
.
.
.
“ARGHHHH!!!! Persetan kalian semua!!!!! Aku bersumpah akan menghukum kalian semua atas perbuatan kalian!!!! Ini sumpahku sebagai Jenderal muda Nara!!!!”
Selena berteriak meluapkan amarah dihatinya. Jika sampai ia tidak menemukan Mamanya hari ini juga, ia akan melepaskan gelarnya sebagai Jenderal muda dari kamp utama.
Selena menatap air, tiba-tiba ia teringat kata-kata Mama dan Papanya.
“Sebuah ikatan, tak akan pernah berhenti mengalir layaknya air sayang. Jika kau sedang ragu atau tidak bisa menemukan jawabannya, tutup matamu. Bernafaslah dengan perlahan, jernihkan pikiran, dan jangan berpikiran negative. Setelah itu, dengan perlahan…kau akan menemukan apa yang akan menjadi keinginanmu”
Selena meneteskan air matanya mengingat kata-kata Papanya. Namuan seketika ia langsung teringat pesan Mamanya (Jennifer).
“Meskipun kita tidak bukan Ibu dan anak kandung, namun ikatan kita lengalir seperti air sayang. Sejauh apapun kau atau Mama pergi, kita akan selalu bisa menemukan satu sama lain”
Mata Selena seketika menatap kearah aliran sungai yang deras.
“Wei! Kemana arah sungai ini?”
“Sungat ini menuju kearah utara Nona, sungai ini mengaliri beberapa sungai kecil disana”
“Cepat pergi! Ikuti aliran sungai ini”
Selena dan Wei langsung masuk kedalam mobil dan pergi dari tempat. Ia yakin! Ia yakin di mana keberadaan Mamanya! Mamanya ada di salah satu kota di utara! Ia ingat ada desa terpencil yang sudah tidak berpenghubi! Ya! Pasti disana tempat Mamanya disekap! Awalnya ia pikir Hans akan menyekap Mamanya diwilayah barat karena disanalah, tempat berbagai kekejaman dilakukan.
1 jam berkendara di jalanan yang begitu sepi akhirnya Selena mengatakan ‘Stop!’ disebuah lahan yang begitu luas tanpa adanya seseorang pun disana. Selena bergegas berlari melihat sebuah bangunan uang begitu tak terawat. Ia yakin Mamanya berada disini, karena, sejak memasuki desa ini. Tak ada satupun pencahayaan.
Dengan tangan yang gemetar hebat Selena membuka pintu dengan perlahan, dan benar dugaannya. Mamanya disekap disini!.
“Mama!!!” saat Selena hendak berlari menyelamatkan Mamanya Wei langsung menarik dan memeluk Selena dari belakang.
“Wei! Lepaskan aku! Itu Mama!”
“Anda harus tenang! Ada banyak jebakan didalam sana! Selangkah lagi! Anda bisa menginjak bom!” ucap Wei.
Wei melepaskan tubuh Selena, Selena menghembukan nafasnya, ia menatap intens ruangan. Benar apa yang dikatakan Wei, banyak bom. Ia tidak bisa ceroboh, jika tidak ia bisa mati konyol disini.
__ADS_1
Tiba-tiba lampu dinyalakan, Selena terbelalak kaget melihat Mamanya yang terlihat babak belur. Bajin*an mana yang berani menyentuh Mamanya?!.
“Anda datang? Nyonya muda Iskandar?”
Beberapa pria bertubuh besar satu persatu keluar dari sebuah ruangan. Jennifer membuka matanya dengan perlahan, ia tersentak kaget melihat putrinya berada disini. Siapa yang memberitau putrinya bahwa ia disekap?! Padahal ia sama sekali tidak ingin putrinya mengetahui keadannya.
“Pulang!!! Siapa yang menyuruh kalian kemari?!!! Pulang sekarang!!! Wei! Bawa putriku pulang!” ucap Jennifer memberontak dari ikatannya. Tidak! Ia tidak bisa membuat putrinya berada dalam bahaya! Ia tak ingin ‘Ruvelis’ muncul kembali.
“Kalian menginginkanku? Wei, bawa Mama pergi dari sini. Biarkan aku menangani mereka” ucap Selena.
“Nona besar! Itu tidak mungkin! Saya tidak akan membiarkan anda disini sendirian!” ucap Wei.
“Kemarilah Nyonya muda, kau bisa menukar dirimu dengan Mamamu”
Senyum sinis terukir dibibir Selena. Ia melepaskan sarung tangan dan maskernya.
“Aku mengenal baik bagaimana sifat Hans, jadi begini saja…mari kita buat taruhan. Nyawa kalian anggap saja mewakili jumlah bom dan jebakan disini, jika aku bisa membunuh setengah dari kalian. Berikan alat penghenti bom kepadaku, namun jika aku kalah. Kujamin, perusahaan Iskandar. Akan kuserahkan kepada kalian” ucap Selena.
Selena tersenyum sinis setelah mengatakan hal itu, pasti pria-pria itu akan berpikir bahwa ia tidak bisa menebak strategi apa yang pria-pria itu gunakan. Jika benar pria-pria ini berpikiran seperti itu maka mereka salah besar, menebak strategi adalah makanan sehari-harinya sejak kecil. Tapi untuk apa ia melakukan strategi balasan menghadapi orang-orang ini?.
“Jangan gila sayang! Pergilah! Mama baik-baik saja!”
“Aku tidak buta sampai-sampai tidak bisa membedakan yang benar dan salah. Bagaimana? Kalian setuju?”
“Baik kami terima, bagaimanapun…kami harus melayani Nyonya muda Iskandar dengan baik bukan? Apalagi…ada keturunan Iskandar diperut anda”
Selena mengambil tongkat besi yang berada di sudut ruangan, sepertinya ini sudah cukup. Ia tak membutuhkan senjata lain selain ini.
“A-apa Nona besar se-serius i-ingin menggunakan itu saja?” tanya Wei. Apa Nona besarnya ingin melawan pria-pria ini menggunakan sebuah tongkat besi saja?.
“Hans tidak berada disini bukan? Jika dia tidak ada disini, aku bisa bebas membunuh kalian dengan berbagai cara. Jika pria itu ada disini, dan jika dia menyinggung perasaanku lagi. Kuratakan keluarga Georgino”
“Hahahaha!! Nona! Mungkin kau Nyonya muda dari keluarga Iskandar, tapi ingatlah! Keluarga Georgino bukanlah keluarga kecil! Mustahil meruntuhkan mereka!”
“Heh, kalian bangga dengan keluarga yang mencuri stempel kemiliteran untuk menerjang masuk kedalam 4 keluarga besar? Aku akan mengatakan sesuatu kepada kalian, jika diantara anak-anakku kelak ada yang berbuat hal menjijikan seperti itu. Aku akan memenggal kepalanya dengan tanganku sendiri”
Tanpa basa-basi beberapa orang langsung berlari kearah Selena. Mata elang Selena menatap intens setiap gerakan pria-pria itu.
Pang!!
__ADS_1
Selena memukul salah satu kepala pria yang hampir menyentuh tubuhnya. Pria itu langsung terkapar kejang-kejang di lantai dengan darah yang keluar dari kepalanya.
“Satu!”
“Hmph, hanya seperti ini kemampuan kalian? Jika seperti ini, anak sepuluh tahun bisa membunuh kalian dengan sebuah pukulan”
“Jangan sombong! Wanita rendahan yang hanya bisa mengandalkan seorang pria seperti dirimu! Tak pantas menjadi menantu keluarga Iskandar! Beraninya mantan wanita penghangat ranjang Tuan Georgino menjabat sebagai Nyonya muda keluarga Iskandar”
“Hahahaha!!! Kau meremehkanku?!!! Baik!!! Aku akan menunjukan kepada kalian semua!! Pantas atau tidaknya aku masuk kedalam bagian keluarga Iskandar!!”
“Cukup Selena!!! Jangan berbuat hal lebih dari ini!!” teriak Jennifer.
“Diam!!! Diam!!! Tutup mulutmu dan jangan ikut campur Jennifer, sebelum aku melewati batasku dan membunuhmu” ucap Selena kepada Jennifer.
.
.
.
Selena bersenandung kecil sembari *******-***** suatu benda di tangannya. Jantung, itulah yang sedang dimainkan oleh Selena saat ini, bosan dengan apa yang berada di tangannya Selena mengambil pisau dan kembali mengoyak salah satu perut penjaga Hans yang kepalanya terpenggal oleh Selena.
“Hm? Kenapa kubunuh ya? Seharusnya kubawa mereka ke Black market, aku bisa mendapat uang setelah itu…ahhh kenapa tidak terpikirkan sejak tadi”
Mata dingin itu menatap Wei dan Jennifer yang terkapar pingsan karena syock dengan apa yang ia lakukan.
“Ck, lemah! Begini saja sudah pingsan”
Selena mengeluarkan ponselnya, ia memotret tubuh-tubuh yang terpisah dengan kepalanya lalu mengirimkannya kepada beberapa orang termasuk Hans, Leo, dan Daniel.
Selena mengambil kepala-kepala yang berserakan dilantai, ia membawa puluhan kepala itu masuk kedalam mobil Leo. Lumayan untuk oleh-oleh. Setelah melakukan hal itu, Selena kembali dan membawa pergi tubuh Wei serta Jennifer masuk kedalam mobil. Haus, ia haus…ia ingin sesuatu yang segar.
Selena menyetir sembari bernyanyi dengan senang, tubuhnya dipenuhi oleh darah. Kemejanya yang semula putih berubah menjadi merah, bahkan rambut panjang Selena yang terurai meneteskan darah.
“Nanti mau ke spa ahhhh…lama tidak perawatan, oh! Sepertinya aku melupakan sesuatu!”
Selena menyetir menuju ketempat semula. Ia turun dari mobil dan mengambil korek api yang terjatuh dari saku Wei. Ia membakar rumah tua yang terbuat dari kayu itu. Dengan begini, polisi dan pemadam kebakaran! Akan segera kemari! Jadi ia akan pergi untuk membeli minuman! Ahhhh sepertinya air kelapa muda bisa menghilangkan dahaganya.
.
__ADS_1
.
.