
Jennifer membelai kepala putrinya sesekali mengecupnya dengan penuh kasih sayang. Untunglah Hans tidak datang kemari sehingga ia bisa bersama dengan putrinya tanpa perlu takut dengan ancaman Hans.
“Ma…” lirih Selena perlahan membuka matanya.
“Mama membangunkanmu ya sayang?”
“Tidak…” ucap Selena mencoba untuk bangun.
Jennifer yang melihat itu langsung membantu putrinya untuk duduk.
“Ma…bisakah Mama keluar? Aku ingin bicara sebentar dengan Joe…”
“Iya…kalau ada apa-apa. Panggil Mama ya sayang…”
Jennifer keluar dari kamar putrinya, Joe berdiri dan duduk ditepi ranjang Selena. Apa yang mau dibicarakan Selena kepadanya hingga meminta Jennifer untuk keluar?. Apa hal ini benar-benar penting?
“Joe…”
“Selena, sebelum kau bertanya. Aku ingin bertanya kepadamu. Siapa yang membuatmu tertekan sampai pingsan seperti ini?”
“Hans…kami bertengkar kemarin malam, tapi dia sudah meminta maaf. Lalu paginya, dia menempel kepadaku, namun saat aku bertanya tentang perjanjian Hans dengan Mama dia langsung menjadi dingin kepadaku”
Joe mengepalkan tangannya dengan geram. Lagi-lagi bajin*an itu. Selena menggapai tangan Joe dan menggenggamnya.
“Joe…bisa aku minta tolong sesuatu kepadamu?”
“Apa?”
“Pengadilan memiliki salinan kontrak pernikahanku. Bisakah kau memberikan itu untukku?” tanya Selena ragu.
“Aku bisa memberikan itu untukmu. Tapi untuk melakukan itu membutuhkan setidaknya 1 minggu hingga aku bisa mengambil salinan kontrak pernikahanmu”
“Tak apa, aku akan menunggu”
Para bodyguard menatap tajam Jennifer. Jennifer yang mendapatkan tatapan itu hanya bisa memberikan tatapan dingin, jika bukan karena ancaman Hans. Ia tak akan membiarkan orang-orang ini hidup sampai besok.
*
Disisi lain.
Hans menatap ponselnya dengan raut wajah yang sulit diartikan. Ia bergerak gelisah, para pemegang saham yang melihat itu mengerutkan kening. Apa yang terjadi kepada Direktur Georgino ini?.
“Tuan muda…” lirih Merry.
Hans sekali lagi menghubunggi ponsel istrinya. Namun sama, tidak diangkat. Istrinya kemana? Apa istrinya sedang tidur? Atau istrinya sedang menangis karena ucapannya tadi? Tapi sungguh, ia mengatakan itu agar istrinya tak bertanya perjanjian itu lagi.
“Sayang…angkat telfonnya…kumohon…semarah apapun kau padaku, angkat telfonku. Jangan membuatku khawatir begini…” batin Hans cemas.
“Tuan muda?” ucap Gerry menepuk bahu Hans.
“A-ah? Ya?!”
“Tuan muda, lebih baik anda kembali keruangan anda. Rapat biar saya yang tangani” bisik Gerry.
Hans menganggukkan kepalanya. Ia berjalan keluar dari ruang rapat sembari terus mencoba menghubunggi ponsel istrinya. Ia tak punya nomor ponsel Bibi Na, jika ada ia sudah menelfon pengurus rumahnya itu daritadi.
“Selena…kau kemana sayang…”
“Peter, kau punya nomor salah satu bodyguardku?”
“Hm? Ada apa?”
__ADS_1
“Ponsel istriku tak bisa dihubunggi. Aku takut dia kenapa-napa”
“Kau juga sih! Untuk apa kau membahas tentang istri kontrak lagi!” kesal pria bernama Peter itu.
Hans menghubunggi nomor bodyguard yang diberikan oleh sahabatnya. Beruntung bodyguardnya langsung mengangkat telfonnya.
“Hallo”
“Tuan?!!”
“Istriku tidak menjawab telfonku, di mana dia?”
“Tuan…saya ingin menghubunggi anda dari tadi. Namun saya tidak mempunyai nomor anda, dan Assistant Gerry juga tidak bisa kami hubunggi”
“Ada apa? Apa ada sesuatu yang terjadi?”
“N-nyonya muda masuk kerumah sakit”
“APA?! Selena masuk kerumah sakit?!”
“Benar Tuan, sudah 4 jam Nyonya berada dirumah sakit”
Tut…
Hans menyibakan rambutnya kebelakang. Ia ingin pergi kerumah sakit sekarang, tapi Selena pasti masih marah kepadanya. Lebih baik ia menunggu sampai Selena tidak dingin lagi kepadanya.
“Istrimu kenapa lagi?” tanya Jansen masuk keruangan Hans tanpa mengetuk pintu.
“Aku tidak tau”
“Kau tidak mau kesana?” tanya Peter.
“Lebih baik kau tidak kesana jika masih ada Nyonya Jennifer. Sebisa mungkin kau harus menghindarinya”
“Aku tau itu Jansen!”
Hans kembali menelfon seseorang, kali ini ia menelfon Alex. Ia ingin bertanya kenapa istrinya bisa masuk rumah sakit.
“Ya Tuan?”
*“Hanya terlalu tertekan Tuan, tidak ada penya*kit serius"
“Hufttt…syukurlah jika dia baik-baik saja, jika ada apa-apa. Telfon aku”
“Baik…”
Tut…
Peter dan Jansen menatap sendu sahabat mereka. Hans bingung, pria itu bingung dengan perasaannya sendiri. Mereka yakin, Hans sudah mulai mencintai Selena. Namun Hans selalu menyangkal perasaannya sendiri. Mereka takut, jika Hans menyakiti Selena lebih dalam. Maka Hans akan jatuh ke titik terendah.
“Jika Selena mencintaimu, maka kau juga akan hancur dengan cinta itu Hans…” ucap Peter langsung menutup mulutnya rapat-rapat.
“Apa yang kau katakan?! Ulanggi lagi?!”
“Ti-tidak ada!”
Hans menatap geram sahabatnya, lagi-lagi Peter berbicara tanpa kendali. Dan sialnya, apa yang diucapkan Peter tanpa kendali pasti selalu menjadi kenyataan.
“Jansen”
“Ya Hans?”
“Bisa kau selidiki latar belakang Selena?”
“Tergantung”
Jansen duduk ditempatnya dan mulai mencari latar belakang kakak iparnya itu. Baru sekarang Hans memintanya menyelidiki ini, kenapa tidak dari dulu saat awal menikah?!.
*
Jannifer menatap ponselnya yang mendapat pesan masuk. Ia menatap putrinya yang terlelap sembari menggenggam erat tangannya. Pencarian tentang Selena Yunki Leonardo. Siapa yang ingin mencari tau identitas putrinya? Apa orang yang mencari ini adalah bawahan Hans?.
“Hans…selamanya…aku tak akan membiarkanmu tau siapa putriku”
Joe menatap Jennifer intens. Jennifer yang lagi-lagi ditatap seperti itu oleh Joe hanya bisa menghembuskan nafas. Apalagi yang gadis itu pikirkan tentangnya?.
“Apa?”
__ADS_1
“Siapa Selena?” tanya Joe.
“Apa kau tidak bosan menanyakan pertanyaan itu kepadaku setiap saat?”
“Aku akan berhenti saat anda menjawabnya”
“Aku tak akan menjawabnya”
“Maka aku akan terus bertanya”
“Kau!” ucap Jennifer kehabisan kata-kata.
Drtttt…drttttt…
Jennifer mengangkat telfon yang berasal dari ponselnya.
“Ada apa?”
“…”
“Harus sekarang?”
“…”
“Baiklah, aku akan datang kesana sekarang”
“…”
Tut…
Jennifer memasukkan ponselnya kedalam tas dan dengan perlahan melepaskan tangan putrinya yang tengah menggenggam tangannya. Saat genggaman itu terlepas Jennifer mengecup dahi putrinya singkat.
“Tunggu Mama kembali sayang…Mama akan memberikan keadilan untukmu. Kau! Jaga Selena disini” ucap Jennifer sembari menunjuk Joe dengan telunjuknya.
“Tanpa anda suruh saya akan berada disini”
Jennifer keluar dari kamar putrinya. Ia menatap para bodyguard Hans dengan senyum sinis.
“Meskipun aku tidak ada disini, jangan harap kalian bisa lolos dari pengawasanku”
“Anda yang harus hati-hati Nyonya. Tuan akan membalas anda”
“Oh ya? Yakin Tuan kalian berani menyakitiku didepan istrinya?”
Para bodyguard langsung terdiam bungkam seketika. Mereka yakin Tuan mereka mencintai Nyonya muda mereka. Jadi mana mungkin Tuan mereka berani menyakiti Jennifer didepan istrinya.
Saat berada didepan lift Jennifer sedikit terkejut mendapati Hans sudah berada di dalam lift. Hans melangkahkan kakinya keluar dari lift itu. Senyum sinis saling terukir dibibir Hans maupun Jennifer.
“Saya ingatkan agar anda tidak main-main Nyonya…atau…anda akan tau konsekuensinya” bisik Hans ditelingga Jennifer.
“Saat ini kau bisa menang Hans. Tapi lain kali, aku akan membuatmu tak bisa berkutik. Jawaban ada ditangan putriku, entah dia akan memilihmu sebagai suaminya…atau memilih Leo sebagai tunangannya”
Kali ini Hans terdiam bungkam. Benar, ia masih belum bisa bermain dengan bebas. Tunggu setelah ia membunuh wanita didepannya ini maka tak akan ada penghalang untuknya mendapatkan cinta istrinya.
Jennifer masuk kedalam lift sedangkan Hans melangkahkan kakinya masuk kedalam ruangan istrinya.
.
.
.
Nama : Jhon Leonardo Kyler William Aileen Iskandar
Tinggi : 191 cm
Umur : 24 tahun
Makanan favorit : Bebek peking dan kebab
Minuman favorit : Blueberry juice
Jhon Leonardo Kyler William Aileen Iskandar, seorang pria blasteran Inggris – Korea yang memiliki wajah yang imut nan manis. Seorang pewaris tunggal keluarga Iskandar sekaligus tunangan dan sahabat terdekat Selena. Seorang pria muda yang memiliki sifat dingin namun lemah lembut, memiliki kekuasaan besar di dunia hitam. Disegani banyak Mafia dan Gangster ternama, namun paling tidak tega melihat Selena menangis.
__ADS_1