Our Last Love

Our Last Love
V1 : Chapter 166 : Berpisah Lagi


__ADS_3

.


.


.


Selena menempelkan keycard di pintu, pintu itu secara otomatis langsung terbuka. Dan saat pintu itu terbuka tangannya ditarik masuk kedalam.


Leo langsung mencium habis bibir istrinya, Selena yang masih terkejut tak bisa membalas perlakukan Leo kepadanya. Leo melepaskan ciumannya, ia menatap wajah terkejut istrinya.


“Terlambat 15 detik…jadi…aku harus melakukan apa kepadamu hm?” bisik Leo seraya menjilat telinga istrinya membuat Selena langsung menggigit bibir bawahnya menahan sensasi geli yang diberikan suaminya.


Leo kembali mencium bibir istrinya, memajukan langkahnya hingga tubuh istrinya menempel di pintu. Kali ini Selena membalas ciuman panas suaminya, suaminya benar-benar cemburu kali ini. Ia tak pernah merasakan ciuman Leo yang bergairah sampai seperti ini.


“Cemburu apa hm?”


“Dia menyentuh tanganmu…aku tak suka itu”


Selena tersenyum dan mengalungkan tangannya dileher suaminya lalu mencium bibir suaminya dengan lembut, Leo tidak membalas namun beberapa saat kemudian dia lah yang mendominasi ciuman itu. Tangan Leo dengan perlahan melepaskan ikatan baju istrinya. Selena yang terbuai oleh ciuman panas Leo pun ikut melepaskan kancing kemeja suaminya.


Leo tersenyum lembut melihat istrinya yang mencoba melepaskan pakaiannya.


“Hmmmm…semenjak hamil…auramu semakin menggoda sayang…”


Leo mencumbu istrinya dengan lembut, pria itu meninggalkan beberapa bekas merah di leher serta bahu seksi istrinya. Selena menutup mulutnya mencoba tidak mengeluarkan suara. Leo menghembuskan nafasnya dan tersenyum, ia menaikan kedua tangan istrinya, mengunci pergerakan tubuh itu.


“Jika ingin mendesah…jangan ditahan…bukankah suaramu sangat merdu?”


“Jangan menggodaku lagi!”


“Hmph…karena kau terlambat masuk kedalam kamar ini…sebagai hukumannya jangan memintaku untuk berhenti sebelum aku menghentikannya”


“A-apa?!”


“Terlambat untuk menyesal”


.


.


.


“Ahhhh ack!! Itu terlalu dalam Leo!!!”


“Sial…kau benar-benar sempit sayang…” ucap Leo.


Selena berteriak tak beraturan diatas tubuh suaminya, Leo mengerang penuh nikmat dan mencium bibir istrinya. Selena dengan mata sayunya menggelengkan kepalanya, meminta suaminya agar menghentikan permainan ini. Ia lelah…ia ingin istirahat…


“Mau apa hm?” tanya Leo sembari tersenyum nakal. Ia mencium pelipis mata istrinya yang mengeluarkan luquid dan dengan perlahan kembali menaik nurunkan tubuh istrinya. Selena dengan spontan langsung berpegangan pada bahu suaminya, suaminya masih punya tenaga untuk melakukannya lagi?!.


“Hgnhhhh tidak lagi…aku sudah lelah…”


“Tidak lagi? Yakin?”


Selena memeluk dada telanjang Leo dan perlahan terlelap dengan damainya. Leo tersenyum lembut melihat istrinya yang tertidur, dengan perlahan ia berbaring dan memeluk erat istrinya.


“Thanks Dear…”


*****


Selena membuka matanya dengan perlahan karena terusik dengan suaminya yang tengah sibuk menciumi wajahnya. Ayolah…ia baru tidur beberapa jam, kenapa suaminya sudah membangunkannya.


“Hm…ayo mandi bersama…Paman Hendrick sudah telfon. Katanya dia ingin membicarakan sesuatu kepadamu”


“Hm…biarkan aku tidur sebentar lagi sayang, aku lelah…”


“Tidak ada tidur lagi, sudah jam 10. Katanya mau berangkat liburan juga, pesawatnya akan take off 1 jam lagi”


Selena langsung membuka matanya lebar-lebar, namun saat bangun ia langsung merasakan nyeri disekujur tubuhnya terlebih lagi area intinya. Ya tuhan…suaminya benar-benar liar semalam. Ia tak ingin membuat suaminya cemburu lagi kedepannya.


“Mau kumandikan hm?” goda Leo seraya mengelus perut datar istrinya.


“Sayang…kau sedang kenapa sih? Tumben bergairah seperti ini…tubuhku sakit semua” keal Selena dengan wajah masamnya.


“Hmmmmm…siapa suruh kau begitu menggoda, sayang…sekali lagi boleh ya?” ucap Leo.


“Tidak mau…kau liar semalam. Aku mau cek kandungan” ucap Selena.


Mendengar hal itu membuat Leo blank, benar!! Istrinya kan sedang hamil muda!! Dan ia malah bermain dengan liar semalam!! Apa perut istrinya tidak nyaman?! Ia harus memanggil dokter kemari.


“Rafindra!!! Panggil Daniel dan Micle kemari!!”


Leo memakai bathrobe dan memakaikan bathrobe juga ditubuh telanjang istrinya. Selena menepuk dahinya, ia lupa jika suaminya adalah orang yang cepat panik mengenai dirinya.


Tak berselang lama Daniel dan Micle datang dengan nafas tersengal-sengal. Daniel langsung menghampiri Selena dan mengecek keadaan gadis itu, dari segi fisik Selena baik-baik saja. Tapi sepertinya Leo terlalu brutal semalam.


“Di mana yang tidak nyaman, katakan kepadaku” ucap Micle.


“I’m fine…”

__ADS_1


“Berbaringlah, biar mereka memeriksa keadaan Ryu…” ucap Leo.


Selena mematuhi suaminya, ia berbaring lalu Daniel dan Micle memeriksa perutnya.


“Sepertinya kondisi anakmu baik-baik saja, sebelum liburan coba cek dulu kerumah sakit” ucap Daniel.


“Sayang…maaf…aku benar-benar minta maaf. Aku benar-benar lupa jika kau sedang mengandung kemarin, aku benar-benar menyesal…” ucap Leo.


Daniel mengepalkan tangannya kesal. Dengan geram ia memukul bahu Leo menggunakan buku, sudah tau benihnya ada didalam rahim Selena masih kasar saat melakukan ***?!.


“Sekali lagi kau kasar…kulaporkan kau kepada Jenderal muda”


“Ya jangan! Mati aku nanti”


“Ya sudah! Awas kalau kau mengulanginya lagi! Kau juga! Sudah tau Leo mudah cemburu masih dekat-dekat dengan pria lain!” omel Daniel kepada Selena.


“Mana ada? Aku hanya bicara beberapa kalimat kepada Hans kemarin”


“Lalu kejadian pangeran piano mencium tanganmu bagaimana?!”


Selena menutup mulutnya, sepertinya ia tau apa yang membuat suaminya sampai bertingkah seperti itu kemarin malam. Ia lupa mencuci tangannya yang dipegang pria itu dan Hans.


“Sayang…bersihkan tubuhku ya?” ucap Selena.


“Ayo, aku akan membersihkanmu sampai benar-benar bersih”


****


Sedangkan disisi lain…


Hendrick menatap frustasi ponselnya yang baru saja mendapat pesan masuk bahwa Selena sudah terbang ke Prancis untuk liburan bersama Leo. Ia ditolak lagi…sudah tak terhitung jumlahnya ia ditolak Selena dalam 2 hari ini…


“Sabar…”


“Keponakanmu sangat membuatku frustasi…”


“Nanti kalau Selena sudah masuk kamp kan kau bisa bicara”


“Oh ya! Kau benar!”


“Asahi, siapkan semuanya. Saat Selena masuk kamp nanti, jangan sampai aku terkena masalah”


“Maaf?” Jenderal Asahi berucap dengan bingung menatap Hendrick. Hendrick memijat kepalanya, ahhh…ia lupa jika Asahi tangan kanannya bukan orang asli dari kamp utama, seharusnya ia memberikan tugas ini kepada mantan tangan kanan Ruvelis.


“Sudah, biar aku yang menyiapkannya” ucap Lewis langsung mengambil coat panjangnya dan pergi begitu saja.


Hendercik tak mengubris kepergian Lewis, ia menatap dingin foto yang berada di atas meja. Semoga saja…ia bisa tau jawaban tentang asal-usul kematian Alice yang membuat Jennifer dibunuh keluarga Georgino.


“Dia sangat mirip dengan Ruvelis…entah kenapa…aku merasa iri dengan itu…” ucap Hendrick.


“Buah jatuh tak jauh dari pohonnya Hendrick. Sejak masih dalam kandungan, setiap hari kakak selalu bersama dengan kakak ipar. Aku bahkan hafal kebiasan kakak saat pulang, saat dia pulang…dia akan langsung meletakkan kepalanya dipangkuan kakak ipar dan mengajak anaknya berbicara…sangat wajar…jika Selena bak seorang kembaran dari kakak sendiri. Dan kau tau betul, apa yang terjadi kepada Selena…jika kakak pergi untuk menjalankan tugas”


Ucapan Deon membuat Hendrick terdiam, itu benar…dulu setiap kali Ruvelis ingin menjalankan tugas Selena akan selalu menangis meminta untuk ikut. Jika Ruvelis pergi tanpa mengajak Selena maka gadis itu akan langsung terkena demam tinggi, dan yang terparah adalah…mengalami kritis saat ia, Ruvelis, George, dan Jordan sedang


melakukan tugas. Namun setelah kejadian Selena yang mengalami mati suri, Ruvelis tak pernah sekalipun meninggalkan putrinya. Setiap saat, Selena harus berada didalam pandangan Ruvelis dan tak terbayang bagaimana paniknya Ruvelis ketika Selena hilang dari pandangannya sendiri.


.


.


.


.


.


.


Leo dan Selena berpelukan erat didalam bandara, puas memeluk istrinya Leo mengecup lembut dahi serta bibir mungil istrinya sebelum melepas istrinya pergi bersama Hendrick.


“Jaga diri baik-baik ya disana, makan yang teratur…jangan lupa minum vitaminya juga ya”


“Iya sayang…aku mengingatnya, kau juga jangan lupa jaga kesehatan”


Satu persatu, koper besar dimasukan kedalam pesawat oleh beberapa bodyguard. Joe menahan tawanya melihat wajah pucat Daniel yang tidak tidur semalaman karena gugup akan masuk kamp untuk pertama kalinya. Daniel benar-benar terlihat seperti seoranganak kecilyang akan berlibur.


“Awas…katanya kamp makanannya hambar semua”


“Tutup mulutmu sebelum aku melemparmu menjadi santapan hiu Joe…” dingin Daniel. Ya tuhan…ia tidak bisa tidur, ia belum makan. Dan ia ingin muntah sekarang.


“Selamat jalan Jenderal!!!” semua Mafia dan bodyguard membungkuk memberikan salam perpisahan kepada Selena, Hendrick, dan para Alexandra.


“See you again my wife…” ucap Leo mengecup pelipis mata istrinya sebelum memundurkan langkahnya dan memberikan salam untuk semuanya.


“Sampai jumpa, Jenderal muda Nara”


“Sampai jumpa juga untukmu, Letnan muda Iskandar”


Daniel menghampiri Selena, Selena dan Leo menahan tawanya melihat wajah pucat Daniel. Leo menepuk bahu Daniel membuat pria itu langsung menatap kearahnya.

__ADS_1


“Siapkan mentalmu…jika tidak…kau akan gila saat keluar dari kamp utama”


“Selena! Lihat suamimu!” kesal Daniel.


“Sudah…Leo…jangan menakuti Daniel seperti itu. Kau juga, hanya dengan kamp saja kenapa seperti mau mati? Kamp utama tidak semenyeramkan itu Okey? Percaya kepadaku” ucap Selena menggelengkan kepalanya melihat Daniel yang bisa-bisanya dikerjai oleh Joe dan suaminya.


“Sudah saatnya berangkat” ucap Hendrick.


Selena menganggukkan kepalanya, ia mencium bibir suaminya sebelum masuk kedalam pesawat. Daniel dan Leo berpelukan.


“Hati-hati, jaga dirimu baik-baik. Aku titip istriku ya”


“Ya, aku akan menjaga istrimu dengan baik”


“Terima kasih”


Daniel masuk kedalam pesawat dan tak butuh waktu lama pesawat itupun take off. Leo hanya bisa tersenyum…sendirian lagi.


“Tunggu…kakak!!!! Kau tidak memberikan uang jajan kepadaku untuk 5 bulan kedepan!!!!” teriak Joe yang baru mengingat jika Daniel belum memberikan uang sepeserpun kepadanya.


***********


Hendrick menatap Daniel yang tampak dalam keadaan tidak baik-baik saja. Apa pemuda ini menganggap serius ucapan Joe dan Leo mengenai kamp utama? Selena adalah orang asli kamp utama, mana mungkin yang dikatakan Joe dan Leo benar? Jikapun itu benar…ia pasti sudah lama mati ditangan Ruvelis.


“Jangan memikirkan ucapan Joe dan Leo. Mereka belum pernah menginjakan kakinya di kamp utama, bagaimana mungkin mereka tau?”


“Ahhh…bisakah saya tau kita akan sampai berapa jam lagi?”


“12 jam lagi, kamarmu dan Selena sudah disiapkan. Kamarmu dan Selena bersebelahan, dan selama di kamp. Kau akan diawasi langsung oleh Selena”


“Dengan Selena? Bukan dengan anda?” tanya Daniel.


“Aku pernah berjanji kepada Jordan bahwa kau akan menempati posisi Jenderal besar bersama Selena. Selena jauh lebih berpengalaman daripada diriku saat melatih orang baru karena Selena dulu langsung di didik oleh Ruvelis di kamp dan juga markas. Kuharap dia masih ingat betul tahapan latihan orang baru” ucap Hendrick sembari melihat Selena yang sudah terlelap didalam pelukan Lewis.


Pikiran Daniel semakin tak karuan, selama 5 bulan kedepan ia akan diawasi Selena? Ah…ia tak bisa membayangkan bagaimana latihannya nanti mengingat bagaimana brutalnya Selena ketika melihat musuhnya.


“Jangan takut kepada Selena, meskipun dia gila saat bertemu dengan musuhnya. Dia tidak akan lupa etikanya sebagai Jenderal muda sekaligus penerus dari Jenderal besar Nami” tambah Louis.


“Tapi kau juga harus siap-siap jika gilanya kambuh” tambah Jeff.


“Jika kalian berdua masih tidak mau diam…keluar dari pesawat ini sekarang juga” dingin Lewis yang sedari tadi menutupi telinga Selena.


Louis dan Jeff langsung menutup mulut mereka rapat-rapat, duh…ia lupa jika Lewis berada di pesawat yang sama dengan mereka.


.


.


.


Gerry dan Jansen menatap sendu Peter serta William yang memberikan surat pengunduran diri mereka. Apa kedua orang ini serius ingin mengundurkan diri dari sisi Hans?.


“Maaf…setelah mempertimbangkan banyak hal. Aku lebih baik keluar dari perusahaan ini…aku bukannya tak mau menemani Hans disaat yang seperti ini. Tapi Hans hanya mau mendengarkan kalian berdua, jadi maaf…”


“Tuan…jika anda…”


“Gerry…kau tetap disini. Biar aku dan Jansen saja yang pergi”


“Apa kalian tidak memikirkan perasaan Hans jika tau ini?” ucap Jansen mengepalkan tangannya


Peter dan William hanya diam, mereka berdua bekerja dengan Hans belum terlalu lama. Jansen, Gerry, dan Merry lah yang terlebih dulu berada disini Hans. Jadi sepertinya pengunduran diri mereka tidak akan berdampak besar untuk Hans.


“Maaf…aku benar-benar tidak inginikut campur dalam masalah Hans lagi. aku sudah cukup melihat kemarahan Selena”


“Apa karena wanita itu kalian mengundurkan diri?” tanya Jansen.


“Hmmm mungkin…Jansen, jangan terlalu larut dalam dendammu kepada Nyonya Jennifer sampai kau ikut membenci Selena. Karena kau…mencari lawan yang salah kali ini” ucap Peter.


“Aku tidak peduli, sebelum aku melihat wanita itu menderita…aku tidak akan pernah berhenti”


Peter dan William tak habis pikir dengan Jansen, pria ini benar-benar keras kepala. Tapi biarlah, itu akan menjadi konsekuensi Jansen karena sudah ikut campur dalam permasalah Selena dengan keluarga Georgino. Namun sejujurnya mereka kasihan kepada pria itu, pria itu menyimpan dendam yang amat sangat dalam


kepada Jennifer karena sudah membunuh tunangannya. Tapi tak sewajarnya pria itu membenci Selena karena Ibunya adalah pembunuh Alice.


“Berhentilah sebelum benar-benar terlambat Jansen…ingat, Selena bukan lagi wanita lemah seperti dulu” ucap William sebelum pergi dengan Peter.


Sedangkan Merry? Wanita itu duduk di sofa dan tampak tak bertenaga, tidak seharusnya ia menerima paksaan dari Nyonya Georgino untuk berhubungan dengan Tuan mudanya hari itu. Sekarang…ia harus siap menerima semua konsekuensi karena melakukan hal terlarang itu.


“Aku tak habis pikir denganmu, bagaimana bisa kau berhubungan dengan Tuan muda sampai mengandung anaknya?!” geram Gerry.


“Maaf…”


“Jangan menyalahkan Merry, Gerry!!” geram Jansen.


“Anda dan Tuan muda sama saja Tuan Jansen!”


Merry hanya mampu diam mendengar makian dari Gerry, ia memang bersalah. Sekarang…rahasia yang ia sembunyikan rapat-rapat dari semua orang telah terbongkar. Perasaan bersalah kepada Selena membuncak di hatinya, tapi ia juga tidak berdaya karena Nyonya Georgino mengancam akan membunuh keluarganya jika sampai ia tidak mau menuruti permintaan kali ini.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2