Our Last Love

Our Last Love
Chapter 56 : Bunuh saja aku! Aku tak kuat!


__ADS_3

.


.


.


Hans dengan kasar menarik tangan Selena masuk kedalam rumahnya. 4 hari, 4 hari lamanya ia tak menemukan keberadaan istrinya. Dan sekarang, istrinya kembali dan akan membawa petaka untuknya.


“Hans…lepaskan aku…ini sakit…” rintih Selena.


“Sakit?! Kau masih bisa merasakan rasa sakit sekarang?! Kau kemana saja hah selama 4 hari ini?! Apa pria itu tadi adalah selingkuhanmu?! Jawab aku Selena!!!” bentak Hans.


Geram, ia benar-benar geram. 4 hari ia panik mencari keberadaan istrinya yang tiba-tiba menghilang entah kemana dan disaat yang bersamaan dengan 3 adiknya yang terluka parah dirumahnya sendiri.


“Jawab aku!! Kenapa kau hanya diam hah?!! Kenapa saja kau?!! Atau jangan-jangan…kau sudah menikah diam-diam dengan pria itu?! Jawab Selena!!!” teriak Hans. Pikiran buruk semakin menghiasi pikirannya saat ini.


“4 hari!!! 4 hari aku terus mencarimu yang tiba-tiba menghilang seperti ditelan oleh bumi!! Apa pria tadi adalah selingkuhanmu?!! Jawab aku sekarang!!!”


“Hans…bukan…ini tak seperti yang kau pikirkan…aku bisa jelaskan…” lirih Selena sembari merintih kesakitan.


Hans ******* bibir Selena dengan kasar. Selena menangis histeris dibuatnya, Hans kembari menarik tangan Selena menuju kamarnya. Ia melemparkan istrinya ketempat tidur dan merobek baju yang dikenakan istrinya.


“Hans…jangan…kumohon…”


“Diam!!! Jika kau tidak kukasari maka kau tak akan pernah belajar dari kesalahanmu!!!”


Hans menggigit bahu istrinya dengan kuat membuat Selena berteriak kesakitan.


“Apa hubunganmu dengan pria tadi hah?! Jawab aku!” bentak Hans sekali lagi.


“Aku mengaku!!! Aku mengakuinya!!!!” teriak Selena membuat Hans langsung menghentikan aktivitasnya


“Aku mengakuinya!!! Dia Leo!! Dia tunanganku!!! Ya!! Kau benar!!! Dia adalah pria yang kucintai selain Papa!!! Dia adalah pria yang kucintai!!! Jika kau tidak membeliku maka aku sudah menjadi istrinya sekarang!!!! Jawaban apalagi yang kau butuhkan Hans?!!! 4 hari ini aku tinggal dirumahnya!! Aku akui!!! Aku mengakui itu semua!!!” teriak Selena sembari menangis.


Hans bangkit dari tubuh istrinya. Ia menatap Selena yang tengah menangis. Bukan…bukan ini yang ia harapkan, bukan ini yang ia inginkan.


“Beberapa tahun lalu Leo melamarku!!! Aku sudah berjanji untuk menunggunya!!! Tapi semua itu hancur karena kau menikahiku!!! Jika kau tak menikahiku maka Leo sudah menjadi suamiku!!!”


“Apa lagi jawaban yang kau inginkan?!! Kau mau menamparku?! Tampar aku sekarang!!! Lampiaskan amarahmu!!! Jika perlu kau bunuh saja aku sekalian agar kau puas!!! Bunuh aku Hans!!! Bunuh aku!!! Lampiaskan amarahmu!! Lampiaskan semuanya kepadaku!!!”


“Jawaban apalagi yang kau butuhkan…hiks hiks…aku tak tahan jika kau kasar seperti ini…bunuh saja aku...aku tak kuat...” lirih Selena.


“Ughhhh maafkan aku…aku tak berniat kasar lagi kepadamu…maafkan aku” Hans memeluk istrinya sedangkan Selena masih terisak.


“Huwaaaa!!! Ahhhhh…hiks…hiks…”


Hans hanya bisa diam, awalnya bukan pria itu yang menjadi alasan utama amarahnya. Namun ia marah karena ia takut Jennifer mengungkapkan semuanya kepada istrinya. Namun ia kembali lost control dan menyakiti istrinya lagi.


“Maafkan aku…kumohon…berhentilah menangis…” ucap Hans seraya mengecup seluruh wajah rupawan istrinya.


*


Lelah menangis Selena akhirnya tertidur didalam pelukan hanngat Hans, Hans memeluk erat istrinya. Ia benar-benar tak bermaksud menyakiti istrinya, namun melihat istrinya yang bertemu dengan Mama tirinya membuatnya kehilangan akal hingga kembali menunjukan sisi kasarnya kepada Selena.

__ADS_1


Hans mencium pergelangan tangan istrinya yang memerah karena perbuatannya.


“Aku hanya takut kau akan pergi meninggalkanku…”


4 hari, ia benar-benar akan gila jika tidak menemukan istrinya hari ini. Beruntung bodyguard yang ia minta berjaga dibandara segera memberitaunya jika istrinya turun dari sebuah pesawat pribadi.


Hans turun dari tempat tidur, mengambil kotak obat dan mengoleskan obat di bahu Selena yang terluka karena gigitannya.


“Aku tak mau kau meninggalkanku secepat ini…”


.


.


.


Selena membuka matanya perlahan.


“Selamat pagi…” ucap Hans sembari mengecup dahi istrinya.


Selena mendorong tubuh Hans dengan perlahan dan langsung masuk kekamar mandi. Hans mengusap rambutnya kebelakang dengan kasar. Hancur, hancur sudah usahanya membuat Selena luluh kepadanya hanya dengan kekasaran.


“Sial….”


Tak berselang lama Selena keluar dari kamar mandi. Ia langsung masuk keruang ganti pakaian setelah itu langsung turun kedapur untuk memasak makanan.


Tak berselang lama Hans ikut turun menyusul istrinya yang tengah memasak makanan. Hari ini, Bibi Na tak berbicara apapun kepada Selena setelah mendengar pertengkaran Tuan dan Nyonyanya kemarin malam.


Bibi Na melirik kepergelangan tangan Selena yang terdapat seperti bekas cengkraman. Itu pasti menyakitkan.


“Tidak perlu Bi, aku masih bisa melakukannya sendiri. Ini bukan luka serius”


Hans memeluk pinggang istrinya, ia mengecup leher istrinya lembut. Selena pasti marah kepadanya karena kemarin malam.


“Kau masih marah…? Kau tidak bicara apapun kepadaku hari ini…aku kan sudah minta maaf”


“Mudah memaafkan tapi tidak melupakan Hans, lepaskan aku. Aku harus berangkat ke kampus hari ini”


“Tidak! Kau tidak boleh pergi! Kau tidak boleh keluar dari rumah ini lagi! Bahkan untuk kekampus sekalipun!” tegas Hans. Ia tak mau sampai Jennifer kembali menemui istrinya dan berhasil mengungkapkan semuanya.


“Maka jawab pertanyaanku jika kau tak ingin aku keluar dari rumah ini”


“Hal apa yang kau lakukan kepada Mamaku Hans? Perjanjian apa?”


Hans langsung bungkam seketika mendengar pertanyaan istrinya. Tidak! Ia tidak akan membiarkan Selena tau semuanya, ia tak akan membiarkan itu terjadi.


Hans melepaskan pelukannya dengan perlahan. Ia menatap dingin istrinya yang kini tengah menatap matanya meminta jawaban.


“Kau tak perlu mengetahuinya, jangan bertanya hal ini lagi. Atau…kau akan tau konsekuensinya” ujar Hans dengan tatapan dinginnya.


Dheg!


Selena tersentak tak percaya mendengar apa yang baru saja dikatakan suaminya. Apa ia salah menanyakan hal ini? Ia hanya tak mau jika sampai ia salah paham dengan Hans. Dan ini pertama kalinya suaminya menatapnya dengan pandangan sedingin itu.

__ADS_1


Hans mendongkakan dagu istrinya dengan perlahan.


“Kenapa? Kau kaget dengan perubahanku? Sepertinya aku terlalu baik kepadaku hingga kau berani melunjak dihadapanku. Sepertinya kelembutanku padamu membuatmu lupa diri. Perlu kuingatkan…kau hanya istri kontrakku…dan kau tak pantas...menanyakan pertanyaan itu” bisik Hans.


“Tu-tuan…” ucap Bibi Na mencoba menghentikan Hans agar tidak menyakiti Nyonya mudanya.


Tes


Tes


Tes


Air mata Selena jatuh kelantai. Hans melepaskan tangannya dan keluar dari rumahnya. Selena langsung terduduk lemas dilantai, Bibi Na yang melihat itu langsung membantu Nyonya mudanya untuk berdiri.


“Nyonya muda…Tuan pasti hanya terbawa emosi sesaat, beliau benar-benar kacau sejak kepergian anda…” Bibi Na berbicara mencoba untuk tidak membuat Selena membenci Tuannya, bagaimanapun...tugas utamanya disini adalah mendekatkan Selena kepada Tuannya.


“Lalu sampai kapan? Hans selalu kasar kepadaku saat dia marah, sampai kapan aku harus bertahan dengan sikapnya yang seperti itu? Istri kontrak? Lalu apa salahku sebagai istri kontraknya bi…aku juga tak ingin menjadi istri diatas kontrak seperti ini” Selena menangis sembari mencengkram lengan baju Bibi Na. Wanita itu membelai kepala Selena dengan lembut. Benar…kali ini Tuan mudanya sudah keterlaluan. Bagaimanapun yang berbuat adalah Tuan mudanya bukan Nyonya mudanya. Jadi Nyonya mudanya tak berhak menderita seperti ini.


Selena mengusap air matanya, ia berdiri dibantu oleh Bibi Na.


“Bi…aku harus kekampus”


Bibi Na menganggukkan kepalanya, namun saat hendak pergi Selena dihadang oleh para bodyguard.


“Maaf atas kelancangan kami Nyonya, tapi Tuan tidak memperbolehkan anda keluar dari rumah ini”


“Ya…istri kontrak harus mematuhi ucapan Tuannya. Bi…aku sedikit lelah, aku akan pergi ke kamar”


Bibi Na bungkam seketika mendengar ucapan Selena beserta para bodyguard. Entah kenapa, perkataan Nyonya muda mereka barusan membuat batin mereka terluka dalam.


Selena menangis sesegukan didalam kamarnya. Ia mencengktam sprei tempat tidur agar isakannya tidak keluar dan didengar oleh Bibi Na.


“Hgh ma…aku punya batas kesabaran…anakmu punya batas kesabaran ma…” lirih Selena.


Bibi Na mengetuk pintu kamar dengan perlahan dengan membawa semangkuk bubur ditangannya.


“Nyonya…anda belum makan, saya membawakan bubur untuk anda…”


“Ah, aku tidak lapar bi…Bibi bawa turun saja, aku akan makan jika lapar”


“Nyonya…saya mohon, anda makan sedikit saja…”


“Tidak bi…aku akan makan jika lapar…”


Bibi Na hanya bisa menghembuskan nafasnya dan membawa kembali makanan yang sudah ia siapkan.


Selena berlari masuk kedalam kamar mandi dan memuntahkan apa yang ada didalam perutnya.


“Ughhh…perutku benar-benar tidak nyaman…”


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2