans mencengkram kedua bahu kecil Selena.
Selena menepis kasar tangan Hans dari bahunya.
“Lalu?! Kau akan tetap membiarkanku menjadi istrimu disaat kau juga akan segera bertunangan dengan wanita lain?! Hans! Perlu kau ingat! Aku wanita biasa Hans! Aku mencintai pria yang bisa menghargai dan memperdulikan perasaanku! Bukan pria sepertimu yang tak pernah bisa memegang teguh ucapannya!” sinis Selena langsung membungkam mulut Hans.
Hans terdiam…sial…ia melupakan kejadian saat pesta waktu itu.
.
.
.
__ADS_1