
.
.
.
Bei, pria itu memeriksa kondisi Selena yang masih tertidur dalam pelukan Leo. Setelah memeriksa keseluruhan Bei mengerutkan keningnya membuat para Alexandra cemas akan hasil kesehatan keponakan mereka.
“Hm, tak ada yang salah disini”
“Tapi Bei, tadi Selena menangis. Dia terkejut karena bangun ditempat yang asing, dia tak ingat jika dia yang meminta untuk menginap di apartement Lonza. Sebelumnya dia tak pernah seperti ini, keponakanku punya ingatan yang kuat” ucap Deon tak mau kalah. Ia yakin sesuatu sudah terjadi dengan keponakannya.
“Jika begini maka kita butuh beberapa hari. Boleh aku menginap disini?”
“Tidak, pesan hotel sebelah. Aku yang bayar”
“Dih, kan banyak kamar kosong”
“Jangan membuatku melakukan pekerjaan melelahkan itu! Aku tak mau membersihkan satu kamar untukmu!” sinis Lonza.
“Cih, pelit”
“Tapi jika kondisi adik ipar memang seperti itu maka kalian harus memantaunya. Ingat apa yang dia lakukan terakhir kali sebelum tidur malam. Jika besoknya dia tidak ingat itu bisa menjadi point pertama tapi tak bisa menjadi tiang permasalahan. Jika hari dua dan ketiga masih sama. Itu bisa menjadi tiang permasalahannya”
“Tapi…apa ada sesuatu yang salah dengan otak keponakanku?” Louis berkata dengan tubuh gemetar, Louis adalah adik ke-5 dari Ruvelis. Paman yang paling perhatian dan penuh kehangatan kepada Selena.
“Sepertinya tidak ada kerusakan serius, tapi tetap…hasil tes dalam 3 hari kedepan itu benar-benar penting”
“Hmmmm”
Selena mengeliat pelan dalam tidurnya membuat Leo langsung membuka matanya dan langsung membelai kepala Selena dengan lembut. Leo menjernihkan pandangannya, Bei? Kenapa pria itu ada disini?.
“Ada apa kau kemari?”
“Aku ditelfon diminta kesini”
“Sudah selesai? Jika sudah pergilah, aku mau tidur”
“Tega sekali kau mengusirku”
“Dih?!”
Deon menarik tangan Bei keluar bersama adik-adiknya. Leo kembali membenarkan posisinya, ia menatap wajah tidur istrinya yang begitu manis. Ia memberikan beberapa ciuman lembut diwajah wanita yang sangat ia cintai seumur hidupnya.
“Leo…ada apa?” tanya Selena terbangun dari istrinya.
“Sudah waktunya makan siang, ayo mandi dulu. Aku akan menyiapkan makanan”
__ADS_1
Selena menganggukkan kepalanya, ia masuk kedalam kamar mandi sedangkan Leo merapikan kemejanya yang berantakan dan turun kebawah menyiapkan makanan.
.
.
.
Tubuh Joe gemetar dengan hebatnya ketika membaca Document yang isinya adalah surat perjanjian antara Hans dan Jennifer. Tidak! Ini tidak mungkin terjadi! Ia pasti salah baca! Atau pengacara itu memberikannya Document yang sudah direkasaya! Tidak! Ia benar-benar tak percaya dengan apa yang tercatat disini.
Daniel menepuk bahu adiknya membuat Joe langsung tersentak kaget dan segera menyembunyikan berkas itu dari Daniel.
“Apa itu? Berikan kepadaku”
“Bu-bukan a-apa-apa. I-ini tidak penting”
Daniel mengerutkan keningnya, tanpa basa-basi ia langsung merebut Document yang disembunyikan Joe. Joe berdiri dan hendak mengambil kembali berkas itu namun Daniel langsung menatap Joe dengan sorot mata tajam. Nyali Joe ciut seketika melihat tatapan kakaknya yang seperti itu.
“Jangan sembuyikan apapun dariku Joe” dingin Daniel membuat Joe langsung menggigit bibir bawahnya.
Daniel memberikan Document itu kepada Assistantnya.
“Tak ada yang boleh melihat berkas itu sebelum aku membacanya, taruh diruang kerjaku”
“Baik Tuan muda”
“Apa isi berkas itu sampai membuatmu seperti ini Joe? Seorang Boss di dunia hitam bisa semenyedihkan ini ternyata”
Daniel meninggalkan Joe diruang tamu dan masuk keruang kerjanya. Joe menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, ternyata ini alasan mengapa Jennifer sampai mau memberikan Selena kepada Hans. Jika ia berada di posisi Jennifer, ia tak punya solusi lain selain memberikan Selena kepada Hans.
“Hans…kau keterlaluan!” geram Joe.
Daniel duduk dikursi kerjanya, ia membuka Document yang berjudul “ Kontrak perjanjian ”. Kontrak perjanjian siapa yang bisa membuat adiknya tak berdaya seperti itu?.
Disana tertulis jelas, pihak pertama bernama “ Dederick Hans Georgino ” sedangkan pihak kedua bernama “ Jennifer Yunki Maria Leonardo ”. Apa ini kontrak perjanjian yang membuat Jennifer memberikan Selena kepada Hans?.
Daniel terbelalak tak percaya saat membaca berkas itu. Tubuh Daniel gemetar dengan hebatnya, disana tertulis dengan jelas nama Selena sebagai taruhannya.
“Hans!!! Kau benar-benar keterlaluan!!!!” geram Daniel, Leo harus tau ini. Para Alexandra juga harus tau hal ini!.
Daniel mengepalkan tangannya geram, pantas Jennifer begitu membenci Hans. Pria itu benar-benar kurang ajar! Ia tak bisa membiarkan hal ini begitu saja! Hans harus tau konsekuensi karena telah berani melakukan ini.
Daniel mengambil ponselnya, menghubunggi Leo.
“Ya Daniel?”
“Selena? Kau bersama Leo?” tanya Daniel keheranan karena yang mengangkat telfon adalah adiknya. Entah kenapa, tiba-tiba amarahnya surut begitu saja mendengar suara lembut Selena.
__ADS_1
“Leo? Oh Leo sedang mandi, ada pesan untuknya?”
“Tidak…aku tak bisa memberi tau Selena hal ini terlebih dulu” batin Daniel menahan mulutnya untuk tidak mengatakan yang sebenarnya.
“Tidak, jika Leo sudah selesai mandi minta dia menelfonku ya”
“Owhhhhh Okey…”
“Sayang, siapa yang telfon?”
“Leo, ini telfon dari Daniel”
“Ada apa Daniel?”
“Aku ingin bertemu denganmu, di café Victoria. Sekarang juga”
“Baiklah”
Tut…
Daniel mengambil kunci mobilnya dan segera pergi dari rumahnya. Disisi lain Leo segera berpakaian, namun saat hendak pergi Selena mencegahnya.
“Mau kemana?”
“Kan tadi dengar sendiri, Daniel mau bertemu denganku sayang…kau dirumah saja ya”
“Benar-benar tidak boleh ikut?”
“Tunggu aku pulang, aku tidak lama. Nanti pulang kubawakan makanan kesukaanmu ya”
Leo mencium bibir Selena lembut dan pergi dari rumah Lonza. Selena memajukan bibirnya, tumben sekali Leo tidak memperbolehkannya ikut. Kan hanya bertemu dengan Daniel. Tapi biarlah, lebih baik ia kedapur dan belajar membuat makanan baru.
Selena keluar dari kamar, berteriak memanggil nama Louis, Louis yang berada di halaman depan langsung masuk kedalam rumah dan menghampiri Selena yang menuruni tangga sembari berlari.
“Aduh, jangan lari-lari sayang…”
“Paman! Ayo ajari aku memasak lagi!”
“Iya, tapi jangan lari-lari. Kan bisa pelan-pelan, nanti kalau jatuh bagaimana?”
“Kan ada kak Bei! Paman Deon tidak akan marah kepadaku!”
Louis menggelengkan kepalanya mendengar ucapan keponakannya. Kalau jatuh Deon tidak akan memarahi Selena, tapi akan memarahi Bei dengan alasan Bei adalah dokter. Mana tega kakaknya memarahi keponakan satu-satunya yang dia punya?.
.
.
__ADS_1
.