Our Last Love

Our Last Love
V1 : Chapter 175 : New Director


__ADS_3

.


.


.


Selena masuk begitu saja ke mansion keluarga Georgino yang terbuka lebar. Kedatangan Selena langsung membuat para penjaga mengerumuni keluarga Georgino.


“Mau apa lagi kau hah?!!” bentak bellina dengan geram. Gara-gara wanita itu!! Impiannya menjadi Nyonya di kediaman Hans musnah!! Hal apa yang sudah dilakukan wanita itu sampai-sampai Hans menggilainya?!.


Selena tak menggubris ucapan wanita itu, matanya mencari keberadaan Lie. Dan matanya langsung terkunci kepada sosok yang ia cari yang sedang mematung di tempatnya.


“Hai, sudah lama tidak bertemu. Tuan muda Lie”


“Tidak!!!! Kumohon!!! Lepaskan aku!!!! Ampuni aku!!! Aku benar-benar tidak tau apa-apa!!! Lepaskan aku!!! Kumohon ampuni aku!!!!” Lie mulai berteriak dengan frustasi membuat sudut bibir Selena dan Rafindra sama-sama terangkat. Yeni langsung menghampiri putranya, mencoba menenangkan pria yang tengah berteriak histeris itu.


“Dion!!! Kenapa kau diam saja?!!! Cepat tangkap wanita itu!!!” geram Yeni menatap tangan kanannya yang hanya diam sembari memasnag ekspresi dinginnya.


“Tidak!!! Kumohon hentikan!!! Aku akan melakukan apapun asal kau lepaskan aku!!! Kumohon jangan!!! Jangan lagi!!!!”


“Dion!!!!” teriak Yeni sekali lagi.


“Dion, kemari” panggil Selena.


Dion melangkahkan kakinya mendekati Selena, pria itu bertekuk lutut didepan Selena membuat semuanya membulatkan mata kecuali Rafindra.


“Nona”


“Singa milikku, kenapa harus mematuhi perintah orang lain?”


“Dion!! Jangan-jangan kau!!”


“Perkenalkan, dia adalah Dion. Tangan kananku, yang kuperintahkan menjadi mata-mata dikeluarga ini”


Wajah Yeni beserta anak keluarga Georgino seketika memucat. A-apa? Di-dion adalah bawahan Selena?! Gawat!!! Semua rahasia mereka diketahui oleh Dion!! Jika sampai pria itu mengatakan semuanya kepada Selena tamatlah riwayat mereka.


“Dasar pengkhianat!!”


“Tugasmu disini sudah selesai, ikut aku kembali”


“Saya menerima perintah anda”


Dion berdiri tegak disamping Rafindra. Rafindra memberikan sebuah secarik kertas dari sakunya dan memberikannya kepada Selena.


“Dengarkan ini baik-baik. ‘Mulai hari ini, keluarga Ciel resmi dihapus dari jajaran keluarga besar. Keluarga Ciel, keluarga yang mengkhianati kemiliteran 7 tahun lalu resmi mendapatkan hukumannya yaitu diasingkan ke Negara terpencil. Dan dengan surat ini juga saya selaku Jenderal muda Alexa dari kamp 2 telah mengajukan surat larangan resmi kepada Tuan besar. Dan dengan persetujuan dari Tuan besar beserta Jenderal besar Hendrick saya nyatakan ini adalah perintah resmi dari kemiliteran. Tertanda, Jenderal muda Alexa kamp 2’ simpan ini baik-baik. Jika kau meragukan keasliannya, aku akan meminta Jenderal Asahi kemari dan mengulanginya”


Bellina langsung terduduk lemas di lantai, a-apa? Ke-keluarganya secara resmi dikeluarkan dari ajajran keluarga besar? Dan juga…keluarganya akan diasingkan? Se-sebenarnya apa kesalahan keluarganya sampai mendapat hukuman dari kemiliteran?.


“Kenapa?! Apa alasan keluarga Ciel diasingkan?!” geram Kyler.


“Apa kau tuli? Tertulis dengan jelas bahwa keluarga Ciel adalah pengkhianat kemiliteran 7 tahun yang lalu, dan seharusnya perintah ini bukan dikeluarkan oleh Jenderal muda Alexa. Melainkan mendiang Jenderal besar Nami. Karena saat itu, kamp masih dipegang oleh beliau” dingin Selena. Apa yang tidak dan belum dilakukan Papanya sebelum meninggal, ia yang akan mengantikan Papanya menghukum tikus-tikus kamiliteran ini.


“Tidak!!! Tidak bisa begitu!!! Keluargaku mengkhinati kemiliteran 7 tahun yang lalu!! Jadi seharusnya hal itu tidak bisa lagi digunakan saat ini!! Jadi perintah itu tidaklah resmi!! Pasti kau yang membuatnya sendiri kan?!! Kau cemburu kepadaku karena aku akan menikah dengan Hans!!! Itulah mengapa kau melakukan ini kepada keluargaku!!!”


“Pengkhinat tetaplah pengkhianat, pengkhianat pasti akan mendapatkan hukumannya. Tak peduli sudah 7 tahun yang lalu ataupun 15 tahun yang lalu. Pengkhianat kamiliteran akan tetap dihukum, dan tidak ada kata ‘kadaluarsa’ untuk hukuman dari kemiliteran. Hubungi keluargamu, besok Jenderal Asahi akan menginformasikan tempat tinggal kalian selanjutnya”


“Kau tidak bisa!!! Bibi kumohon bantu aku!!! Aku sudah melahirkan cucu laki-laki untukmu!! Tolong bantu keluargaku!!!”


“Apa kau tidak punya hati?!! Bellina baru saja melahirkan dan dia akan langsung diasingkan beserta keluarganya?! Apa kau sudah gila?!” geram Yeni. Sial*n!!! Bisa-bisanya Jenderal muda Alexa dari kamp 2 mengeluarkan perintah seperti itu. Padahal jelas-jelas keluarga Ciel adalah pengkhinaat di era Jenderal besar Nami! Bukan era Jenderal besar Hendrick! Seharusnya Perintah itu sudah kadaluarsa!! Sama seperti tuntutannya kepada wanita sial*n ini saat di persidangan!.


“Memang ya…sulit berbicara kepada orang yang tidak pernah belajar etika dan hukum kemiliteran”


Yeni langsung terdiam bungkam mendengar ucapan Selena, rahangnya mengeras…tangannya mengepal penuh kegeraman. Jika ia memang tidak punya etika apa wanita itu memilikinya?!.


“Tidak!!! Jangan mengusiknya!! Jangan menyinggungnya!!! Dia bukan manusia!! Dia iblis!! Jangan menyinggungnya!!” Lie berkata sembari menjambak rambutnya sendiri.


Yeni memeluk erat putra kesayangannya, sebenarnya apa yang sudah dilakukan wanita itu sampai-sampai anaknya menjadi gila seperti ini?! Dan kenapa putranya terus berkata bahwa Selena adalah seorang iblis?! Bahkan dalam tidurnya pun putranya selalu meminta pengampunan kepada Selena.


“Kalian penasaran dengan apa yang telah kulakukan padanya? Mudah, aku menghilangkan alat kelaminnya. Memaksanya melihat rekaman ulang dari video pembunuhan yang kumiliki dan juga menakutinya dengan sebuah kepala yang baru saja dipenggal. Oh, dan sepertinya bawahanku pernah memaksanya meminum darah dari salah satu musuhku yang baru saja dibunuh, oh dan juga memberikannya sup daging manusia”


“KELUAR KAU SEKARANG JUGA!!!!” teriak Moses.


Selena menahan tubuh Rafindra ketika pria itu hendak melakukan tindakannya. Wajah Rafindra merah padam, tanpa sengaja mata Rafindra dan Selena bertemu. Rafindra langsung memundurkan langkahnya. Ya tuhan, ia bertindak terlalu lancang. Untunglah ada Nonanya yang menghentikannya.


“Jangan lupa aku siapa Moses!! Dan jangan lupa, kastu AS mu ada ditanganku. Jaga bicaramu, jika kau tidak ingin bernasib sama seperti adikmu. Ayo pergi, dan Nona Ciel…kutunggu keluarmu dari Negara ini”


Rafindra menyambar sebuah coat dari tangan bodyguardnya lalu memakaikannya di bahu sempit Selena sebelumpergi dari kediaman mewah itu.


Yeni mengeraskan rahangnya, jika ia tak segera membereskan beban ini. Maka kedepannya, keluarganya akan berada dalam bahaya. Sekarang wanita itu benar-benar tidak punya malu keluar masuk kediaman suaminya tanpa izin. Ia akan membuat wanita itu malu agar wanita itu tidak mempunyai keberanian untuk mengangkat kepala lagi. Dan ia pastikan, caranya kali akan berhasil.


Selena masuk kedalam mobil, dan Rafindra segera menyetir menuju perusahaan Alexandra di ikuti puluhan mobil bodyguard yang berjaga.


“Setelah rapat nanti, bisa antarkan aku ke perusahaan Leo?”


“…, baik”


Selena menyandarkan tubuhnya dan menatap keluar jendela. Bosan…bosan…dan bosan…ia mulai bosan dengan kesehariannya yang terus sama. Tangannya dengan lembut menyentuh perutnya, hah…sehari saja…jika ia boleh menetap disini sehari lagi maka ia akan benar-benar bahagia. Setidaknya rasa lelahnya selama 4 akan terobati dengan keberadaan Leo disisinya.


Saat sampai Selena langsung menuju ruangan Direktur.


“Nona besar…”


“Bagaimana?”


“Maaf, tapi rapat diundur. Tuan Wu tidak bisa datang, dan beliau juga tidak bisa mengirim Sekretarisnya kemari. Namun beliau memberikan kontrak melalui sepupunya”


Selena duduk di kursi kerja dan membuka kontrak itu. beberapa saat kemduian ia menutup kontrak itu dan mengetuk-ngetuk meja menggunakan bulpoint.


“Lain kali, kalau memang tidak punya niat tidak perlu melakukan” ucap Selena sembari tersenyum.


“Ma-maaf?”

__ADS_1


“Bilang kepada Tuan Wu. Jika dia tidak ingin mati, jangan pernah mengirim kontrak kerjasama dengan perusahaan ini. Karena aku tidak ingin memelihara hal yang tidak berguna”


Rafindra menelan ludahnya dengan kasar sedangkan para tangan kanan itu seketika kebingungan dengan apa yang diucapkan Tuan mereka. Apa ada yang salah dengan kontrak itu? Perusahaan Wu mungkin bukan perusahaan besar, namun perusahan itu bisa cukup membantu perusahaan ini.


“Kalian tidak mengerti?”


“Maafkan kami”


“Minta Paman Raf menerjemahkan apa yang kukatakan. Dan juga, setengah dari kalian akan ikut denganku ke kamp utama. 16 dari pihak Papa dan 16 dari pihak Mama. Lainnya akan tetap disini, aku ingin kalian pergi bersamaku dengan sukarela. Tanpa adanya paksaan”


“Kami pasti akan dengan sukarela mengikuti anda, namun alangkah baiknya Tuan X yang menentukan siapa yang ikut bersama anda”


“Kau dari tadi membahas Tuan X, siapa dia?” tanya Selena dengan wajah penasarannya.


“Nona, biarkan saya yang menjawabnya. Tuan X, adalah orang yang paling lama berada di sisi mendiang Tuan. Beliau mengenal baik bagaimana Tuan” jawab Rafindra.


“Oh ya? Apa dia lebih lama daripada Paman Raf?” tanya Selena.


“Hmm, bisa dibilang sejak mendiang Tuan berumur 5 tahun. Tuan X sudah ditempatkan di sisi beliau, beliau seumuran dengan mendiang Tuan. Dan bisa dibilang, beliau jugalah yang menangani semua urusan di perusahaan semenjak Tuan tidak ada”


“Di mana dia sekarang?”


“Beliau sedang berada di rumah sakit. Menemani istrinya yang baru saja melahirkan”


“Hah, senior Paman saja sudah menikah dan punya anak. Paman kapan?” ejek Selena kepada Rafindra.


Jlep


Cough!


Pftttttt!!


Para tangan kanan Ruvelis serta Jenssica langsung menahan tawa mereka yang hendak lepas mendengar ucapan Tuan mereka. Jangan dibayangkan bagaimana wajah syock Rafindra sekarang.


“Ayolah Paman, mengabdi boleh. Tapi apa Paman tidak ingin mempunyai istri?”


“Nona besar…”


“Apa?”


“Maaf, tapi saya pernah berjanji kepada diri saya sendiri bahwa saya akan menjaga anda. Dan saya juga tidak akan mempunyai wanita di hidup saya”


“Oh ya? Kapan? Kenapa aku tidak pernah dengar”


“Saat anda masih berada didalam kandungan mendiang Nyonya”


“Ahhhh, kalau begitu aku akan coba menggunakan joke ini kepada Paman Hendrick”


Mendengar hal itu langsung membuat wajah Rafindra seketika panik, apa Nona besarya serisu ingin mengatakan masalah status kepada Jenderal besar?!.


“Nona besar…tolong jangan lakukan itu”


“Hah tak pa, ini salah satu cara agar aku bisa disini satu hari lagi”


“Kau di mana? Belum di pesawat?”


“Belum, kenapa memangnya? Oh ya Paman, aku minta cuti 1 hari lagi”


“Hah?! Tidak bisa! Tugasmu menumpuk disini! Cepat kembali! Jangan minta-minta cuti!”


“Cih, Paman ini sensitive sekali. Ini pasti efek karena tidak punya istri”


Mendengar hal itu membuat Rafindra langsung mengusap rambutnya kebelakang. Sekarang ia hanya bisa berharap semoga Jenderal Asahi lolos dari ceramahan Jenderal besarnya.


“Sudahlah! Jangan pakai topik itu untuk mengelabuhi Paman! Cepat kembali! Paman tidak mau tau!”


“Hng! Tidak mau! Kalau begitu aku akan telfon kakek, aku akan mengadukan Paman kepada kakek! Kakek paling tidak suka dengan orang yang menindas cucu kecilnya ini”


“Ya ya ya ya! Kau menang!! Kau dapat cuti 1 hari lagi! Puas?! Jangan telfon kakekmu!”


“Hehehe, begitu dong dari tadi. Kan kalau aku senang kamp juga aman, terima kasih ya Pamanku tersayang”


“Entah kenapa ucapanmu terasa mengerikan ditelinga Paman”


“Hih, wajarlah. Kan Paman tidak punya wanita mana tau merdunya suara wanita jika sudah dituruti keinginannya, sudah ya…aku mau berduaan dengan suamiku dulu”


Tut…


“Hah…jadi cucu tunggal sekaligus kesayangan memang menyenangkan ya. Hehe, ayo antarkan aku ke perusahan Leo!”


Selena berdiri lalu menarik tangan Rafindra dan Dion keluar dari ruangan mewah itu. Para tangan kanan itu menghembuskan nafas mereka, anak Jenderal besar memang beda ya. Kalau main ancam langsung dengan orang yang berpengaruh.


Saat ditengah perjalanan Rafindra menghentikan mobil ketika Nonanya meminta untuk berhenti. Selena menatap berbinar permen kapas yang dijual di tepi jalan. Melihat hal itu membuat Rafindra dan Dion langsung melirik.


Rafindra dengan sigap mengunci serta menaikkan kaca mobil dan langsung menginjak gas membuat Selena langsung menggerutu kesal.


“Anda dilarang makan diluar secara sembarangan Nona”


“Huh! Dulu saat aku dibawa keluar oleh Mama aku boleh makan bebas, kenapa sekarang tidak?”


“Maaf jika anda kurang nyaman, namun makanan, minuman, serta pakaian anda sudah diatur oleh Tuan besar”


Selena melipat kedua tangannya dengan kesal. Sigh, lagi-lagi seperti ini…meskipun menyenangkan kembali ke keluarga Alexandra namun akan lebih menyenangkan lagi jika ia bisa makan bebas seperti dulu. Sosis bakar…


“Nona…”


“Apa?!”


“Bagaimana kalau kita berhenti untuk membeli jus buah? Cuaca sedang panas, saya pikir itu bisa menyegarkan tenggorokan anda” ucap Dion sembari tersenyum.


“Hmmmm boleh! Bungkus semuanya, nanti bagikan ke bodyguard”

__ADS_1


“Baik…”


*****


Selena membuka pintu Direktur dengan keras dan langsung berhambur memeluk suaminya. Leo yang terkejut tak bisa merespon apa-apa ketika istrinya tiba-tiba memeluk tubuhnya.


“Sayang, sudah selesai urusan disana?”


“Sudah! Dan lihat aku bawa apa untukmu!”


“Ini…jus anggur?” ucap Leo, di mana istrinya membeli ini?.


“Iya! Tadi beli saat di jalan, cobalah”


Leo tersenyum dan mematuhi istrinya, hmmmmm ini enak. Sudah lama ia tidak meminum jus anggur, istrinya benar-benar tahu persis apa yang menjadi kesukaannya.


“Dear tidak mau ini?” tawar Leo sembari menarik tangan istrinya agar duduk dipangkuannya.


“Tadi sudah habis 3 dijalan”


“3? 3?!” ucap Leo terkejut. Jika satu jus sebanyak ini apa istrinya benar-benar menghabiskan 3 cup?!.


“Ya, tadi aku minum 3 cup. Jadi ini untukmu aku sudah puas”


Selena membenarkan posisi duduknya, ia meraih ponsel suaminya dan menelfon Daniel sedangkan Leo masih fokus dengan jusnya.


Selena seketika mengerutkan keningnya ketika melihat panggilan yang ditolak, telfon darinya tidak diangkat sekarang telfon pakai ponsel suaminya malah di tolak?! Pria ini sedang kenapa sih?!.


“Ini Daniel kenapa? Telfon dariku tidak diangkat, pakai ponselmu di tolak. Kalian berdua kenapa?” tanya Selena menatap kesal suaminya. Ia yakin pasti Daniel sedang marah kepada suaminya, apa yang suaminya katakan kepada Daniel sampai-sampai Daniel tak bisa dihubunggi?.


“Sudah jangan dipikirkan, nanti kalian kan juga bertemu. Tidak ada masalah serius antara aku dan Daniel sayang”


“Kau bohong”


“Aku tidak bohong”


“Kau bohong, lihat telingamu bergerak. Ayolah, kau tidak bisa menyembunyikan apapun dariku sayang. Ayo katakan ada apa” ucap Selena membalik tubuhnya.


Leo mengibaskan tangannya meminta orang-orang yang berada di ruangan itu untuk keluar. Setelah ruangannya sepi Leo mengangkat tubuh istrinya dan mendudukannya di atas meja sedangkan ia meletakkan kepalanya di paha sang istri”


“Hmmmm jangan memikirkan Daniel, kau akan pergi sebentar lagi…manjakan aku dulu”


Selena menghembuskan nasnya lalu tersenyum, ia membelai kepala suaminya dengan lembut. Sepertinya kali ini Leo benar-benar tidak mau ia tau permasalahan diantara Leo dan Daniel.


“Penerbanganku di undur, besok baru kembali ke kamp. Tadi Paman memberi pesan jika ada badai, jadi penerbanganku di tunda. Entah itu kebetulan atau bukan karena terjadi setelah aku meminta cuti kepada Paman Hendrick”


“Serius?! Jadi kau masih satu hari lagi disini”


“Ya, aku akan menemanimu sampai suamiku yang manja ini puas”


Leo memeluk erat pinggang istrinya, ia menciumi beberapa kali perut buncit yang terlihat begitu mengemaskan.


“Leo…”


“Ya sayang?”


“Aku ingin BBQ, bagaimana kalau nanti malam kita buat party BBQ?”


“Hmmmmm…ini kau yang ingin atau Ryu yang ingin?”


“Aku…”


“Baiklah, nanti malam kita buat. Aku akan meminta Sekretarisku membeli bahan-bahannya. Aku juga merindukan BBQ buatan tanganmu” ucap Leo seraya mencium telapak tangan istrinya.


Mata Selena dan Leo saling menatap, mata jade dingin Selena menatap hangat Leo yang tengah menunjukan wajah imutnya. Ahhhh…ia yakin suaminya sedang menginginkan sesuatu sekarang.


“Aku suka mata dinginmu sayang…”


“Hmmmm…aku tau. Jadi sekarang, katakan apa yang kau inginkan”


“Mau bermain beberapa ronde?”


“Ha?! Tidak mau…ini di kantor. Aku tidak mau”


“Ayolah…ruanganku kedap suara. Kau bisa mendesah dengan bebas disini, dan tidak akan ada yang mengganggu kegiatan kita” ucap Leo seraya menelusupkan tangannya kedalam pakaian istrinya, dengan lembut ia membelai paha mulus istrinya.


Selena menyubit tangan suaminya dengan kesal, apa suaminya masih belum puas dengan semalam? Pinggangnya sakit karena suaminya tak ingin berhenti bermain kemarin. Ia bahkan harus pura-pura pingsan agar suaminya mau berhenti bermain, tapibahkan melihatnya pingsna saja itu tidak membuat hasrat suaminya luntur!.


“Aku tidak mau…nanti kalau tiba-tiba ada yang lihat bagaimana?” ucap Selena dengan memajukan bibirnya.


Leo menelan ludahnya, ia berdiri dan mencium habis bibir mungil istrinya. Selena mencengkram jas mahal suaminya karena kesusahaan bernafas. Leo semakin memperdalam ciumannya tak memberikan waktu untuk istrinya bernafas.


“Hah…kalau begitu, mari kita pulang”


Leo memegangi kepalanya yang tiba-tiba berdenyut nyeri, Selena yang melihat itu langsung menopang tubuh suaminya yang hampir ambruk.


“Sayang?! Ada apa?!”


“Ti-tidak…ke-kepalaku hanya sedikit sakit, aku baik-baik saja”


“Wajahmu langsung pucat begini, ayo kerumah sakit. Aku tak mau kau kenapa-napa”


“Aku baik-baik saja sungguh, mungkin aku terlalu banyak bekerja hari-hari ini. Aku juga tidak makan dengan teratur, aku akan membaik jika istriku yang mengemaskan ini mau menemaniku untuk tidur”


“Jangan menggodaku lagi! Sudah, ayo pulang sekarang. Kau harus istirahat. Jika nanti sore tidak membaik. Kuseret kau ke rumah sakit! Titik!!” ucap Selena sembari turun dari meja.


.


.


.

__ADS_1


Ada yang mau Novel ini Crazy up sampai chapter 180?


__ADS_2