Our Last Love

Our Last Love
V1 : Chapter 149 : Hutang Abadi


__ADS_3

.


.


.


Handrick langsung mengenakan coatnya dengan terburu-buru, gawat! Apa yang membuat Selena marah sampai menelfonnya dengan nada seperti itu?! Jangan bilang Leo sudah memberitau Selena tentang kematian Jennifer?! Aduh! Mau jelaskan apa nanti?!.


“Mau kemana? Buru-buru sekali?” tanya Deon.


“Ikut aku! Keponakanmu marah lagi kepadaku”


“Ha?! Ini tengah malam! Aku mau tidur!”


“Halah! Seperti besok kau mati saja! Cepat!”


Hendrick menyeret tangan Deon menuju mobilnya, ia melacak lokasi ponsel Leo. Ini bukankah pulau pribadi milik Daniel?!. Ah sial*n! Lebih baik ia memikirkan cara menjelaskan ini kepada keponakannya, jangan sampai ia mati konyol ditangan Selena.


*******


Dengan tangan yang gemetar Hendrick membuka pintu villa dan saat pintu itu terbuka kerah kemejanya langsung dicengkram oleh Selena. Tuhan…ia belum ingin mati hari ini.


“Kenapa Paman menyembunyikan ini dariku hah?!! Dia Mamaku!!! Aku berhak tau!!!!” bentak Selena.


Deon seketika terdiam, Selena sudah tau mengenai kematian Jennifer? Pantas saja Hendrick begitu terburu-buru ingin menemui keponakannya. Mata Deon menatap pipi Micle yang terdapat cap tangan, okey…ia tau siapa yang memberitau Selena tentang kematian Jennifer. Untunglah pria itu masih hidup hari ini.


“Tenang dulu, Paman akan menjelaskan semuanya kepadamu Okey…” ucap Hendrick mencoba meluluhkan hati Selena. Jika amarah Selena tidak surut, ia takut semua orang yang berada disini terkena imbasnya.


“Siapa…siapa yang sudah membunuh Mamaku…katakan kepadaku…aku akan membunuhnya hari ini juga…” ucap Selena menatap tajam kedua mata Hendrick.


“Ruvelis ampuni kesalahanku…anakmu benar-benar menyeramkan…”


Deon hanya bisa diam, ia tak bisa membantu Hendrick. Jika ia membantu Hendrick, ia yang akan babak belur. Biasanya yang bisa menangani Selena disaat seperti ini ya Leo…tapi sepertinya pria itu bahkan tidak bisa berkutik sedikitpun.


Selena mendorong tubuh Hendrick, baiklah…karena Hendrick pun tak mau mengatakan kepadanya siapa yang sudah membunuh Mamanya. Maka lebih baik ia tanyakan langsung kepada doktenya.


“Alexa Jossfi Ananta!!!!” teriak Selena.


“Ya! Aku disini!”


“Jika kau tak bisa menjawab pertanyaanku, kupatahkan lehermu” dingin Selena mampu membuat sekujur tubuh Alex gemetar dibuatnya.


Daniel, Leo, dan Micle menelan ludahnya, mereka tak bisa berbuat apa-apa karena tangan mereka diborgol bersama-sama. Ya tuhan…ia harus melakukan apa sekarang?.


“Nyonya Jennifer mengalami pembengkakan dijantungnya, a-aku sudah berhasil menaganinya. Tapi seseorang menaruh racun di infus beliau, dia menyamar sebagai perawat dan dia juga sudah bunuh diri”


“DEDERICK HANS GEORGINO…kau benar-benar cari mati denganku…”


Selena menyambar pistol Hendrick dan Deon lalu langsung keluar dari villa megah itu. Hendrick dan Deon langsung berlari mengikuti Selena sedangkan 3 pemuda yang masih diborgol menatap tajam Alex. Alex kembali menelan ludahnya, kenapa posisinya serba salah begini.


“DIAM APA KAU?!!!” bentak Leo.

__ADS_1


Alex dengan spontan langsung melepaskan rantai yang melilit tubuh ke-3 pria itu. Leo menarik borgol itu hingga putus dari tangannya dan melepaskan borgol Daniel dan Micle.


“Minta Wei berjaga di A.S, jangan sampai ada hal lain yang memicu amarah istriku” ucap Leo langsung menghubungi bawahannya.


Daniel langsung menghubungi meminta pria itu untuk berjaga bersama anak buatnya di A.S sedangkan Micle tampak sibuk menghubungi seseorang.


“Kita pergi sekarang, Joe mana?!” bentak Leo, kenapa gadis itu tidak muncul sama sekali dari tadi?!.


“Tidurnya Joe seperti orang mati, sudah jangan dipikirkan. Kita harus segera menyusul Selena” ucap Daniel.



“Jennifer…sudah mati?” ucap Hans tak percaya.


“Benar Tuan muda, Nyonya Jennifer meninggal 2 hari yang lalu dan sudah dimakamkan di Amsterdam. Dari informasi yang saya dapatkan, ada seseorang yang menaruh racun didalam infus beliau saat dirawat dirumah sakit pusat” jawab Gerry.


Hans mengepalkan tangannya, sial*n! Siapa yang sudah berani mendahuluinya membunuh Jennifer?! Baru saja ia ingin membunuh wanita itu dan kenapa wanita itu sudah mati saja?! Sekarang sia-sia rencananya membunuh Jennifer.


“Siapa yang membunuhnya?”


“Mama yang membunuhnya Hans” jawab Yeni masuk kedalam ruangan putranya.


“Kenapa Mama melakukan itu hah?!! Mama tau sendiri aku ingin membunuhnya dengan tanganku sendiri!! Kenapa Mama ikut campur lagi?!!!” geram Hans mengebrak meja kerjanya.


“Kau terlalu lama bertindak Hans! Kau tak kunjung membunuhnya karena kau memiliki perasaan dengan wanita rendahan itu!! Sekarang wanita itu sudah mati! Dendam Mama terbalaskan, wanita itu sudah membunuh putriku…dan ini balasan yang setimpal untuk itu” ucap Yeni sembari tertawa.


Prok prok prok prok


“Wah wah wah, hebat…hebat sekali…”


“Ka-kau ba-bagaimana kau bisa disini?” ucap Yeni dengan tubuh yang gemetar.


Sahabat-sahabat Hans pun ikut gemetar melihat Selena, apa Selena mendengar semuanya?! Bisakah mereka lari sekarang?.


“Ny-nyonya muda…” Sekretaris Merry berucap tak percaya melihat Nyonyanya berdiri diambang pintu.


“Bodyguard!!!” teriak Yeni.


“Hei hei…shttt…kenapa berteriak? Mereka sudah mati…jangan berteriak…”


Mata elang Selena melirik kearah Hans yang terdiam memucat, hmmmmm…kapan ya terakhir kali ia bertemu dengan pria ini.


“Hello…”


Selena melangkah lalu menutup pintu dan menguncinya. Kini tak ada siapapun yang bisa keluar maupun masuk kedalam ruangan itu sekarang.


“Tenang saja…aku hanya ingin bermain-main disini…tapi tentu saja, dengan sedikit darah”


“Wahhhh…bisu dadakan ternyata…kenapa sayang…kenapa diam? Mana gairah membunuhmu tadi?” tanya Selena seraya mendekati Hans dan membelai pipi pria itu.


“Tak sia-sia aku jauh-jauh terbang kemari, hmmmm…kau banyak berubah sayang” ucap Selena.

__ADS_1


Yeni mencekal tangan Selena yang berada dipipi Hans.


“Jangan sentuh putraku dengan tangan kotormu…pela*ur sepertimu beraninya menyentuh putraku”


“Siapa yang memberimu izin menyentuhku?” tanya Selena.


“Hah?! Kau sama sekali tidak berubah, kau tetaplah sampah yang menjijikan”


Selena menghempaskan tangannya dengan kasar membuat tangan Yeni ikut terhempasdnegan keras.


“Tidak tau diri, apa kau lupa? Posisiku…dan posisimu seimbang sekarang. Kau Nyonya keluarga Georgino. Dan aku Nyonya keluarga Iskandar, jadi…jaga ucapanku jika berada dihadapanku. Jika kau tidak mau menjaga ucapanku, berarti lidahmu sudah seharusnya tidak ada ditempatnya” sinis Selena sembari mencengkram rahang Yeni.


“Shhhhh…” desis Yeni kesakitan.


Selena menghempaskan rahang Yeni dengan kasarnya lalu mengusap tangannya menggunakan sapu tangan.


“Kotor”


Degh!


Jlep!


Nyuttt…


Satu kata, satu kata yang mampu membuat Yeni seketika terdiam membantu. Apa wanita itu baru saja mengatainya kotor?!.


“Ahhhh sepertinya sudah cukup basa-basinya, jadi…mari kita mulai. Kenapa kau membunuh Mamaku?” tanya Selena menatap tajam Yeni.


“Karena dia sudah membunuh anakku!!! Aku membunuhnya sebagai ganti nyawa anakku yang sudah dia bunuh!!!” bentak Yeni dengan mata merahnya karena menahan amarah dna sedih mengingat kematian tragis putri semata wayangnya.


“Hm? Anakmu yang mana? Anakmu kan masih lengkap, aku belum membunuh mereka tuh. Mereka bahkan masih bersenang-senang bersama dengan pela*ur mereka di bar”


“Dia membunuh adik perempuanku, Alice. Aku ingin membunuhnya, aku ingin membuatnya menderita…kau pernah bertanya kepadaku apa alasanku menikahimu bukan? Karena aku ingin melihat wanita itu menderita karena kehilangan anaknya” jawab Hans dengan senyum sinisnya.


Selena mengerutkan keningnya Alice? Mamanya pernah membunuh  anak keluarga Georgino? Seingatnya Mamanya tidak pernah melakukan hal serendah itu. Tapi coba ia ingat-ingat dulu.


“Hmmmmm Alice…nama yang asing ditelingaku, ah aku tidak ingat orangnya yang mana” ucap Selena.


Selena kembali mendekati Hans…ahhhhh…ambisi pria ini benar-benar mengerikan.


“Kenapa kau mau membunuh Mamaku hanya karena dia membunuh adikmu? Bukankah…nyawa adikmu sudah digantikan dengan nyawa anak kita yang lenyap…?” ucap Selena langsung membuat semua yang berada disana memucat seketika apalagi Yeni.


“Kenapa masih mau membunuh Mamaku padahal Mamamu sudah melenyapkan anak kita…Mama melenyapkan nyawa anak kita, anak pertamaku…darah dagingmu…jadi kenapa kau masih mau membunuh Mamaku dengan Ibumu sudah melenyapkan anakku?”


“A-anak ki-kita?” ucap Hans dengan tubuh gemetarnya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2