
.
.
.
Daniel menutup mulutnya tak percaya mendengar cerita dari Leo, jadi…Selena pernah mengalami mati suri? Wahhhhh…keren… pantas saja seperti tidak ada yang bisa membuat gadis itu takut dengan namanya kematian.
“Dan kau tau saat Papanya bertanya apa saja yang istriku lakukan saat koma? Dia menjawab bahwa dia bermain” ucap Leo sembari tertawa kecil.
“Memang anak Jenderal besar ya…kalau main dengan kematian” ucap Daniel.
“Itulah kenapa Hendrick sampai angkat tangan saat meladeninya” tambah Louis.
“LEPAS!!!! LEPASKAN AKU!!!”
Mendengar sebuah teriakan keras langsung membuat Leo menutupi kedua telinga istrinya. Apa ada orang lain di markas ini?!.
“Daniel, bawa Selena kekamar. Kamarnya ada dilantai 4” ucap Leo memberikan istrinya kepada Daniel. Daniel menerima tubuh Selena dengan hati-hati lalu menggendongnya masuk kedalam lift menuju lantai 4.
“Ada orang lain disini?” tanya Leo kepada Rafindra.
“Ya Tuan muda, Tuan muda Lie berada disini. Nona besar yang menyekapnya, beliau akan disini sampai Tuan Nahl datang”
“Paman Nahl diminta kemari? Untuk apa?” tanya Louis.
“Nona besar yang meminta”
Leo, Hendrick, Louis saling memandang. Untuk apa Selena meminta Nahl kemari? Felling mereka mendadak benar-benar tidak enak. Apalagi yang gadis itu rencakan? Semoga saja gadis itu tidak berbuat yang tidak-tidak.
Brakkkkkkk!!!
Leo seketika berdiri dari tempat duduknya, ia menatap dingin Lie yang berada di lantai 2 dengan wajah piasnya. Hm? Hanya beberapa jam disini sudah tidak tahan kah?.
“Kau!!! Keluarkan aku darisini sial*n!!!”
Senyum sinis terukir dibibir Leo, ia melipat kedua tangannya dan memberikan kode kepada Mafia untuk menahan Lie agar tidak turun ke lantai dasar dan membuat kekacauan.
“Lepas!!! Keluarkan aku dari sini!! Jika tidak kakakku tidak akan mengampunimu!!”
“Punya tangan dan kaki sendiri kan? Cari sendiri dong jalan keluarnya” jawab Leo.
“Lepaskan dia” ucap Hendrick langsung membuat kedua Mafia yang tengah menahan Lie langsung menjauhkan diri. Lie langsung bergegas menuruni tangga dan menghampiri Leo dan lainnya.
“Apa?” tanya Leo yang melihat Lie terus menatapnya.
“Aku bersumpah bahwa jika sampai kalian macam-macam kepadaku…maka kak Hans benar-benar tidak akan mengampuni kalian”
“Memang Hans berani melakukan apa? Jangan lupa sekarang kau berada di mana…bawa dia kembali kekamarnya. Sebelum Nahl datang, jangan biarkan dia keluar”
“Baik Jenderal muda!”
“Lepas!! Lepaskan aku!! Aku berjanji, jika kalian melepaskanku aku tak akan ikut campur masalah diantara Mama dan Selena!” ucap Lie, tidak! Ia tidak ingin berada disini lebih lama! Ini adalah tempat yang gila! Tempat ini adalah neraka untuk makhluk hidup!!.
“Aku seorang suami yang patuh dengan istriku, tunggu istriku bangun. Dan kuberikan keputusannya kepadamu, seret dia masuk”
Leo melepaskan jaz serta dasinya, lalu masuk kedalam lift untuk menuju kamar istrinya. Leo membuka pintu dengan perlahan dan menatap istrinya yang tengah tertidur lelap serta Daniel yang tengah membaca buku di sofa.
“Sudah selesai urusannya? Siapa tadi yang berteriak?”
“Lie, istriku teryata menahannya disini”
“Wahhhh hebat juga Selena bisa membawa Lie kemari”
“Jangankan Lie, Hendrick saja kalau tidak mau menemui istriku hanya ada 2 pilihan. Datang sendiri atau didatangkan”
Leo menarik selimut hingga batas leher istrinya, Daniel menutup bukunya dan keluar dari kamar itu. Leo menghembuskan nafasnya, baru saja ia ingin bicara dengan Daniel tapi pria itu main pergi begitu saja.
Leo membaringkan tubuhnya disebelah istrinya, ternyata sudah jam 12…sudah larut ternyata. Pantas saja istrinya bisa tidak bangun saat Daniel yang menemani disini.
“Leo…”
“Sayang? Belum tidur?” ucap Leo langsung duduk dan menatap istrinya yang terbangun.
“Kenapa? Ada yang tidak nyaman?”
“Hmmmm…boleh aku mengatakan sesuatu kepadamu?”
“Apa itu?”
“Ryu ingin makan jeruk dan kebab…belikan ya…mau jeruk yang manis, kebabnya tidak pakai saus” ucap Selena bangun dari tidurnya dan menatap suaminya dengan mata yang berkaca-kaca.
“Sayang…kukira ada apa…” ucap Leo.
“Tidak mau belikan ya?” ucap Selena.
“Tidak…kubelikan sekarang ya. Tetap disini, jangan kemana-mana”
Leo menunduk dan mengecup perut istrinya singkat setelah itu keluar dari kamar. Tengah malam begini mau cari jeruk dan kebab di mana? Apa masih ada mall atau toko yang buka? Semoga saja masih ada yang buka.
“Leo, mau kemana malam-malam seperti ini?”
__ADS_1
“Cari jeruk dan kebab, apa kau mau ikut Daniel?”
“Hah?! Cari jeruk dan kebab? Tengah malam begini?” ucap Daniel, apa Leo sedang bercanda mau mencari jeruk dan kebab tengah malam begini? Lagipula tempat ini jauh dari kota.
“Iya, istriku tiba-tiba menginginkannya. Kasihan kalau tidak dituruti, lagipula dia tidak makan banyak saat makan malam tadi”
“Aku ikut kalau begitu”
.
.
.
Selena mencium pipi suaminya dengan senang ketika Leo datang membawakan kebab dan jeruk yang ia minta. Leo tersenyum dan mencium puncak kepala istrinya, sebegitu senangnya ya mendapatkan hal ini.
“Makanlah, aku akan ganti pakaian dulu”
Selena menganggukkan kepalanya, ia membawa jeruk dan kebabnya ke balkon. Leo hanya bisa tersenyum melihat istrinya yang dengan wajah senangnya tengah mengupas jeruk.
“Sayang! Jeruknya benar-benar manis! Terima kasih!”
“Jangan berterima kasih, sudah…makanlah. Setelah makan tidur ya” ucap Leo duduk didepan istrinya dan mengupas jeruk untuk istrinya.
“Sayang…boleh aku tanya sesuatu kepadamu?”
“Ya” jawab Selena.
“Apa yang akan kau lakukan kepada Lie?”
“Hm? Aku tidak tau, aku tidak punya urusan dengannya. Besok aku akan mengembalikannya kepada keluarganya”
“Yakin?”
“Yah, tapi jika Paman Nahl sudah menyelesaikan pekerjaannya”
“Sudah kuduga…mana mungkin Dear akan melepaskan mangsanya begitu saja…”
Drttttt drtttttt…
Ponsel Selena berdering, Leo menahan istrinya yang hendak beridir untuk mengambil ponsel. Leo berdiir dan mengambilkan ponsel istrinya, ia menatap nomor tak dikenal di layar ponsel istrinya.
“Siapa yang telfon sayang?” tanya Selena.
“Tidak tau, nomor tidak dikenal. Coba angkat dulu, siapa tau penting” ucap Leo memberikan ponsel istrinya dan kembali duduk untuk mengupas jeruk.
Selena mengerutkan keningnya ketika melihat nomor Gerry, untuk apa pria ini tiba-tiba menelfonnya? Dan ditengah malam seperti ini, oh…jika disini tengah malam berarti di A.S seharusnya pagi bukan?.
“Nona Selena, saya benar-benar membutuhkan bantuan anda”
“Apa? Haruskah kau menelfon di jam istirahat seperti ini?”
“Maaf, saya benar-benar tidak tau harus minta tolong kepada siapa lagi. Tolong anda kemari, Tuan muda mengurung dirinya didalam kamar. Saya benar-benar takut terjadi sesuatu kepada beliau”
“Aku sudah tidak punya urusan dengan Hans lagi”
“Tolong…tolong saya Nona. Kali ini saja…tolong bantu kami…”
Mata Selena dan Leo saling bertemu, Leo menganggukkan kepalanya sembari tersenyum. Biarlah istrinya menemui Hans untuk menyelesaikan masalah pribadi diantara mereka.
“Kau ingin aku menemui Hans saat suamiku sendiri sedang berada dihadapanku?” ucap Selena.
“A-AH?!”
“Istriku akan menemui Hans, tapi kuharap…jika istriku sudah disana dan pulang dalam keadaan tidak baik-baik saja. Nyawamu gantinya”
Tut…
Leo mematikan telfon Gerry begitu saja, Selena mengerutkan keningnya. Kenapa suaminya malah mengizinnya bertemu dengan Hans?! Ia benar-benar tidak punya selera bertemu dengan Hans lagi.
“Kenapa? Kan kau harus menyelesaikan masalahmu dengan Hans juga sayang”
“Tidak selera makan lagi”
“Loh…kenapa? Ayo makan lagi, kebabnya juga belum dimakan sayang” ucap Leo, duhhhh sepertinya ia tidak sengaja menyinggung perasaan istrinya.
“Sayang aku minta maaf jika menyinggung perasaanmu, ayo makan lagi. Kalau tidak mau makan jeruknya makan kebabnya saja ya…” ucap Leo.
“Bukan begitu…” ucap Selena.
“Kenapa…kenapa tiba-tiba sedih begini?” ucap Leo yang melihat mata istrinya berkaca-kaca, siap untuk menangis.
“Hans punya wanitanya sendiri, kenapa harus aku yang membujuknya…Yeni sudah membunuh Mama…aku tidak ingin bertemu dengan Hans lagi…” ucap Selena.
“Apa? Hans punya wanita lain?” ucap Leo terkejut.
“Aku tidak ingin membahas ini lagi, aku ingin tidur”
Selena berdiri dan membaringkan tubuhnya ditempat tidur. Selena membalik tubuhnya membelakangi Leo, Leo menggigit bibir bawahnya. Ia salah, tak seharusnya ia mengatakan hal itu tadi.
Leo berdiri dan duduk ditempat tidur, tangannya dengan lembut membelai lengan kecil istrinya.
__ADS_1
“Maaf…aku tak berniat merusak moodmu…” ucap Leo dengan wajah sendunya.
Selena bangkit dan menatap wajah sendu suaminya, melihat wajah sedih Leo membuat Selena merasa bersalah. Ia menempelkan tangannya di pipi Leo.
“Maaf…aku tak berniat membuat sedih seperti ini…aku tak tau mengapa, sejak tadi aku merasa sensitive ketika membahas keluarga Georgino. Aku tak tau apa yang salah dengan egoku…maaf sayang…” ucap Selena.
Leo menarik istrinya kedalam pelukannya, istrinya sedang hamil muda. Wajah jika sensitive begini, ia harus lebih berhati-hati ketika ingin membicarakan sesuatu.
“Maaf…aku akan lebih memperhatikan perasaanmu kedepannya. Sekarang istirahatlah…”
Leo dengan perlahan membaringkan istrinya, Selena memeluk erat suaminya. Ia benar-benar bersyukur mendapat suami yang sangat perhatian seperti ini kepadanya.
Dengan perlahan mata Selena terpejam, Leo tersenyum dan mencium kening istrinya. Tangannya dengan lembut menyentuh perut istrinya yang masih rata.
“Ryu…Ryu sedang marah ya dengan Papa? Sayang…Papa boleh minta sesuatu? Nanti kalau Papa sedang tidak bersama Mama…Ryu tidak boleh menyusahkan Mama dan Papa Daniel ya sayang? Ryu jangan menyusahkan Papa Daniel…kalau ada Papa…Ryu boleh minta apa saja asalkan itu tidak membahayakan Mama ya sayang…sehat terus ya anak Papa…”
.
.
.
Esoknya…
Selena duduk dipangkuan suaminya sembari memakan jeruk yang semalam dibelikan Leo. Menatap berkas yang berisikan data kampus terbaik dari berbagai penjuru dunia.
“Coba pilih mana yang kau suka”
“Yang ini sepertinya bagus…nanti aku akan kesana dengan Joe” ucap Selena.
“Kau punya selera yang sangat bagus sayang”
Seorang pria keluar dari kamar Lie dengan wajah dinginnya, Selena menoleh dan tersenyum manis kearah pria itu. Pria itu menuruni tangga dengan wajah yang tidak berubah sama sekali.
“Bagaimana Paman? Berhasil?”
“Berhasil, tapi jika buka kau yang memanggil Paman dihari libur Paman. Paman akan membunuhnya”
“Hehehe, maaf sudah mengganggu liburan Paman. Sekarang Paman bisa kembali liburan”
“Paman ingin bertanya sesuatu kepadamu?”
“What?”
“Apa kau sudah bosan dengan mainanmu sampai-sampai memintaku menangani Tuan muda keluarga Georgino? Jika kau sudah bosan dengan mainan lamamu, Paman akan berikan mainan yang baru. Kau mau apa?”
“Tidak mau, mainanku sebelumnya masih ada. Mainan dari Opa saja belum kubuka”
Nahl memijat pelipis matanya, ia sudah kehabisan akal meladeni keponakannya yang ini. Ia pikir ia dipanggil kemari karena ada masalah serius, ternyata hanya disuruh menangani anggota keluarga Georgino. Ia jadi penasaran, apa yang diinginkan Jenssica selama mengandung Selena sampai-sampai anaknya mirip sekali dengan Ruvelis. Ada satu sifat yang diturunkan Ruvelis kepada Selena yang sangat ingin ia hilangkan yaitu…jika tidak ada masalah akan mencari masalah dan jika ada masalah akan berbuat seenaknya.
“Sekarang! Mari terbang ke A.S!”
“Sekarang juga? Kenapa tidak besok saja?” tanya Louis.
“Tidak mau! Aku mau ke A.S sekarang, lusa liat kampus bersama Joe. Setelah itu, aku mau liburan berdua dengan Leo”
“Liburan berdua? Honeymoon ke-2?” tanya Louis.
“Tidak! Aku tidak mau melakukan honeymoon! Itu pasti sangat melelahkan!”
Louis seketika kebingungan mendengar ucapan keponakannya. Hah?! Katanya mau liburan berdua dengan Leo, kan sebelumnya keponakannya juga sudah pernah honeymoon dengan Leo. Kenapa masih bilang tidak mau melakukan honeymoon.
“Tunggu-tunggu, jangan bilang kau masih menganggap honeymoon itu melumuri bulan dengan madu?” ucap Hanl yang mengerti arah pembicaraan Selena.
“Iya! Kan namanya saja honeymoon!”
Hendrick, Louis, dan Nahl seketika menepuk dahi mereka. Ya tuhan…sudah umur 18 tahun lebih masih saja menganggap jika honeymoon itu melumuri bulan dengan madu. Bagaimana bisa Selena tidak tau apa itu honeymoon sedangkan dia saja berteman dengan Joe yang pikirannya…
“Sayang, terkadang perkataan Papamu lebih baik tidak kau tanam di otakmu” ucap Hendrick tak mengerti lagi harus berbuat apa. Apa yang keluar dari mulut Ruvelis pasti akan ditelan mentah-mentah oleh Selena. Inilah yang membuatnya selalu kesal jika Ruvelis mendominasi Selena.
“Apa?! Paman menyalahkan Papa?!”
“Ya bagaimana bisa dia mengartikan honeymoon sebagai perbuatan melumuri bulan dengan madu?! Lihat, dia mengatakan hal itu dan kau menanam perkatananya diotakmu? Ahhhhh…aku tak mengerti lagi” ucap Hendrick dengan wajah kesalnya.
“Perkataan Papa tidak ada yang salah ya! Aku ini kan anak Papa! Kan wajar jika aku menanam apa yang Papa katakan!”
“Ya tapi penjelasan Papamu salah! Bagaimana bisa dia mengartikan…ahhh sudahlah! Paman tidak akan bisa menang jika berdebat denganmu”
“Sudah tau hasilnya bagaimana masih mau melawan” cibir Selena.
Leo hanya menahan tawanya melihat perdebatan Hendrick dan istrinya yang membahas tentang bulan madu. Sepertinya Hendrick melupakan sesuatu yang penting yang membuat istrinya menjadi seperti ini.
“Sudah…jangan cemberut lagi…ayo pergi. Pesawatku sudah siap”
Leo menggendong istrinya bak seekor koala dan membawa istrinya keluar dari mansion megah itu diikuti Hendrick, Daniel, Louis, Nahl, Rafindra, dan Wei.
.
.
.
__ADS_1