
.
.
.
Esoknya…
.
.
.
Selena duduk dengan senyumannya didepan hakim. Semua anggota keluarga Georgino tersenyum puas melihat itu kecuali Hans yang menampilkan raut wajah yang tak terbaca. Sedangkan keluarga Jasson menahan tangis mereka melihat Selena yang sebentar lagi akan disidang.
“Selena…” lirih Joe.
Para Alexandra tak bisa berbuat banyak melihat hal itu, keponakan mereka bersalah. Dan mereka tak tau harus melakukan apa karena mereka sudah terlambat untuk menghancurkan bukti. Ditambah juga…Selena tak mau melakukan apa-apa untuk membela dirinya sendiri.
Selena menoleh dan melambaikan tangannya kepada Leo dan Daniel. Ke-2 pria itu memaksakan senyum mereka melihat senyum cerah wanita yang mereka cintai.
“Gadis itu sudah gila, dia akan dijatuhi hukuman tapi dia masih bisa tersenyum seperti itu” ucap Yeni.
“Aku sangat yakin dia sudah gila” sahut Tuan chu. Ini hukuman yang stimpal karena Selena sudah berani membuat putra dan putrinya kehilangan nyawa.
46 pengacara handal yang sudah disiapkan Daniel dan Leo kini hanya menjadi penonton. Selena menolak menerima pengacara yang sudah disiapkan.
“Kakak…maafkan aku, aku gagal melindungi putrimu” lirih Micle menghapus air matanya.
Selena menatap Alex yang tengah menangis, ia menjulurkan lidahnya mengejek pria yang sedang menangis itu. Tanpa disadari Alex tertawa kecil melihat Selena yang mengejeknya, bisa-bisanya gadis itu masih bisa mengejeknya disaat seperti ini.
Suasana seketika hening ketika hakim mengetukkan palu sebanyak 3 kali.
“Apakah terdakwa dalam keadaan sehat dan siap mengikuti persidangan?”
“Ya, yang mulia”
“Selena Yunki Leonardo, umur 18 tahun, seorang mahasiswi di Royal University. Terdakwa, mohon agar memperhatikan segala sesuatu yang didengar dan dilihat dalam persidangan ini”
“Baik yang mulia” jawab Selena dengan senyumanya.
“Apakah terdakwa didampingi oleh penasihat hukum?”
“Saya tidak didampingi oleh penasihat hukum yang mulia. Anda bisa memulai sidang saya agar tidak mengundur waktu”
Ketua hakim mengerutkan keningnya, ini pertama kalinya ia menjumpai seorang terdakwa yang begitu tidak terlihat sedih saat melakukan sidang. Apa benar laporan yang ia terima beberapa hari yang lalu?.
Hakim pun meminta Selena mendengarkan dengan seksama dakwaan yang akan dibacakan oleh penuntut umum.
“Selena Yunki Leonardo dilaporkan atas kasus pembunuhan atas 85 orang, 2 diantaranya adalah Nona muda Yolanda dan Tuan muda Nath dari keluarga Chu”
“Apa terdakwa paham dengan surat dakwaan ini?” tanya hakim.
__ADS_1
“Saya memahaminya yang mulia”
“Apa terdakwa ingin mengajukan keberatan atas hal ini?”
“Sama sekali tidak yang mulia, dan bisa langsung melanjutkannya ke tahap pembuktian. Karena saya tak akan menyangkal apa yang anda katakan”
Semua orang yang berada diruangan itu seketika kebingungan. Kenapa gadis didepan mereka ini berbicara seolah-olah tidak ada beban yang memberatinya?.
“Baik karena tidak ada yang mengajukan keberatan, kita bisa langsung ke tahap pembuktian”
Hakim ketua mempersilahkan Selena untuk berpindah dari kursi pemeriksaan ke kursi terdakwa yang terletak disamping kanan penasihat hukum.
Hakim ketua pun bertanya kepada penuntut umum apakah sudah siap menghadirkan saksi-saksi penuntut hukum menganggukkan kepalanya membuat hakim segera memerintahkan pada jaksa agar menghadirkan saksi seorang demi seorang kedalam ruang sidang.
Penuntut umum menyebutkan sebuah nama dan pertugas langsung membawa seorang pria keruang sidang sebagai saksi yang dihadirkan. Pria itu duduk di kursi pemeriksaan dan menatap takut kepada Selena yang sejak tadi tersenyum.
“Sa-saya Jonas, saya bodyguard dari kediaman keluarga Georgino”
“Apakah saksi kenal dengan terdakwa? Apakah saksi memiliki hubungan darah dengan terdakwa? Apakah saksi memiliki hubungan kerjasama dengan terdakwa?” hakim ketua mulai bertanya kepada pria itu.
“Saya mohon saksi bersedia untuk mengucapkan sumpah sesuai dengan agama anda bahwa anda tidak mengatakan kebohongan dalam sidang ini”
Pria itu diminta berdiri sedikit kedepan. Hakim meminta pria itu untuk mengikuti kata-kata sumpah yang ia ucapkan.
“Saya bersumpah bahwa saya akan menerangkan dengan sebenarnya dan tiada lain dari yang sebenarnya” pria itu mengikuti ucapan hakim ketua dengan lantang.
Selena tersenyum sinis sembari menatap dingin pria itu. Ingin bermain-main dengan pembunuh sepertinya? Heh, pria itu akan menjadi sasarannya selanjutnya namun setelah salah satu dari anggota keluarga Georgino.
“Saksi bisa kembali duduk sekarang”
Pria itu duduk kembali, hakim ketua memperingatkan pria itu untuk memberikan keterangan yang sebenarnya sesuai dengan apa yang dialaminya dan apa yang didengar atau yang dilihatnya.
“Jika saksi tidak mengatakan yang sebenarnya, maka saksi akan dituntut karena sumpah palsu” tambah hakim.
Hakim ketua mulai memeriksa pria itu dengan mengajukan pertanyaan yang berkaitan dengan tindak pidana yang dilakukan Selena. Setelah selesai hakim mempersilahkan hakim anggota, penuntut umum, Selena, serta penasihat umum untuk mengajukan pertanyaan.
Semuanya saling memandang, tidak ada yang mengajukan pertanyaan kepada pria itu termasuk Selena. Melihat tidak ada yang mengakukan pertanyaan hakim mulai menunjukan barang bukti untuk memastikan kebenaran yang berkaitan dengan barang bukti ini.
Barang-barang bukti itu meliputi, hasil sidik jari, tes DNA, kemeja darah, pisau, tongkat besi, rekaman video, serta sebuah foto.
Berulang kali hakim bertanya kepada Selena mengenai keterangan yang diberikan Jonas namun Selena hanya menggelengkan kepalanya.
Keluarga Georgino seketika menegang melihat Selena yang seperti tidak memiliki apapun untuk ditanyakan. Entah kenapa mereka memiliki firasat buruk mengenai hal ini.
“Katakanlah sesuatu sayang…kumohon” batin Leo menggigit bibir bawahnya. Jika istrinya terus diam dan menerima ini maka bisa dipastikan, istrinya akan mendapatkan hukumannya.
Hakim ketua berbicara kepada kepada penuntut umum apakah masih ada bukti lain. Penuntut umum menggelengkan kepalanya. Melihat hal itu membuat hakim meminta Selena untuk duduk di kursi pemeriksaan. Selena berpindah dari kursi terdakwa menuju kursi pemeriksaan.
“Saya berada dalam kedaaan sehat dan mampu untuk melanjutkan sidang ini yang mulia” ucap Selena ketika hakim hendak bertanya.
“Saya minta kepada anda untuk menjawab semua pertanyan yang saya ajukan dengan jelas dan tidak berbelit-belit” ucap hakim membuat Selena menganggukkan kepalanya.
“Apakah terdakwa mengenali berang bukti ini?
__ADS_1
“Ya yang mulia, itu adalah barang-barang yang saya gunakan untuk membunuh mereka. Saya mengatakan yang sejujurnya yang mulia, saya membunuh mereka…menggunakan barang-barang tersebut”
Anggota keluarga Jasson bahkan teman-teman Daniel yang hadir dalam sidang itu menutup mulut mereka tak percaya dengan jawaban Selena. Rasanya seperti mustahil jika Selena melakukan itu semua.
Setelah pemeriksaan Selena selesai dilakukan. Namun Selena memotong ucapan hakim saat hakim ketua hendak berbicara kepada penuntut umum untuk mempersiapkan surat tuntutan pidana untuk diajukan pada hari sidang selanjutnya.
“Yang mulia, bisakah saya mengajukan 1 permintaan?”
“Apa itu?”
“Saya ingin, sidang saya…diselesaikan hari ini juga”
Semua orang yang diruangan itu langsung terkejut tanpa terkecuali. Selena meminta sidang diselesaikan hari ini juga?! Itu tidak mungkin terjadi!.
“Katakan kepada kami alasan kenapa anda meminta hal tersebut”
“Karena, jika anda melakukan sidang selanjutnya saya khawatir…saya akan menjadi buronan karena kabur dari penjara ditengah malam. Dan saya juga takut jika anda melanjutkan sidang saya dihari lain, maka…saya pastikan, bukan saya yang duduk dikursi ini” ucap Selena sembari menatap kearah Yeni.
Mendengar hal itu membuat semuanya saling menatap, Selena mampu membunuh 85 orang. Mereka yakin, ucapan Selena ini bukanlah sebuah lelucon.
“Karena, anda meminta hal tersebut. Kami akan mendiskusikannya terlebih dulu” ucap hakim ketua.
Hakim ketua pergi bersama hakim anggota, penasihat umum, dan penuntut umum.
Melihat hal itu Leo dan Daniel langsung bergegas mendekati Selena. Leo memeluk erat istrinya, Selena tersenyum dan membalas pelukan erat suaminya.
“Bicaralah yang sejujurnya kepada hakim, kau tidak mau pengacaraku bukan? Setidaknya jadilah pengacara untuk dirimu sendiri” ucap Leo berbisik lembut ditelinga istrinya.
“Aku akan baik-baik saja, aku berjanji kepadamu. Aku tak akan meninggalkanmu sendirian” ucap Selena mencium pipi suaminya.
“Heh, masih berharap kau akan Selamat dari hukumanmu?” sinis Yeni.
“Jangan bicara ma” dingin Hans.
“Jangan ikut campur masalah Mama Hans” jawab Yeni.
“Nyonya Georgino! Pegang kata-kata saya, mungkin saat ini anda menjadi penuntut dan saya menjadi terdakwa. Tapi percayalah! Dimasa depan! Saya akan membuat anda yang berada di posisi saya dengan segala tuntutan yang akan saya keluarkan! Dan saya pastikan! Anda akan mendapat hukuman mati! Dan saya pastikan juga! Semua anggota keluarga Georgino akan mendapatkan hukuman mereka juga! Anda bisa memegang ucapan saya! Karena saya tidak sedang bercanda sekarang!” lantang Selena dengan senyuman diakhir katanya.
Yeni seketika mengepalkan tangannya, wanita sial*n itu. Bisa-bisanya wanita itu mengancamnya dipersidangan seperti ini.
Tak berselang lama hakim pun kembali dengan anggotanya.
“Baik, karena terdakwa meminta persidangan diselesaikan hari ini juga, maka persidangan kedua akan dimulai nanti siang” ucap hakim mengetukkan palu 3 kali.
Selena tersenyum penuh kepuasan menatap keluarga Georgino. Yeni mengepalkan tangannya\, sial*n! Ia ingin wanita itu dipenjara! Tapi kenapa hakim memutuskan untuk langsung menyelesaikan sidang hari ini juga?! Sial*n!.
“Dan juga karena terdakwa dalam masa mengandung, maka pihak keluarga bisa membawanya pergi dan kembali saat sidang akan dimulai”
.
.
.
__ADS_1