
.
.
.
At Cambridge – Amerika serikat, 09.00 AM
Kini Selena berserta lainnya sudah kembali ke AS, Leo sengaja memulangkan semuanya lebih awal dari perkiraan karena tak mau melihat istrinya yang terus-terusan bersedih di Amsterdam
Selena membuka mata dengan perlahan, matanya yang masih tampak sembab menatap tempat tidur. Melihat suaminya yang masih terlelap dengan mata sembabnya, apa suaminya menangis kemarin malam?.
Dengan lembut tangan Selena membelai wajah manis Leo, Leo seketika membuka matanya. Ia langsung duduk dan merangkup kedua pipi istrinya. Apa istrinya sudah baik-baik saja?.
“Leo…ada apa, kenapa kau menangis?”
Leo tak menjawab pertanyaan Selena, ia langsung memeluk erat tubuh istrinya. Selena tak mempunyai tenaga membalas pelukan suaminya, tenaganya sudah terkuras habis oleh kesedihannya.
“Syukurlah kau baik-baik saja”
“Leo…”
“Aku disini sayang, kau mau apa? Makan? Minum?”
“Tidak…”
“Tunggu disini ya, akan kuambilkan makanan. Kau belum makan apa-apa sejak kemarin”
Selena menggelengkan kepalanya perlahan, ia tak ingin apapun. Moodnya down, ia tak ingin memakan atau meminum apapun sekarang. Ia hanya ingin Leo terus menemaninya sampai pikirannya jernih kembali.
“Mood Dear sepertinya sedang down, gawat kalau sampai marah…”batin Leo menelan ludahnya kasar.
“Makan sedikit ya sayang, nanti maggmu kambuh. Sakit loh”
“Tidak mau Leo…”
“Baiklah, aku akan mandi dulu. Biar wangi”
Selena menganggukkan kepalanya dengan perlahan, Leo masuk kedalam kamar mandi dan menguyur tubuhnya menggunakan air dingin. Ia harus memikirkan cara agar hari ini, tak siapapun memancing amarah istrinya.
Setelah selesai membersihkan diri ia kembali menghampiri istrinya yang masih berbaring di tempat tidur, benar…mood istrinya sedang kacau hari ini. Dan ia berharap, hari ini tak ada masalah apapun.
Leo duduk di tepi tempat tidur sembari membelai lembut kepala istrinya dengan senyum manisnya. Selena menggenggam tangan besar suaminya dan menciumnya.
__ADS_1
“Aku bersalah Leo…”
“Hmm?”
“Jika waktu itu…aku menerima tawaran Paman untuk berada di kamp mungkin keluarga Alexandra tidak akan dipandang rendah seperti ini” ucap Selena sembari meneteskan air matanya.
Melihat itu membuat Leo mengangkat tubuh istrinya dan membawa istrinya keluar dari kamar. Orang-orang yang berada di lantai dasar langsung tersenyum kearah Selena.
“Tak ada gunanya menyesali apa yang sudah terjadi sayang, semua sudah berlalu. Sekarang…tumbuhlah seperti keinginanmu dan kemauan Papa Mama. Lakukan apa yang kau mau, lakukan semuanya yang kau inginkan namun tertahan selama ini. tak akan ada yang mencegahmu, majulah dengan tenang…aku akan selalu ada disisimu” ucap Leo.
“Mama di mana?” tanya Selena langsung membungkam mulut Leo. Leo terdiam, ia tak tau di mana keberadaan Jennifer saat ini.
Leo membawa istrinya turun ke ruang tamu, ia mendudukan Selena ditengah-tengah Hendrick dan Deon. Deon menatap keponakannya yang menampilkan ekspresi dinginnya. Apa keponakannya sedang mengalami penurunan mood hari ini?.
Para pengacara saling menatap dan menganggukkan kepala.
“Jenderal muda…dari surat wasiat yang ditinggalkan Tuan Alexandra dan Nyonya Leonardo. Mereka menyerahkan semua harta mereka kepada anda, sebagai putri tunggal mereka. Dan ini, data property yang dimiliki Tuan dan Nyonya”
Selena mengambil Document dari tangan pengacara tanpa berbicara sepatah katapun. Ia membaca dengan seksama Document itu, Papa Mamanya menyerahkan semua ini untuknya? Tapi entah kenapa, tidak ada perasaan senang sedikitpun didalam hatinya mendapatkan warisan sebanyak ini. Jika semua ini bisa ditukar dengan Papa Mamanya, maka ia ingin menukarnya sekarang juga.
“Dan juga, semua rumah sakit yang dimiliki Nyonya, data kepemilikannya akan segera diubah menjadi atas nama anda. Termasuk 45 laboratorium dan juga 9 tambang emas milik beliau”
“Hm, Mama di mana Paman?” tanya Selena.
“Entahlah, Paman tidak tau di mana Mamamu sekarang” jawab Deon menghembuskan nafasnya.
“Ini, ada apa?” tanya Leo sembari memberikan ponsel istrinya.
Selena mengambil ponselnya, ia menghubunggi ponsel Mamanya. Ponsel Mamanya aktif tapi kenapa tidak mengangkat telfonnya. Dan telfon akhirnya tersambung setelah beberapa kali Selena menelfon.
“Mama, Mama di mana?”
“Oh…suara ini, kau istri tunanganku? Ternyata kau anak dari wanita ini”
“Siapa kau? Kenapa ponsel Mamaku ada padamu?”
“Hmph, karena Mamamu. Sudah tertangkap olehku, jika kau ingin bertemu dengan Mamamu. Maka temui aku di café Canaria sekarang juga. Kutunggu ya…dan juga, jangan bawa siapapun denganmu”
Tut…
Selena menggenggam ponselnya dengan kuat membuat layar ponsel itu mengalami retakan. Daniel dan Leo langsung berpelukan melihat Selena dengan wajah merah padamnya begitupun Leo dengan para Alexandra.
“Sa-sayang, a-ada apa?” tanya Hendrick menggenggam kuat tangan Deon.
__ADS_1
“Dear, aku izin keluar sebentar”
“Ma-mau kemana?”
“Sebentar saja, aku tidak akan lama”
Selena mengambil mantel milik Liekai dan segera keluar dari mansion megah keluarga Jasson. Joe menatap khawatir kepergian Selena, apa adiknya itu akan baik-baik saja? Ia akan mengikuti Selena.
“Leo, aku akan mengikuti Selena. Kau cari informasi tentang kontrak pernikahan Selena” ucap Daniel bergegas menyusul Selena bersama dengan Joe.
“Wajah sinisnya benar-benar mirip dengan Ruvelis” ucap Emerland tak percaya. Selena bagai copy-paste dari Ruvelis.
“Anda belum tau bagaimana bagaimana amarah putri kesayangan Ruvelis” sahut Leo.
*
Café Canaria.
Selena turun dari taxi dan segera masuk kedalam café yang sudah dijaga ketat oleh para bodyguard. Ia menatap Yeni yang sedang bersama seorang gadis, bukankah dia tunangan Hans yang beberapa hari lalu bertemu dengannya dirumah sakit?. Dan bagaimana bisa Yeni keluar dari kediaman Georgino?.
“Kita bertemu lagi jala*g kecil”
“Katakan, di mana Mamaku?”
Bodyguard Yeni masuk membawa Jennifer, mata Selena membulat tak percaya melihat Mamanya yang memiliki luka lebam di beberapa bagian tubuhnya. Kurang ajar, beraninya mereka…
“1 banding 50, apa yang ingin kau lakukan sekarang?” tanya Yolanda dengan senyum sinisnya.
“Sebenarnya, apa yang kalian inginkan?”
“Mudah, ceraikan Hans. Maka kulepaskan Mamamu” jawab Yeni dan Yolanda serempak.
“Hmph, cerai? Sudah beberapa kali saya meminta cerai kepada putra anda, tadi dia tidak mau menceraikan saya”
“Kau pikir siapa dirimu?! Kau tidak pantas bersanding dengan Hans! Gadis dari keluarga rendahan sepertimu tak pantas menjadi menantu keluarga Georgino!” bentak Yolanda sembari mengebrak meja.
Dengan perlahan, rahang Selena mulai mengeras.
“Kau wanita rendahan, sama seperti Mamamu! Kalian berdua wanita yang sama-sama tidak tau malu! Mamamu adalah seorang pela*ur rendahan dan kau adalah anak yang tidak punya Ayah! Kau tak pantas bersanding dengan putraku” sinis Yeni.
Tubuh Selena gemetar dengan hebatnya, tangannya mengepal penuh kegeraman. Sorot matanya dengan tajam menatap Yeni. Seluruh dunia boleh menghinanya, tapi tidak jika kedua orang tuanya. Tak siapapun boleh menghina Papa Mamanya.
.
__ADS_1
.
.