Our Last Love

Our Last Love
Chapter 95 : Ceraikan dia


__ADS_3

.


.


.


Selena tersenyum melihat burung kakatua yang masuk keruangannya dan memakan biskuit yang ada diatas mejanya. Tak berselang lama burung parrot, parkit, dan beonya ikut masuk kedalam dan memakan biskuit yang ditinggalkan Joe semalam setelah menjaganya.


Leo menatap kesal burung-burung yang tengah diperhatikan oleh istrinya. Entah kenapa ia membawa pulang burung-burung itu, saat melihat burung-burung yang ada di kamp bisa berbicara ia langsung teringat istrinya. Ia pikir jika ia tidak ada maka burung-burung itu bisa menghibur istrinya tapi nyatanya. Istrinya sekarang malah lebih perhatian kepada burung itu daripada kepada dirinya.


“Sayang…aku juga ingin diperhatikan…jangan mengurus burung-burung itu, aku cemburu”


“Cemburu cemburu! Aku cemburu”


Leo seketika mengepalkan tangannya kesal mendengar burung beo itu bicara. Pantas saja Joe begitu ingin melempar burung beo itu menggunakan sepatu.


Leo berdiri dari tempat duduknya membuat burung-burung itu langsung terbang keluar dari jendela. Selena tertawa pelan melihat suaminya yang cemburu hanya karena beberapa ekor burung.


Leo duduk disamping istrinya, ia membelai lembut kepala istrinya yang tengah memakan buah apel yang baru ia potong.


“Leo…sayang, kau tau…siapa orang-orang yang hendak mencelakai Daniel dan Joe?” tanya Selena dengan suara paraunya.


“Ya…mereka ternyata bawahan Yolanda dan Yeni. Mayat mereka sudah dibereskan Paman Deon, kenapa hm?”


“Tidak kenapa-napa…”


“Oh ya sayang, Paman Deon bilang dia menemukan ini saat membereskan mayat-mayat itu” ucap Leo sembari memberikan sebuah lencana kepada istrinya.


Selena menatap lencana itu dengan intens. Tangannya seketika mengepal, ini adalah lencana keluarga Georgino. Ya…lencana ini sama persis dengan lencana yang dibuat anting oleh Hans. Jadi para bawahan Yeni juga mempunyai lencana ini?.


“Hei…ada apa hm?” tanya Leo sembari membelai lembut pipi istrinya, kenapa istrinya tiba-tiba marah begini? Apa ada sesuatu di lencana itu? Memang lencana apa itu?.


“Ti-tidak ada apa-apa Dear…Dear…aku ingin ramen yang ada didepan perusahanmu. Boleh ya?”


“Hm? Tapi aku izin Alex dulu ya, jika boleh…akan kubelikan”


“Iya…”


Leo keluar dari ruangan istrinya, Selena mengambil ponselnya yang ada diatas kabinet. Ia menelfon Joe, dan beruntung Joe langsung mengangkat telfonnya.


“Di mana?”


“Aku? Aku sedang ada kantin, kenapa? Mau menitip sesuatu?”


“Kekamarku sekarang”


Tut…


Selena mematikan telfonnya sepihak, Joe yang berada di kantin melihat ponselnya tak percaya. Ada apa dengan adiknya? Kenapa tiba-tiba marah kepadanya? Apa ia sudah melakukan kesalahan?.


Tak berselang lama Joe masuk keruangan Selena dengan tangannya yang gemetar hebat.


“A-ada apa?”

__ADS_1


“Joe, aku ingin tanya sesuatu. Aku pernah melihat lencana keluarga Georgino di kamarmu, darimana kau mendapatkan itu?”


Glek


Joe seketika menelan ludahnya sengan kasar. Kenapa Selena tiba-tiba bertanya seperti ini? Apa Selena sudah mengetahui sesuatu? Dan bagaimana bisa Selena tau jika ia punya lencana keluarga Georgino?! Di mana Selena melihat lencana yang ia sembunyikan dengan sangat hati-hati?!.


“Apa kau lupa? Kau meletakkan itu diatas buku”


“Selena…ini…”


“Jawablah, aku tak akan marah kepadamu” ucap Selena sembari tersenyum.


“Aku…aku mendapatkan itu, dirumah Hans. Saat kejadian kau kehilangan…anakmu…” jawab Joe menundukan kepalanya


Selena memberikan tangannya kepada Joe, meminta Joe memberikan lencana keluarga Georgino kepadanya. Joe dengan berat hati memberikan lencana itu kepada Selena.


“Kau bisa keluar Joe, aku ingin istirahat. Dan jangan bilang hal ini kepada Leo”


“Istirahatlah, kubantu berbaring”


Joe membantu Selena berbaring sebelum keluar dari kamar mewah itu. Selena menghapus air matanya dengan kasar, ternyata Yeni…ternyata wanita itu yang membuatnya kehilangan calon anaknya. Tidak…ia tidak bisa menerima ini. Ia tidak bisa menerima ini!.


“Hiks…maafkan Mama sayang…maafkan Mama…”


Selena memeluk perutnya sendiri dengan erat.


“Yeni…kematian anakku…kau harus membayarnya…”


.


.


.


“Daniel, ikut aku”


“Kemana? Aku tidak mau keluar kamar”


“Membereskan urusan istriku dan Hans”


“Ayo! Jemput dirumah! Aku akan mandi dan ganti baju!”


Tut…


Leo mengerutkan keningnya akan sifat Daniel, tadi suara pria itu terdengar begitu malas tapi ketika membahas masalah Selena langsung semangat. Pria itu benar-benar…


Leo memakai jaznya dan keluar dari kamar istrinya. Ia menatap para Mafia yang berdiri tegak disepanjang lorong.


“Jangan lalai sedikitpun”


“Baik Tuan!”


Leo masuk kedalam lift, saat berada di loby ia melirik kearah Joe yang sedang melamun di kursi tunggu. Ada apa dengan gadis itu? Tumben sekali murung seperti itu.

__ADS_1


*


Leo menghentikan mobilnya didepan perusahaan Hans, Daniel dan Leo saling menatap dan tersenyum sinis. Kedua Tuan muda itu turun dan berjalan masuk kedalam perusahaan milik Hans. Namun saat hendak masuk kedalam lift mereka berdua dihadang oleh beberapa bodyguard yang berjaga.


“Mohon maaf Tuan-Tuan sekalian, tolong tunjukan kartu identitas anda”


Daniel dan Leo melepaskan kacamata hitam mereka membuat para bodyguard melotot seketika. Mereka langsung membungkuk hormat, memberikan penghormatan kepada 2 Tuan muda dari keluarga besar.


“Tuan muda Iskandar…Tuan muda Jasson, kenapa kalian tiba-tiba kemari?”


“Urusanku, apa hubungannya denganmu hingga kau perlu tau?” dingin Leo langsung masuk kedalam lift bersama dengan Daniel.


Lift terbuka saat sampai di lift teratas. Leo dan Daniel masuk kedalam ruangan Hans tanpa bodyguard berani mencegah. Hans mengepalkan tangannya melihat kehadiran Leo dan Daniel. Untuk apa kedua pria itu kemari?!.


Leo menarik kursi dan duduk, ke-4 mata itu langsung menatap dengan tajam satu sama lain.


“Katakan apa maumu kemari, jika sudah selesai pergilah”


“Aku dan Daniel hanya datang bertamu untuk menyampaikan beberapa hal”


“Katakan setelah itu keluar dari perusahaanku”


“Kalau begitu mari keintinya saja. Ceraikan istrimu”


“Apa?! Apa maksudmu hah?!” bentak Hans.


“Ceraikan istrimu, atau lebih tepatnya…istri kita” ujar Leo dengan senyum sinisnya. Sebelum ia masuk kedalam kamp militer, lebih baik ia menyelesaikan urusan istrinya hingga tuntas.


“I-istri kita?!”


“Ya…istri kita”


Hans langsung mengepalkan tangannya penuh kegeraman. Sejak kapan Selena menjadi istri Leo?! Selena masih menjadi istrinya dan Leo tidak mempunyai hak atas istrinya! Sekalipun Leo adalah tunangan istrinya!


“Aku sudah menikahi istrimu secara Negara dan agama, dia sah! Menjadi Nyonya muda Iskandar!” jelas Leo, singkat, padat dan jelas. Kata-kata Leo langsung membungkam mulut Hans.


Hans mengepalkan tangannya, mencoba mengontrol kemarahannya. Tidak, ia tidak boleh percaya begitu saja dengan ucapan Leo. Ini pasti rencana Leo untuk membuatnya marah dan menceraikan istrinya sekarang juga.


“Keluar…” ucap Hans.


“Hans, aku ingin tau. Apa alasanmu menikahi Selena” ucap Daniel melihat Leo yang hanya menunjukkan senyum sinisnya. Meskipun Leo terlihat baik dan polos, namun itu hanya ditunjukan jika berada didepan Selena. Jika Leo berada di belakang Selena, pria ini lebih licik daripada adiknya. Bahkan terkadang Leo lebih kejam melebihi Jennifer.


“Apa urusanmu dengan itu Daniel?! Urus saja urusanmu sendiri” sinis Hans.


“Tentu itu menjadi urusanku, Selena teman baik adikku”


“Hans…aku punya batas kesabaran, setujui ucapanku dengan menceraikan istriku. Maka kulepaskan keluargamu”


Brakkkkkkk!!!


Hans mengebrak meja kerjanya dengan keras. Pria didepannya ini, semakin ia diam maka pria ini akan semakin melunjak. Jika ia tidak ingin menceraikan Selena kenapa? Toh itu urusannya, apa hubungannya dengan Leo?! Selama dendamnya pada Jennifer masih berkobar, maka ia tak akan pernah melepaskan Selena.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2