Our Last Love

Our Last Love
V1 : Chapter 191 : I Hate Them


__ADS_3

.


.


.


Zachery menatap sang istri yang tampak murung sesaat setelah mengetahui kepergian cucunya ke Swiss. Mikayra menatap hambar makanannya, ia ingin dengan cucunya, ia ingin menemui cucunya. Ia kesal kepada suaminya yang tidak memperbolehkannya ikut pergi bersama cucunya.


“Sayang…makanlah sedikit”


“Aku tidak selera” jawab Mikayra memalingkan wajahnya tak mau menatap suaminya.


“Aku tak bisa berbuat apa-apa, ini keputusan Nara sendiri. Kau tau sendiri kan bagaimana sifatnya?”


“Ya sudah”


Zachery menghembuskan nafasnya, cucunya adalah gadis yang sangat sensitive terhadap hal apapun. Dan tentunya akan sulit membuatnya kembali kerumah Alexandra. Sekarang ia hanya bisa mengandalkan mata-mata yang sudah ia kirim, dan semoga baik Rafindra maupun cucunya tidak mengetahuinya, bisa dibunuh nanti kalau ketahuan.


“Makanlah dulu, jika kau sakit nanti bagaimana?”


“Biar, biar nanti Nara pulang jika aku sakit”


“Jangan keras kepala, makanlah”


“Tidak”


Zachery sekali lagi menghembuskan nafasnya, tidak istrinya tidak anaknya tidak cucunya. Sama-sama keras kepala, kalau sudah begini ya sudah…biarkan saja. Nanti kalau lapar juga makan sendiri, nanti kalau tidak mau makan meskipun lapar tinggal paksa makan.


“Aku sudah meminta orang mengawasi Nara disana, kau tidak perlu khawatir”


“Kau tidak mengerti….bagaimana aku tidak bisa khawatir? Pengalaman Nara menjaga seorang anak 0%, jika 1 tidak masalah…dia bisa menanganinya. Tapi ini 3…kau tau sendiri bagaimana sifatnya sekarang, dia mengalami Baby blues sejak kematian Leo. Jika dia membunuh anaknya bagaimana?”


Zachery mengulurkan tangannya, membelai dengan lembut pipi istri tercintanya.


“Sekejam-kejamnya cucu kita…tak mungkin dia sanggup melukai darah dagingnya sendiri. Dia hanya butuh waktu untuk menerima, sama seperti dulu…ketika Ruvelis tidak ada”


“Tapi-”


“Percayalah…dia tidak menyukai bukan berarti membenci. Dia juga memiliki darah Leonardo di tubuhnya, etikanya sebagai seorang keturunan Duke…tidak mungkin bisa menghilang dalam sekejap. Dia sudah diajari bagaimana caranya bersikap layaknya seorang putri raja, jadi aku yakin…dia tidak akan menyakiti anaknya sendiri”


“Aku ragu…”


“Kau tak perlu ragu…terkadang cara seseorang untuk melindungi berbeda-beda. Nara anak yang sangat jenius, aku yakin dia bisa beradaptasi…mungkin benar, dia perlu waktu untuk semua ini, ada Rafindra…kau jangan terlalu khawatir. Sekarang…makanlah, nanti kita bahas lagi”


“Tidak mau”


“Ah terserahlah!” kesal Zachery, susah payah ia berkata-kata manis agar istrinya mau makan tapi tidak berguna. Tidakkah istrinya tau sangat sulit mengatakan semua itu dengan nada yang terbilang bersahabat?!.


“Dih?!”


Mikayra mengalah, ia memakan makanannya. Ia tak mau membuat suaminya menjadi semakin kesal mengingat banyaknya orang yang akan terkena imbasnya jika suaminya semakin kesal. Tapi ia benar-benar tak punya selera makan, ia terus teringat cucunya. Apa cucunya makan dan istirahat dengan baik? Apa cucunya bisa menangani anak-anaknya?.


#######


Daniel masuk kedalam apertementnya, meletakkan sepatu pada tempatnya dan melemparkan jaznya ke tempat sampah. Mau di bar itu menempel pada pakaiannya, dan itu benar-benar memuakkan.


Daniel masuk kedalam kamar mandi, membersihkan tubuhnya. Seluruh tubuhnya tercium bau alkohol karena teman-temannya yang sudah mabuk, karena sudah mabuk ia tinggal pulang.


Setelah selesai membersihkan diri, Daniel membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur. Ia meraih ponselnya, membuka galery dan membuka satu persatu foto Selena yang diam-diam ia ambil dari berbagai narasumber.


“Cantik…kapan sadarnya? Oh!”


Daniel bangkit dari posisi tidurnya dan menghubungi seseorang.


“Ada yang bisa saya bantu? Tuan muda?”


“Ya, bisakah kau membuatkan lukisan seseorang untukku? Tak perlu terburu-buru, aku ingin hasil yang sempurna”


“Tentu”


“Setelah ini ku kirimkan, dan juga bisakah kau membuatkan 2 foto keluarga? Aku akan mengirimnya”


“Saya mengerjakannya semaksimal mungkin”


“Baiklah, akan kututup telfonnya”


Tut…


Daniel menutup telfonnya dan mengirim gambar Selena yang ingin dilukis serta foto keluarga Selena dan juga foto Leo bersama Selena dan kembar.


“Semoga ini bisa membuatmu menjadi lebih baik” ucap Daniel sembari tersenyum manis.


Daniel kembali membaringkan tubuhnya, menatap lama foto Selena sebelum mata itu terpejam.


.


.


.


Selena menatap dingin kedua anaknya yang tengah tertidur setelah meminum susu, sighhh…bangun, minum susu, tidur, bangun minum susu, tidur…apa dulu ia juga seperti ini? Hanya melakukan 3 hal? Oh dan pup.


Selena duduk di sofa dan menyalakan televise dan menatap rumah yang dicarikan Rafindra untuk ditempati. Rumah kayu yang indah, ia ingin punya rumah seperti ini mungkin…3 atau 4 rumah yang seperti ini?.


Mata dingin Selena sesekali memperhatikan kedua anaknya yang bisa bangun kapan saja. Untunglah Rafindra sudah menyewa Baby sister untuk mereka, jadi ia tak akan kerepotan.


“Bagaimana keadaan Ryu?” tanya Selena kepada Rafindra.


“Tuan muda Ryu sedang ditangani oleh dokter, jika ada informasi lain…saya akan segera memberitau kepada anda”


“Bilang kepada dokter, sampai dia kenapa-napa. Kepala mereka taruhannya”


“Baik”


“Mereka masih berusia 8 bulan, kenapa Daniel sudah memperbolehkan mereka keluar?”


“Ah, dokter rumah sakit akan difokuskan kepada Tuan muda ketiga. Jadi Tuan muda Daniel memperbolehkan mereka keluar agar dijaga”


“Sigh, merepotkan…”


Rafindra hanya bisa tersenyum, sepertinya Nonanya masih butuh waktu lebih lama lagi untuk bisa menerima ke-3 Tuan barunya. Tapi tidak ada yang bisa disalahkan disini, meskipun para Tuannya memberitau Nonanya mengenai penyakit yang diderita Tuan muda Iskandar itu tak akan bisa mengubah apapun.


************

__ADS_1


Daniel bangun dengan terkejut dari tidurnya mendapati ponselnya berdering, ia menatap ponselnya yang mendapat panggilan masuk.


“Selena?!” ucap Daniel tak percaya, akhirnya setelah sekian purnama ia menanti Selena akhirnya menelfonnya.


“Ya Selena?”


“Hei!! Ini kenapa mereka rewel sekali?! Mereka sangat mengganggu!!”


“Apa?! Popok sudah kau ganti?”


“Sudah diganti!”


“Sudah minum susu?”


“Sudah! Mereka ini kenapa sih?! Biasanya tidak rewel!”


“Coba kau gendong mereka dulu”


“Hei!! Coba gendong mereka!! Tenangkan mereka! Kepalaku sakit karena kurang tidur!”


“Kau kurang tidur?!” kesal Daniel.


“Ya bagaimana tidak kurang tidur?! Aku sudah 2 jam mencoba menenangkan mereka!”


Daniel memijat pelipis matanya, ia baru sadar jika disana sekarang tengah malam. Pantas Selena bisa marah seperti ini, orang yang biasanya tidak akan diganggu tidurnya jika tidak ada hal mendesak sekarang dibangunkan oleh tangisan seorang bayi.


“Nona, coba anda yang menggendongnya. Mungkin mereka akan tenang bersama anda”


“Kau gila ya?! Tidak mau! Tenangkan saja sendiri!”


Daniel menghembuskan nafasnya, Ibu baru satu ini ya…untung saja Baby bluesnya tidak parah. Hanya menolak tapi masih mau memberikan ASI.


“Coba kau dekatkan ponselmu kepada mereka”


“Nih! Bicara sekarang!”


“Leon…Leona…sayang…kenapa hm? Apa kalian merindukan Paman?”


Mendengar suara yang dirasa familiar membuat kedua bayi itu berhenti menangis secara perlahan membuat Selena kesal sendiri.


“Hei! Mereka ini anakmu atau anakku?! Menyebalkan sekali mereka ini!”


“Coba kau bicara lembut kepada mereka, kau Ibunya…mereka pasti akan mendengarkanmu. Seorang anak pasti akan dekat dengan ibunya, apalagi Leon” ucap Daniel dengan suara lembutnya.


“Tidak tuh, aku lebih dekat dengan Papa daripada Mama”


“Duhhhhh kenapa menangis lagi sih?!”


“Begini-begini, diam dulu malam ini. Besok lagi menangisnya”


“Ahhhhh!! Kenapa semakin keras saja menangisnya?!”


“Sekali saja…” pinta Daniel.


“Sigh…berikan aku imbalan!”


“Hei…Mama mau istirahat, jika kalian terus menangis bagaimana mma mau istirahat? Mama harus istirahat agar ASI kalian berdua lancar Okey? Jadi Mama minta berhenti menangis”


“Tuh, berhenti kan?”


Tut…


Daniel menggelengkan kepalanya sembari tersenyum, ah…sudah jam 7. Ia pikir masih terlalu pagi tadi, lebih baik ia mandi setelah itu segera pergi ke perusahaan. Mencari kesibukan ditengah kejenuhannya.


Namun saat hendak beranjak dari tempat tidur sebuah telfon diterima lagi oleh ponselnya. Nomor tak dikenak…hisss…sepertinya itu nomor kakeknya yang tak pernah ia simpan. Tumben menelfon, pasti hal tidak berguna lagi.


“Hm?”


“Ingat minggu depan pulang, kakek akan mengenalkanmu kepada tunanganmu”


“Hn, lihat nanti”


“Kakek sudah mengajukan cuti untukmu, jangan sampai tidak datang!”


“Hn”


Tut…


Daniel mematikan sambungkan telfonnya sepihak, cihhhh…ia jadi malas kan melakukan pekerjaannya. Dari dulu ia tidak suka dikekang oleh keluarganya, apalagi sampai keluarganya ikut campur mengenai masalah pribadinya. Entah kenapa ia jadi ragu Selena bisa datang atau tidak melihat repotnya gadis itu disana mengurus kembar.


“Haish! Merepotkan, kubunuh saja wanita itu nanti. Bisa-bisanya mau menjadi tunanganku”


Tok tok tok…


“Siapa?”


“Ini saya Tuan muda”


“Ada apa? Aku minta cuti hari ini”


“Itu, Sekretaris Nona Alexandra sedang menunggu diluar”


“Ada keperluan apa?”


“Saya kurang tau”


“Sebentar, aku ganti baju dulu. Siapkan minum”


“Baik…”


Saat sudah mengganti pakaian, Daniel segera pergi menemui Sekretaris Selena yang entah kenapa tiba-tiba ingin menemuinya.


“Ada apa?”


“Ah, saya…saya ingin meminta nomor ponsel Nona besar. Apa Tuan muda memilikinya?”


“Kau Sekretaris Selena tapi tidak punya nomor Selena?” ujar Daniel mengerutkan keningnya. Kegilaan seperti apa lagi ini?.


“Ah, saya belum sempat meminta nomor Nona besar. Nomor ponsel Tuan Rafindra juga tidak bisa dihubungi”


“Hahhhh…ini nomor ponsel Selena, tapi untuk sementara jangan menganggunya. Jangan sampai kepalamu ditebas olehnya nanti”


“Ba-baik”

__ADS_1


Setelah urusannya dengan Daniel selesai, pria itu langsung pamit undur diri. Daniel menghembuskan nafasnya, ia pikir ada hal penting apa sampai harus datang untuk menemuinya. Tapi wajar sih, mereka akan bertanya kepada para Paman jika Selena membawa ponselnya.


“Kalau begitu saya juga akan undur diri sekarang”


“Hn”


Daniel berjalan ke dapur ketika Assistantnya sudah pergi, ia membuka kulkas dan mengambil susu serta sereal. Ia sedang malas masak, apalagi makan…ini sepertinya sudah cukup untuk mengganjal perutnya.


.


.


.


Mikayra dan Zachery memandang dingin tangan kanan yang datang membawa informasi, bukan informasi mengenai cucu mereka Nara melainkan informasi tentang Daniel.


Mikayra mengambil berkas yang diberikan pira itu, membacanya dengan seksama. Bukan tanpa alasan ia menyelidiki Daniel, putra-putranya bilang bahwa pria itu menyukai cucunya. Ia ingin lihat seberapa hebat pria itu sampai berani menyukai cucunya, ia juga tak mau mengulangi kesalahan yang sama.


“Pria ini…punya tunangan?”


“Benar Nyonya, itu adalah Nona muda dari keluarga River…Arwinata Joshua River”


“Sighhh, lagi-lagi pria yang punya tunangan. Terima kasih untuk usahamu, kau bisa pergi” ucap Mikayra.


Pria itu pergi, Mikayra melipat tangannya membuat zacher hanya bisa menggelengkan kepalanya tanpa bisa berbuat apa-apa. Tidak Said, tidak Ray, tidak Rey, tidak Aiden, tidak Daniel. Bisa-bisanya pria-pria yang sudah punya tunangan itu menyukai cucunya.


“Sayang, Mafia Italy yang waktu itu lumayan”


“Jangan bertindak sembarang, Nara tau bisa kabur semakin jauh nanti”


“Hissss…kan sebentar lagi dia harus menghadiri pesta besar Alexandra. Kau tau sendiri kan aturannya, jika Nara punya anak tanpa didampingi suami apa kata saudaramu nanti?” kesal Mikayra.


Zachery hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal mendengar ucapan istrinya. Yahhhh…istrinya kali ini benar, setidaknya mereka harus menyewa seseorang untuk hadir sebagai suami cucu mereka. Jika tidak cucunya bisa menghabisi ipar-iparnya jika tersinggung sedikit saja.


“Tapi aku tidak yakin Nara mau…”


“Kau benar, ini semua karena dia menurun sifatmu! Kenapa sifat jelekmu menurun kepada Nara?!” kesal Mikayra sekali lagi.


Zachery yang sudah kesal langsung mencubit kedua pipi istrinya karena kesal. Semenjak cucunya pulang istrinya sudah semakin melunjak kepadanya.


“Awas saja kau nanti malam ya…”


“Ma-mau apa kau?!”


“Menagih janji seseorang”


*************


2 minggu kemudian…


.


.


.


Daniel menatap mansion megah milik keluarganya, hah…pada akhirnya ia laki-laki masuk ke tempat yang paling tidak inginia kunjungi setelah kematian Papa dan Mamanya. Sekarang ia hanya punya satu harapan, semoga Selena bisa menepati janjinya untuk datang menjadi pasangannya.


Para pelayan berjajar rapi menyambut kedatangan sang Tuan muda. Daniel menatap para pelayan itu dengan wajah datar, ia tak punya mood sebelum Selena muncul dihadapannya.


“Selamat datang Tuan


muda…”


“Hn”


Daniel berjalan masuk kedalam mansion megah itu, mansion ini mungkin lebih megah daripada mansion Georgino. Tapi sama sekali tak bisa di bandingkan dengan kediaman utama Alexandra yang ukurannya 6x lipat daripada ini. Meskipun asing tapi ia merasa nyaman, daripada mansion keluarganya sendiri…memuakkan.


Saat sudah masuk semua mata langsung tertuju kepada Daniel, Daniel membungkuk…memberikan salam kepada kakeknya meskipun sebenarnya ia enggan melakukannya.


“Kau sudah datang, gantilah pakaianmu. Setelah turun untuk makan malam” Tuan besar Jasson berkata dengan dingin kepada cucu tertuanya.


Daniel hanya mengangguk dan masuk kedalam lift untuk menuju kamarnya yang terletak di lantai paling atas. Sial*n…ia benar-benar tak ingin berpakaian formal kali ini, apalagi untuk menemui wanita yang tidak penting sama sekali.


Daniel menggapai ponselnya, menelfon Selena. Namun beberapa kali mencoba tetap saja, ponsel Selena tidak aktif. Apa dia sudah masuk ke pesawat? Atau sedang sibuk dengan anak-anaknya? Sighhh…untung saja ada Joe, kalau saja tidak ada Joe…ia benar-benar tidak akan pernah datang kesini.


Tok tok tok…


“Siapa?”


“Ini aku Daniel, boleh aku masuk?”


“Masuk saja”


Joe membuka pintu dan masuk kedalamkamar Daniel, Daniel melipat kedua tangannya melihat kedatangan Joe. Untuk apa Joe menemuinya sekarang?.


“Apa Selena datang?”


“Aku belum tau, memangnya kenapa?”


“Mereka sudah datang” ujar Joe.


“Sighhhh…merepotkan, menambah pekerjaan saja mereka”


“Bagimana wanita itu?”


“Biasa saja menurutku, mungkin kelebihannya ada pada sifatnya yang anggun”


Daniel mengusap rambutnya kebelakang, bisakah Selena menghadapi ini dengan kepala dingin. Mengingat betapa sensitivenya gadis itu semenjak kematian Leo. Selena sekarang definisi senggol bacok, ia berharap Rafindra ikut kemari agar ia tidak kuwalahan.


“Oh ya, bagaimana Selena? Apa dia kesulitan menjaga anak-anaknya?”


“2 minggu yang lalu dia melefonku dngan panik karena anak-anak menangis”


“Hahhhh meskipun sifat Selena penyabar dia pasti akan kesal jika tidurnya diganggu”


“Hahhhhhh”


Daniel dan Joe secara bersamaan menghembuskan nafasnya, Ibu muda satu itu…memang…sulit sekali diajak berkompromi.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2