
.
.
.
Hans menatap datar Joe yang tengah membaca buku di sofa. Joe yang melihat kedatangan Hans hanya bisa membuang muka, entah kenapa rasanya ia benar-benar membenci suami temannya ini.
“Kau bisa pergi, aku akan menjaga istriku disini” datar Hans.
“Adakah hakmu memerintahku?” sinis Joe.
“Ada!”
“Apa?”
“Aku! Suami Selena, aku berhak menentukan siapa yang berada disini”
“Cih! Tunggu saja sampai kau dan Selena bercerai! Aku akan membalas perbuatanmu!”
Joe keluar dari ruangan Selena. Ia duduk dengan kesal di kursi tunggu sembari memainkan pistol ditangannya. Para bodyguard langsung menelan ludah kasar, jika sampai Joe tidak senang. Itu bisa mencelakai mereka.
“Hei…kalian tau? Hari ini aku melakukan hal hebat. Tebak apa itu”
“Kami tidak berani menjawab” ucap mereka serempak.
Joe berdiri dan mendekati salah satu bodyguard. Ia mendongkakkan dagu bodyguard itu dengan pistolnya.
“Aku menampar Yeni…dan aku puas dengan itu”
Glek!
Ia tak salah dengar? Joe baru saja bilang dia baru saja menampar Nyonya Georgino?. Jika Joe saja berani menampar seorang Nyonya Georgino yang sangat disegani, itu berarti Joe hanya perlu membalik telapak tangan untuk menghancurkan mereka. Kenapa Nyonya muda mereka bisa berteman dengan orang semengerikan Joe begini?!.
Joe tersenyum sinis melihat wajah pucat bodyguard didepannya ini. Itulah hukuman yang pantas untuk orang yang sudah berani membuatnya tidak senang dengan menghina adiknya.
“Jika kau tak mau mati…maka tutup mulutmu. Paham?”
“Sa-saya pa-paham Nona…”
“Bagus…”
Joe pergi dari lantai itu berniat untuk menuju kantin mengisi perutnya yang sudah tak terisi dari kemarin. Bodyguard yang tadi mendapat bisikan maut dari Joe langsung terduduk lemas dilantai.
.
.
.
Leo dan Daniel masuk kesebuah pemakaman pribadi. Daniel benar-benar heran, untuk apa Leo mengajaknya kemari? Apa makam ini ada hubungannya dengan Selena?.
__ADS_1
Leo dan Daniel berhenti disebuah makam yang begitu bersih dan dipenuhi kelopak bunga. Leo membungkuk hormat begitupun dengan Daniel.
Daniel menatap intens makam itu. ‘ Alexandra ’. Makam siapa ini?
“Ini adalah makan ayah Dear” ucap Leo.
Daniel langsung menutup mulutnya. Alexandra?! Ini makam kedua orang tua Selena?! Kenapa seperti orang terhormat begini? Bahkan melebihi makam kakeknya. Tapi kenapa marganya berbeda dengan Selena?! Selena bermarga Leonardo bukan?.
“Tuan Alexandra…Leonardo memberikan hormat kepada anda…”
“Leo…sebenarnya, siapa kedua orang tua Selena?”
Leo hanya menggelengkan kepalanya tak mau menjawab pertanyaan Daniel. Hanya Selena yang berhak menjawab itu.
“Lalu, di mana makam ibu Selena?” tanya Daniel.
“Ini adalah makam pahlawan, tentu saja makam Nyonya Leonardo berada disini”
Leo kembali berjalan dan berhenti didepan sebuah makam. Terdapat sebuah bunga disana, ada yang baru saja kemari?.
“Ini adalah makam ibu Selena, terletak sedikit jauh dari makam suaminya”
Daniel kembali menatap intens makam ibu Selena. ‘ Leonardo ‘ jadi Selena menyandang marga ibunya bukan ayahnya?, apa kedua orang tua Selena adalah pahlawan yang mati demi negaranya?.
“Alasanku mengajakmu kesini adalah…ada yang berusaha membongkar kedua makam ayah dan ibu Selena”
“Apa?! Untuk apa?!”
“Ada sebuah wasiat yang ditinggalkan Tuan Alexandra dan Nyonya Leonardo. Demi melindungi surat wasiat itu, wasiat itu diletakkan didalam sebuah peti yang kuncinya berada di makam Tuan Alexandra dan Nyonya Leonardo. Banyak yang menginginkan surat wasiat itu, itulah mengapa ada orang yang berencana membongkar makam ini”
“Tanpa izin dari Dear, tak seorangpun berhak menyentuh makam ini. Makam ini dilindungi oleh berbagai Negara, membongkar makam. Maka akan dijatuhi hukuman mati”
“Lalu, apa masalah yang lain?”
“Yeni…”
“Wanita itu lagi! Apa yang ingin wanita itu lakukan?!”
“Bisa kau diam dulu?”
“Ya, maaf”
“Dia berencana mempertemukan Dear dengan tunangan Hans…”
“APA?!!!”
“Maka dari itu, sebisa mungkin. Kita harus menghindari hal-hal yang bisa membuat Yeni melancarkan rencananya. Jika sampai Dear bertemu dengan tunangan Hans. Maka aku takut, hal itu bisa membuat celah untuk Yeni mencelakai Dear”
Daniel mengusap rambutnya kebelakang. Wanita itu! Sebenarnya apa yang membuat wanita itu membenci Selena?! Apa karena Selena bukan gadis dari keluarga terpandang? Apa itu alasan Yeni membenci Selena?!.
“Wanita itu!! Dia sudah melewati batasannya…”
__ADS_1
“…”
“APA?! Apa maksudmu Leo?!” ucap Daniel terkejut dengan apa yang Leo katakan barusan.
.
.
.
Hans menggenggam tangan istrinya sesekali menciumnya. Ia benar-benar menyesal telah mengatakan hal itu. Tak seharusnya ia mengungkit masalah istri kontrak. Tapi sungguh, ia tak tau harus mengatakan apa saat itu untuk membuat istrinya tidak bertanya lebih jauh.
Selena dengan perlahan membuka matanya. Ia menatap sekeliling, di mana Mamanya? Dan kenapa suaminya ada disini?.
Hans mendongkakan kepalanya. Ia tersenyum melihat istrinya yang sudah bangun.
“Kau bangun, kau ingin sesuatu?”
“Kau tak perlu pura-pura peduli kepada istri kontrakmu” ucap Selena melepaskan tangannya dari genggaman Hans.
Hans terdiam seketika mendengar ucapan istrinya. Sepertinya perkataannya membuat Selena semakin marah kepadanya.
“Maaf…aku benar-benar minta maaf atas ucapanku tadi pagi. Aku kehilangan kendali dan kembali mengungkit masalah itu”
“Teruslah mengungkit itu, agar aku tidak lupa akan posisiku”
Grep
Hans memeluk erat tubuh Selena sembari mengucapkan maaf. Ia harus apa sekaang? Ia benar-benar tidak berpengalaman membujuk wanita.
“Maaf…maafkan aku…aku janji tak akan pernah menyakitimu lagi Okey? Aku berjanji kepadamu, aku bersumpah”
Selena mendorong tubuh suaminya dengan perlahan, ia masuk kedalam selimut tebalnya. Maaf? Mudah sekali suaminya mengatakan hal itu setelah mengucapkan kata-kata yang benar-benar menghinanya. Istri kontrak? Ya…benar…ia hanya seorang istri kontrak. Kelak ia juga akan diceraikan oleh Hans, ia harus menerima itu rela ataupun tidak rela.
Hans menatap sendu istrinya, perkataannya benar-benar menyakiti istrinya. Tapi jika ia tidak mengucapkan hal itu istrinya akan bertanya lebih dalam tentang perjanjiannya dengan Jennifer. Ia tak mau jika Selena meninggalkannya secepat ini.
“Aku harus apa agar kau memaafkanku?” tanya Hans memeluk tubuh istrinya.
“Aku hanya istri kontrakmu, jangan membuatku goyah dengan sikap lembutmu. Jika kau terus bersikap lembut setelah itu kau kembali menyakitiku. Maaf tapi…lebih baik kau ceraikan saja aku sekarang” ucap Selena.
Degh!
Hans menggigit bibir bawahnya. Ia membuka selimut Selena secara paksa, ia menekan kedua tangan istrinya ditempat tidur. Hans menatap geram istrinya, apa istrinya tak tau apa yang dia inginkan? Ia hanya ingin istrinya tetap disisinya sampai kontrak selesai. Ia hanya ingin itu…hanya itu. Kenapa istrinya meminta untuk bercerai? Apa kata-katanya benar-benar begitu menyakitkan hingga istrinya tak mau bersamanya lagi?.
“Aku tak tau harus melakukan apa…maafkan aku…” lirih Hans menengelamkan wawahnya dibahu sempit Selena.
Selena menghembuskan nafasnya, ia memeluk kepala suaminya. Semarah apapun ia kepada Hans itu tak akan bisa mengubah sifat asli suaminya. Hans memang seorang pria yang kasar, percuma ia marah kepada suaminya. Suaminya tak akan bisa mengubah sikap kasarnya.
Lelah…ia lelah jika harus terus seperti ini. Amarahnya tak akan berlaku untuk Hans karena itu hanya membuang tenaganya saja. Melawan tak ada gunanya, sekali ia melawan. Hans akan kehilangan kendalinya lagi. Lebih baik ia bertahan sampai kontrak selesai. Lelah? Tentu saja.
.
__ADS_1
.
.